Kabar dari Inggris - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
05/02/2006

Dilema Agama dan Kebebasan Berekspresi: Kabar dari Inggris

Oleh Laksmi Prasvita

Alkisah, Selasa (31/1) lalu, Rowan Atkinson alias Mr Bean, bermuka serius dan tampil cerdas. Ia bergabung dalam kerumunan demonstran penentang voting pasal incitement to religious hatred (provokasi kebencian agama) di tingkat House of Commons di parlemen Inggris. Pemerintah Blair mengeluarkan rancangan undang-undang yang menanggapi perkembangan keberagamaan masyarakt Inggris mutakhir.

Alkisah, Selasa (31/1) lalu, Rowan Atkinson alias Mr Bean, bermuka serius dan tampil cerdas. Ia bergabung dalam kerumunan demonstran penentang voting pasal incitement to religious hatred (provokasi kebencian agama) di tingkat House of Commons di parlemen Inggris. Pemerintah Blair mengeluarkan rancangan undang-undang yang menanggapi perkembangan keberagamaan masyarakt Inggris mutakhir.

Namun, pemerintah harus berjuang keras untuk meyakinkan publik bahwa hukum tersebut tidak bakal berlawanan dengan aspek kebebasan berekspresi. Cakupan rancangan Blair dianggap terlampau melebar dan perlu dipersempit agar tetap menjamin kebebasan. Dalam proses amandemen di House of Lords, hanya ancaman agama yang diniati untuk dilakukan saja yang dianggap bisa dijerat, bukan sekadar menyerang lewat kata-kata, menghina, apalagi meledek. Karena itu, diskusi, kritik, ejekan, dan guyonan atas suatu agama dan praktik keagamaan tertentu, bukan pelanggaran hukum.

Ada banyak perkecualian atas pasal-pasal yang diajukan pemerintah. Hukum itu pada akhirnya tidak akan menindak perdebatan dan penggunaan kata-kata kasar dalam diskusi, dunia teater, dan pertunjukkan seni. Hukum hanya diperlukan untuk menjerat mereka yang sengaja memprovokasi kebencian atas orang lain karena kepercayaan agamanya; tindakan yang dianggap sudah tidak perlu ada dalam masyarakat modern yang beradab.

Namun, Atkinson tetap keberatan atas beberapa perkecualian tersebut. Sebagaimana dikutip BBC, ia berpendapat bahwa rancangan undang-undang tersebut betul-betul omong kosong yang tak berujung-pangkal. Atkinson berpendapat, hukum itu tak bisa diterapkan, sekalipun diklaim akan melindungi umat beragama dari kritik, ejekan, dan sasaran kebencian. Terbitnya hukum itu ia nilai sebagai kemunduran bagi hak asasi manusia di Inggris, khususnya menyangkut aspek kebebasan berpikir, berekspresi, dan berkesenian. Atkinson khawatir para penulis dan pelawak seperti dirinya sewaktu-waktu bisa terancam penjara (maksimal 7 tahun) karena tafsir pembaca dan penonton yang memang berbeda-beda.

Dalam serial TV Blackadder (1983-1988), Atkinson yang bergelar S2 dan insinyur listrik dari Universitas Oxford itu, pernah mengkritisi kaum aristokrat Inggris ketika masih kentalnya hubungan gereja dan bangsawan. Atkinson berpendirian: To criticise a person for their race is manifestly irrational and ridiculous, but to criticise their religion—that is a right. That is a freedom.” Artinya, mengkritik seseorang karena warna kulitnya betul-betul tak masuk akal dan menggelikan. Namun, mengkritisi agamanya adalah hak. Itulah kebebasan!

Konteks Pengeluaran Hukum

Agaknya, kontroversi rancangan undang-undang itu dipicu perkembangan ekstremisme keagamaan yang kini mengkhawatirkan Inggris. Selama ini, iklim kebebasan berekspresi Inggris menjadi ladang subur bagi para penulis dan seniman yang kritis terhadap agama. Salman Rushdie, penulis The Satanic Verses, dan Monty Python dengan karya filmnya, The Life of Brian (1979), betul-betul merasakannya. Dalam The Life of Brian, grup lawak yang berisi lulusan dua universitas terbaik Inggris itu, Oxford dan Cambridge, mengkritisi gereja, Yesus, agama, dan Tuhan.

Kritik filmnya tertuju pada bentuk penghayatan agama yang berlebihan. Isinya berbentuk satire yang menyorot agama sebagai sebuah organisasi penuh kemunafikan, dan bahkan bisa membahayakan orang lain dan dirinya sendiri. Meski terus dikecam dan diperdebatkan Gereja, DVD film itu tetap beredar dan personil Monty Python tetap baik-baik saja.

Namun kini, bulan madu masyarakat Inggris dengan kebebasan berekspresi terancam oleh merebaknya ekstremisme Islam. Ancaman bom para ektremis mulai membuat Inggris gerah. Karena itu, Pemerintah Inggris merasa perlu membatasi kebebasan berbicara dalam soal-soal agama. Tekad pemerintah makin diperkuat oleh beberapa kasus mutakhir.

Abu Izaadeen, juru bicara kelompok ekstremis al-Ghurabaa di Inggris, dalam wawancara dengan BBC, dengan tegas menolak loyal pada Inggris dan hanya akan loyal pada Islam. Dia juga tak mau mengutuk pengeboman di kereta bawah tanah London. Pernyataannya itu membuat publik Inggris penasaran; apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah mereka para pendatang yang sepatutnya menaruh hormat kepada tuan rumah?

Dilema Kebebasan Berekspresi

Padahal, Inggris punya reputasi cukup baik dalam menyikapi persoalan agama. Penganut agama apapun diberi peluang sama untuk menjalankan agama atas dasar kebebasan berekspresi. Di Masjid East London, Jalan Whitechapel, suara azan dapat berkumandang; sesuatu yang langka di seantero Eropa. Kebebasan beragama di Inggris juga memberi ruang bagi tumbuhnya masjid-masjid, pusat-pusat studi Islam, sekolah-sekolah Islam, bahkan gerakan radikal Islam.

Namun gerakan Islam bawah tanah sungguh menyeramkan. Di Masjid Finsbury Park London, aparat Inggris pernah memergoki sesi pelatihan militer, lengkap dengan senjata AK 47. Sebelum ditangkap dan diadili, Abu Hamzah, imigran asal Mesir, veteran perang Afganistan yang jadi imam masjid itu, bebas berkhotbah sekalipun menebar rasa kebencian atas agama lain. Isi khotbahnya dilengkapi klaim bahwa Islam adalah agama terbaik, Barat dan politisi Barat adalah musuh-musuh yang mesti diperangi. Ketika ditanya mengapa, ia dengan enteng berdalih tidak melakukan kesalahan, sebab ia hanya menguji iklim kebebasan berbicara yang dilindungi hukum Inggris.

Jawaban itu membuat gerah pemerintah Inggris. Kini, Abu Hamzah dikenai 9 tuntutan hukum Offences Against the Person (1861), karena dianggap menganjurkan pembunuhan Yahudi dan non-muslim dalam sebuah rapat publik. Ia juga dikenai 4 tuntutan lain yang melanggar hukum Public Order (1986) karena mengancam, menghina, serta meruncingkan kebencian antar agama. Atas dasar itulah pemerintah Inggris menyiapkan perangkat hukum yang akan akan mencegah khutbah religius yang menyesatkan, dan menangkal seorang imam untuk menebar pesan-pesan kebencian atas agama lain. Namun kenapa hukum baru masih perlu?

Hukum danKebebasan

Selama ini, Inggris sudah punya pasal penodaan agama (blasphemy), yang diabdikan untuk melindungi agama Anglikan dan penganutnya dari hinaan, cercaan, dan ancaman. Hukum itu sudah berjalan berabad-abad. Orang terakhir yang dijeratnya adalah John William Gott. Pada tahun 1922, ia dihukum 9 bulan penjara karena membandingkan Yesus dengan badut sirkus.

Seiring waktu, banyak kritik yang menganggap pasal itu sudah ketinggalan zaman. Argumennya: bukan tugas negara untuk membela agama, sebab agama harus cukup kuat untuk membela dirinya. Pasal blasphemy dianggap telah mengancam kebebasan berekspresi dan tak dapat diterima dalam sebuah masyarakat plural yang beragam kepercayaan.

Namun, beberapa muslim Inggris pernah juga mencoba memperkarakan Salman Rushdie dengan pasal itu. Namun, mereka gagal karena ia berlaku spesifik bagi tindakan blasphemy atas Gereja Inggris. Kini, pasal blasphemy sudah seperti macan tak bertaring karena dianggap bertabrakan dengan aspek kebebasan berekspresi yang dijamin hukum Inggris berkat konvensi Eropa mengenai HAM. Namun, pasal itu masih dapat tempat dalam kitab besar hukum Inggris. []

Laksmi Prasvita, wartawan independen, menetap di Inggris.

05/02/2006 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Agama yang kita atau yang orang-orang pertahankan saat ini seperti kecintaan kepada Rosul adalah suatu hal yang mutlak bila ditinjau dari privasi si pemilik agama atau si pengamal agama itu, kepemilikan agama yang di anut ini merupakan hal yang sah-sah saja dan diakui oleh undang-undang bahkan di negara paling liberal sekalipun.

Masalahnya privasi si pemilik agama menjadi terganggu oleh adanya karikatur atau apalah itu merupakan tindakan yang dapat dibenarkan. Si pemlilk agama yang mengamalkan ajarannnya termasuk menanamkan kecintaan kepada Rasul menjadi suatu yang wajib dan apabila ini di ganggu dengan hal yang sepele atau oleh si pembuat onar (karikatur) sebagai hal yang lucu atau hanya untuk melucu merupakan suatu hal yang amat menyinggung si possessife agama itu apakah hal ini menjadi salah sehinnga si posssesife menjadi amat marah, karena marah itu hal yang dibolehkan oleh aturan manapun.

Saya melihat disini si posssessife agama ada di pihak yang benar. Karena kecintaan merupakan hak milik yang sah apalagi kepemilikannnya tidak mengganggu aturan atau ideologi manapun. Kalau si possessife merasa kecintaan ini harus hak yang dipertahankan maka harap dimengerti bahawa yang melecehakan kecintaan si possessife harus berhadapan dengan cara apapun untuk mempertanggung jawabkan pelecehan tersebut.

Kawan yang dilecehkan juga akan menimbulkan kemarahan meskipun kadang-kadang kaawan tersebut salah.

Harap mengerti.
-----

Posted by dharmawan dhama  on  02/10  at  04:02 AM

Anda Menulis : Atkinson berpendirian: “To criticise a person for their race is manifestly irrational and ridiculous, but to criticise their religion—that is a right. That is a freedom.” Artinya, mengkritik seseorang karena warna kulitnya betul-betul tak masuk akal dan menggelikan. Namun, mengkritisi agamanya adalah hak. Itulah kebebasan!

Komentar : Attkinson dan orang-orang sepertinya (termasuk mungkin Mbak Laksmi) wajar saja berpendirian seperti itu, lha wong agama yang dianutnya tak lebih berharga dari seonggok kulit. Atau agama anda hanyalah kulit saja. Masalahnya berjuta orang di dunia tidak seperti anda, agama dan kehormatan Nabi adalah cintanya dan bukan hanya kulit dan KTP seperti anda. MEngapa tidak langsung saja anda katakan, bahwa pemuatan karikatur Nabi itu wajar-wajar saja ? Takut didemo ya ?

Posted by mohamad ishaq  on  02/08  at  12:02 AM

Kemudian apakah ada hukum yang paling sesuai untuk menyikapi dilema hukum dan kebebasan berekspresi ini.  Bagaimana dengan kasus yang sedang trend tentang karikatur nabi muhammad.  Apakah yang menjadi salah adalah cara penyikapannya, yang terhina jadi marah, merusak, yang menghina apakah bebas saja berdalih kebebasan berekspresi.  Apa pula ukuran-ukuran yang dipakai sebuah hukum untuk memvonis tindakan tindakan yang tidak menyenangkan. 

Atau memang itulah sejatinya beragama, ketika memberi kesan tidak sesuai akan mengundang sindiran, hujatan atau pemberontakan, dengan kata lain harus dikritik seperti Rowan Atkinson bilang.  Atau beragama berarti harus selalu bercermin setiap hari, sebagai inti doa, ketika ada yang menghujat, harusnya kita sendiri yang bercermin, tapi apakah kebebasan berekspresi boleh sejauh itu?  dan sah pula?  Saya kurang ngerti hukum, sungguh dilematis.

Semoga semua orang baik dilindungi Tuhan.

Sekian

Posted by Ria Ardhiyani  on  02/07  at  02:02 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq