Kapan Intelektual Berkhianat? - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
29/11/2005

Kapan Intelektual Berkhianat? Pidato Kebudayaan M. Syafi'i Maarif

Oleh Umdah El-Baroroh

Dari paparan Buya, memang kategori siapa pengkhianat dan siapa pahlawan tidak dibuat terang-benderang dalam kategori yang sederhana. Sebab mengidentifikasi siapa pengkhianat intelektual itu baginya sama sulitnya dengan memberikan definisi tentang siapa itu kaum intelektual. Ia tak memberi definisi yang jelas, memang.

Tanggal 22/11 lalu, Dewan Kesenian Jakarta menggelar hajatan tahunan berupa pidato kebudayaan. Acara yang digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, ini diawali dengan halal bihalal, dimeriahkan beberapa pentas musik, dan peluncuran buku Ismail Marzuki, “Musik, Tanah Air, dan Cinta”.

Ratusan peserta antusias hadir, antara lain untuk mendengarkan pidato tunggal mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah, Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif. Di tengah situasi berbangsa dan bernegara yang carut marut ini, petuah-petuah dari bijak bestari seperti Buya—demikian sapaan akrabnya—memang sangat dibutuhkan. Terlebih, pidato kebudayaan yang akan ia sampaikan malam itu mengangkat tema soal “Pengkhianatan Kaum Intelektual Indonesia: Perspektif Kebudayaan”. Tema itu betul-betul mengundang tanya.

Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Ratna Sarumpaet, menjelaskan alasan pemilihan tema itu. Konon, tema itu sengaja diangkat untuk “mencari pemecahan” atas keadaan bangsa yang makin terpuruk. Beberapa pertanyaan segera mengemuka. Misalnya, mengapa Indonesia yang sudah merdeka sejak 60 tahun silam tak juga mampu keluar dari belenggu keterpurukan; dan ke mana dan di mana saja peran kaum intelektual Indonesia?

Sarumpaet dengan yakin menjelaskan dalam sambutannya, “Keberadaan dan perananan kaum intelektual menjadi penting lantaran langkahnya punya dasar berpijak yang di dalamnya menyimpan gagasan untuk perbaikan mengahadapi masa depan. Maka, di mana pun di dunia ini, kaum intelektual kerap bertindak sebagai pioner, perintis, dan pemberi pencerahan atas kehidupan manusia.”

Tampaknya, tema “pengkhianat kaum intelektual” yang diangkat malam itu, bukan semata-mata dimaksudkan untuk menyinggung atau menyindir para intelektual. “Tapi kalau mereka merasa tersinggung itu lebih baik”, ucap Buya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Buya menjelaskan bagaimana proses pengkhianatan kaum intelektual terjadi. “Pada umumnya, pengkhianatan intelektual terjadi manakala bersinggungan dengan kekuasaan”, tegasnya. Tapi untuk menampilkan kesan hati-hati dan tidak sembarang tuduh, Buya segera melanjutkan, “Meski begitu, tidak selalu mudah memasukkan seorang intelektual ke dalam kategori pengkhianat ataupun pahlawan.”

Lalu bagaimana Buya menilai para pendiri bangsa Indonesia yang telah mengabdikan dirinya dalam struktur kekuasaan? Buya tentu tidak mengatakan kalau Bung Karno, Bung Hatta, Natsir, Syahrir, dan para perintis pejuang kemerdekaan lainnya sebagai pengkhianat bangsa. Namun, Penasehat PP Muhammadiyah itu memberikan tips untuk sikap terbaik dalam menilai para pemimpin yang telah tiada.

“Menurut hemat saya, sikap yang terbaik adalah dengan menghargai kebaikan dan jasa-jasa mereka, dan kemudian menilai secara objektif kelemahan dan kekurangan mereka untuk dijadikan cermin. Betapa pun hebatnya seorang pemimpin, pikiran dan gagasannya pasti terikat dengan ruang dan waktu. Oleh sebab itu, kita wajib mengembangkan sikap kritis, tetapi tulus terhadap pikiran, ide, dan doktrin siapa pun, termasuk mereka yang kita kagumi,” terang Buya. Buya yakin, “Hanya dengan cara inilah sebuah bangsa dapat meraih tingkat kedewasaan sprirtual dan intelektual.”

Dari paparan Buya, memang kategori siapa pengkhianat dan siapa pahlawan tidak dibuat terang-benderang dalam kategori yang sederhana. Sebab mengidentifikasi siapa pengkhianat intelektual itu baginya sama sulitnya dengan memberikan definisi tentang siapa itu kaum intelektual. Ia tak memberi definisi yang jelas, memang. Ia hanya memberikan atribut-atribut penting sebagai alat untuk mengenali seorang intelek atau bukan intelek.

Dalam makalah tertulisnya, Buya menuliskan, “…atribut lain yang perlu ditambahkan bagi seorang intelektual, di samping terpelajar, dia harus punya kepekaan dan komitmen terhadap masalah-masalah besar yang menyangkut manusia dan kemanusiaan, tanpa diskriminasi.” Intelektual sejati, dalam perspektif Buya, dengan demikian tidak mungkin menganut paham non-kritis “salah-benar tetap jualah negara saya” atau right or wrong my country.

Kalau begitu, siapa saja yang telah menjerembabkan bangsa ini dalam keterpurukan yang tak jua kunjung usai? Menurut Buya, masalah Indonesia sejak zaman kemerdekaan adalah soal kepemimpinan yang tidak atau kurang bertanggung jawab dalam mengisi kemerdekaan. “Rakyat Indonesia, umumnya cukup patuh bila pemimpinnya dapat diteladani. Keteladanan inilah yang semakin sunyi dari waktu ke waktu”, ungkapnya mantap.

Karena itu, dengan nada satire, Buya tak segan menyarankan hal berikut: “Jika kita memang tidak mampu mengurus negara yang elok ini, saya pernah mengusulkan agar tidak malu-malu meminjam tenaga bangsa lain untuk membantu kita, termasuk untuk dijadikan presiden.”

“Kalau kondisi buruk ini masih saja berlanjut di era reformasi ini, maka kita tidak perlu lagi mencari siapa pengkhanat sebenarnya. Lebih baik kita akui bahwa kita semua pengkhianat, tidak kecuali kaum intelektual”, ucapnya.[]

29/11/2005 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

intelektual tidak akan dapat disebut penghianat akan intelektualitas mereka asalkan dalam menjalankan perannya, sama sekali tidak ditujukan guna pencapaian kepentingan (kekuasaan) dan kesombongan.

Posted by dessy eko prayitno  on  12/04  at  03:21 PM

intelektual ibarat pisau yang mempunyai mata yang bisa jadi tumpul tetapi bisa jadi tajam, manfaatnya tergantung siapa pendekar yang menggunakannya. intelektual bisa berakibat negatif jika pendekarnya menggunakan potensinya itu pada hal-hal negatif; begitu sebaliknya jika digunakan pada aktivitas positif maka akan menjadi positif hasilnya. intelektual tidak mungkin berhianat, kaum yang melebelkan intelektual di belakang komunitasnya yang biasanya berhianat. karena intelektual bisa jadi sebagai penghancur peradaban atau pembaharu peradaban.
-----

Posted by sugeng rohadi  on  02/21  at  01:02 AM

saya sependapat apa yang dipaparkan oleh Buya dalam hal ini para intelektual hanya melakukan hanya suatu pemikiran yang membuat suatu negara menjadi carut marut seperti para ulama yang dalam hal ini dengan kekuasaan nya dalam memfatwakan sesuatu itu haram dan halal padahal ia sebenarnya tidak memeberikan kontribusi yang baik bagi negara dan bangsa, kalaupun untuk demi kemaslahatan umat malah menjadikan umat tersebut chaos kita lihat saja aliran ahmadiyah dan aliran eden dengan difatwakan nya mereka dapat membuat indonesia menjadi kacau seperti di solo dan sulaweasi.seperti halnya para intelektual yang hanya bisa ngomonga aja dengan teorinya tetapi aplikasinya seperti antara timur dan barat

Posted by salman nasution  on  02/27  at  10:02 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq