Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
16/10/2005

Acep Zamzam Noor: Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom

Oleh Redaksi

Bagi sebagian seniman, yang terpenting dari hidup adalah menambah kepekaan batin sehingga mampu menghasilkan keindahan-keindahan yang bernilai seni. Tapi bagaimana makna agama bagi seorang penyair yang tumbuh dari lingkungan pesantren seperti Acep Zamzam Noor? Berikut perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan pendiri Sanggar Sastra Tasik, dan Partai Nurul Sembako Tasikmalaya itu, Kamis (6/10) lalu.

16/10/2005 22:18 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (2)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

mungkin kang Acep tidak akan sempat baca tanggapan ini, namun tidak ada salahnya menanggapi.

Kang Acep : “Ya, saya kira arahnya ke sana. Karena persoalan yang dulu dianggap sepele, sekarang tiba-tiba menjadi sangat penting dan diwajibkan pesantren-pesantren tertentu. Misalnya soal laki-laki harus berpakaian tertentu, sementara perempuan berpakaian tertentu pula. Mungkin ini erat juga kaitannya dengan soal bisnis. Mungkin saja ada perusahaan konveksi yang ingin kerja sama dengan pesantren, mereka lalu menawarkan produk-produknya berupa baju takwa, kopiah, dan lain-lain.”

banyak pola fikir Kang Acep yang kontradiktif satu sama lain. Misalnya, anda memandang bahwa pakaian putih-putih, berpeci hanyalah keberagamaan formalistik, jika demikian kenapa anda begitu usil memasalahkan orang memakai peci dan berputih-putih dan berbaju taqwa, jika itu sepele ? Kenapa tidak anda pandang hal tersebut dari aspek seni, misalnya. Sebab seorang seniman sejati seharusnya mampu menangkap apapun yang dilihatnya sebagai keindahan. Mengapa kok tendensius begitu ? Saya kira hanya orang tidak tahu agama saja yang menganggap “terlalu penting” baju taqwa, berbaju putih dll, dan saya kira harusnya kita berhusnuzhan saja bahwa mereka itu ingin memasuki kawasan suci dengan bersih dan rapi, dan bukan bersu’uzhan dikait-kaitkan dengan bisnis. Jikapun iya, apa salah ? Jualan puisi kan juga keberagamaan formalistik dan bisnis juga kan Kang ? dan itu memang nggak salah.

The point is, biasa-biasa aja lah kang jangan dibawa emosi kalo ada yang beda dan rapi dikit jangan dihakimi begitu, toh gondrong dan kumel juga dijamin hak asasinya.

Kang Acep : “Soal ketulusan. Dalam mengerjakan sesuatu, atau menjadi siapa pun, kita sebagai manusia harus menjalankannya dengan ketulusan, keihlasan, dan kesabaran. Itu nilai-nilai keagamaan yang memang saya serap sejak dulu, sehingga ketika bergulat dengan dunia seni, ia sangat membantu. Bergulat dengan seni otomatis mesti bergulat dengan kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan. Tanpa itu, kita mungkin tidak akan bisa bertahan.”

Apakah menyatakan “Mungkin ini erat juga kaitannya dengan soal bisnis. Mungkin saja ada perusahaan konveksi yang ingin kerja sama dengan pesantren, mereka lalu menawarkan produk-produknya berupa baju takwa, kopiah, dan lain-lain.” bagian dari keikhlashan dan ketulusan yang diajarkan Pesantren akang dahulu

Kang Acep :"Saya melihat pluralisme sebagai keragamaan tentunya. Sebagai penyair, setelah tahu makna pluralisme, saya tidak lagi terlalu fanatik dengan agama, adat, dan tradisi, tapi lebih santai. Saya melihat semuanya jadi lebih santai. Jadi pluralisme itu dirayakan dan saya memaklumi banyak hal.”

Aneh ya padahal Akang terkaget-kaget melihat mahasiswa ITB yang berbeda dengan penampilan Akang dan berlagak santri. Di mana konsep pluralisme Akang ?
-----

#1. Dikirim oleh mohamad ishaq  pada  18/10   12:11 AM

salam sejahtera!! salam pluralisme jg ah!! saya menghargai dengan pandangan akang dalam beribadah scr santai,tp apakah akang jg mengharagai mrk yg beribadah scr tdk santai yg kriterianya di sebutkan akang diatas??? saya tdk ingin berbruk sangka atas maksud apa tentang sentilan akang atas mrk?? satu hal prtanyaan saya, apakah panjenengan hndak mengimankan seluruh umat dengan ulasan akang??? knp kita hrs kaget atas perbedaan disekitar kita?? bukankah perbedaan itu indah kalo kita bisa memaknainya??

#2. Dikirim oleh awang  pada  03/09   01:28 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq