Keniscayaan Liberalisme Beragama - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
26/03/2007

Keniscayaan Liberalisme Beragama

Oleh Sarasdewi Dhamantra

Kita dapat katakan, liberalisme dalam beragama adalah “anti-virus” terhadap upaya pengeroposan peradaban yang dilakukan oleh kaum fundamentalis. Kaum liberal memang seharusnya ada dan melakukan alterasi secara terus-menerus dalam sistem keagamaan, karena tampaknya, kaum fundamentalis akan semakin mewabah. Liberalisme beragama dalam hal ini muncul sebagai konsekuensi logis dari maraknya kaum fundamentalis.

Pada tanggal 22-24 Maret ini Jaringan Islam Liberal (JIL) merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Berarti sudah enam tahun, Jaringan Islam Liberal (JIL) menawarkan pandangan-pandangan keagamaan yang liberal di Indonesia. Sebuah usaha yang patut diapresiasi dan didiskusikan lebih sering oleh banyak orang.

Dua terma “liberal” dan “agama” sering tampak sebagai dua defenisi yang teramat berbeda secara kategoris. Immanuel Kant, filsuf pencerahan itu, selalu menganjurkan agar tidak terjadi kekacauan dalam pemikiran kita, maka sepatutnya kita mengikuti hukum-hukum kompartemen (pemilahan) kategoris. Dalam semangat kritisisme Kantian ini lahir pertanyaan mendasar tentang hubungan antara kata “liberal” dan kata “agama”: apakah mungkin menawarkan sebuah agama yang liberal?

Sebab, liberalisme berasal dari akar kata liber, yang berarti ‘bebas’ atau ‘bukan budak’. Itu merupakan ideologi atau pandangan filsafat yang senantiasa meninggikan kebebasan dan hak-hak individu. Jamak diketahui, faham ini diawali oleh tokoh-tokoh filsafat seperti John Lock, Rousseau, dan dalam kasus liberalisme ekonomi diawali oleh Adam Smith.

Sementara agama, yang berasal dari akar kata Latin, religare, dapat diartikan sebagai ikatan yang kuat dengan Tuhan dan kepatuhan terhadap Tuhan. Dari penelusuran makna kebahasaan yang sederhana di atas, dapat dikatakan bahwa telah terdapat perbedaan orientasi yang sangat signifikan antara liberalisme dan agama. Dan bila itu diradikalkan, tampaknya tak mungkin keduanya dipersatukan.

Ruh dari liberalisme adalah kebebasan, dan itu dibuat berdasarkan konvenan-konvenan atau kesepakatan-kesepakatan yang bersumber dari kesetaraan (equality) dan rasionalitas. Sedangkan beragama merupakan konvenan dengan Tuhan tanpa transaksi rasionalitas, karena dalam pandangan agama: manusia dipandang sebagai makhluk yang subordinat berhadapan dengan Tuhan.

Bila kedua konsep itu dieksplisitkan, maka di dalam beragama, Anda harus menyerahkan diri secara buta dan sepenuhnya terhadap Tuhan. Bahkan, di dalam doa-doa keagamaan, seringkali terucap kepasrahan total umat beragama untuk menghamba dan melayani Tuhannya. Sementara itu, liberalisme memiliki orientasi yang berbeda, bahkan bisa dikatakan bertolak-belakang dengan agama.

Nah, dari dua hal di atas, pilihan logisnya cuma dua: Anda total sebagai orang liberal, atau sebaliknya, Anda total sebagai umat beragama. Demikian Kant akan berpendapat dalam situasi yang semacam itu.

Namun patut ditekankan bahwa Kant tidak hidup di abad ke-21, di era kengerian dan horor yang masih pekat mencampurkan agama dengan politik. Gerakan fundamentalisme agama lewat aksi terorismenya telah melanggar hukum-hukum kompartemen kategoris yang ditetapkan Kant. Mereka menggabungkan dua hal yang mengakibatkan pada kekacauan fallacy: kecurangan dan kekacauan dalam sistem berlogika.

Fundamentalisme adalah virus dalam beragama, karena ia menggeser ranah privat untuk maju menduduki ranah publik. Lantas di mana letak para kaum beragama yang liberal?

Kita dapat katakan, liberalisme dalam beragama adalah “anti-virus” terhadap upaya pengeroposan peradaban yang dilakukan oleh kaum fundamentalis. Kaum liberal memang seharusnya ada dan melakukan alterasi secara terus-menerus dalam sistem keagamaan, karena tampaknya, kaum fundamentalis akan semakin mewabah. Liberalisme beragama dalam hal ini muncul sebagai konsekuensi logis dari maraknya kaum fundamentalis.

Di Barat, gerakan pembaharuan keagamaan diawali sejak abad ke-17 dan 18, yaitu pada era Fajar Budi. Tokoh-tokoh seperti Rene Descartes, Baruch Spinoza, Gottfried Liebniz, adalah para filsuf yang gagah berani dalam menentang otoritas Gereja. Descartes telah menggaungkan pengenalan Tuhan melalui instrumen rasio. Di masa itu, paham ini jelas terdengar sebagai suara kesesatan. Sebab, para fundamentalis beragama selalu menentang supremasi akal dengan mengatakan bahwa akal akan selalu berupaya menggoyahkan iman. Namun demikian, dalam Meditation, Descartes justru mencari kemungkinan-kemungkinan kebangkitan akal-budi dalam proses pencarian Tuhan.  Descartes adalah penguak tabir modernisme yang melawan kesewenangan-wenangan teosentrisme. Ia mewakili zaman yang merasakan kemuakan terhadap rezim dogma. Descartes selalu menekankan bahwa akal adalah satu-satunya cara untuk menemukan kebenaran, dan tanpa akal maka akan terjadi kekacauan. Kekacauan yang dimaksud Descartes adalah pengalaman perang agama yang telah terjadi antara Islam dan Kristen di masa Abad Kegelapan.

Bagi para tokoh rasionalis, bertuhan melalui rasio merupakan upaya untuk menghindari konflik. Upaya Descartes merupakan upaya lanjutan dari tokoh-tokoh Skolastis seperti Aneselmus yang mengatakan Credo ut Intelligam, bahwa suatu keyakinan harus juga diperkuat oleh pendasaran rasional. Baik Descartes maupun Anselmus, keduanya ingin menunjukan bahwa akal bertugas mengolah iman agar ia tidak terjatuh pada fanatisme. 

Bila para fundamentalis secara gamblang tampak ingin menghancurkan pilar-pilar kemanusiaan dalam peradaban, di sini para kaum liberal justru ingin menyelamatkan agama, karena terbukti ateisme bukanlah penawar yang tepat bagi kekerasan dalam beragama. Ia juga altenatif terhadap pandangan kaum positivisme-logis yang berkeyakinan akan datangnya masa di mana konsumsi akan mitos dan konsep ketuhanan menjadi tradisi kuno yang akan ditinggalkan.

Kenyataannya, ilusi kaum ateis dan positivis-logis itu terbukti salah. Manusia sampai hari ini masih saja tampak dahaga untur terus mengangkat senjata demi Tuhan. Fenomena semacam ini menunjukan bahwa peradaban kita tidak pernah sungguh-sungguh keluar dari Abad Kegelapan.

Tanpa pilihan lain, kaum liberal harus merubah dogma-dogma keagamaan agar membuatnya lebih minim dari potensi kekerasan. Perubahan ini misalnya perlu dilakukan melalui reinterpretasi ataupun desakralisasi dan dekonstruksi teks, perubahan-perubahan yang sesungguhnya amat dilematis, tapi sangat imperatif untuk dilakukan.

Perlu diingat, perubahan tidak selalu buruk, dan dalam kasus tawaran perubahan yang diajukan para kaum liberal agama, tampaknya ada keinginan untuk mengubah agama demi menyelamatkan relevansi teks, agar ia tidak lagi koersif dan intoleran terhadap kemajuan zaman.

26/03/2007 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Liberal berarti kebebasan individu melakukan apa yang ingin dilakukannya. Kebebasan berpikir apa yang ingin dipikirkannya. Kebebasan menentukan kebenaran menurut akal dan nalarnya.Pertanyaannya :
1. Sejauh mana manusia bisa melihat sebab akibat dari suatu perbuatan ? apakah perbuatan itu mengarah pada penghancuran atau penyelesaian masalah, atau menunggu hancur dulu baru mengetahui bahwa perbuatan itu menghancurkan? atau setelah terjadi kematian baru tahu oh… ternyata mati.
2. Seandainya manusia diberi kebebasan sebebas-bebasnya apakah bisa terhindar dari memanipulasi kebebasan untuk kepentingan pribadi dan mengabaikan hak orang lain.
3. Dengan cara apa penentuan sebuah kebenaran. Misal mayoritas suatu bangsa diisi kaum homosexual, maka pernikahan berlainan jenis bisa dikatakan sebagai sebuah kesalahan atau penyimpangan oleh kaum minoritas. sebagaimana kita ketahui bila tidak ada pernikahan berlainan jenis umat manusia bisa musnah.
4. Dalam hubungannya dengan orang lain akhirnya tidak bisa bebas karena ada human right. belum lagi hak-hak hidup orang yang dalam kondisi lemah. atau apakah orang dalam kondisi lemah tidak memiliki hak hidup?
5. Pertanyaan mendasar adalah “Untuk apa manusia hidup kemudian mati dan akan diapakan bumi dan isinya ini oleh manusia ? apakah yang bukan manusia tidak memiliki hak apa-apa ? boleh diapa-apakan sekehendak manusia ?
6. Seandainya manusia diberi kebebasan sebebas-bebasnya dan diberi kemampuan semampu-mampunya semua cita-citanya sudah tercapai tidak ada yang tersia maka mau apalagi hidup ? apakah hidup tinggal menunggu mati ?
7. Siapakah yang akan mengadili apabila ada manusia yang karena kelihaiannya luput dari pengadilan manusia ?
banyak sekali pertanyaannya tapi sekian dulu lah..

Posted by Citra  on  10/07  at  02:26 PM

Menurut penafsiran saya yang dimaksud dengan liberalisme adalah kebebasan. Kebebasan dalam arti yang sangat luas. Lalu bagaimana hubungan antara kebebasan dengan agama? Saya berpendapat bahwa kebebasan sama sekali tidak bertentangan dengan agama. Orang yang beragama justru yang memiliki kebebasan. Orang yang beragama bebas bertindak dan kebebasannya itulah yang oleh agama diganjar dengan pahala surga atau neraka.  Jika manusia tidak bebas bagaimana ia bertanggungjawab atas kesalahannya? Orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah bukannya kehilangan kebebasannya dan menjadi robot. Sebaliknya, justru eksistensinya lebih menonjol tetapi tidak sewenang-wenang, melainkan menerima tanggung jawabnya kepada Sang Khalik.
-----

Posted by B S Nasution  on  04/13  at  12:04 AM

Sesungguhnya tidak ada satupun yang menyangkal bahwa kebenaran yang absolut hanya Allah swt yang punya; bukan manusia baik itu yang disebut fundamentalis, kaum liberal dll. Tetapi semua kebenaran itu semua telah Allah jelaskan dengan sejelas-jelasnya, hanya orang yang tidak berakal atau berpikiran mbulet saja yang tidak bisa memahami bahasa yang sedemikian lugas. Saudara dengan penjelasan macam apapun kayaknya akan susah merubah pandangan yang sempit dan sinis terhadap cita-cita para fundamentalis (pejuang Islam yang benar), walaupun dalil sepenuh bumi telah diperlihatkan dari dulu sampai sekarang. Saya yakin dalam waktu dekat para liberalis itu akan terbelalak matanya dengan kenyataan yang terjadi bahwa Islam itu benar, Syari’at Islam itu benar dan Khilafah pasti tegak dan saat itulah mungkin akan menjadi hari yang paling buruk bagi para pendusta agama semenjak dia dilahirkan ibunya kedunia.

Posted by Burhan Izzaturrahman  on  04/05  at  09:04 AM

Diakui, ruh fundamentalisme yang mengandaikan diri sebagai pemilik kebenaran yang absolud dan menyeluruh adalah ancaman bagi peradaban manusia. Disebut ancaman karena fundamentalisme mereduksi kebenaran menjadi hanya milik kalangan tertentu, mereka biasanya memposisikan lawan yang berbeda sebagai musuh, sehingga benturan peradaban pun menjadi suatu keniscayaan.

Namun, ketika kaum liberal merespons fundamentalisme dengan cara yang sama, disini tampak bahwa ruh fundamentalisme bisa jadi akan menghigapi kaum liberal juga. Keyakinan diri sebagai yang paling benar sebagai mana ada pada pejuang fundamentalisme ternyata sering kali tidak mampu dihindari oleh kaum liberal. Realitas ini bagi saya menjadi sesuatu yang makin memprihatinkan. Kebenaran tidak memiliki tepi, sehingga pengetahuan kebenaran tidak pernah hadir secara menyeluruh, siapapun dia tidak dapat mengklaim diri sebagai pemilik kebenaran yang absolud yang menyeluruh, walaupun tidk berarti tidak ada kebenaran yang absolud.

Tidak adanya kebenaran yang absolud lebih kepada interpretasi manusia yang terbatas dalam hal data-data kebenaran, karena tidak mampu melihat seluruh tepi-tepi kebenaran, sehingga tak mampu memformulasikan kebenaran secara mutlak. Tapi pengalaman kebenaran adalah objektif sekaligus subyektif, hanya saja interpretasi pengalaman dengan kebenaran itu sendiri pastilah relatif. Pemahaman ini seharusnya mengandaikan bahwa perjumpaan kaum fundamentalisme dan liberalisme seharusnya membawa keuntungan pada kedua belah pihak, bukan semangat untuk saling membinasakan.

Jika kaum liberal tak mampu berkelit dari rangkulan ruh fundamentalisme yang menganggap diri paling benar niscaya kehidupan ini menjadi akn sangat mengerikan. Mudah-mudahan kaum liberal tidak hanya betah dengan menara gading yang dibuatnya sehingga tidak mampu lagi membumi. Kebenaran yang dimiliki kaum liberal adalah kebenaran yang baik buat semua bukan eksklusif bagi kaum liberal, dan sepantasnyalah dikomunikasikan pada kaum fundamentalisme namun dengan cara-cara yang sejuk. Selamat ulang tahun yang ke enam untuk JIL, selamat berjuang.

Posted by binsar antoni hutabarat  on  03/27  at  10:03 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq