Karikatur Nabi: Bentrokan Peradaban atau Ketidakberadaban? - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
13/02/2006

Karikatur Nabi: Bentrokan Peradaban atau Ketidakberadaban?

Oleh André Möller

Di Suriah dan Libanon, Kedutaan Besar Denmark diserbu massa yang mengamuk. Di Jakarta, sebagian umat Islam membakar-bakar bendera Denmark dan menyerukan boikot atas produk-produk Denmark. Di Denmark sendiri, orang ultra-kanan mengancam akan membakar Alquran di tempat umum. Protes dan demo umat Islam Denmark pun menyusul. Orang Skandinavia di seluruh Timur Tengah diimbau pemerintahannya segera pulang ke tanah air masing-masing. Para duta besar semakin resah, dan ada pula yang sudah dipulangkan. Kok bisa sekacau ini?

13/02/2006 01:50 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (26)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

There is no peace among nations without peace between religions. Pesan Hans Kung ini sejak awal telah mewanti-wanti betapa pentingnya menjaga kerukunan beragama demi perdamaian dunia. Sayang, pesan ini agak dilupakan Jylland Posten. Tapi semua itu terlanjur terjadi, kalau kita tanggapi dengan darah mendidih terus, masalah ini akan berlarut-larut dan sulit ditemukan solusinya. Reaksi anarkis harus dihentikan karena itu hanya akan memperkuat image Islam sebagai agama kekerasan dan teror. Sikap yang calm and cool yang mengutamakan dialog hendaknya lebih diutamakan.

Saya kira itulah solusi yang lebih mungkin untuk saat ini. Tentang solusi jangka panjangnya saya sepakat dengan saudara Moller untuk mengajarkan sejarah agama - agama di sekolah, kalau perlu sejak SD. Ide ini juga sempat saya perjuangkan lewat tulisan-tulisan di buletin komunitas kami (Religions and Tolerance Studies Forum, Yogya) dan rencananya akan kami gelar seminar nasional untuk tema tersebut namun masih terganjal (lagi-lagi) “birokrasi”.

Kerukunan beragama memang tak cukup hanya diwacanakan tapi harus diperjuangkan pada realitas empiris, pada “dialog kehidupan”.

#1. Dikirim oleh Erham Budi Wiranto  pada  13/02   08:02 AM

Assalamualaikum Kalau kita melihat sejarah perkembangan agama, semua mulai dengan ”katanya-katanya” baru ratusan tahun kemudian mulai dibukukan, ini berlaku pada agama Yahudi yang katanya 600 tahun kemudian baru dapat dibuat kita suci Agama Yahudi, dan sampailah pada kehidupan nabi Isa, inipun tidak terlepas dari ”katanya-katanya” sehingga terjadi keberadaan kitab suci Injil yang berbeda. Dan selanjutnya, sama ini berkembang pada periode nabi Muhammad. Walaupun di saat mendapat wahyu pertama di mana umur nabi Muhammad adalah 40 tahun, tentunya selama kehidupan sebelumnya telah masuk ke bawah sadarnya pengetahuaan agama dari para keluarga, rabi, dan saat nikah dengan Chadijah yang beragama Kristen, apalagi pamannya Chadijah itu seorang rabi, jago dalam agama Kristen yaitu Warraq. Semua itu menjadi pengalaman penting, dan modal dalam bereaksi dalam menjawab wahyu pertama, bacalah........bacalah, dst.

Saat nabi Muhammad meninggal juga tidak lepas dari masalah kehidupan, ----sebagian pengikutnya menganggap nabi itu Tuhan (sepertipun anggapan bahwa nabi Isa itu Tuhan) yang tidak percaya kok Tuhan dapat meninggal, tapi di lain pihak yaitu Abu Bakar menjelaskan nabi Muhammad itu bukan Tuhan, tapi manusia biasa, tidak terlepas dari kesalahan walaupun, oleh sebagian pengikutnya dianggap nabi Muhammad tidak pernah bersalah untuk masanya.

Nah saat ini, ada karikatur nabi yang mungkin sebagai wujud dari kecamuk yang terjadi di dunia sebagian besar umat Islam yang membentuk kesan negatif bagi non-Islam. Sebenarnya wajar saja,--- kalau kita berkehendak instropeksi sedikit, maka dalam membuat reaksi tidaklah usah demikian hebat, karena bagi nabi Muhammad yang saat ini berada di sisi Allah tentunya merasa sedih mengapa umatnya demikian adanya, ataukah merasa lega karena apa yang diramalkan terjadi, yaitu umatnya akan terpecah belah. Tentunya wajar sebagian umat marah besar, karena nabi Muhammad adalah dipakai sebagai simbol ketakwaan terhadap Allah, dan jangan lupa, juga sebagai alat untuk mencapai ambisi politik, mempertahankan kedudukan, dan yang penting mendapatkan duit.

Karikatur tersebut adalah suatu gambar yang apik, tapi sayang diakhiri lukisan oleh orang yang sangat benci pada ulah umat Islam yang tidak islami, yaitu dengan diembeli mata sang nabi dalam bentuk mata yang melotot- marah. Gambar sketsa itu juga menunjukan dinamit yang berada di sorbannya nabi, yang tentunya merupakan perwujudan pikiran sebagian besar umat Islam yang isi dari otaknya dengan bom bunuh diri.

Dengan kemarah yang sudah tidak proposional lagi dari para umat yang mencintai nabi, ini mencerminkan apa yang dilukiskan itu memang demikian adanya.

Sebaiknya, jangan demikian reaksi itu, kita harus mengambil makna manfaatnya yang lebih baik, yaitu merubah kesan jelek yang kadung telah terbentuk itu menjadi kesan yang baik, bijak, dan sejuk seperti yang telah diperlihatkan oleh ”JIL Indonesia” ini, yang berkehendak merubah diri kearah kesejahteraan umat.

Wassalam.

#2. Dikirim oleh H. Bebey  pada  13/02   06:02 PM

Kalau saya beranalogi, kejadian ini seperti orang yang terkena penyakit maag akut. Sudah berang tentu, meski munculnya secara tiba-tiba penyakit ini bukannya tanpa sebab. Pola makan yang tidak teratur merupakan penyebab utamanya. Dan tentu saja, sebelumnya telah terjadi gejala-gejala kecil seperti sedikit mual dan perih misalnya. sebagai dokter, jika ada pasien yang datang dengan jenis penyakit ini, ia akan memberi dua hal. Pertama, adalah obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit yang sudah “terlanjur” muncul. Yang kedua, ia akan memberi nasihat agar si pasien memperbaiki pola makan agar penyakit serupa tidak akan muncul lagi di masa yang akan datang.

Pada prinsipnya saya setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh saudara penulis. Namun, solusi itu hanyalah (ibarat sang dokter) nasihat pada pasien untuk mencegah agar penyakitnya tidak muncul lagi. Ini hanya merupakan solusi jangka panjang. Lalu bagaimana untuk mengatasi kejadian yang sudah terlanjur terjadi?

Umat Islam juga bukannya langsung reaktif dengan apa yang telah dipublikasikan media Denmark itu. Bukankah sudah ada usaha-usaha dialogis yang dilakukan oleh para duta besar negara-negara Islam dengan PM Denmark itu? Tapi apa hasilnya? Dengan adanya penolakan dari PM tersebut, bukankah ada kesan “kesombongan”?

Lalu salahkah (saya tidak sedang menjastifikasi tindakan anarkis yang berlebihan) jika reaksi yang muncul adalah misalnya, boikot terhadap produk Denmark, demonstrasi di depan kedubes-kedubesnya sambil membakar bendera. Sesekali orang-orang yang sombong juga harus diberi shock therapy agar mereka mau menyadari kesombongannya. Agak kasar dan menyakitkan memang, tapi bukankah disuntik dokter dan meminum obat yang pahit itu juga cukup menyiksa? Itu merupakan Solusi Jangka Pendeknya. Sama seperti sakit maag akut yang harus disuntik dan diobati agar sembuh dulu. Saat mereka sudah menyadari kesalahan, baru kemudian kita galakkan dialog-dialog antar agama.

Wallahu A’lam

#3. Dikirim oleh Misbahul Huda  pada  13/02   09:02 PM

Saya melihat reaksi umat Islam diseluruh dunia meyikapi pemuatan karikatur Nabi Muhammad saw oleh pers denmark sudah jelas dipikirkan sebelumnya oleh pembuat karikatur tersebut. Jadi karikatur tersebut memang tepat dan benar sekali seperti wajah - wajah Islam pada umumnya. Wajah yang selama ini digambarkan keras, merusak dan tukang membunuh dengan cara bom diri. Ternyata benar spti yang terlihat dari reaksi para umat islam dengan cara - cara yang sangat islami? Seperti membakar bendera, boikot product Denmark sampai pada pengusiran warga Denmark. Ini memalukan sekali dan sangat tidak dewasa, justru tindakan reaksi tersebut lebih rendah nilainya dari pembuatan gambar karikatur tersebut.

Padahal banyak sekali contoh2 Rasullah bersikap baik dan santun kepada orang - orang yang membencinya, reaksi Rasullah tidak seperti reaksi pada umumnya umat Islam sekarang.

Ini akan semakin menjustifikasi bahwa benar ajaran Islam itu mengusung kekerasan dan permusuhan padahal islam adalah ajaran yang membawa kedamaian.

Saya sepakat, bahwa tindakan yang dilakukan oleh pers Denmark itu merupakan tindakan yang sangat merendahkan keyakinan umat Islam, tetapi cara meyikapinya saya pikir harus lebih Islami dan beradab. karena kita harus sadar bahwa kita hidup bukan hanya umat Islam saja, mungkin ini bentuk dari propaganda beberapa kelompok yang mencari kepentingan dari situasi ini.

Reaksi umat Islam di Indonesia pada umumnya terhadap pemuatan karikatur rasullah saw, mengingatkan saya lagi pada sejarah penumpasan G30S-PKI. Banyak masyarakat yang ditanggap oleh penguasa (orde baru) yang dituduh terlibat oleh PKI tanpa diadilin dan diperlakukan secara tidak manusiawi sampai bertahun - tahun.

Justru tindakan Orde Baru tersebut malah lebih kejam lagi dari tindakan PKI yang dituduhkan oleh orde baru(walaupun kita tahu bahwa sejarah pembunuhan para jenderal masih simpang siur, apakah dilakukan oleh PKI atau kelompok yang lain?

Cobalah untuk merespon protes terhadap karitur Rasulullah saw lebih dilakukan secara manusiawi, kita sebagai umat Islam bisa melalui jalur hukum yang saya pikir itu lebih educated (berpidikan), Terus desak dan lakukan advokasi terhadap dunia bahwa tindakan itu meyinggung keyakinan umat Islam.

Sehingga kita bisa membuktikan bahwa umat islam adalah umat yang beradab yang bukan tukang merusak - rusak dan membakar bendera.

Mari tebarkan peradapan di muka bumi ini.

amin

salam

hartoyo

Pemerhati sosial dan Gender di medan

#4. Dikirim oleh Hartoyo  pada  13/02   11:02 PM

Dalam mengomentari kasus ini yang menjadi titik berat adalah penghinaannya bukan reaksinya.

Seperti kata pepatah tidak ada asap kalau tidak ada api. Dalam hal ini yang menjadi api adalah penghinaan thd Rasulullah oleh Jylland Posten, sedangkan demonstrasi dgn segala macam reaksi dari umat Islam adalah asapnya.

Jadi tidak fair kalau yang disorot yang dihakimi yang didesak agar segera “sadar” adalah asapnya. Jika terjadi kebakaran pada suatu gedung yang akan disiram/dimatikan adalah apinya oleh pemadam kebakaran, bukan asapnya yang di tiup-tiup.

Marilah berpikir obyektif, tidak usah melebar2 kan komentar dgn membawa bawa fundamentalis/radikal/teroris, karena substansinya adalah penghinaan jadi yang perlu dihentikan adalah penghinaan itu.

Justru yang aneh adalah jika seorang muslim yang diam saja dengan penghinaan ini.

Kenapa kalian tidak mengecam si pembuat karikatur tsb ?

#5. Dikirim oleh Herry  pada  14/02   12:02 AM

Sebagai orang Islam yang pengetahuan soal agama masih minim, saya sangat terluka dengan pemuatan karikatur Nabi Muhammad oleh koran Denmark. Saya yakin pula, semua muslim merasakan hal serupa. Reaksinya saja yang berbeda. Ada yang melampiaskan kemarahan dengan melakukan unjuk rasa atau memboikot produk-produk Denmark, atau membakar. Yang aneh, justru ada sebagian muslim yang mengutuk reaksi itu. Benar bahwa Islam mengajarkan perdamaian, kasih sayang, rahmatan lil alamin.

Namun, bagi saya, reaksi saudara-saudara kita itu sangat wajar. Jylland Posten tidak mungkin tidak tahu bahwa tindakannya akan memunculkan reaksi seperti itu. Bahkan, boleh jadi mereka memang sengaja memancing kemarahan umat Islam.

Boleh saja, Jylland Posten mengantasnamakan kebebasan pers. Tapi, seperti dilaporkan kantor berita terkenal, kenapa mereka menolak memuat karikatur lelucon yang menggambarkan Yesus.

Saya yakin, Jylland Posten dan koran-koran barat lainnya yang ikut memuat karikatur Nabi punya agenda tersembunyi. Mereka ingin memancing kemarahan. Jika sudah begini, apakah kita harus menyikapinya secara biasa-biasa saja? Toh, bukan kali pertama umat Islam yang sebenarnya penyabar dilukai hatinya.

#6. Dikirim oleh lanang jati  pada  14/02   03:02 AM

“Akhirnya, ironis bukan bahwa Huntington menggunakan kata ”peradaban” (civilization). Mana ada peradaban yang berbentrokan seperti itu? Justru, tidak beradab itu...”

Tulisan di atas adalah kutipan dari klimaks pemikiran Mas Moller.  Menurut hemat saya, tidak ironis Huntington menggunakan kata “peradaban”.  Mengapa ? karena kata “peradaban” itu sendiri netral dan umum sifatnya, dalam pengertian kata tsb bisa memiliki dua pengertian yaitu “peradaban yang beradab” dan “peradaban yang tidak beradab”, jadi istilah “benturan peradaban/clash civilizations” masih valid utk digunakan.  Karena kata “beradab” itu sendiri tidak universal, tetapi dibatasi oleh konteks ruang, waktu, nilai & norma yang berlaku.  Bisa jadi sesuatu hal dipandang “beradab’ oleh suatu masyarakat tertentu, namun disisi lain dipandang “tidak beradab” oleh masyarakat lainnya.

Sedangkan usulan (solusi) dari Mas Moller untuk mencegah terulangnya kejadian serupa (benturan peradaban ?) di masa mendatang dengan memberikan semacam dialog antar agaram yang diwujudkan di tataran praksis dengan memberikan sejarah ilmu agama di SD s/d SMA, menurut hemat saya hal itu bisa saja diuji cobakan.  Namun, rasanya sih bukan itu inti persoalannya.  Inti persoalannya adalah bagaimana caranya “mengikis” faham/pandangan yang memegang dengan kukuh bahwa “kebenaran” itu hanya memiliki satu wajah.  Ketika paham ini diajarkan oleh lembaga-lembaga agama, maka inilah yang kemudian menimbulkan sikap “sombong/arogansi” merasa diri/kelompoknya lebih benar/lebih baik dari kelompok yang lainnya. 

Dialog apapun itu nama dan bentuknya, jika faham ini yang sudah mendarah daging dalam setiap insan pemeluk agama, maka dialog tersebut kemungkinan besar hanya menemui jalan buntu dan kalaupun berhasil pun nilainya bisa jadi semu.  Jadi langkah yang terbaik (menurut hemat saya) adalah berikan “pencerahan/penyadaran” kepada semua kalangan masyarakat oleh semua pihak bahwa di dalam kehidupan ini, “kebenaran” itu tidak hanya mewujudkan dirinya dalam satu wajah saja.  Demikian dan mudah-mudahan nyambung…

Salam sejahtera & terimakasih.

#7. Dikirim oleh rais sonaji  pada  14/02   07:03 AM

Dalam demokrasi ada kebebasan, setiap orang bebas berpendapat, semua orang sadar. Pertanyaannya demi demokrasi, berapa panjang atau jauh kebebasan itu. Menurut saya secara demokratis setiap orang punya “radius kebebasan yang sama” membentuk luas lingkaran kebebasan yang sama pula.

Kalau lingkaran-lingkaran kebebasan itu terus berkembang sejauh ruang dan sepanjang radius kebebasan bisa tak terhingga, tetapi begitu berkembang dan menyinggung lingkaran kebebasan yang lain, disitulah titik singgung yang merupakan batas kebebasan harus berhenti karena demi demokrasi, kalau-kalau lingkaran kebebasan harus bersinggungan secara baik, itulah daerah singgung, daerah saling toleransi harus dibuat demi demokrasi itu sendiri.

Kesimpulannya. Kebebasan dalam demokrasi ada batasnya, yaitu daerah singgung. Di situlah diperlukan toleransi.

Kalau tidak ada toleransi. Daerah singgung akan tidak mengenakkan. Kalau ada toleransi, bisa enak, saling masuk, saling mengisi, saling memberi warna, bisa lebih harmonis dan indah & nikmat untuk dirasakan.

Menurut saya, karikatur Nabi Muhammad sudah masuk daerah singgung, perlu toleransi dan saling menghormati.

Salam.

#8. Dikirim oleh Fakih  pada  15/02   03:03 AM

Dear Mr Moeller,

Saya tidak percaya bahwa kemarahan yang terjadi di antara ummat Islam karena kasus kartun Nabi adalah disinyalir sebagai bentuk modern clash of civilitation tetapi saya mengakui bahwa itu semua terjadi karena kelemahan paham dan peradaban barat sendiri dalam memahami orang lain.

Sejarah sudah membuktikan ketika orang-orang Islam mengerti bahwa tanda Salib dan patung Bunda Maria adalah objek-objek yang sangat sakral buat orang Kristen, dengan penuh sadar orang Islam tidak pernah melakukan pelecehan terhadap objek-objek tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung.

Demikian juga ketika orang-orang Barat yang apakah secara sadar atau tidak mengakui bahwa ketika terjadi Perang Dunia Kedua, banyak sekali terjadi pembunuhan innocent people oleh tentara Jerman dan ditengarai bahwa kebanyakan daripada victim itu adalah orang yahudi, sampai saat sekarangpun tidak ada satupun pers Barat yang berani memberitakan sesuatu yang bertentangan/yang menyinggung perasaan orang Yahudi.

Lantas kenapa sesuatu yang menjadi inti daripada keyakinan orang Islam bisa dijadikan sesuatu bahan tertawaan?

Apabila Mr Moeller setuju bahwa civilitation adalah merupakan proses membentuk manusia menjadi lebih baik dan lebih beradab, apakah peradaban baru yang dibentuk itu membenarkan sebuah kebebasan berpendapat/ berperilaku yang melecehkan orang lain?

Wassalam,

La Sali mangari weru.

#9. Dikirim oleh La Sali managri weru  pada  15/02   10:03 PM

Pemuatan kartun itu memang jelas penghinaan terhadap umat Islam sedunia. Reaksi umat dari yang lunak hingga keras, merupakan hal yang wajar, karena Nabi Muhammad adalah ‘idola’ dari setiap kaum muslimin (tentunya bagi yang masih menjunjung tinggi aqidahnya). 

Sebenarnya kalau dibilang reaksi umat Islam terlalu berlebihan, kenapa tidak kita balik, kenapa juga orang barat/yahudi atau golongan2 anti islam sangat rajin memancing masalah dengan umat Islam? Saya rasa bukanlah umat Islam yang radikal, berlebihan dll melainkan mereka2 itu (golongan2 anti Islam) yang berlebihan dalam memusuhi umat Islam.

#10. Dikirim oleh Seno Narisworo  pada  15/02   11:02 PM

Banyak yang dgn Andre Miller saya setuju, spt bahwa freedom of speech harus dibatasi oleh nilai-nilai tertentu. Salah satu contoh adalah Nazi. Nazi adalah hantu yang paling menakutkan, bagi kebanyakan masyarakat Eropa dan Amerika, mereka melarang NAZI dalam bentuk apapun baik karikatur, lambang Nazi, dan lain-lain. Bahkan ketika Paus Benedict terpilih di Vatikan, mereka (Amerika & Eropa)mengkhawatirkan Paus baru yg dari Jerman ini mewarisi darah Nazi. Padahal Nazi dan Paus Benedict tidak ada hubungannya. Freedom of Speech dibatasi oleh nilai-nilai tertentu seperti pendapat yg dinilai ekstrim, menghasut kaum tertentu.

Seminggu yang lalu, saya membaca berita di koran ARAB NEWS (harian Inggris yg paling diminati di Timur Tengah), hal yang sama ditayangkan TV Al Jazeera, bahwa JYLLAND POSTEN memang menerapkan standard ganda atas KEBEBASAN MENGELUARKAN PENDAPAT. Karikatur yang masuk ke Redaksi Tabloid tersebut tidak hanya karikatur yg melecehkan Nabi Muhammad, tetapi di Redaksi Jylland Posten beberapa karikatur juga ada yang menghina YESUS, menghina YAHUDI, tetapi mereka tidak pernah memuat karikatur selain yang menghina Muhamad SAW. Kalo memang mereka menganut kebebasan mengeluarkan pendapat (dengan fair) tentu mereka juga memuat karikatur yg menghina Yesus dan Yahudi.

Alasan mereka sudah jelas, untuk menghindari protes dari kalangan kristiani dan yahudi yang berada di seluruh dunia. Nah inilah BUKTI NYATA, bahwa JYLLAND POSTEN memang sengaja memancing kemarahan umat Islam. Jadi saya tidak setuju dgn kesimpulan Andre Miller.

#11. Dikirim oleh ISAAC JAMES  pada  17/02   04:02 AM

Saya setuju dengan penulis bahwa reaksi yang diberikan umat muslim dengan kekerasan sungguh tidak lebih baik dari pemuatan karikatur tersebut. Saya jadi bertanya-tanya apakah benar seperti yang sering disimpulkan non muslim atau barat bahwa Islam = kekerasan = keterbelakangan?

Cobalah lebih bijak menanggapi segala permasalahan sehingga jangan sampai kita ingin menggali lubang untuk musuh-musuh kita malah kita sendiri yang terjerembeb masuk kedalam lubang itu sendiri. Nah lho!

#12. Dikirim oleh Euis Sari Sriwidira  pada  17/02   11:02 PM

Sedikit tanggapan saya; pikiran dari saudara Rais Sonaji; menarik untuk dicermati. Mengapa? karena peradapan menurut saya tidak berlaku universal. Sama halnya juga dengan kebebasan. Apa itu kebebasan? Saya kira jawapannya sama dengan ketika anda bertanya apa itu peradaban.

Peradaban maupun kebebasan akan berlainan makna ketika ada berusaha mendapatkan jawapannya di dalam berbagai budaya yang ada. Adap, bebas akan sangat berbeda dari sudut pandang mana anda melihatnya. Maka ketika koran Denmark itu memuat karikatur Nabi hanya karena kebebasan pers, kebebasan pers yang mana? Dalam kasus ini, jelas terlihat bahwa ternyata kebebasan itu bukanlah hal yang berlaku universal.

Begitu gencarnya negara-negara yang mengaku dirinya menghayati kebebasan termasuk kebebasan pers dan pada saat yang sama memaksakan hal itu kepada orang lain (budaya, negara lain) apakah dia sadar bahwa dia juga hidup ditempat dimana budaya, negara lain menghidupi suatu alam kebebasan yang lain?. Maka sangat disayangkan orang-orang seperti ini. Kalau anda menghayati kebebasan, mengapa anda tidak menghargai kebebasan orang lain dalam menyikapi kehidupan ini? Inilah hal-hal yang selama ini diperjuangkan mereka yang katanya pejuang kebebasan tetapi tidak perpikir bahwa orang lainpun memiliki kebebasan tersendiri. Ingatlah bahwa pada tataran-tataran tertentu kita perjuangkan bersama hal-hal yang berlaku universal tetapi ingat bahwa kita juga berbeda dalam banyak hal. Karena itu, marilah kita saling menghargai perbedaan itu supaya kita dapat hidup bersama sebagai saudara.

Salam José Dominggo

#13. Dikirim oleh Dominggo Yosef Groda Sinuor  pada  18/02   02:02 PM

Ternyata hanya di negara-negara mayoritas Islam yang kesejahtraan hidup masyarakatnya masih kurang, terjadi reaksi besar-besaran (bakar kantor kedubes, bakar bendera) sedangkan di Arab Saudi dan Emirat Arab yang masyarakatnya tidak kekurangan apa-apa tidak ada reaksi bakar-bakaran?

Memang itulah kenyataannya; kehidupan umat Islam sekarang tanpa dipikir, dikaji, sedikit-sedikit dibilang menghina umat Islam, orang di luar Islam kafir, musrik lah. Arang Arab sendiri bawa mobil buatan kafir, handphone buatan kafir, pakai baju malah yang paling mewah buatan kafir. Seandainya Nabi Muhamad SAW masih hidup, saya pikir Dia tidak akan bertindak seperti itu. Konon Dia pernah dibilang gila dan dilempari oleh orang-orang Arab yang jahiliah ketika mengobarkan dakwah Islamnya. Dia malahan menanggapinya dengan tenang, sabar dan cinta...........

Danke schön :::

#14. Dikirim oleh usep m hamzah  pada  19/02   05:02 AM

Untuk kedua kalinya saya memberikan komentar seputar karikatur Nabi Muhammad SAW, karena ada sesuatu yang mengganjal dalam diri saya yang lupa yang ungkapkan pada komentar pertama.

Saya ingin bertanya kepada tokoh, pengikut, dan mereka yang sepaham dengan JIL, khususnya pengelola situs ini. Terus terang saya heran, kenapa persoalan yang begitu besar dan sangat mendunia seputar penghinaan terhadap Nabi terkesan Anda abaikan. Dalam editorial, sama sekali situs ini tak menyinggung. Padahal, begitu ada peristiwa--apalagi yang menyangkut tindakan saudara-saudara kita, Anda langsung bereaksi. Tentu saja dengan nada miring.

Kemenangan Hamas dalam pemilihan umum di Palestina yang berlangsung secara demokratis tak luput pula dari nada sumbang. Begitu juga kasus-kasus di Indonesia seperti fatwa MUI soal prularisme, yang sebenarnya bagian dari para ulama untuk menjaga aqidah umatnya.

Kenapa situs ini tidak mengkritisi provokasi yang dilakukan Jylland Posten dan koran-koran barat lainnya? Anda memang menjadi kebebasan sebagai pihakan utama. Tapi, sebagai musim, terlukakah Anda melihat Nabi Muhammad dihina dan dinistakan sedemikian rendah? Atau tindakan Jylland Posten masih dalam koridor kebebasan? Bagaimana awak JIL? Tolong Anda bersuara soal ini, jangan hanya meminjam penulis seperti Andre Moller untuk membahasnya.

#15. Dikirim oleh lanang jati  pada  19/02   06:02 AM

Persoalan Karikatur Nabi merangsang saya untuk memunculkan dua pertanyaan. Pertama, kenapa dan apa tujuan koran Jyllands Posten menampilkan karikatur tersebut? Kedua, mengapa umat Islam tersinggung dan marah atas karikatur itu?

Pertanyaan tersebut bisa menimbulkan banyak jawaban dan solusi. Disini saya mencoba membahas sebagian saja, yang mungkin menjadi inti persoalan dan jawabannya sekaligus.

Saya menangkap maksud tertentu-mungkin benar mungkin salah-dari karikatur tersebut. Bisa saja, karikatur Nabi dalam koran itu hendak menyindir umat Islam (“Garis Keras”) agar jangan membajak-mencoreng nama baik Nabi Muhammad. Bahwa Muhammad, sang pejuang kedamaian dan kasih sayang, janganlah dibajak, ditarik-tarik ke jalur kekerasan-peperangan.

Koran yang menggambarkan Nabi Muhammad beserta bom itu, tegasnya hendak menyampaikan: “Wahai umat Islam, ingat-sadar dan jalankanlah pesan kasih-damai kepada umat-dunia seisinya ini. Janganlah kalian membajak Nabimu (Muhammad) sebagai “Nabi Teroris”. Hentikan kekerasan dan damaikanlah dunia ini.”

Jadi, karikatur itu muncul bisa saja berangkat dari kegelisahan koran tersebut atas realita sebagian umat Islam yang menjadi teroris.

Andai betul alasan dan maksud koran tersebut seperti diatas, maka “mulia sekali” tujuan koran tersebut. Mulia? Ya, karena mengingatkan umat Islam agar jangan mengajarkan terorisme sekaligus janganlah menjadi teroris. Bukankah Islam tidak mengajarkan terorisme? Bukankah Nabi Muhammad juga bukan seorang teroris?

Namun kalau tujuan koran tersebut hendak menghina Muhammad, melecehkan umat Islam, mengacaukan kedamaian, tampaknya koran tersebut harus hati-hati dan segera mengevaluasi diri.

Koreksi mendasar bagi koran tersebut: kenapa harus Nabi Muhammad -manusia yang dikenal umat dunia sebagai penebar kasih-damai itu- yang dilambangkan sebagai “Nabi Teroris”? Bukankah pelambangannya itu sendiri ironis, atau menjadi realistis karena Muhammad memang telah dibajak oleh kelompok umat Islam tertentu?

Kenapa bukan Osama bin Laden, gembong “teroris” yang mungkin telah “membajak” Nabi itu? Mengapa bukan George W Bush, Presiden Amerika yang “suka perang” yang mungkin juga telah membajak Nabi Isa (Yesus) itu? Atau siapapunlah orangnya yang mengacaukan kedamaian ini?

Saya coba ambil “positifnya”. Ya, semoga saja tujuan koran tersebut hendak mengajak masyarakat dunia menghentikan perang dan aksi terorisme dari berbagai pihak. Meskipun mereka (koran itu) bisa dianggap keliru juga dengan “membajak” nabi.

“Kekeliruan itulah yang membuat umat Islam khususnya aliran “garis keras” marah. Dari sisi pengambaran “asli” Nabi Muhammad dalam Islam memang terlarang sekaligus ironis dengan profil Muhammad itu sendiri. Namun dari sisi “penyindirian” lewat karikatur Nabi, koran tersebut menemukan fakta kebenaran.

Terbukti, sebagian umat Islam memang sebagai teroris. Terlebih, umat Islam “garis keras” yang disindir sebagai pembajak nabi itu, marah besar. “Garis keras” telah meluapkan kemarahannya. Mereka melakukan pengrusakan membabi buta, pengancaman, pembakaran bendera sampai pemboikotan produk-produk Denmark dan negara yang mendukung karikatur tersebut.

Bahkan tidak menutup kemungkinan, “garis keras” ini akan “membalas dendam”, entah dengan bom (bunuh diri) atau kekerasan membabi buta lainnya. Semoga saja tidak terjadi.

Sekarang yang terpenting, persoalan karikatur Nabi yang bersifat “khusus” itu jangan diangkat kewilayah “publik”. Jika sampai ke “publik” bahayanya lebih besar (terlebih jika ada “pihak ketiga” yang memanfaatkan situasi ini), bisa saja menimbulkan ketegangan umat, kekacauan politik (perang), kelumpuhan ekonomi (PHK, pengangguran dll), krisis sosial-keamanan (diskriminasi) dan seterusnya.

Sudahlah, koran tersebut kita maafkan (toh mereka pun juga sudah minta maaf meskipun Pemerintah Denmark enggan menindak koran tersebut karena menganut kebebasan pers atau mungkin ada faktor lain). Disisi lain, mungkin kita patut berterimakasih atas perhatian dan tujuan baik (meskipun caranya kurang tepat) koran tersebut untuk mengingatkan dan mengajak umat Islam mewujudkan kedamaian-membasmi teroris.

Dengan sikap seperti diatas, “benturan kebiadaban” dapat dihindari. Semoga pesan kasih-damai para Nabi dapat bersama kita wujudkan.

#16. Dikirim oleh Sarwanto  pada  19/02   05:02 PM

Yang dibilang Andre Moller ada benarnya. Namun Moller sedikit terperosok ke dalam judgemental error. Moller mesti memahami bahwa dalam rumus psikologi, di mana ada aksi akan timbul reaksi. Logika sederhana ini sudah cukup mengatakan bahwa sudah sewajarnya umat Islam bertindak demikian. Adapun jika kemudian terjadi perusakan-pengrusakan, itu adalah ekses dari reaksi. Bukan Islamnya yang mengajarkan destructiveness, namun insan-insan ini yang secara psikologi memang bisa dikatakan wajar untuk berbuat anarki.

Mestinya, Barat paham untuk jangan bermain api dengan umat Islam. Aliran agama apapun tidak membenarkan simbol-simbol keagamaannya diinjak-injak.  Barat semestinya harus banyak belajar. Teori benturan peradaban akan absurd jika Barat tidak mengompori dan menyalahi kebebasan berbicaranya sendiri.

#17. Dikirim oleh Hans Isaac  pada  19/02   10:02 PM

Saudaraku…

Saya sudah melihat karikatur yang dimuat oleh Jylland Posten, dan reaksi saya? Memang, awalnya saya merasa sedih dan tersinggung ketika junjungan saya dilecehkan sedemikian rupa. Tapi kekesalam saya terhenti sampai di situ saja. Tapi ada yang lebih membuat saya sedih saat melihat reaksi publik yang ternyata over-reaktif dalam menyikapi permasalahan ini. Hal tersebut semakin menegaskan citra Islam sama dengan kekerasan; persis seperti yang ada dikarikatur tersebut.

Karena itu, sudah saatnya kita menghentikan segala sesuatu yang berlebihan dan memberikan citra bahwa Islam itu damai dan rahmatan lilalamin. Saya yakin apabila Rasulullah masih hidup, ia tidak akan pernah mengizinkan reaksi emosional seperti ini terjadi. Percayalah! Lha wong diludahi setiap hari aja masih santai, ya khan?

#18. Dikirim oleh rynal may f  pada  19/02   11:02 PM

Kasus karikatur nabi yang dimuat di harian Denmark memberikan kita pelajaran bagaimana kebebasan perlu untuk menghormati hal-hal yang dihormati orang lain.  Kebebasan yang disertai etikalah yang perlu dikedepankan sekarang ini. Perlu disadari bahwa manusia hidup berdampingan dengan manusia yang lain. Kita diberi kehendak bebas oleh Tuhan untuk melakukan apapun. Manusia menurut filsafat Barat cenderung untuk melakukan kejahatan. Namun sekaligus manusia juga berkehendak agar tidak ada orang lain yang menyakiti dirinya. Dalam konteks ini, kebebasan manusia dibatasi oleh hak manusia lainnya…

Mengacu pada kasus kartun nabi, hak kebebasan koran Denmark melakukan apapun seharusnya dibatasi oleh hak kaum muslimin untuk tidak memvisualkan Nabinya.

Apa sulitnya sih saling menghormati? Toh kan jadi tidak ada yang dirugikan apabila saling menjaga hak masing-masing. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

#19. Dikirim oleh ahmad siddiq  pada  20/02   12:02 AM

Assalamualaikum..

Kasus karikatur Nabi Muhammad SAW adalah sesuatu hal yang patut kita jadikan bahan untuk melakukan introspeksi… Kadang-kadang kita selalu merasa yang paling benar, kadang-kadang kita tidak mampu menahan emosi, kreativitas, akal dan omongan kita yang dalam hal ini bisa melukai perasaan orang lain…

Kreativitas memang tanpa batas, namun ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan sebelum kreasi itu kita nyatakan dalam perbuatan, dalam sebuah karya… Demikian juga saat kita dituntut untuk selalu ‘speak up ur mind’ dalam berbagai cara dan bahasa, namun selalu ingat batasan-batasan yang ada, yang terkadang orang lain tak memiliki pendapat, tidak memiliki tingkat ‘sensitivitas’ yang sama dengan kita…

Semoga kejadian ini tidak terulang lagi, semoga kejadian ini membuat kita selalu berpikir 2 kali sebelum kita melakukan sesuatu hal...pembuat karikatur tak berpikir panjang bahwa hal itu akan menimbulkan korban, akan menimbulkan amarah dan menimbulkan efek yang sangat negatif atas usaha perdamaian di dunia ini...Saya sangat sedih melihat berbagai tindakan kekerasan yang terjadi kemarin di kedutaan besar amerika di Jakarta, saya sangat sedih mendengar jatuhnya korban saat demonstrasi di Nigeria…

Semoga semuanya dapat diselesaikan dengan cara yang arif dan damai oleh segala pihak...Semoga jangan ada lagi semua nada ‘menghina’ baik terhadap apapun suku, agama, ras, golongan yang ada di dunia ini, yang ada di Indonesia ini…

Damai di bumi…

Walaikumsalam…

#20. Dikirim oleh adrianus adritomo budi setiawa  pada  20/02   01:03 AM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq