Khawarij Modern - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
20/09/2004

Khawarij Modern

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Dulu, di zaman klasik, ada kelompok Khawarij yang begitu radikal dan mudah sekali mengkafirkan musuh-musuhnya. Kelompok-kelompok Islam modern yang memakai pendekatan teroretis adalah Khawarij modern.

Teror bermula dari kepala, turun ke tangan, dan jatuh di bumi. Ada orang-orang yang membayangkan bahwa seluruh dunia memusuhi dirinya, dan karena itu ia harus membangun benteng, melindungi diri dari serangan. Itulah yang disebut dengan siege mentality, mentalitas bertahan karena merasa dikepung oleh ancaman dari kiri kanan. Dalam keadaan seperti itu, bahasa kemarahan akan tampak lebih menonjol. Sikap bersahabat kepada yang “lain” akan dianggap sebagai kelemahan, kelembekan, karena itu haruslah dijauhi.

Sa’duddin Ibrahim, Direktur Pusat Ibnu Khaldun untuk Studi Pembangunan, Kairo, menulis sebuah kolom menarik di koran berbahasa Arab yang terbit di London, Al Hayat,10/9/2004 yang lalu. Ia menulis, dalam artikel berjudul “Al Islamiyyun al-‘Arab Dhidd al-‘Alam” (Kaum Islamis Arab versus Dunia), bahwa ada gejala yang sungguh mengkhawatirkan: kaum Islamis Arab melakukan sejumlah tindakan kekerasan, menebar teror, di mana-mana, mulai dari Chechnya, Kashmir, Indonesia, Thailand, Pakistan, dan Afghanistan.

Dalam waktu yang tak lebih dari seminggu (sejak 30/8 hingga 5/9, 2004), kaum Islamis Arab mengklaim telah melakukan sejumlah tindakan kekerasan: menyembelih 12 warga Nepal (yang kemudian menimbulkan aksi balas dendam di Nepal sendiri), meledakkan dua pesawat penumpang komersial milik Rusia (100 orang lebih meninggal dalam tragedi itu), dan terakhir menyandera siswa sekolah dasar di Beslan, Rusia. Tak kurang dari 200 orang menjadi korban penyanderaan itu dalam aksi penyelamatan yang dilakukan oleh pasukan Rusia. Yang menarik: di antara penyandera yang terbunuh, ada 10 orang berkebangsaan Arab.

Kita semua tahu, organisasi yang selama ini dianggap sebagai “bandar” teror di berbagai negara, Tandzim al-Qa’idah atau lebih dikenal sebagai al-Qaidah, didirikan dan dipimpin oleh seorang milyarder berasal dari Saudi Arabia, Usamah bin Ladin. Pertanyaan kita: kenapa ini semua terjadi? Kenapa negeri-negeri Arab seperti menjadi pengekspor kaum radikal-ektremis di mana-mana? Adakah ini semua berkait dengan Islam, agama yang tanah kelahirannya ada di Arab?

Saya kira, umat Islam harus berani melakukan kritik-diri yang radikal, serta mengakui dengan terus-terang jika ada “borok” yang bersarang di tubuhnya. Barangsiapa mempelajari sejarah perkembangan gerakan-gerakan Islam modern, akan tahu bahwa kisah hubungan antara Islam, ideologi kekerasan, dan terorisme bukanlah sesuatu yang aneh. Salah satu titik balik penting dalam sejarah gerakan Islam modern adalah munculnya tokoh bernama Sayyid Qutb, ideolog gerakan al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir. Inilah ideolog Muslim pertama yang “memasak” tafsiran tentang jihad sebagai ajaran ofensif, bukan defensif (baca: jihad difa’i), yang kemudian dipakai oleh pelbagai kelompok Islam untuk membenarkan penggunaan kekerasan atas musuh-musuh Islam.

Dulu, di zaman klasik, ada kelompok Khawarij yang begitu radikal dan mudah sekali mengkafirkan musuh-musuhnya. Kelompok-kelompok Islam modern yang memakai pendekatan teroretis adalah Khawarij modern. Janganlah tertipu bahwa orang-orang yang melakukan pemboman di Bali, hotel JW Marriot dan bom Kuningan adalah orang-orang yang semata-mata “marah” pada orang-orang yang mereka anggap sebagai “musuh Islam”. Mereka mempunyai tafsiran keagamaan yang radikal, bahkan mereka adalah orang-orang yang secara ibadah agama sangat saleh. Tetapi, sebagaimana dikatakan oleh Sa’duddin Ibrahim, mereka ini lebih banyak membahayakan Islam ketimbang membawa manfaat. Mereka, dengan tafsirannya itu, telah mengubah citra Islam dari agama perdamaian, menjadi agama teror, persis seperti orang-orang Khawarij di zaman klasik dulu. [Ulil Abshar-Abdalla]

20/09/2004 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (21)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Semua pro dan kontra terhadap hal2 dalam pemahaan Islam bersumber pada rendahnya wawasan ke Islaman dan super-ego yang mengangap dirinya atau kaumnya “paling benar”. Sekarang ini Aliran pemahaman islam sudah ada sekitar 3 ratusan dari berbagai Manhaj utamanya dari golongan Sunni yang terbagi dalam ratusan Firqoh dan Sekte....Kaum Khawarij sendiri pecah menjadi 20 sekte..atu 15 an yag masih aktif...Sedangkan Golongan Syiah karena sifatnya Komunal.kelihatannya solid sendiri..dan ini kira2 20% dari seluruh kaum Muslimin di dunia..Debat beginian akan lestari sepanjang masa...telah diindikasikan oleh Nabi Muhammad saw melalui hadistnya..........

Posted by Countryman  on  09/16  at  11:23 AM

Saya sangat setuju dengan Ulil… 
-----

Posted by Moslem Sufi  on  10/04  at  08:11 PM

Membaca tulisan, pandangan dan pemikiran Ulil Abshar Abdalla saya merasa tidak ada sesuatu yang baru. Alur pemikiran beliau selalu pada kesimpulan bahwa cara berislam orang-orang yang ingin berpegang teguh dan komitmen dengan nilai-nilai Islam yang benar dan murni dianggap salah, dan yang benar adalah yang sesuai dengan pandangan pemikiran yang beliau bawa dan promosikan. Beliau sangat mudah mengeneralisir bahwa aksi teror dan kekerasan serta sikap ekseklusif pasti identik dengan orang-orang Islam yang sholeh. Beliau mungkin lupa, bahwa banyak teror juga dilakukan oleh Non Muslim. Bagi saya, keresahan yang dirasakan oleh Ulil yang terungkap dalam tulisan-tulisannya tidak lebih merupakan gambaran sebuah penyakit yang disebut dengan Inhizamun Nafs, merasa kalah dan rendah diri sebagai seorang Muslim, serta terkagum-kagum di hadapan pemikiran Barat. Wallahu a’lamu bishshowab.

Posted by Izet  on  10/05  at  07:10 AM

Kalau kita mencoba menyelinap di balik sejarah Islam masa lampau (The Ancient History of Islam), kita akan menemukan sebab yang berbeda antara munculnya kaum khawarij zaman dulu dengan sebagian umat Islam yang dianggap sebagai khawarij modern, saat ini. Khawarij klasik (baca: khawarij zaman dulu) timbul disaat terjadi pertempuran antara tentara Muslim dengan tentara kafir. Alkisah, ada salah seorang tentara kafir yang sudah tidak berdaya, dia berada dalam genggaman kaum muslim, sehigga kalau sedikit saja dia melawan, pastilah batang lehernya terpisah dari wadag urip, tertebas pedang tentara Islam. Dalam keadaan terjepit seperti itu, orang kafir tersebut menyatakan diri masuk Islam, dengan harapan dapat memperoleh kompensasi hidup dari tentara Islam. Namun, apa hendak dikata, ternyata salah seorang tentara Islam tidak menerima tasyahud orang kafir tersebut, karena dia merasa kalau itu hanyalah alibi dari orang kafir itu untuk tetap hidup. Diapun mengayunkan pedangnya ke leher orang kafir itu, terbubuhlah dia.

Melihat kejadian itu, salah seorang sahabat melapor kepada Rasul dan menceritakan apa yang telah terjadi kepada beliau. Kemudian Rasul bersabda kepada orang yang telah membunuh si kafir tadi, “Sesungguhnya yang kamu tahu adalah yang lahir saja, adapun urusan hati adalah milik Allah.”

Bertolak dari peristiwa itulah, muncul terminologi ‘Khawarij’ dalam Islam, yang berarti golongan yang keluar. Sebenarnya terminologi khawarij ini merupakan produk muarrikhin, bukan murni dari Rasul. Sehingga, menurut penulis, hal itu masih sarat subjektifitas. Plus, tidak ada keterangan eksplisit dari al-Qur’an dan al-Hadits yang menjadi dalil bagi kita untuk mengklaim bahwa khawarij itu jelek. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa golongan khawarij tidak semudah itu mengecap seseorang kafir. Mereka masih menggunakan parameter yang secara skriptualis terdapat dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Jadi, mereka tidak asal tuding, orang ini kafir, orang itu kafir. Karena kalau kita lihat sejarah munculnya Khawarij seperti yang dibahas di atas, founding father Khawarij tidak ingin ada kemunafikan seseorang dalam beragama, beragama hanya untuk kepentingan diri dan dunianya saja, tidak ada hubungan transpersonal yang tulus dengan Tuhannya.

Argumen saudara Ulil lebih tidak relevan,saat dia menengarai bahwa aksi teror yang dilakukan oleh sebagian umat Islam sebagai gejala munculnya Khawarij modern. Dalam pandangan penulis Khawarij merupakan khazanah ideologi dalam Islam. Secara srukturalis religius, tidak ada beda antara Khawarij dengan aliran-aliran teologi yang lain, termasuk ahlus sunnah wal jama’ah. Perbedaan aliran-aliran semacam ini hanyalah terletak pada metodologi-teologis masing-masing. Satu sama lain harus mengakui dan menghargai itu sebagai salah satu khazanah teologis Islam.

Tentang aksi teror yang belakangan marak, penulis lebih cenderung mengamatinya sebagai gejala sosial yang lazim. Mengapa lazim? Karena aksi teror tersebut lebih mengarah kepada reaksi umat Islam terhadap perlakuan keji negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat yang selama ini terus berusaha melenyapkan Islam. Mengapa harus menggunakan teror? disaat upaya-upaya diplomatis tak lagi dapat diandalkan, maka hal itu dapat menjadi salah satu alternatif. Kita semua tahu hampir seratus persen pemerintah negara di dunia ini mendukung dan takut terhadap hegemoni Barat, sehingga upaya-upaya diplomatis-persuasif tidak mungkin direspon.

Oleh karena itu, kurang tepat kiranya, jika aksi teror yang marak belakangan ini dipersamakan dengan Khawarij. Karena Khawarij lebih menekankan pada masalah kemurnian teologis, sedangkan aksi teror saat ini merupakan reaksi atas kesewenang-wenangan co-rezim yang tiran. Meskipun secara lahiriah tampak sama-sama radikal, namun keradikalan Khawarij mengacu pada niat suci untuk mentauhidkan Allah. Dan, keradikalan Khawarij terarah pada orang yang patut diperlakukan secara radikal serta melalui pertimbangan syar’i. Lain halnya dengan aksi teror yang belakangan marak, adakalanya mereka salah menentukan target, sehingga orang-orang yang tidak bersalahpun menjadi korban. Padahal Islam sangat mengecam radikalisme yang tidak pada tempatnya. Sehingga para pelaku teror, hendaknya mereorientasi arah gerakan mereka. Dengan demikian kesalahan operasional dapat dinafikan.

Posted by Muhammad Kurdi  on  10/16  at  02:10 PM

Saya pikir kekerasan itu terjadi secara merata, bukan di kalangan Islam saja. Kekerasan dengan menganggap manusia lain sebagai kecoak yang dapat dibunuh kapan saja sesungguhnya tidak mesti dianalisis dengan pendekatan aliran keagamaan. Itu merupakan gejala global tentang adanya “barbarianisne” manusia. Kalau dikaji secara utuh, tak satupun ajaran agama yang memberikan justifikasi untuk menyerang atau merusak hubungan kemanusiaan, meskipun juga ada ajaran untuk melawan suatu serangan (kalau ini alamiah. Meski tidak diajari maka manusia mempunyai naluri mempertahankan diri).

Yang membuat manusia tega membunuh atau menyiksa orang lain adalah karena pemikiran adanya keinginan untuk unggul, merasa paling benar serta kepentingan-kepentingan politik, ekonomi. Lalu semuanya itu tidak lupa menunggangi agama, sehingga seolah-olah agama memberikan justifikasi.

Khawarij pada awalnya juga muncul karena pertikaian politik, pada persoalan kekhalifahan.

Orang Islam mengkafirkan muslim lainnya atau penganut agama lainnya tidak menjadi soal. Saya tidak menyesal jika orang kristen mengatakan saya kafir. Itu wajar. Hanya saja, bahwa kekafiran itu sesungguhnya bukanlah menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.

Orang atheis pun kalau watak dasarnya baik maka tidak akan mempunyai niat meremehkan orang lain.

Posted by Subagyo  on  10/13  at  12:10 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq