Khadijah Tak Berpuasa Ramadan - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
05/08/2010

Khadijah Tak Berpuasa Ramadan

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Dari kupasan itu kita tahu bahwa sejumlah Sahabat Nabi banyak yang meninggal dunia tanpa menjalankan puasa Ramadan. Khadijah binti Khuwailid, isteri Nabi Muhammad, pun tak pernah menjalankan puasa Ramadan. Bahkan, Khadijah juga tak sempat menjalankan shalat lima waktu, juga zakat, karena semuanya disyariatkan ketika yang bersangkutan sudah meninggal dunia. 

Sebagian besar agama mengenal tradisi puasa atau pantang. Ada banyak ragam puasa yang diperkenalkan agama-agama. Dalam al-Qur’an (Mariam [19]: 26) disebut bahwa Bunda Maria (Siti Mariam) bernazar puasa untuk tak bicara dengan manusia manapun. “Inni nadzartu li al-rahman shawma fa lan ukallima al-yawma insiya” (Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini). 

Puasa juga bisa dalam bentuk tak melakukan hubungan seksual. Jika umat Islam pantang melakukan kontak seksual pada siang bulan Ramadan, maka para Romo dan Pastur Katolik berpuasa dari hubungan seksual sepanjang hayat atau selama yang bersangkutan masih menjadi pastur. Bentuk-bentuk puasa kian banyak dijumpai jika kita memperhatikan adat dan tradisi. Ada puasa dengan tidak makan dan minum selama tiga hari tiga malam. Sebagian masyarakat juga mengenal tradisi pantang memakan “yang bernyawa”, seperti hewan, ikan, dan lainnya.

Sebagaimana agama lain, Islam pun mensyariatkan puasa. Bentuknya adalah dengan tak makan-minum dan menahan hubungan seksual di siang hari. Dalam periode Mekah, umat Islam menjalankan puasa tiga hari dalam setiap bulan plus puasa Asyura. Dalam Shahih Bukhari (hadits ke-1893) disebutkan bahwa masyarakat Arab pra-Islam sudah biasa melakukan puasa Asyura. Orang-orang Yahudi saat itu juga berpuasa pada hari Asyura, karena hari itu diyakini sebagai hari diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran dan ancaman bunuh Fir’aun. Begitu Islam datang, Nabi Muhammad memerintahkan umat Islam untuk puasa Asyura. (Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Jilid I, hlm. 660).

Dengan demikian, ibadah puasa sebetulnya didasarkan pada syari’at sebelum Islam (syar’u man qablana). Al-Qur’an (al-Baqarah [2]: 183) menyebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kalian, supaya kalian bertakwa”.

Sejumlah referensi menjelaskan bahwa Islam dalam fase Mekah tak mengenal puasa Ramadan. Puasa baru disyariatkan dalam periode Madinah. Menurut al-Juzairi, puasa Ramadan diundangkan tanggal 10 Sya’ban tahun kedua Hijriyah, atau 1,5 tahun setelah hijrah (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, Juz I, hlm. 416). Menurut Syatha al-Dimyathi dalam I’anah al-Thalibin (Juz II, hlm. 215), selama 10 tahun tinggal di Madinah, Rasulullah SAW menjalankan puasa Ramadan hanya sembilan kali. Satu tahun pertama di Madinah, puasa Ramadan belum disyariatkan. Pada tahun itu, Nabi Muhammad dan umat Islam masih menjalankan puasa Asyura, melanjutkan kebiasaan puasa Asyura selama 13 tahun di Mekah. Dengan demikian, selama 14 tahun, Islam berjalan tanpa puasa Ramadan.

Dari kupasan itu kita tahu bahwa sejumlah Sahabat Nabi banyak yang meninggal dunia tanpa menjalankan puasa Ramadan. Khadijah binti Khuwailid, isteri Nabi Muhammad, pun tak pernah menjalankan puasa Ramadan. Bahkan, Khadijah juga tak sempat menjalankan shalat lima waktu, juga zakat, karena semuanya disyariatkan ketika yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Namun, kita tak perlu panik dan masygul. Khadijah tetap akan masuk surga walau tanpa shalat, tanpa zakat, dan tanpa puasa Ramadan. Tuhan Khadijah (tentu Tuhan kita semua) adalah Tuhan inklusif yang akan memasukkan hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh seperti Khadijah ke dalam surga. Wallahu A’lam bi al-Shawab

05/08/2010 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (44)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

ya iya laaa risallah belum turun waktu beliau wafat, setelahnya hukum2nya sudah jelas dan dosa bagi mereka yang dengan sengaja menginggalkan yang wajib. siksa Allah adalah pedih sila boleh tunggu.

Posted by muse  on  11/19  at  03:37 PM

Ketahuilah, ajaran islam mengutip dari yahudi, yahudi mengutip dari Mesir Kuno, mengambil dari Peradaban SUNDA, ketika Gunung KRAKATAU sudah meletus 11 Ribu Tahun Yg Lalu !!

Posted by SoeDADANG  on  11/19  at  03:37 PM

hihihi lucu :D
satu pertanyaan saya : adakah BUKTI khadijah gak puasa? 

Posted by dian  on  11/19  at  03:21 PM

Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada didalam pikiran manusia, sesungguhnya Islam adalah agama yang memberi peringatan kepada umat manusia, dan sesungguhnya neraka itu sangat panas… dunia sudah semakin tua, dan sudah saatnya kita menjalankan perintah-Nya sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Hadist, apa yang bisa kita sombongkan di dunia ini, semua milik Allah… manusia, hewan, malaikat, iblis dan jin hanya ciptaan-Nya, Allah menilai ciptaannya berdasarkan kebaikan yang ada dalam perintah-Nya, kita bisa menjadi ‘tuhan’ di dunia, dengan segala macam pemikiran ‘keegoisan’ kita sendiri, tapi ingat kebenaran hakiki hanya milik Allah, mari kita semua mohon ampunan-Nya.. semoga pintu ampunan masih terbuka untuk kita....

Posted by Muallaf  on  11/19  at  01:37 AM

Ayat Al Qur’an yang mewajibkan puasa sudah jelas menerangkan syariat puasa sudah ada dalam islam,yang berbeda kaifiahnya saja. Saya yakin Khdijah ra. berpuasa sesuai dengan syariat yg ada saat itu...cuman tulisan ini jadi rancu dengan kesimpulan yang kurang arif...Surga hak preogratif Allah, yang pasti apa yang sudah diwajibkan harus dilaksanakan ...karena sejatinya kitalah yang benar-benar butuh kewajiban tersebut ....

Posted by alley  on  11/07  at  10:00 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq