‘Kerajaan Surgawi’ - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
30/03/2006

‘Kerajaan Surgawi’

Oleh Novriantoni

Artinya pada tiap-tiap masa, selalu saja muncul orang-orang yang menggabungkan antara ‘niat mulia’ dengan aksi bunuh dan pelenyapan orang-orang yang menghadang impian mereka. Bagi mereka, selagi tujuan sudah ditancapkan seluhur mungkin, apalagi dengan justifikasi agama, maka upaya ‘membersihkan’ aral yang merintang juga otomatis menjadi mulia.

Pernahkah Anda melihat betapa bengisnya roman wajah ‘agama’ justru ketika sedang menjanjikan firdaus dan tatanan yang surgawi di muka bumi? Film yang kini sedang tayang, Kingdom of Heaven, mungkin dapat memberi gambaran. Film garapan Ridley Scott, sutradara yang sukses menggarap Gladiator itu, menggambarkan betapa palsunya klaim-klaim agama yang datang berbarengan dengan gairah dan nafsu serakah manusia yang sudah tergiring pada pilihan perang. Kingdom of Heaven berkisah tentang Perang Salib, borok sejarah yang senantiasa menjadi duri dalam ingatan kolektif umat Islam dan Kristen.

Konon, ketika itulah orang sudah mencampur-adukkan antara perkara mulia—umpamanya obsesi untuk mewujudkan ‘kerajaan surgawi’ di muka bumi—dengan tindakan hina-dina seperti menikam, menombak, memenggal, mengusir dan membumihanguskan orang. Dalam lautan emosi yang meluap-luap dan genderang perang yang bertalu-talu, tidak lagi jelas yang mana unsur kebajikan dan mana nafsu angkara murka. Azam untuk hidup rukun secara berdampingan dalam kerangka keragaman akidah, bahasa dan budaya, tak lagi dipandang bajik, tapi menjadi klise dan dianggap sebagai pilihan para pecundang lagi pengecut. Impuls-impuls untuk membunuh dan melenyapkan orang lain, tampil sebagai nilai kebajikan paling mulia oleh para kesatria yang akan menjadi martir dan beroleh surga di alam baka.

Pada masa ketika perang berlabel agama sudah dikobarkan, titik tersadar betapa beratnya misi perdamaian dan toleransi. Persebaran misi kabul-akhar, atau semangat untuk lapang dada dalam menerima dan menyambut orang lain yang berlainan akidah dan budaya, sudah tertutup rapat oleh sumpah serapah dan saling curiga. Inilah yang diprihatinkan Milad Hanna, cendikiawan Kristen Koptik Mesir, dalam bukunya, Qabûlul Âkhar (Menyongsong yang Lain) . “Kini, dunia telah diselimuti oleh semangat ‘bentrok peradaban’ dan karena itu sangat sulit mempromosikan budaya kabul-akhar,” katanya.

Pesan seperti itu pulalah yang mungkin hendak disampaikan Scott pada penabuh genderang perang-perang paling mutakhir. Tapi kaum fundamentalis dari sejarawan Kristen di Eropa dan Amerika bereaksi keras atas film Scott. Reaksi mereka tak kalah keras dibanding reaksi umat Islam yang selalu kecut hati kalau-kalau film Hollywood kembali akan mencoreng muka mereka. Namun bergemingkah Scott?

Dalam Movie Montly (Edisi 35/Mei 2005), Scott menanggapi tudingan yang dialamatkan kepadanya dengan begitu santai. “Orang-orang tidak banyak berubah, bukan? Pakaian dan senjata memang telah berubah. Senapan mesin kini telah menggantikan pedang sebagai pemusnah massal. Tapi (watak) orang tetap sama. Itulah yang sangat mengecewakan. Mereka sama sekali tidak berubah.” tandas Scott. Konon, sindiran itu dia tujukan untuk rezim Bush dan para punggawa neo-konservatif yang sangat agresif memerangi ‘imperium kejahatan’.

Artinya pada tiap-tiap masa, selalu saja muncul orang-orang yang menggabungkan antara ‘niat mulia’ dengan aksi bunuh dan pelenyapan orang-orang yang menghadang impian mereka. Bagi mereka, selagi tujuan sudah ditancapkan seluhur mungkin, apalagi dengan justifikasi agama, maka upaya ‘membersihkan’ aral yang merintang juga otomatis menjadi mulia.

Pendek kata, di masa perang, proses penjungkirbalikan nilai-nilai kemanusiaan terjadi sebegitu liar. Dan karena itu, agama tidak semestinya terlibat dalam kancah peperangan. Nilai-nilai yang diluhurkan agama akan menjadi tunggang-langgang dan lintang-pukang kalau agama dan para agawaman masih tetap saja degil memasukkan unsur agama dalam peperangan. []

30/03/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Dari dulu saya slalu berpendapat bahwa peperangan adalah sebuah luapan barbar manusia. pada satu titik manusia selalu ingin berkuasa atas manusia lainnya. tapi menurut saya terlalu munafik ya kalau misalnya peperangan yang maha kotor dikobarkan atas maha tuhan yang katanya kesuciannya pun melebihi apapun yang ada di dunia ini. apakah tuhan benar2 menginginkan dunia yang ia ciptakan ini hancur karena membela dia. apalagi perang yang diciptakan manusia nyatanya bukan sebuah perang yang benar2 membela tuhan, tetapi lebih kepada pemuasan syahwat keduniaan manusia saja. kita bisa lihat pada masa sekarang bagaimana bush dengan ‘crusade’nya memerangi terorisme dengan jalan kekerasan. dengan dalih menegakkan demokrasi bush dengan semena-mena membantai hak orang lain. lalu apa hasilnya??? tak lebih dari nyawa2 beregelimpangan akibat senjata para kapitalis global, baik yang real berupa invasi militer maupun invasi ekonomi yang menyebabkan pemiskinan di beberapa negara termasuk indonesia. akibat dari kemiskinan ini tidak kalah mengerikan, termasuk busung lapar yang sekarang gencar memborbardir indonesia. jutaan nyawa manusia melayang, masih banyak manusia yang berlindung di bawah atap dunia ini untuk makan saja harus makan makanan hewan yang mungkin para hewan peliharaan di negara barat tidak mau memakan makanan itu. lalu berapa nyawa lagi yang harus terbuang percuma akibat kapitalisme global yang semakin menggurita, kepada jil coba tanya pada diri anda sendiri apa dana yang anda terima dari badan luarnegeri itu bermanfaat, karena jujur saja rakyat kita lebih butuh makan daripada meributkan syariat. kenapa umat islam nggak bisa bersatu ketika musuh yang begitu nyata sudah jelas-jelas ada di hadapan kita. jangan jadikan perjuangan anda sia-sia dengan berada terus di menara gading...it’s time to move
-----

Posted by tanto anindrio  on  06/11  at  05:06 PM

Membaca tulisan Anda dan rekan-rekan di milis Islamlib sungguh sangat mengagumkan. Meminjam sebuah kalimat dalam iklan, “kesan pertama begitu menggoda”.

Kekaguman yang sama juga saya rasakan ketika membaca tulisan Anda yang berjudul “Kerajaan Surgawi”. Namun demikian, sebagai seorang yang sedang belajar, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan.

Pertama, saya setuju dengan Anda (atau Scott?) yang menyatakan bahwa watak orang itu tidak pernah berubah, mengenai perang. Mereka tanpa segan menjual ajaran agama, guna mewujudkan keinginan tersembunyi yang ingin dicapai (baca:kekuasaan). Tetapi bagaimana dengan salah satu ajaran dalam agama kita yang menerintahkan untuk memerangi sesuatu yang munkar, sesuai kemampuan yang kita miliki?

Kedua, dalam akhir tulisan, Anda menulis, “Jangan membawa agama dalam perang..”. Bagaimana Anda menjawab fakta bahwa semangat para pejuang untuk kemerdekaan Indonesia digelorakan dengan jargon yang (sangat) berbau keagamaan, yaitu Allahu Akbar? Itu semua juga atas peran dan dorongan dari kaum ulama, yang notabene pemimpin umat.

Posted by Robyan Endruw  on  06/05  at  02:07 AM

Assalamualaikum Novriantoni

Banyak tulisan anda di sini, telah kuikuti, isi dan penampilan tulisannya seperti orangnya, alumni Al-Azhar, sedang mengikuti pasca sarjana di UI.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa umat terutama para ulama tidak mau bercermin pada sejarah, masih dapat dirasakan sampai saat ini di mesjid yang selalu mengumandangkan kebesaran Islam dan mereka lupa bahwa kitapun mempunyai penganut yang suka membikin rusak agamanya sendiri(SBY bilang bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia adalah muslim, tapi kenapa mereka berkorupsi ria, tidak disiplin, maunya sendiri).

Cerita dari sejarah, mengapa Allah SWT selalu “menggunakan” orang untuk menghukum orang lain. Mengapa tidak oleh Allah SWT sendiri, sehingga tidak terjadi “ketidak seimbangan” kehidupan seperti kita alami sekarang, kenapa harus menunggu kiamat beneran. (dari pengalaman hidup, saya sangat takut akan murka Allah SWT, saya dapat merasakan itu).

Katanya Al Qur’an sempurna, tapi dimana letak kesalahannya umat sehingga dalam pelaksanaan tafsir itu ada yang menimbulkan bencana, dan kenapa Allah SWT juga “diam” saja (tidak ada clarifikasi), sehingga “JIL” yang angkat bicara.

Tolong Novriantoni jelaskan masalah tersebut (anda telah banyak mengulas hal yang berhubungan dengan itu dalam tulisannya) sebab dibandingkan dengan saya, ilmu anda lebih luas, tentunya akan menguraikannya lebih bijak.

Wassalam.

Posted by H. Bebey  on  05/30  at  09:05 PM

Islam tidak anti perang tetapi juga bukan penganjur peperangan akan tetapi pemberi rahmat bagi seluruh alam, karena itu jelas di Islam bahwa kita boleh berperang untuk membela diri, karena dianiaya, tanahdiambil atau diusir dari rumah sendiri.

“Hai orang2 berimana, hendaklah meminta pertolongan Allah dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah cinta kepada orang yang sabar. Dan janganlah kamu berkata bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, sesungguhnya mereka itu hidup sedangkan kalian tidak mengetahuinya”

Jadi kita tidak boleh memandang rendah orang2 yang memiliki keinginan mulia yaitu Syahid di jalan Allah, kita tidak bisa memandangnya hina, kita tidak berhak memojokkannya. Tetapi mereka adalah orang2 yang sangat berjiwa besar, sami’na wa atha’na gufraa naka rabbanaa wa ilaikal masiir.... Mereka orang2 yang rela berkorban demi yang di cintainya, yang di percayainya, yang dimilikinya. Terus terang saya pribadi tidak mampu untuk berbuat seperti mereka, seperti para Mujahid dll. Namun memang sering terjadi para Mujahid itu dimanfaatkan oleh para politisi yang mungkin tergolong munafik, koruptor dll. Tetapi bagi pribadi2 yang memang punya niat jihad atau ingin menjadi Mujahid saya sangat dukung tetapi harus hati melihat, menelaah dan meneliti apa yang kita perjuangkan. Gitu lho..........

Jadi please stop dech menghina para Mujahid!!

Sorry yaa bukan maksud ane bikin ente marah tapi jangan menilai sempit ketulusan hati seseorang gitu.....

Thanks anyway.........

Posted by Iko Johansyah  on  05/25  at  08:06 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq