Kezaliman Berjamaah - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
20/02/2006

Kezaliman Berjamaah

Oleh Novriantoni

Apa pembeda agawaman dan negarawan dalam menyikapi persoalan sosial agama seperti kekerasan atas Ahmadiyah? Seorang agamawan tentu masih hirau pada perbedaan di tingkat doktrin agama, namun seorang negarawan, mestinya melampaui penilaian pada level doktrin yang bias. Titik perhatian negarawan tidak lagi pada seseorang menganut paham apa, tapi apakah ada hak-hak dasar mereka yang telah dirampas, tak pandang apa paham agamanya.

Apa pembeda agawaman dan negarawan dalam menyikapi persoalan sosial agama seperti kekerasan atas Ahmadiyah? Seorang agamawan tentu masih hirau pada perbedaan di tingkat doktrin agama, namun seorang negarawan, mestinya melampaui penilaian pada level doktrin yang bias. Titik perhatian negarawan tidak lagi pada seseorang menganut paham apa, tapi apakah ada hak-hak dasar mereka yang telah dirampas, tak pandang apa paham agamanya.

Penyikapan agamawan yang dipengaruhi pola pikir keagamaan yang eksklusif masih bisa dimaklumi. Namun, permakluman itu agaknya tak bisa lagi diberikan pada umara atau para penyelenggara aparatur negara. Kalau mereka tak mampu melampaui jebakan paradigma afiliasi kelompok agamanya, mereka sungguh-sungguh telah gagal menjadi negarawan.

Kita tahu, mayoritas agamawan masih meninjau kasus Ahmadiyah dari sudut doktrin yang mereka anut. Karena itu, jamaah Ahmadiyah yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi—walau tak membawa syariat lagi—bukan sekadar mujaddid, tak pernah dapat mereka terima. Doktrin itu bertentangan dengan ortodoksi pemahaman agama yang mereka anut selama ini.

Bagi yang berpikiran dan berdada sesak, akar kekerasan atas Ahmadiyah bukanlah makin banyaknya masyarakat yang tak sabar menghadapi keragaman paham, tapi sebaliknya, karena Ahmadiyah memang layak dikerasi, karena paham dasar keagamaannya memang beda.

Mereka lupa, dalam rentang panjang sejarah Indonesia, lebih banyak masa-masa tenang, bukan konflik, yang terjalin antara masyarakat Islam yang luas dengan penganut Ahmadiyah. Dari situ pula kita dapat mencermati beberapa level penyikapan mayoritas masyarakat Islam Indonesia atas Ahmadiyah.

Mereka memang konservatif, tetapi mereka juga tak agresif menerjang sana-sini. Tak diragukan, kebanyakan menganggap Ahmadiyah menyimpang dari doktrin keberakhiran risalah Nabi Muhammad, dan karena itu mereka tak gampang setuju dengan Ahmadiyah.

Namun, ketidaksetujuan itu tak serta-merta mendorong mereka melakukan tindak-tindak kurang beradab. Sekalipun berpendapat Ahmadiyah sesat, mereka juga tahu bahwa sanksinya juga sudah menjadi hak pregogratif Tuhan.

Namun, penyikapan yang arif itu, oleh sebagian kelompok dianggap sudah ketinggalan zaman dan mengentengkan soal akidah. Dengan memakai hadis tentang hierarki penyikapan atas yang munkar (tentu dengan asumsi Ahmadiyah sebagai salah satu kemunkaran), sikap itu dianggap sikap orang-orang yang lemah iman.

Karena itu, mereka yang merasa “kuat iman” mengajak masyarakat untuk tegas memosisikan sikapnya. Indoktrinasi pun dimulai. Kalau ingin masuk golongan yang tangguh beriman, Anda harus menunjukkannya dalam bentuk yang paling maksimum. Andai tak turut mengubah “kemunkaran” lewat tangan-tangan kekuasaan, segenap media yang mengecilkan ruang gerak Ahmadiyah harus juga dioptimalkan.

Ketika indoktrinasi itu bertuah, panorama kezaliman mulai terlihat. Beramai-ramai orang membawa pentung, benda-benda tajam, batu, bahkan bom molotov; mereka memekikkan “Allahu Akbar” sembari mengejek, meneror, mengusir, dan merampas hak-hak hidup sebagian jamaah Ahmadiyah.

Ironisnya, tatkala kezaliman berlangsung, tak banyak belas kasih dan kearifan yang muncul. Yang disebut ulama ramai-ramai mendesak umara untuk menyudutkan Ahmadiyah yang tertindas dan dirampas hak hidupnya. Mereka tak hanya mengamini inkuisisi atas nama agama, tapi juga mengesahkannya lewat keputusan bersama.

Tidak jelas lagi, apakah ulama yang mendesak umara untuk mengesahkan kekerasan, atau memang umara punya kepentingan untuk membela “Islam yang benar”. Alih-alih mengajak masyarakat kembali pada kearifan konvensional mereka—tidak setuju tapi juga tak tega berbuat zalim—mereka justru berjamaah mendirijeni koor tentang balasan yang setimpal bagi penganut Ahmadiyah dan mereka yang punya keyakinan menyimpang.

Ketika sebagian penganut Ahmadiyah meminta suaka, mereka pun dianggap mengada-ada. Ironisnya, agamawan yang kini memimpin lembaga tinggi negara, yang mestinya tampil sebagai negarawan, tidak juga menunjukkan empati pada anak bangsanya dari spesies Ahmadiyah.

Kita tak tahu, apakah itu juga berarti ia sedang membenarkan kekerasan dan melanggar konstitusi yang konon melindungi segenap anak bangsa untuk menganut agama dan kepercayaannya masing-masing. Tapi yang pasti, kita sekurang-kurangnya menyaksikan agawaman yang gagal menjadi negawaran, tepat ketika kemungkinan itu terbuka lebar baginya. []

20/02/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (11)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Sepertinya kita harus mengkonstruksi ulang makna kebebasan. Jika Anda bisa berteriak dengan keras, maka itulah salah satu makna kebebasan. Akan tetapi, jika Anda dengan berteriak itu telah mengganggu saya yang sedang tidur, maka Anda telah mengganggu kebebasan saya.

Dari istilah saya ini jelas apa yang dimaksud dengan kebebasan. Jika suatu ketika kita merusak atau mengganggu orang di sekitar kita dengan dalih kebebasan maka kita telah melanggar kebebasan itu.

Dalam Islam sangat jelas hukum mengenai orang-orang yang mengaku atau mengangkat nabi setelah Nabi SAW. Anda semua pasti ingat tentang cerita Musailamah al Kahzaqb yang mengaku utusan Allah SWT yang kemudian oleh pasukan Nabi SAW diluluh lantakkan semunya bersama para pengikutnya (cari dalam riwayat Nabi SAW, saya kira anda harus membaca lebih dari satu literatur sebelum menyimpulkan sesuatu).

Kasus yang sama juga terjadi pada pengikut Ahmadiyah. Jadi di sini sangat terang siapa mengganggu siapa. Kita memang harus merekonstruksi pemahaman filsafat-filasat dan tafsir-tafsir yang telah diberikan ulama-ulama zaman dahulu. Akan tetapi akan ada beberapa aturan yang FUNDAMENTAL. Anda tidak akan pernah bisa mengganti SHOLAT dengan senam atau bertapa meski memiliki manfaat yang salah satunya adalah pembangunan mental.

Jadi akan selalu ada yang FUNDAMENTAL yang harus dipertahankan. Itulah menurut saya bagi kita jika mau mempelajari lebih dalam bukan hanya sepintas kemudian menggenaralisir segala sesuatu berdasarkan pemahaman sempit volume otak kita yang hanya kurang dari setengah kepala kita dibanding dunia yang sangat luas ini.
-----

Posted by Syaifur Rizal  on  03/04  at  05:04 PM

Assalammu’alaikum,

Baru-baru ini saya mencoba mencari informasi mengenai aliran Ahmadiyah di internet, dan ternyata setelah saya membacanya, betapa mirisnya saya atas isi dari informasi ayat ayat Al Qur’an yang diterjemahkan oleh gerakan ini. Bagaikankan racun yang teramat halus, terjemahan ayat ayat Al Qur’an dipelintir dan dipotong sedemikian rupa serta ditafsirkan secara ‘lain’ untuk membenarkan gerakan ini.

Bagi masyarakat muslim yang awam, kalau tidak biasa membaca arti dari kitab suci Al Qur’an yang sudah ada di Indonesia saat ini, akan mudah terpengaruh dan terjebak oleh faham mereka.

Saya akui, bangsa ini ditingkat manapun mudah emosi dan kurang mampu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Tetapi, untuk hal yang satu ini, memang akan memancing emosi yang tinggi bagi kaum muslim yang rajin membaca Al Qur’an dan mendalami artinya.

Negarawan selaku pemerintah memegang peranan yang sangat signifikan. Sebagai negara penganut Islam aliran Sunni terbesar didunia (?) Sikap pemerintah kita akan menjadi panutan.

Bagi yang menyarankan agar Ahmadiyyah menjadi agama baru, pasti tidak memahami bahwa gerakan ini tidak akan mungkin berdiri tanpa menghiraukan Al Qur’an (versi mereka sendiri) serta nabi Muhammad SAW.

Demi menyelamatkan akidah masyarakat, pemerintah harus memberikan informasi yang sangat jelas bagi masyarakat, mengapa ajaran ini dilarang, sehingga bagi masyarakat yang menjunjung solidaritas tanpa dasar ilmu pengetahuan akan faham, bedanya saling menghormati kehidupan beragama dengan membiarkan suburnya racun keimanan.

Saya percaya, kalau masyarakat muslim mengerti makna sesungguhnya dari gerakan ini, dan selalu berpedoman kepada Al Qur’an yang resmi serta sunnah Rasul, gerakan ahmadiyyah tidak akan mendapat pengikut di Indonesia.

Wassalammu’alaikum.

Posted by ade tri asih  on  02/27  at  03:02 AM

Aku koq malah jadi kasihan sama Tuhan dan nabi-Nya, padahal aku yang seharusnya malah dikasihani-Nya dan semoga selalu dikasihinya, karena kasih-Nya jauh lebih besar. Gimana tidak kasihan, agama yang Dia wahyukan melalui nabi-Nya untuk membebaskan umat manusia malah dijadikan alat menghapuskan dan mengkebiri kebebasan manusia.

Hak berkeyakinan seseorang itu adalah fitrah terlepas seperti apa bentuknya. Keyakinan masing-masing orang atau kelompok pasti punya peluang sekian persen salah. Kesalahan itu bisa dibuktikan sekarang, tapi bisa jadi nanti malah terbukti benar. Itulah sifat dasar manusia serta keyakinannya yang bersifat kontigen (tergantung waktu dan tempat). Satu-satunya kebenaran mutlak itu nanti setelah kiamat terbukti ketika waktu dan tempat yang kita tinggali ini sudah lebur.

Itu bukan berarti tidak ada kebenaran dan kesalahan di bumi ini. Tinggal gimana cara kita menunjukkan kebenaran dan membetulkan yang salah dengan cara bijak, hikmah, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

Soal keyakinan orang itu bukan urusan nabi, apalagi kita orang biasa. Keyakinan itu urusan Tuhan. Urusan yang harus lebih kita perhatikan adalah perbuatan manusia. Mencuri hak orang lain, menyakiti hati dan diri orang lain, berlaku opresif dan anarkhis ke orang lain itu yang seharusnya dihukum, bukan malah sebaliknya.

Apa dunia ini emang sudah terbalik kali ya?

Siapapun boleh memeluk Islam dan menafsirkan Islam sesuai dengan kebutuhannya. Yang tidak diperbolehkan adalah merasa diri sebagai “the chosen community”, masyarakat atau kelompok terpilih yang punya hak untuk menafsir sendiri.

Sejak kapan mereka dapat mandat seperti itu? Itulah yang terjadi dengan agama Yahudi sebelumnya. Penganutnya merasa punya hak preogratif untuk menafsir agamanya secara eksklusif.

Tuhan Maha Bijaksana, karena itulah dia mengutus nabi-Nya yang lain untuk membongkar klaim otoritas tunggal dari kelompok Yahudi itu. Kita banyak mencaci orang Yahudi tapi kita sendiri hampir sama bahkan bisa jadi lebih Yahudi dari Yahudi asli.

Cerita tentang orang-orang Yahudi di Qur’an itu bukan untuk dijadikan referensi mengolok mereka, tapi justru harus dijadikan pelajaran.

Islam katanya diklaim sebagai agama universal, mana sifat universalnya kalau hak untuk menafsirkannya cuma dikuasai orang tertentu dan kalau ada orang lain yang ikut menafsirkan dengan berbeda malah disuruh keluar dari Islam.

Ya Tuhan, maaf kalau aku belum sempat melindungi dan membela agamamu karena aku sibuk melindungi orang-orang yang teraniaya oleh agamamu. Di samping itu, aku nggak pantas melindungi dan membela-Mu dan agama-Mu karena Engkaulah yang lebih pantas melindungiku dan agama-Mu.

Dan juga maafkan dan tunjukkan jalan orang yang kerap mengatasnamakan segala tindakannya dengan nama-MU, karena ulah mereka juga nama-Mu dan nabi-Mu jadi bahan ejekan orang lain.

Posted by Abu Hanifah  on  02/24  at  03:02 PM

Perlukah membentuk organisasi keagamaan, kalo misi dan visi yang diambil hanya untuk merasa menang sendiri, benar sendiri, paling suci sendiri, paling dulu masuk surga. Semua hanya merasa, merasa, dan merasa.

Pencipta tak pernah salah, tak pernah ragu dalam memberikan hak penuh pada manusia untuk mengambil jalan hidup. Semua sudah diberikan kebebasan menentukan sebebas-bebasnya, walau dengan rahman-rahimNya pencipta sangat adil dengan memberikan petunjuk.

Petunjuk adalah arah ke titik kebenaran, masalahnya petunjuk yang mana? Tentu petunjuk yang menuju kebenaran yang dimaksud pencipta sendiri. Bukan kebenaran yang lain, loh. Karena kebenaran yang ada ternyata dapat diklasifikasi: yaitu kebenaran menurut diri sendiri, menurut kelompok, menurut masyarakat setempat sampai pada kebenaran menurut lembaga (negara, agama, dll).

Semua itu masih kebenaran lokal, kebenaran sempit, sampai kalau kita terjebak akan menjadi picik (maaf memang begitu adanya). Pencipta sangat malu dengan tingkah kita yang membawa nama kebesaranNya dengan teriakkan keras2 di atas amarah yang membara (sifat setan), sambil dengan bangga meluluhlantakkan ciptaanNya. Wah, semprul banget.

Ajaran mana yang pernah membenarkan seperti itu. Mana ada pencipta yang rela ciptaanya dirusak. Wah, kacau itu.

Kita semua sangat benci pada pencuri ayam, perampok harta, pengkorupsi harta rakyat, eh kita tidak sadar juga bahwa kita sangat-sangat bangga dengan kelakuan kita mencuri, merampok, mengkorupsi hak-hak asasi manusia lain. Hak berpendapat, berkeyakinan, sampai hak meniti langkah menuju penciptanya yang sangat asasi dan pribadi.

Wah, kita berperilaku ternyata lebih hitam dari manusia zaman jahiliah. Tapi sayang, sayang, tak merasa.

Pencipta sudah memberikan kesempurnaan yang utuh pada hidup manusia, semua mahluknya sudah tunduk untuk hidup sebagai pemenuh kebutuhan sang khalifah/wakil pencipta, eh kok kita lupa, tidak sadar untuk tidak berlaku egois.

Pencipta sangat malu, malu melihat wakilnya di dunia berlaku sombong, anarkis, menang sendiri, tudak tahu kebenaran mana yang dicari. Semu.

Maka, ayo berangkat dengan berilmu hakiki yang kaffah (utuh) sampai pada titik makrifatullah.

Posted by mulya  on  02/24  at  04:03 AM

Allah Maha Adil. Siapa saja manusia yang berbuat zalim setelah datangnya ajaran melalui para Nabi dan Rasul, pasti akan dihisab. Jangan meragukan Allah tentang keadilan-Nya. Siapa manusia yang meragukan ajaran Nabi-Rasulullah, dan mengambil ajaran sufi-filsuf-atheis, pasti juga akan dihisab Allah.

Allah adalah Tuhan di Papua, Eropa, Amerika, Cina, Afrika, semesta alam, dan bukan tuhan di Arab saja. Semua manusia pasti dihisab. Jika mau berbuat baik, dan melaksanakan Islam seperti dicontohkan Rasullulah, insya Allah akan diridlai Allah.

Jika mencari-cari pembenaran dan dekonstruksi ajaran Islam, silahkan siapkan mental Anda berhadapan dengan Allah. Tidak usah berdebat lagi masalah konservatif-liberal. Kata Abdul Munir Mulkhan, kalau cuma Islam yang masuk surga, pasti penghuni surga akan ‘kesepian’ semua.

Buat apa berdebat, terima saja, toh pemilik Surga adalah Allah, pasti DIA tahu siapa saja yang layak masuk surganya. Apakah sama antara orang istiqomah mengikuti ahlak dan ajaran Nabi dengan orang yang mencari-cari?

Silahkan saja langsung berbantah dengan Allah di hari kiamat nanti, seperti halnya sekarang mereka berbantah dengan kaum muslimin yang kaffah.

Posted by Anandita Budi  on  02/24  at  12:03 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq