Kembali ke Negara Mula-mula? - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
16/08/2010

Kembali ke Negara Mula-mula?

Oleh Saidiman Ahmad

Tilly menyebut peran sentral kelompok kriminal dalam pembentukan negara. Pada mulanya adalah kelompok kriminal atau gengster. Ada kebutuhan koalisi antar gengster untuk menjaga wilayah teritori dari serangan geng lain. Pada tingkat yang lebih besar, itulah yang kemudian menjadi negara. Mereka yang kuat kemudian memperoleh apa yang disebut legitimasi. Sementara yang kecil dan lemah akan disebut sebagai pemberontak.

Kapolda Metro Jaya dan Gubernur DKI Jakarta akan merangkul Front Pembela Islam (FPI) sebagai pengaman dalam bulan Ramadan, Sabtu 7/08. Minggu, 08/08, massa berbendera Forum Umat Islam (FUI) dan FPI menyerbu jemaat Gereja HKBP di Bekasi. Pada hari yang sama, massa dengan bendera yang sama menyerbu dan merobohkan patung Bima di Purwakarta. FPI adalah salah satu pendiri FUI. Selasa, 10/08, massa berbendera FPI mendatangi kantor jemaat Ahmadiyah di Surabaya.

Meski dikecam banyak pihak, Kapolda Metro Jaya tetap berkukuh untuk menggandeng FPI dalam pengamanan. Kehendak untuk merangkul FPI ini sangat problematis. FPI adalah organisasi massa yang telah secara sistematis dan berkala melakukan gerakan-gerakan anti demokrasi dan melegalkan penggunaan kekerasan. Kekerasan sistematis yang dilakukan oleh FPI tidak hanya mengganggu harmoni dan stabilitas sosial, tapi juga secara langsung merongrong kewibawaan negara. Pada kasus kekerasan yang menimpa HKBP, misalnya, kekerasan terjadi di depan hidung polisi yang tak berbuat apa-apa. 20 orang terluka. Tapi tak satupun penyerang yang ditangkap dan diadili.

Merangkul organisasi seperti FPI adalah preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia. Gubernur dan Kapolda seperti hendak menunjukkan contoh bahwa mereka yang bisa berbuat onar justru akan direkrut sebagai pengaman. FPI selanjutnya akan menjadi penjaga keamanan atas keonaran yang mereka perbuat sendiri.

Charles Tilly, dalam War Making and State Making as an Organized Crime, mengungkap sejarah pembentukan negara. Tilly menyebut peran sentral kelompok kriminal dalam pembentukan negara. Pada mulanya adalah kelompok kriminal atau gengster. Ada kebutuhan koalisi antar gengster untuk menjaga wilayah teritori dari serangan geng lain. Pada tingkat yang lebih besar, itulah yang kemudian menjadi negara. Mereka yang kuat kemudian memperoleh apa yang disebut legitimasi. Sementara yang kecil dan lemah akan disebut sebagai pemberontak.

Tetapi teori Tilly ini adalah untuk pembentukan negara. Negara telah berkembang sedemikian rupa. Legitimasi tidak lagi didasarkan kepada kekuatan premanisme, melainkan pada mekanisme demokrasi. Niat Fauzi Bowo dan Irjen Polisi Timur Pradopo merekrut FPI mengingatkan kita pada pembentukan negara mula-mula. Apakah kita akan kembali ke masa awal pembentukan negara? Apakah negara akan dibiarkan didikte oleh kelompok preman yang paling kuat? Jawabannya jelas tidak. Kita akan menjaga negara ini terus menjadi lebih modern dan beradab. Hanya dengan itulah, seluruh rakyat bisa memperoleh manfaat dari negara.

16/08/2010 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

wah ngomongin negara semakin stroke ja xixixii…
semoga terjadi revolusi dindonesia tercinta ini

Posted by dana  on  08/28  at  08:53 AM

aku ingat lagunya mansur S. pagar makan tanaman, hehehe, wong yang bikin onar malah dirangkul jadi pengaman, apa pemerintah sudah tidak punya power lagi, apakah pemerintah kita takut sama FPI,

Posted by kang son  on  08/17  at  10:34 PM

Pemerintah provinsi yang goblok!preman berjubah kemunafikan malah di gandeng

Posted by maulana  on  08/17  at  10:29 PM

Pemerintah macam apa di DKI itu?mengamankan kota-nya sendiri aja ga sanggup!preman berjubah kemunafikan yang di suruh jaga kota!yang di ajak musyawarah dgn kepala dingin ga mau,uda begitu sok suci & benar sendiri lagi!mending jadi aja preman sekalian!!

Posted by maulana  on  08/17  at  10:27 PM

entahlah, sepertinya polri tak kuasa untuk setidaknya mereduksi agresifitas ‘ormas anarkhi tersebut… atau jangan-jangan malas bekerja (berfikir) saja.

Posted by guhtriyana  on  08/17  at  12:14 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq