Kekuatan Agama Ada Pada Harapan - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara,
17/04/2005

Santoso, berbincang tentang keimanannya: Kekuatan Agama Ada Pada Harapan

Oleh Redaksi

Beberapa peristiwa atau pengalaman unik dan menggetarkan, bisa saja sangat mewarnai corak keberagamaan seseorang. Karena itu, aspek pengamalan manusia selalu menjadi kategori penting dan tidak bisa diabaikan dalam melihat pola dan corak keberagamaan seseorang. Berikut perbincangan JIL tentang iman dengan Santoso Direktur Radio68H, Jakarta, yang baru-baru ini mendapat penghargaaan The Asia Foundation berkat jasanya di bidang reformasi media.

Soal agama dan keberagamaan sangat terkait dengan pergulatan dan pengalaman tiap-tiap individu umat beragama. Beberapa peristiwa atau pengalaman unik dan menggetarkan, bisa saja sangat mewarnai corak keberagamaan seseorang. Karena itu, aspek pengamalan manusia selalu menjadi kategori penting dan tidak bisa diabaikan dalam melihat pola dan corak keberagamaan seseorang. Itulah paling tidak kesimpulan dari perbincangan Ulil Absar-Abdalla dari JIl dengan Santoso, Direktur Radio 68H, Jakarta, yang baru-baru ini mendapat penghargaaan The Asia Foundation berkat jasanya di bidang reformasi media. Berikut perbincangan iman yang berlangsung Kamis (7/4) lalu itu.

ULIL ABSHAR-ABDALLA: Mas Santoso, bisa diceritakan bagaimana agama dikenalkan pada anda sejak kecil?

SANTOSO: Jujur, saya memang dibesarkan dalam keluarga Kristen. Ibu dan ayah saya termasuk pengunjung gereja yang taat. Sebagai keluarga yang taat, tentu mereka ingin menularkan nilai-nilai dan praktik keseharian agama yang mereka yakini, yaitu praktik beriman orang Kristen. Sejak masa kecil sampai agak dewasa, saya memang cukup patuh dalam beragama; berbeda dengan saat ini. Tapi cukup banyak juga nilai-nilai agama yang berpengaruh pada saya sampai saat ini. Misalnya nilai kasih pada sesama. Soal praktik-praktik yang ritual atau sisi yang birokratis dari agama memang sudah tidak terlalu saya ikuti. Nah, bagi saya nilai kasih sayang itulah inti dari Injil. Artinya, inti dari agama Kristen itu sebetulnya terletak di situ. Sampai sekarang, nilai itu masih merupakan nilai yang penting buat saya.

ULIL: Bagaimana riwayat perkuliahan Anda?

SANTOSO: Dulu saya kuliah di IPB. Waktu SMA, saya sebetulnya ingin menjadi insinyur, tapi jalan hidup menentukan lain. Saya akhirnya belajar Teknologi Pertanian. Sebenarnya, keahlian saya awalnya bukan di bidang jurnalistik, tapi soal irigasi. Sekarang mungkin saya ahli di bidang irigasi informasi, ha-ha. Memang, sebelum tamat IPB, saya memang sudah aktif menulis dan menerbitkan tabloid dan majalah di kampus.

ULIL: Anda langsung menjadi wartawan Bisnis Indonesia setamat dari IPB?

SANTOSO: Oh, belum. Setelah lulus IPB, saya bekerja di Kantor Berita Nasional Indonesia; sebuah kantor berita kecil yang sekarang mungkin sudah tutup. Tapi sebelum memutuskan jadi wartawan, ada sebuah peristiwa yang sangat mengguncangkan keimanan saya. Itu terjadi pada tahun kedua kuliah saya di Bogor. Ketika itu, saya masih rajin pergi ke gereja. Suatu hari saya berangkat ke kampus. Siang itu panas sekali. Dan ketika itulah saya ketemu mayat seorang gelandangan, persis di depan kampus IPB, atau berjarak sekitar seratus meter dari kampus. Saya agak shock ketika melihat kematian gelandangan tua itu. Dilihat secara fisik, dia sudah mati beberapa hari, karena matanya sudah mulai dikerubuti semut. Tempat itu sebetulnya banyak dilewati orang. Saya membayangkan, mereka yang lewat hanya melemparkan uang tapi tidak menolong.

ULIL: Apa pengaruh peristiwa itu pada Anda?

SANTOSO: Pengaruhnya, doktrin-doktrin dan praktik-praktik keagamaan yang pernah saya yakini berikut sekolah yang saya jalankan seakan-akan menjadi tidak relevan. Kalau boleh jujur, ketika itu ada kemarahan kepada apa yang misalnya disebut Tuhan. Dan juga ada kemarahan soal kenapa dia dibiarkan mati begitu rupa. Peristiwa itu membuat saya terguncang dan sulit tidur berhari-hari. Untung waktu itu saya cukup praktis. Orang itu saya bawa ke PMI dan memang dinyatakan sudah meninggal. Dokter menyatakan dia sudah meninggal pada malamnya.

Nah, pada titik itu saya mengatakan bahwa ingin menjadi wartawan karena ingin menceritakan hal-hal seperti itu. Artinya, saya ingin mengatakan kepada orang-orang bahwa kejadian seperti itu seharusnya tidak benar. Sejak itu saya semacam punya penghayatan atau pemaknaan yang lain soal keberagaman. Minimal, banyak dari segi praksis keagamaan saya yang berubah. Saya menggugat dan tidak pernah lagi pergi ke gereja. Itu terjadi sekitar tahun 1983, waktu saya masih berumur 19 tahun.

ULIL: Apakah ketika itu di kampus Anda sudah marak kegiatan keagamaan?

SANTOSO: Ketika itu saya sering ditawarkan untuk ikut PA atau Pemahaman Alkitab. Begitulah namanya dalam Kristen. Ketika di Bogor, kita diajak kumpul-kumpul di Kebun Raya. Kalau yang Islam ngumpul di al-Ghifari. Nah, saya pernah ikut sekali-dua. Tapi kegiatan seperti itu kemudian menjadi tidak menarik lagi bagi saya dan kelihatan hampa setelah kejadian-kejadian seperti tadi itu. Saya mulai bertanya apa relevansi kegiatan seperti itu. Gereja semakin tidak menarik lagi bagi saya, dan sudah seperti birokrasi biasa saja.

Peristiwa seperti itu, kini sudah lewat 20 tahun. Kini, kalau saya merenung-ulang atau menghadapi situasi yang lebih mengerikan seperti di Aceh (tragedi gempa dan tsunami), saya tidak marah lagi (pada Tuhan). Saya sedih sekali waktu tragedi tsunami menerjang Aceh. Kalau dipikir-pikir, saya memang sudah bertahun-tahun tidak pergi lagi ke gereja walau masih sering mengantar ibu saya ke gereja. Tapi kalau menyaksikan situasi di Aceh langsung, saya paham bahwa agama bisa berarti lain bagi mereka.

Artinya, pada akhirnya kita sadar juga bahwa semua akal atau pengetahuan kita ada batasnya. Ada banyak hal yang rupanya tidak bisa kita jangkau. Saya berangkat ke Aceh pada tanggal 3 Januari (gempa dan tsunami terjadi 26 Desember, Red), tapi persiapannya sudah dilakukan sejak hari pertama. Ketika itu suasananya masih sangat kacau. Di mana-mana kita masih ketemu mayat yang bergelimpangan.

ULIL: Apakah Anda kembali teringat mayat seorang gelandangan di Bogor?

SANTOSO: Saya sudah tidak terlalu semarah dulu lagi. Sekarang saya lebih fokus. Saya tahu, ini sesuatu yang tidak bisa kita mengerti seluruhnya. Tapi saya datang ke Aceh untuk membantu apa yang saya bisa bantu. Jadi secara emosional dan spiritual, saya lebih terkendali. Momen seperti itu juga menghadirkan pada saya satu kenyataan bahwa selalu ada sesuatu bernama maut yang tidak bisa kita jangkau. Sampai sekarang persoalan itu tidak bisa kita jangkau dengan akal dan pengetahuan kita.

ULIL: Anda ingin mengatakan bahwa agama bisa memberi semacam penghiburan atau harapan dalam tragedi yang besar?

SANTOSO: Ya, dan itu paling tampak dari sikap masyarakat Aceh sendiri. Saya melihat kekuatan agama ada pada mereka. Mereka cukup tabah dalam melalui guncangan dan tragedi seperti itu. Ini tak lain karena mereka punya agama, dan itulah sebetulnya poin penting saya. Artinya di kehidupan nyata, orang-orang justru menemukan kekuatan agama. Kalau tidak ada agama, kita juga tidak tahu bagaimana orang-orang Aceh yang tertimpa musibah mengisi hari-hari mereka. Jadi, kalau kita ingin mendapatkan aspek yang positif dari agama, saya kira ada pada harapan itu sendiri.

ULIL: Seteleh tragedi tsunami di Aceh, apakah Anda kembali percaya agama?

SANTOSO: Kebanyakan nilai dasar agama memang tetap saya percayai. Misalnya, dalam agama orang mesti diajarkan untuk mengasihi dan untuk berbagi. Menurut saya, nilai itu penting sekali. Nilai-nilai seperti itu sudah disosialisasikan pada saya sejak kecil. Jadi barangkali, dia sudah menjadi bagian dari dalam diri kita masing-masing yang selalu kita anggap penting. Saya juga tidak bisa berbohong kalau saya memang kurang rajin bila dinilai soal ritual-ritual keagamaan. Tapi saya juga tidak merasakan sesuatu yang lain.

ULIL: Mas Santoso, Anda pernah terlibat aktif menentang represi pemerintah Orde Baru dalam bidang jurnalistik. Apakah aksi-aksi tersebut ada sangkut-pautnya dengan penghayatan nilai-nilai agama?

SANTOSO: Kalau kita kembali pada substansi kekristenan yang paling pokok, yaitu mengasihi dan melayani sesama, saya rasa nilai itu berpengaruh pada apa yang saya lakukan. Soal kenapa saya memilih jadi wartawan juga agak linear dengan keinginan untuk melayani masyarakat agar mendapat informasi yang berimbang. Makanya, dalam pengertian nilai-nilai yang praktis dan pada aspek menjalin hubungan baik dengan sesama manusia, ini mungkin bisa disebut bagian penghayatan keagamaan. Tapi kalau dipertanyakan agama itu apa, saya terus terang juga tidak sampai tahu.

ULIL: Apakah Anda juga berupaya menularkan nilai atau praktik keberagamaan tertentu pada anak-anda Anda?

SANTOSO: Dalam ritual barangkali tidak terlalu sistematik, atau tidak terlalu encouraging atau mendorong-dorong. Tapi saya memang senang melontarkan pertanyaan-pertanyaan religius. Misalnya, kita memikirkan kenapa kita ada, atau bagaimana nantinya nasib kita. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak begitu mudah terjangkau oleh akal dan pengetahuan. Tapi biasanya sesuatu yang tidak bisa kita jelaskan dan menimbulkan tanda tanya seperti itu selalu perlu diajukan pada anak. Anak saya juga sering bertanya soal agama. Tapi resmimya dia bisa bertanya di sekolah Minggu.

ULIL: Mas Santoso, salah satu nilai penting agama adalah soal keadilan dan fairness. Nah, bagaimana Anda mewujudkan nilai itu dalam kerja-kerja di dunia pers?

SANTOSO: Pada dasarnya pers diadakan untuk melayani kepentingan publik secara umum dengan mempertimbangkan soal-soal keadilan dan fairness. Menurut saya, sebagian besar pers kita sebetulnya masih berjalan dalam koridor itu. Tapi problemnya, nilai-nilai itu memang harus diterjemahkan dalam bentuk prosedur, cara kerja, dan kode etik. Dalam praktiknya, poin itu memang harus lebih banyak perbaikan. Sebab dalam iklim kebebasan pers yang belum terlalu lama, biasanya orang cenderung rada kemaruk. Tantangan jurnalisme kita sekarang ini ada pada soal peningkatan profesionalisme atau soal bekerja dengan standar etik.

ULIL: Apakah Anda pernah mengalami dilema-dilema etik dalam dunia jurnalistik?

SANTOSO: Saya kira cukup banyak. Hampir setiap saat muncul dilema, apalagi dalam konteks pemilihan umum. Di situ banyak sekali ranjau-ranjau etika jurnalistik. Misalnya, saya ikut mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN). Dilemanya: apakah pemberitaan di Radio 68H yang saya pimpin harus condong ke PAN, atau secara tidak sadar akan condong ke PAN? Untunglah sejauh ini para pendengar tidak menilai Radio 68 H cenderung ke partai tertentu. Sebab waktu saya masih di PAN, kita di radio membuat aturan. Jadi kalau ada berita-berita tentang PAN, saya pasti tidak boleh ikut campur. Jadi, etika atau kode etik semacam itu penting sekali. Tapi etika itu juga perlu dilengkapi dengan prosedur, karena jurnalisme juga banyak menyangkut prosedur. Artinya, kalau prosedurnya benar-benar check and balance dan seterusnya, kemungkinan dia bisa lebih aman. 

ULIL: Kini kita sudah menikmati iklim kebebasan pers yang luar biasa. Apa Anda punya evaluasi pendek tentang praktik jurnalisme kita?

SANTOSO: Menurut saya penampilan jurnalisme kita masih di atas cukup. Jadi, kita sebetulnya dalam track yang benar, dan selalu merasa adanya kebutuhan untuk memperbaiki kualitas. Sekalipun ada sejumlah media yang sudah kurang ideal, tapi dampaknya jangan terlalu dianggap serius. Memang ada media yang sedari awalnya mejual sensasi, tapi media seperti itu biasanya tidak cukup penting. Nah, yang harus menjadi ukuran memang media-media yang cukup serius dan punya dampak yang berarti. Untuk media jenis ini, kekurangan pasti masih tetap ada. Tapi saya lihat niatnya masih ke arah perbaikan. [

17/04/2005 | Wawancara, | #

Komentar

Komentar Masuk (1)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

pertama, saya ucapkan selamat dengan penghargaan yang diperoleh. tapi saya kira ada yang mengganggu saya, soal independensi.

wartawan,seharusnya tak terlibat dalam organisasi yang dapat mengganggu independensinya dalam menyajikan informasi. bila profesi ini ditinggalkan, dan bergabung dengan organisasi politik macam pan, maka menurut saya independensi anda telah terganggu, mas.

there is only one way ticket. if u take the politic, u should not come back (again) as a journalist.

tapi saya kira praktik ini menjadi lazim di indonesia,wartawan merangkap politikus, atau masuk dalam tim sukses politikus tertentu, baik secara terang-terangan atau diam-diam.

tentu saja, saya kira ini praktik yang salah. ini yang saya hindari. bagi saya, menjadi wartawan berarti tidak terikat dengan organisasi yang dapat membuat cacat namanya dalam menjalankan tugasnya.

tentu saja,sekali lagi, selamat!

anugerah perkasa
——-

Posted by anugerah perkasa  on  04/22  at  04:05 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq