Ketika Kain Batik Menjadi Mukena.. - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
10/11/2002

Lies Marcoes-Natsir, MA: Ketika Kain Batik Menjadi Mukena..

Oleh Redaksi

Oh ya, biasanya persepsi kekristenan dihubungkan dengan Cina. Suatu kali, saya pernah menulis sebuah kisah di Majalah Keiros dengan judul: “Tatkala Kain Batik menjadi Mukena.” Kisah ini menjadi refleksi bagi saya. Tulisan ini menceritakan pengalaman keagamaan saya berhubungan dengan agama-agama lain.

Sebuah pengalaman masa lalu selalu meninggalkan cerita pada masa sekarang. Begitu juga pengalaman Lies Marcoes-Natsir, MA, aktivis perempuan muslim yang telah lama malang melintang dalam dunia pergerakan perempuan. Lies yang berlatarbelakang Muhamadiyah ini sangat aktif bergelut dengan dunia perempuan NU dan pesantren lewat program “hak-hak reproduksi perempuan Islam"-nya yang kemudian dilanjutkan dengan penguatan jaringan Islam, gender dan Civil Society . Ia yang menyelesaikan masternya di Amsterdam University ini, pernah mengalami periode kehidupan bersama keluarga Katolik yang kemudian meluluhlantakkan prasangka teologis yang berkembang sejak kecil.

Untuk mengorek sisi-sisi kehidupan pergulatan keimanannya dan kritikannya terhadap bias agama atas perempuan, berikut petikan wawancara Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu dengan Lies Marcoes-Natsir pada 7 November 2002. Berikut petikannya:

Ibu Lies, bisakah Anda bercerita bagaimana Islam diajarkan kepada Anda semasa kecil?

Saya lahir di Jawa Barat, tepatnya daerah Ciamis Selatan, tapi dari orangtua yang berasal dari Jawa Tengah. Ayah saya adalah seorang aktivis Islam dan pimpinan cabang Muhammadiyah, dan dia menjabat seumur hidup. Sementara kakek saya dari garis ayah adalah salah satu pendiri pesantren Kebarongan Kemranjen Banyuman. Ini pesantren memang coraknya agak lain, tidak Nu dan tidak Muhammadiyah. Lebih Masyumi saya kira. Anda pasti tak percaya ini,karena selama ini saya hidup di lingkungan NU, saya kira tidak sekedar hanya “menyusup” saja, he..he…

Di lingkungan di rumah saya sebenarnya biasa-biasa saja seperti layaknya keluarga Muhammadiyah. Tetapi di luar, saya berinteraksi dengan banyak sekali ragam kehidupan. Misalnya, dalam konteks agama, saya bergaul dengan mereka yang beragama Kristen atau within Islam sendiri, yaitu dengan tradisi NU.

Ada yang Kristen juga di daerah Anda?

Oh ya, biasanya persepsi kekristenan dihubungkan dengan Cina. Suatu kali, saya pernah menulis sebuah kisah di Majalah Keiros dengan judul: “Tatkala Kain Batik menjadi Mukena.” Kisah ini menjadi refleksi bagi saya. Tulisan ini menceritakan pengalaman keagamaan saya berhubungan dengan agama-agama lain.

Sewaktu kecil, saya punya bayangan kalau sahabat saya yang bernama Tio Er Lie --dia Cina dan Kristen-- bukan hanya berbeda dalam hal tempat ibadah; saya pergi ke tajug (bahasa Sunda: surau kecil) dan dia pergi ke gereja. Tapi lebih dari itu, saya diajari bahwa saya kelak akan masuk surga dan dia masuk neraka. Penilaian semacam itu muncul karena dia makan babi, menyembah selain Allah dan lain-lain berdasar defenisi-defenisi kita yang stereotipe.

Anda mendapatkan pandangan semacam itu dari siapa?

Saya kira, hal itu merupakan pandangan yang sudah umum di lingkungan saya ketika kecil. Umum di sini dalam artian, hampir semua orang meyakini pandangan seperti begitu semasa kecilnya. Sebetulnya hubungan saya dengan Erli amat baik sebagai teman. Tapi tetap ada keyakinan tersembunyi, yang kira-kira kalau disuarakan jadi begini: kacian deh lu! Tapi dia baik, pintar dan keluarganya baik sekali. Itu membekas sekali dalam diri saya.

Kemudian, sebagai keluarga Muhammadiyah dengan tradisi membaca bagus, sejak kecil saya membaca buku-buku sastra yang ada di perpustakaan rumah. Minat saya pada isu-isu agama juga muncul sejak kecil. Waktu itu ada kisah Yasser Arafat yang sudah saya baca sejak kecil dan banyak buku lainnya. Sekolah menengah atas saya tempuh di SMU non-agama. Saat akan kuliah, saya mulai bimbang apakah memilih jurusan eksak, sosial atau agama. Akhirnya, saya ke IAIN Syarif Hidayatullah yang ketika itu dipimpin Prof. Dr. Harun Nasution.

Kalau direfleksi lagi pengalaman agama yang Anda alami semasa kecil itu, apakah ada hal-hal yang Anda anggap bermasalah dalam hal hubungan kemanusiaan?

Agama yang diajarkan pada saya sewaktu kecil, adalah agama yang --seperti kita kenal dalam idiom agama- sangat syariat dan fiqhiyyah, yang cilakanya mengharuskan dan jauh dari penghayatan. Agama yang saya dapat itu sangat menekankan aspek legal-formal dan halal-haram. Jadi dicek setiap saat. Setelah kuliah, saya gelisah sekali karena agama diterima sebagai kewajiban sosial ketimbang sebagai kesadaran pribadi dan pengalaman spiritualitas. Juga berkaitan dengan simbol-simbol. Dengan kewajiban-kewajiban tersebut, kita seperti dikejar hutang yang terus-menerus harus dibayar.

Kalau diprosentase, mana yang lebih banyak Anda serap dari agama semasa kecil: aspek yang represif atau aspek yang menyenangkan dan bersifat festival?

Itu sebetulnya agak susah diukurnya. Sebuah pepatah Minang menyebutkan bahwa “tempat jatuh kita di masa kecil saja, senang untuk dilihat dan dikenang, apalagi tempat bermain.” Artinya, masa kecil yang terkadang pahit sekalipun apabila kita berhasil mengatasi trauma trauma itu maka menjadi selalu mengasyikkan. Kampung halaman selalu saja terkenang. Kadang-kadang, saya ingin mengulang masa itu dengan anak-anak saya. Misalnya bermain hujan, pergi ke surau dan bermain di sana. Pengalaman seperti itu terkadang memunculkan rasa keberagamaan tersendiri.

Apakah desa Anda termasuk yang bisa dikategorikan sebagai desa santri?

Campuran. Tapi sebagai migran yang datang dari Jawa, saya pernah merasakan bagaikan minoritas, meskipun Jawa secara jumlah selalu mayoritas.

Apakah dalam hubungan sosial di kampung Anda ada saling prasangka antara kaum santri dengan kaum abangan?

Saya tak menyadari itu. Tapi antara Jawa dan non-Jawa terasa sekali. Sampai-sampai, saya harus menekan kemampuan bahasa Jawa saya. Keinginan untuk menggunakan bahasa Ibu saya baru muncul ketika saya sudah di perguruan tinggi.

Apakah Lies kecil sudah punya bakat memberontak atas tradisi yang Anda terima?

Kalau itu, iya! Tolong pahami ini sebagai sebuah proses pencarian. Misalnya begini. Ketika pertama kali memberontak atas prinsip mengutamakan tauhid (bahwa Allah itu satu dan ada di mana-mana/omnipresence), suatu kali saya pernah menggelar sajadah ke arah yang berbeda-beda dalam salat. Sekedar untuk meyakinkan diri bahwa Allah ada dimana mana. Allahlah yang disembah bukan arahnya atau bahkan bukan wujud Kiblatnya Jadi, itu saya lakukan untuk memantapkan bahwa ini bukan beban; ini kebutuhan; ini sesuatu yang memang kita rindukan sebagai manusia.

Artinya Anda mencoba untuk salat tak menghadap Barat (baca: kiblat)?

Kira-kira seperti itulah. Dalam artian begini: ketika saya pergi ke suatu tempat, saya tak bertanya arah sama sekali. Waktu camping, saya tak bertanya sama sekali ke mana arah barat atau kiblat. Itu tahap pertama membebaskan diri dari persepsi bahwa ini kewajiban, tapi salat ini kebutuhan spiritualitas saya.

Tadi Anda menyebut kain batik menjadi mukena, apa itu maknanya?

Itu secara umum menceritakan pengalaman saya dengan kelompok yang dalam defenisi agama kita disebut non-muslim. Sewaktu di IAIN, saya tak sengaja mengadopsikan diri pada sebuah keluarga Katolik. Saya tinggal di asrama. Kalau hari libur, karena orangtua saya jauh, saya sering mampir ke rumah mereka. Suatu kali, ibu angkat saya (yang non-muslim) mengetuk pintu kamar dan bertanya: “Sudah salat belum?” Waktu itu, mukena yang biasa kita kenakan tak seperti sekarang yang lebih fleksibel. Lalu, dia membawakan dua buah kain batik hitam, dan saya menggunakannya untuk salat. Saya merasa, momen ini luar biasa indah buat saya. Setelah itu, kami makan dan saya menyaksikan adik-adik angkat saya berdoa secara Katolik. Ini sesuatu yang bagi saya menumbuhkan bibit-bibit hidup toleran. Padahal, saya ketika itu belajar tentang perbandingan agama yang masih menyimpan claims of truth. Tapi dalam realitas, saya bertabrakan dengan klaim-klaim itu.

Saat itu, apakah Anda tak merasakan konflik dalam diri Anda?

Oh jelas. Sebab saya studi di fakultas Ushuluddin, jurusan Perbandingan Agama. Waktu itu, kurikulum kuliah pokoknya berpegang pada prinsip “agama kita adalah agama yang paling baik dan benar.” Maka dari itu, pelajari juga agama lain, untuk lebih mengetahui keunggulan agama kita. Jadi, prinsipnya itu suspicious (curiga, Red) bukan perennial. Dari situ saya belajar dan bertanya: bagaimana mungkin?

Panggilan masa kecil saya kembali bergema dan muncul lagi ketika itu. Keluarga angkat saya, begitu santun dan begitu baik. Sebagai manusia, bagaimana mungkin saya memvonis mereka sebagai ahli neraka.

Pengalaman lain terjadi ketika saya pergi ke Tengger untuk penelitian dan latihan dakwah. Ketika itu, kamera saya tertinggal di danyang (tempat persembahan mereka), selama tiga hari. Saya lupa. Ketika saya ingat, saya kembali lagi ke sana, dan ternyata kamera itu masih ada. Pengalaman ini terjadi di suatu komunitas yang dalam kacamata agama apapun pada saat itu, dianggap tak beragama, bisa didakwahi, atau layak disebut masyarakat paganis. Pokoknya kayak begitulah. Bayangkan! Ajaran moral seperti apa yang mereka hayati. Yang demikian itu hanya bisa terjadi bila dasar penghayatan moralnya bukan takut dihukum, takut polisi, tapi karena sesuatu yang terkait langsung dengan Yang Maha Kuasa.

Anda lantas seperti menguji pandangan-pandangan yang pernah Anda serap sejak kecil?

Ya. Misalnya prinsip tauhid. Prinsip itu, sebetulnya bisa menjadi pandangan yang universal dan dapat mempertemukan diri kita dengan siapapun dari latar belakang dan bendera apapun. Sebab, dengan prinsip tauhid, tak ada satupun yang kita takuti; tak ada satupun yang kita sembah selain Tuhan. Entah apapun suatu agama itu, ketuhanan itulah yang mempertemukannya. Itu yang menjadi prinsip dasar.

Bagaimana pandangan Anda kemudian atas agama-agama selain Islam. Apakah mereka ini tetap dipandang sebagai ahli neraka sebagaimana Anda persepsikan selama ini?

Sama sekali tidak. Di sini, yang ada dalam bayangan saya, ketauhidan, prinsip ketuhanan, harus terefleksi dalam kehidupan. Apapaun agamanya. Jika orang berbuat baik, paling tak ada dua kemungkinan. Pertama, dia takut hukum duniawi seperti takut merusak pergaulan, takut aparat dan lain-lain. Kedua, sebagai refleksi atas keyakinan dia terhadap Tuhan: keinsafan batin.

Tadi pagi, saya mengatakan pada anak saya: “Jangan membuang sampah sembarangan karena takut sama mama. Tapi ingat, Tuhan mengatakan jangan berbuat aniaya dan kerusakan di muka bumi ini!” Tindakannya mungkin sama yaitu tidak membuang sampah .. Tapi, mungkin penyebabnya bisa berbeda-beda.

Anda ingin mengatakan, kalau kesadaran agama yang genuine itu akan terwujud kalau kita dapat mencapai kesadaran batin yang mendalam; bukan karena aturan-aturan. Dalam konteks ini, kita bisa menyebut, kalau penerapan syariat Islam dengan aturan negara, bisa kontradiktif dengan agama yang merupakan refleksi dari batin. Apa demikian?

Dengan sendirinya. Ketika seseorang coba mengotakkan agama pada suatu pandangan tertentu, itu sudah melanggar hakikat dasar agama itu sendiri, yang bisa saya interpetasikan begini dan anda begitu. Tapi sesungguhnya yang penting lagi bagaimana penghayatan agama itu mewujud dalam perilaku yang terukur secara baik oleh akal sehat kita. keberagamaan adalah bersifat personal dan pengalaman keagamaan tak mungkin diseragamkan. Itu satu hal yang membuat saya sama sekali tak setuju dengan penerapan syariat Islam.

Anda dikenal sebagai aktivis pembela hak-hak perempuan dari tradisi Islam. Apa yang Anda anggap bermasalah dalam penafsiran Islam menyangkut hak-hak perempuan?

Pada dasarnya agama itu membebaskan. memerdekakan, khuriyyah. Tetapi di lain pihak agama juga punya potensial menjadi alat untuk menguasai orang lain. . Siapa yang menguasai itu, dia bisa menjadi kekuatan tersendiri. Oleh karena itu, siapa yang punya pelaung untuk mendominasi, dia bisa menentukan mau seperti apa warna (agamanya). Nah malangnya, dalam relasi jenis kelamin atau gender, dalam kenyataan selama ini, pemilik agama yang punya hak untuk menafsirkan teks-teks agama, secara kultural dan politik, telah direbut kalangan laki-laki sejak lama.

Itu mengakibatkan dua situasi. Satu, muncul apa yang disebut bias. Contohnya, kalau saya disuruh membuat acara pada hari Jumat. Saya cenderung lupa kalau laki-laki tak bisa melangsungkan acara sampai jam satu siang. Sebab laki-laki mesti salat Jum’at. Dengan begitu, saya sudah bias karena mendahulukan kepentingan saya. Saya tak wajib salat Jumat, juga saya tak ingat sama sekali kalau Anda punya kewajiban untuk menjalankan salat Jumat. Saya bukan berniat buruk, tapi lebih karena ketakbiasaan dan ketakingatan saya.

Nah, hampir seluruh doktrin-doktrin dalam agama ditafsirkan oleh laki-laki yang ternyata bias melihat kebutuhan dan kepentingan perempuan. Akibatnya bagi perempuan, dia tak bisa melihat wajah Tuhan, kecuali sangat laki-laki, maskulin dan bisa sangat mengerikan.

Orang sering mengritik agama yang senantiasa diajarkan dari aspek yang legalistik dan menghukum saja. Akibatnya, muncul kesan tentang maskulinitas Tuhan sebagaimana Anda sebut tadi. Akhirnya, sisi-sisi feminitas Tuhan seperti cinta kasih dan kelembutan menjadi kurang kentara dan terabaikan. Tanggapan Anda?

Itu satu. Tapi sebagai perbandingan, bukan hanya kesan Tuhan yang maskulin, tapi juga wajah agama. Agama sering berpihak pada penguasa ketimbang rakyat kecil. Agama apapun secara universal, sering memihak orang kaya ketimbang orang miskin. Ini juga bisa dijadikan alasan mengapa agama terkadang dilihat lebih berpihak pada laki-laki ketimbang perempuan. Tafsir-tafsir yang menonjolkan bagaimana agama berpihak pada kaum yang dlu’afâ, sekarang bermunculan sebagai tafsir alternatif atas kemunculan agama yang ternyata tak memihak rakyat.

Menurut Anda, penafsiran bias jender ini, inheren dalam agama itu sendiri atau hanya bagian dari budaya mengekang yang tak inheren dalam agama?

Sebenarnya tak penting lagi mencari apa yang terjadi ke belakang. Yang terpenting, kita perlu melihat implikasi langsung dari penafsiran agama yang seperti ini (bias jender, Red). Sebagai tanggung jawab seorang muslim, kita wajib mengembalikan citra dan missi agama agar lebih baik. Citra agama yang humanis, toleran dan berpihak pada perempuan, itu harus mewujud. Karena faktanya, jenis tafsiran agama yang ada sekarang --bagi kalangan yang tersadarkan-- memunculkan wajah agama yang begitu jauh dari kepentingan perempuan.

Bisa diberikan satu contoh konkret saja?

Contohnya beginilah. Suatu kali, kami mengadakan pengajian di suatu pesantren di Jawa Barat. Pengajian itu ditujukan untuk melihat implikasi alat kontrasepsi terhadap menstruasi perempuan. Jadi kalau Anda menggunakan kontrasepsi tertentu, menstruasi yang biasanya normal, menjadi tak normal. Kalau haid tak normal, itu akan membingungkan salat. Misalnya bila menggunakan pil. Lalu kita memanggil kiai yang cukup paham dengan kitab kuning untuk turut serta. Memang ada pendapat umum mengatakan, setelah menstruasi dalam beberapa hari tertentu, lantas kita bimbang, apakah darah yang keluar itu darah haid atau istihadah, maka ada aturan begini: kalau darah itu keluar lebih dari 24 jam, maka itu darah haid. Kalau kurang dari itu, darah penyakit.

Ini menunjukkan sebuah prinsip hukum, kalau darah haid, perempuan tak wajib salat, sementara kalau darah penyakit, perempuan tetap wajib salat?

Ya. Itukan prinsip yang mendasar sekali. Berdosa kalau kita tak salat jika disebabkan keluarnya darah penyakit saja. Itu prinsip sekali dalam fikih sementara perempuan banyak yang gelisah dengan alat kontrasepsi ini. Pak kiai, dengan mengutip kitab yang sebetulnya sudah menjadi pengalaman umum, mengatakan seperti itu. Artinya kalau kurang dari 24 jam, itu darah penyakit. Lalu seorang ibu mengatakan, apakah Pak kiai tak tahu, bahwa kaum ibu tak merasakan bagaimana darah haid itu keluar dan berhenti? Bagaimana kita mengawasi; apakah kita harus melek 24 jam untuk mengawasi keluarnya darah itu? Pak kiai bingung. Seharusnya, kata dia, menurut kitab ini, Anda mestinya merasakan darah itu keluar. Oh tidak! Pengalaman kami kaum perempuan mengatakan, bahwa darah yang keluar itu tak bisa dirasakan. Jadi, bagaimana kami tahu bahwa darah itu keluar sebelum dan sesudah 24 jam.

Jadi poinnya apa?

Poinnya, kitab yang ditulis oleh laki-laki dan diyakini benar adanya, ternyata mengandung bias. Karena penulisnya --sebagai laki-laki-- tak mengalami apa yang kami alami. Bias. Padahal, kitab itu harus diikuti oleh semua orang. Itukan bias yang luar biasa. Itu contoh kecil saja mengenai aturan tentang haid. []

10/11/2002 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (2)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

disini di sebutkan :

Bagaimana pandangan Anda kemudian atas agama-agama selain Islam. Apakah mereka ini tetap dipandang sebagai ahli neraka sebagaimana Anda persepsikan selama ini?

Surga hanya diperuntukkan buat orang-orang yang punya iman kepada Allah SWT meski hanya secuil. Iman disini maksudnya bukan sekedar percaya bahwa Allah SWT itu ada, tetapi mengakui Allah SWT sebagai sembahan, Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul, Al-Quran sebagai kitab suci, mengakui adanya nabi terdahulu dan juga kitab-kitab mereka, mengakui adanya hari akhir serta adanya taqdir baik dan buruk.

Secara formal lidahnya haruslah mengucapkan dua kalimat syahadat. Sedangkan dari lubuk hatinya ikut membenarkan dan seluruh anggota badannya membuktikan bahwa dirinya adalah seorang muslim.

Hanya orang-orang yang sudah memenuhi kriteria ini sajalah yang punya peluang masuk surga. Namun kalau timbangan amal keburukannya lebih berat dari timbangan amal baiknya, dia harus menjalani dulu siksaan sebagai penebus dosa-dosanya di neraka. Hingga masa waktu yang hanya Allah SWT saja yang tahu, barulah dia bisa masuk surga.

Sedangkan bila sejak awal sudah ingkar kepada salah satu rukun iman berarti gugur pula ke-Islamannya, atua bahkan sama sekali tidak mengaku muslim, maka tidak ada cerita bisa masuk surga. Tempatnya adalah neraka selama-selamanya. Maka setelah masa kenabian Muhammad SAW, agama apapun yang dipeluk orang selain Islam hanya akan membawa mereka ke neraka. Sebab selain Islam, Allah SWT tidak akan menerimanya.

Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS. Ali Imaran : 19)

Meskipun secara lahiriah pemeluk agama non Islam itu sering berbuat kebaikan kepada sesama. Tapi di sisi Allah SWT, semua amal kebajikan di dunia ini tidak lain hanyalah fatamorgana.

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya . (QS. An-Nuur : 39)

Di hari akhir nanti, orang-orang yang tidak memeluk Islam akan merasa menyesal, karena mereka menyangka cukup sekedar berbuat baik kepada orang-orang akan mengantarkannya ke surga. Padahal surga tidak dihuni kecuali oleh orang-orang muslim saja.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS. Ali Imran : 133)

Sedangkan pemeluk nasrani, yahudi, majusi, Hindu, Budha, Konghuchu dan apapun agama di dunia ini, akan menghuni neraka selamanya.

Mereka kekal di dalamnya. Sebab tak ada secuil pun iman di dada. Sementara amal kebaikan mereka hanyalah fatamorgana. Tidak ada gunanya.

Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar “. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. Dikatakan : “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya” Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.(QS. Az-Zumar : 71-72)
-----

Posted by Hamba Allah  on  10/25  at  12:11 PM

Saya bingung harus memulai dengan salam atau tidak, karena saya nanti bertanya² apakah saya terlalu kolot atau tidak karena menyebutkan salam adalah anjuran nabi, sesuai haditsnya(red--anda bisa cari sendiri referensinya). Tapi terlepas dari itu saya ucapkan dengan sepenuh hati Assalamu’alaikum.

Saya bingung dengan pernyataan bahwa agama itu sifatnya personal dan tidak terkait dengan orang lain. Jadi, terdapat pengekslusifan agama hanya untuk urusan akhirat, padahal Nabi Muhammad SAW tidak pernah memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Apapun yang kita perbuat di dunia akan menjadi tabungan untuk akhirat kelak. Dunia ini terlalu fana untuk dapat diagung²kan.

Saya juga merasa aneh dengan pernyataan Ibu tadi bahwa Ibu sholat tanpa memperhatikan arah kiblat, padahal Nabi Muhammad SAW selalu sholat dengan memperhatikan arahnya, kecuali dalam keadaan darurat semisal dalam kendaraan yang tentu sulit menyesuaikan dengan arah gerak kendaraan, ataupun bila kita tersesat. Tapi jangan coba² untuk asal saja dalam menentukan arah kiblat, memangnya anda Tuhan? Allah telah menetapkan mita sholat mengarah ke kiblat agar ada semacam kesat uaan arah darji umat yang dapat digambarkan mulai dari hal yang tampaknya tak berhubungan dengan urusan dunia atau lainnya selain soal penyembahan it u sendiri. Dalam sholat ada banyak filosofi yang kita dapatkan, muali dari bagaimana seharusnya kita membentuk sebuah barisan kepemimpinan Islam. Kita harus berdiri dalam barisan yang rapat dan kokoh, sehingga musuhpun gentar melihat bagaiman kita berbaris(tentu persepsinya bukanlah perang, semisal oraganisasi keIslaman atau sebuah negara). Dalam sholat kita berolahraga, rohani dan jasmani. Bila kita ikhlas mengerjakannkya maka akan ada semacam kenikamatan tersendiri dan sebuah pencapaian nilai ibadah. Sama dengan arah, seperti tadi yang saya tulis bahwa dengan adanya sebuah ketentuan dari sang naha pencipta, maka tak perlu ada lagi perpecahan hanya untuk menentukan arah kita akan bersujud. Semua orang Islam di dunia(bumi) bersujud ke arah kiblat, bukan menyembah kiblat. Dan hajar Aswad, itu hanyalah seonggok batu tak berharaga bila dibandingkan dengan seluruh ciptaan 4JJI SWT. Namun sesuai perkataan seorang sahabat Nabi, “aku tak akan menciummu (hajar aswad) seandainya Rasulullah tidak menciummu”. Sehingga jelas bahwa sikap kita terhadap hajar aswad hanyalah bentuk ketaatan kita terhadap Rosul ("Ati’ulloha wa ati’urrosul"). Hajar aswad tak memberi satupun manfaat bagi kita jika 4JJI SWT tidak mengizinkan. Wassalamu’alaikum

Posted by hidayat.febiansyah  on  04/27  at  11:05 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq