Ketemu Ma’ruf Amin - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
21/08/2006

Ketemu Ma’ruf Amin

Oleh Hamid Basyaib

Dengan segala ketidaksetujuan saya opini-opini fikih Pak Ma’ruf Amin, saya menikmati perbincangan dengannya, mendengar guyonannya, melihat bola matanya yang selalu berbinar dan jenaka, dan menyaksikan sikapnya yang santai dan sama sekali tak mengancam.

21/08/2006 23:11 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (8)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

selamat siang,

masygul kiranya melihat argumen filsafat fikih kyai ma’ruf, ketika menempatkan nilai-nilai hukum islam di bawah fikih. kiranya, kyai ma’ruf perlu menjelaskan kepada kami; pertama, kaidah fikih yang berbunyi al-hukmu yaduru ma’a ‘illatihi wujudan wa ‘adaman. kedua, teori nasikh-mansukh, ketiga, munculnya qaul qadim dan qaul jadid imam syafi’i. menurut saya, fleksibilitas dan survivalitas hukum islam sangat tergantung kepada muatan nilai-nilai. masalah produk fikihnya, itu belakangan.  terima kasih.

Arif Fahrudin, Head Coordinator Hasbiyallah Center Jakarta

#1. Dikirim oleh arif fahrudin  pada  21/08   11:08 PM

Alhamdulilah saya cukup terharu dengan komentar saudara hamid basyaib tentang pertemuannya dengan KH Ma’ruf Amin. 

Secara gamblang tampak nyata bahwa perbedaan pendapat hendaknya tidak menjadi alasan umat islam untuk tidak bersatu, tetapi perbedaan pendapat dengan kalangan penganut jil keliatanya akan sangat lain. sebab perbedaan pendapat yang terjadi sudah pada tataran subtansi plus aplikasi, kalangan jil menganggap bahwa ide-ide islam harus diterjemahkan sesuai perkembangan zaman dan tidak pada tataran aplikasi kehidupan pemerintahan, sementara pak ma’ruf adalah salah satu kyai yang sangat konsisten untuk penerapan islam secara kaffah tidak hanya ide tapi harus teraplikasi pada seluruh kehidupan. saya melihat perbedaan ini tidak akan pernah pada satu titik temu kecuali kalangan jil menyadari kekeliruannya dan insyaf untuk segera kembali kejalan islam yang benar. 

Silaturahmi sangat dianjurkan dalam islam semoga dengan banyak bertemu tokoh-tokoh islam yang konsisten memperjuangkan islam dengan benar pak basyaib akan tercerahkan pemikiranya.amin

#2. Dikirim oleh suwardi  pada  22/08   01:09 AM

Kutipan penulis: ---------------- Saya menanyakan salah satu dari 11 fatwa MUI tahun lalu tentang larangan lelaki muslim menikah dengan perempuan nonmuslim. Bukankah, tanya saya, yang secara harfiah tercantum dalam Alquran adalah sebaliknya, yaitu larangan muslimah menikah dengan pria nonmuslim?

Lalu bagaimana dengan ayat di bawah ini

(Al-Baqarah 221): Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran

#3. Dikirim oleh Abu Fatih  pada  22/08   04:09 AM

apa yang disampaikan pak ma’ruf amin sangat baik. tidak ada ucapan “kasar”, “cacian”, apalagi ucapan “kafir” kepada yang dia anggap “berbeda”. JIL pun melalui para “fungsionarisnya” akan lebih baik menggunakan bahasa yang “santun” dan “elegan”. tidak juga mengganggap “lawan” sebagai “salah”, “sesat” dan “tidak rasional”. misalnya kalau memang JIL “tidak sesuai” dengan pandangan “wahabi”, jangan dong mengganggap wahabi itu tidak baik. mari bersatu dalam tenda besar yang nyaman yang di dalamnya terdapat “keragaman” bukan “keseragaman”.

#4. Dikirim oleh shalahuddin  pada  23/08   01:08 AM

Begini saja bung! Agama itu adalah untuk mencari hakekat kebenaran dari Illahi bukan mencari kesalahan manusiawi. Jadi kalau misalnya ada orang2 Muslim mau berdiskusi, tolong jangan nyambar2 ke wilayah orang lain, misalnya dengan mengatakan bahwa ahli kitab zaman dulu berbeda dengan yang sekarang. Itu asal ngomong namanya..... belum pernah ada satu didunia ini dari golongan Muslim yang mebuktikan itu. Dan satu hal yang perlu diketahui bagi seluruh manusia di jagad ini bahwa tidak satupun dari orang Muslim di dunia ini yang mempunyai kitab Taurat dan Injil yang sesuai dengan versi Islam. Jadi kesimpulan saya… mari kita perpikir jernih dan menanyakan segala sesuatu kepada Tuhan karena Tuhan itu hidup adanya !!!! bukan tuhan yang mati yang tidak bisa berdialog. Berdialog dengan Tuhan haruslah dengan ROH karena Tuhan itu ROH adanya. Masalahnya bisa ngga saudara2 !!!!!!

#5. Dikirim oleh Esa Sudung  pada  25/08   12:08 AM

Basyaib, i love u. You are the best indonesian scholar I know. You make it easy for us from liberal country to intervene islamic country, such as indonesia. Be united, no need to hold ourself in a total submission to a religion/god like your minister adviced. Take it easy, be comport in life. It’s useless to hold your believe in god. Glory for atheis. JIL, get going on to persuade muslim in indonesia to go out from their faith. If successful, you will be awarded much more from your friends in west.

#6. Dikirim oleh Redford long  pada  25/08   01:08 AM

mari kita rayakan keberagaman pemahaman islam dengan santai, santun dan konstruktif, nampaknya Bung Hamid sangat paham akan hal ini. disamping itu sikap pak ma’ruf pun membawa angin segar, ditengah mainstream pemikiran islam yang saat ini garang meneriaakan penerapan syariat islam sebagai hukum positif, benar-benar menyejukkan. tapi saya bertanya kepada MUI, jika benar akan mendirikan tenda besar umat islam, tentu harus mampu mewadahi seluruh ormas/organisasi islam berikut dengan segela kompleksitas pemikiran, gerakan dan atributnya tapi mengapa ada ormas/organisasi islam yang terasa ‘tidak betah’ didalam tenda itu. mungkin tenda besar MUI terasa pengap dengan kekakuan pemahaman ala fikih klasik, atau lebih condong memihak kepada mainstream pemikiran islam yang bercorak ‘wahabi’. jadikan islam sebagai kerangka & spirit moral bagi tegaknya NKRI yang bercorak plural dan bukan menjadi semacam ‘state’, yang menjelma menjadi ‘hukum positif’ tetapi lemah dalam pengejewantahan nilai-nilai.
-----

#7. Dikirim oleh Riyono  pada  25/08   08:09 AM

Gagasan bpk. Ma’ruf Amin berjalan kepada fatwa-fatwa ulama-ulama kearah Barat tempat tenggelamnya matahari sesuai Al A’raaf (7) ayat 138,139, Ali Imran (3) ayat 80, At Taubah (9) ayat 31, sedang gagasan hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad saw. dan hujjah kitab suci-Nya adalah kearah Timur terbitnya matahari sesuai Az Zumar (39) ayat 45, awal millennium ke-3 masehi, yaitu wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan Allah menurunkan Hari Takwil Kebenaran Kitab sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53 yang sama artinya dengan kebangkitan ilmu pengetahuan agama sesuai Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22 untuk menciptakan agama dari sisi Allah adalah Islam menuju kepada Agama Allah, sesuai Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208, An Nashr (110) ayat 1,2,3.

Kami anjurkan kepada bpk. Ma’ruf Amin agar membaca buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
berisi XX+527 halaman, berikut 4 macam lampiran acuan berukuran 63x60 cm.:
“SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
“SOEGANA GANDAKOESOEMA”
dengan penerbit:
“GOD-A CENTRE”
dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
“DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” SekDirJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi

#8. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  pada  24/07   12:49 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq