Keberanian dan Kebebasan Beragama - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
06/11/2006

Keberanian dan Kebebasan Beragama

Oleh M. Guntur Romli

Pada periode Madinah, kita sering disuguhi dengan kisah peperangan Rasulullah, namun bukan berarti, peperangan adalah penaklukan akidah. Saya ingin mengutip beberapa riwayat yang dirilis oleh Ibn Jarir al-Thabari dalam tafsirnya mengenai ayat la ikraha fi al-din.

Pengakuan terhadap prinsip kebebasan bersumber dari kebesaran hati. Sebaliknya, hati yang kecut dan jiwa yang kerdil akan selalu takut pada kebebasan. Atas dasar ini saya menolak anggapan Paus Benediktus XVI dalam pidatonya beberapa bulan lalu, bahwa ayat 256 dari Surat Al-Baqarah yang berbunyi la ikraha fi al-din—tidak ada paksaan dalam agama—sebagai pilihan Rasulullah dalam kondisi yang lemah dan di bawah ancaman.

Padahal kalau kita menyimak dari asbâb al-nuzûl (sebab-musabab turunnya ayat), ayat tersebut turun pada periode Madinah, manakala Rasulullah dan umat Islam sangat kuat, bukan pada periode Makkah manakala Rasulullah masih lemah. Jadi, pengakuan terhadap kebebasan beragama merupakan pilihan berdasarkan keberanian, bukan ketakutan. 

Pada periode Madinah, kita sering disuguhi dengan kisah peperangan Rasulullah, namun bukan berarti, peperangan adalah penaklukan akidah. Saya ingin mengutip beberapa riwayat yang dirilis oleh Ibn Jarir al-Thabari dalam tafsirnya mengenai ayat la ikraha fi al-din.

Hadis nomor 4668 yang diperoleh al-Thabari dari Ibn Hamid yang sampai mata-rantai periwayatannya (sanad) pada Ibn Abbas, bahwa ayat ini turun pada seorang bapak bernama al-Hashin dari bani Salim bin Auf, ia telah memeluk Islam, tapi masih memiliki dua anak laki-laki yang masih Kristen. Konon ia meminta kedua anaknya agar masuk Islam namun mereka abai. Akhirnya al-Hashin mendatangi Rasulullah dan berkata, “A la astakrihuma fa’innahuma qad abaya illa al-nashraniyah?” (apakah saya tidak bisa memaksa mereka, karena mereka telah menolak ajakan saya, dan mereka tetap memeluk Kristen? Pertanyaan al-Hashin tesebut direspon dengan turunya ayat itu.

Sayangnya ada golongan Islam “Qitalis” (dari kata qitâl artinya perang) berusaha menasakh (membatalkan) ayat ini dengan ayat-ayat “pedang”. Mereka memakai hadis nomor 4690 hasil riwayat Musa bin Harun dalam tafsir al-Thabiri juga. Redaksi hadis ini lebih lengkap dari yang pertama. Syahdan ada pedagang minyak dari Syam (Syiria saat ini) yang datang ke Madinah. Ia bertemu dengan dua anak laki-laki al-Hashin, dan mengajak mereka masuk Kristen. Ternyata dua anak laki-laki itu mau dan bersama pedagang tersebut mereka pergi ke Syam. Ayah mereka al-Hashin terpukul dan melaporkan kejadian tersebut pada Rasulullah. Adapun respon Rasulullah mirip dengan riwayat di atas.

Namun dalam riwayat ini ada tambahan yang berasal dari Musa bin Harun, “wa lam yu’mar yawma idzin biqitali ahli kitab” (waktu itu belum diperintahkan untuk memerangi ahli kitab). Dan berdasarkan riwayat ini, kaum “Qitalis” itu menyatakan bahwa ayat la ikraha fi din dinasakh oleh ayat-ayat perang dalam Surat Bara’ah (al-Taubah).

Pada hemat saya, pendapat yang mengatakan bahwa ayat-ayat yang menegaskan kebebasan dan perdamaian dinasakh oleh ayat-ayat perang merupakan pendapat yang berlebihan dan ngawur. Kalau kita cermati, ayat 256 dari surat al-Baqarah itu kasusnya adalah tidak boleh ada paksaan dalam agama, dan pengakuan terhadap agama ahli kitab (penganut agama yang memiliki kitab suci) Karena pada waktu itu yang dikenal hanya Kristen, Yahudi, dan Majusi, merekalah disebut ahli Kitab. Namun saat ini, cakupan ahli Kitab ini bisa diperluas, meliputi seluruh agama yang memiliki kitab suci. Pendapat ini telah dimulai sejak Muhammad Abduh dalam tafsirnya al-Manar yang memasukkan agama Hindu dan Budha sebagai golongan ahli Kitab.

Sedangkat ayat-ayat dalam surat al-Taubah memiliki kasus yang berbeda dan tidak bisa menasakh ayat 256 al-Baqarah. Pertama ayat dalam surat al-Taubah itu ditujukan untuk kaum musyrik di Makkah bukan ahli Kitab. Misalnya ayat 5 yang berbunyi, faqtulu al-musyrikin haytsu wajadtum—bunuhlah orang yang musyrik itu, dimana saja kamu temui—redaksi ayat ini menggunakan kata-kata “musyrik” bukan “ahli kitab”.

Kedua, perintah perang disebabkan pengkhianatan kaum musyrik Makkah terhadap perjanjian genjatan senjata Hudaybiyah. Maka sebabnya adalah politis, bukan teologis. Tidak secara otomatis karena musyrik lantas diperangi. Kalau saja perbedaan keyakinan menjadi sebab peperangan maka kita tidak akan pernah menjumpai fakta sejarah bahwa Rasulullah berdamai dengan kelompok non-muslim. Walhasil, kebebasan beragama yang ditunjukkan oleh Rasulullah bukan pada saat ia takut dan lemah, namun sebaliknya, saat ia berani dan kuat.

06/11/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Sebuah esei yg baik dan berwawasan luas. Pandangan islam seperti inilah yg sangat diperlukan umat muslim

Posted by Yaris Saputra  on  09/10  at  06:26 PM

isi artikel ini sungguh bagus dan dapat menambah pengetahuan untuk ku. dan alhamdulillah kini saya makin mantap terhadap isi kandungan kitab suci Al`Quran
-----

Posted by RINA  on  05/16  at  02:06 AM

Dari tulisan diatas dapat kita lihat bahwa Islam bukanlah agama perang melainkan agama yang cinta damai. Sehingga saya tidak tau bagaimana keislaman org2 islam yang selama ini mendambakan perang (hahaha). Pendek kata, klo benar tulisan mas atmoon benar (mencakup ahli kitab yahudi dan kristen) mengapa Nabi Muhammad tidak melancarkan perang kepada mereka, koq hanya kaum musrik mekah saja yang diperanginya?

Posted by Ariel Sangguoo  on  11/27  at  06:12 AM

saya senang dengan artikel dan tanggapan yang panjang ini, walau sedikit berat dan membosankan untuk dibahas.. saya jadi tambah yakin; kalau memang islam adalah agama penyempurna, terutama bila dilihat dari ajaran2 yang serba teoritis di atas.. kemudian saya tunggu follow-upnya.. pesan saya; jangan terlalu sibuk bahas kulitnya, ada banyak orang yang butuh cinta dan kasih sayang dari Anda; keluarga, tetangga (seiman maupun bukan), dan seluruh bangsa dan negara kita ini.. “se-perfect2nya agama, tanpa ada perwujudannya omong kosong” ayo buktikan..

Posted by danang  on  11/24  at  08:12 PM

</b>"bahwa ayat 256 dari Surat Al-Baqarah yang berbunyi la ikraha fi al-din—tidak ada paksaan dalam agama—sebagai pilihan Rasulullah dalam kondisi yang lemah dan di bawah ancaman.”

Saya juga tidak setuju dengan penafsiran “dangkal” yang mempunyai kecondongan meremehkan akhlak Rasulullah sebagai manusia yang memang pantas dijadikan panutan karena misi sesungguhnya bukan meraih kekuasan politik tetapi memuliakan akhlak manusia yang tercela secara universal. Jadi, ungkapan la ikraha fi al-din—tidak ada paksaan dalam agama— sebenarnya suatu prinsip dasar yang sejajar dengan prinsip tauhid sebagai suatu keyakinan manusia dengan kecenderungan nafsunya masing2 yang ditegaskan atau merupakan penegasan dari ayat “lakum dinukum waliyadiin” (silahkan ceh asbabun nuzulnya saya tidak hafal apakah ayat ini diturunkan duluan atau penegasan dari Qs 2:256 tsb).

Kalau saya simpulkan dari pernyataan Paus tersebut nyata sekali bahwa seorang Paus dari salah satu agama besar masih belum mampu menafsirkan ungkapan kitab wahyu dengan benar malah kecondongannya pada hawa nafsu politik kekuasaan sangat kental. Apalagi menafsirkan kitab suci orang lain yang notabene bukan agamanya. Saya juga menghimbau kepada mereka yang berpikiran terbuka apa sebenarnya kriteria dan sejauh mana kebenaran suatu penafsiran dari orang yang bukan beragama Islam atas Agama Islam? Dapatkah penafsiran atau telahaan agama Islam dari orang yang tidak beragama Islam diikuti atau hanya sekedar wacana referensial saja?

Qs 9 : Pemutusan Total

Kemudian mengenai QS 9 at-Taubah sebenarnya kaum musyrikin yang dimaksud dalam ayat tersebut “mencakup para ahli kitab dari agama Yahudi dan Kristen” yang sudah menyelewengkan ajaran asli agama tersebut dari dasar-dasar monoteisme abrahamik murni yang misinya memuliakan akhlak manusia yang tercela menjadi monoteisme materialistik yang mementingkan politik dan kekuasaan dunia yang akhirnya melahirkan konsep Paus, Kependetaan dan tentunya Model2 Kerajaan spt di Prancis, Ingris, Jerman dan wilayah Eropa lainnya. Di Islam konsep ini diadopsi menjadi konsep Imamiyah Syi’i dan di Kristen pada era perang salib dihidupkan lagi menjadi kelompok Syon dan 9 Ksatria Templarnya (Lucunya masuk di Jawa pengaruh ala Syon dan Ksatria Templar ini di adopsi menjadi konsep Wali 9 hihihihi dan lahir kesultanan2 mulai dari Cirebon, Mataram, dst).

Jadi ungkapan kaum musyikin dan “pemutusan” hubungan atau Baraatum...yang membuka QS 9:1 sejatinya mencakup para ahli kitab (seperti halnya Paus yang salah ucap beberapa waktu yang lalu) yang telah menyelewengkan penafsiran kitab sesuai hawa nafsunya atau malah tidak mampu memaknai penafsiran agamanya dengan benar alias tidak bisa “Membaca” kitab sucinya dengan benar karena sebab-sebab pokok yang berkaitan dengan kepentingan politik kekuasaan di masa itu sampai hari ini maupun karena memang kualitas ruhaninya belum memadai.

Disamping itu, menurut penafsiran saya ada indikasi bahwa QS 9:1 menyatakan pemutusan hubungan total ajaran Islam dari ajaran Kristen dan Yahudi yang sudah terkontaminasi di zaman Nabi dan menoleh ke rasionalitas Yunani, ajaran Budha yang telah direformasi, dan hermetisme Mesir via ajaran Ofirism Phytagorean. Ajaran Budha termasuk kategori ajaran agama Bumi dimana penekanannya pada aspek dharma atau akal budi di masyarakat, sedangkan dari Yunani dan Mesir masuk konsep-konsep teosofis rasional dengan dasar-dasar kuat pada konsep ilmu pengetahuan atau sains naturalis seperti tersirat dalam ungkapan Alif-Lam-Mim-Ra maupun konsep Jiwa Yang Satu dalam Qs 6:98.

Dengan demikian, Islam memang bukan murni dari Arabia tetapi sintesis dari ajaran Tauhid terdahulu yang pernah melahirkan ajaran Monoteisme Abrahamik yang sumber asalnya dari ajaran-ajaran peradaban Kuno misalnya dari lembah Indus (konsep 1/1000 alis nir wuk tanpa jali alias aji saka), Babylonia dan Sumeria (konsep waktu 1 menit=60 detik), dari mesir konsep kalender Matahari dengan 365 hari dan satuan sehari adalah 12+12 jam alias 12 huruf laa ilaha illa Allah dan 12 hrf Muhammadurrasulullah. Selain itu terjadi reformasi sistem kalender masehi menjadi kalender basis Qomariah dan reformasi sistem huruf dari 22 huruf menjadi 28 huruf hijaiah+1 huruf uinifikasi yaitu Laam-Alif sebagai simbologi al-Mahabbah.

Sehingga Islam sebagai agama REformis bagi umat manusia adalah agama yang mereformasi monoteime Yahudi/Kristen sebagai agama langit Abrahamik, ajaran Ofirism Mesir Kuno dan Zoroaster Persia, Manichean, dan politeisme Budha, Siwa, Hindu, Zen, Tao, Konfucius dan agama bumi lainnya yang muncul di belahan Timur Jauh termasuk agama Jawa Kuno.

Demikianlah penafsiran saya tentang QS 9:1 yang berkata tentang Pemutusan Hubungan dengan sumber - sumber ajaran yang terkontaminasi. Makanya, ajaran Islam disebut ajaran tauhid yang memurnikan kembali semua agama dan keyakinan dengan basis yang mampu dibuktikan dengan nyata dengan sains masakini bahwa semua ajaran agama dan sains sumbernya Satu jua. Dan sesungguhnya tak ada pertentangan antara Agama Islam maupun sains modern hanya saja kacamata untuk melihat fenomena-Nya mempunyai filter yang beda, yang satu filternya iqra dan penyucian jiwa, tapi sains cuma Iqra doang, itupun iqra yang sebatas bilangan dan huruf semata.

Posted by atmoon  on  11/21  at  03:11 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq