Kifaya di Timur Tengah
Halaman Muka
Up

 

Editorial
22/03/2005

Kifaya di Timur Tengah

Oleh Hamid Basyaib

Maka slogan yang makin sering diteriakkan oleh warga Timur Tengah adalah “Kifaya” – “Cukup” (cukuplah segala penindasan ini, cukuplah segala kepengapan politik, ekonomi dan sosial ini, cukuplah sudah bagi para penguasa lalim yang keterbelakangan cara-cara pengelolaan kekuasaannya kian menjengkelkan).

Kawasan Timur Tengah hari-hari ini sedang berderak. Nada umum yang mengalun adalah dambaan akan demokrasi. Di beberapa tempat, titik terang ke arah itu mulai terlihat samar-samar.

Bahkan di sudut terpanas dan sumber gejolak Timur Tengah, yaitu konflik Israel-Palestina, perkembangan mutakhir menunjukkan tanda-tanda menggembirakan. Pemilu damainya berhasil memilih perdana menteri baru, Mahmoud Abbas, yang kian dipercaya oleh para pemimpin Barat, meski masih sering diusik oleh unsur-unsur radikal.

PM Israel Ariel Sharon tampak mulai bersungguh-sungguh menanggapi isyarat dari pihak Palestina, dengan tetap akan menggusur 30an permukiman ilegal Yahudi di kawasan Palestina, di tengah banjir ancaman pembunuhan oleh kaum fundamentalis-ekstremis Yahudi terhadapnya.

Irak berhasil melaksanakan pemilu yang sah, diikuti oleh 8 juta warganya. Mereka tetap berani mendatangi bilik-bilik suara, juga di perdalaman, di tengah maraknya teror dan banyaknya ancaman keamanan.

Arab Saudi melaksanakan pemilu parlemen tingkat daerah bulan lalu, di tengah kontroversi menyangkut dilarangnya kaum perempuan untuk ikut memilih. Aksi-aksi teror memang makin sering terjadi di beberapa kota Saudi, tapi pemilu berikutnya tetap akan dilaksanakan. Bahkan, menanggapi kritik-kritik keras dari dalam dan luar negeri, rezim yang telah bercokol selama 75 tahun itu menjanjikan pemberian hak pilih dan dipilih bagi perempuan pada pemilu tahap kedua beberapa bulan lagi.

Suriah mulai menarik secara bertahap pasukannya dari perbatasan dengan Lebanon, setelah 30 tahun bercokol di sana, lengkap dengan jaringan intelijen dan pasukan mautnya yang gemar membunuh atau menyiksa warga. Pembunuhan terhadap mantan perdana menteri populer, Rafiq Hariri, membuat rakyat murka. Ratusan ribu warga Lebanon tumpah ke jalan untuk meneriakkan slogan-slogan anti-Suriah, sebagai jawaban atas demonstrasi ribuan warga sebelumnya yang pro-Suriah, yang antara lain digerakkan oleh kelompok Hizbullah.

Negeri terbesar Arab, Mesir, pun mulai mengalunkan lagu serupa. Presiden Hosni Mubarrak sudah mengumumkan rencana perubahan konsitusi untuk memungkinkan lebih banyak kandidat berkontes dalam pemilu tahun ini. Banyak orang yang sinis pada langkah Mubarrak, yang telah berkuasa 24 tahun. Manuvernya dicibir sekadar untuk melempangkan jalan bagi putranya untuk menjadi presiden. Ada pula yang menganggap Mubarrak yang berusia 77 itu pasti terpilih lagi untuk masa enam tahun berikutnya dalam pemilu kali ini, yang tentunya juga masih akan direkayasa.

Tapi tampaknya kali ini Sphinx sungguh-sungguh mulai berkedip. Seperti ditegaskan oleh penulis Mesir yang sejak lama mempromosikan demokrasi, Muhammad Hasanayn Haikal, 2005 adalah “tahun goresan besar” bagi bangsa Mesir.

Para perempuan Kuwait juga mulai turun ke jalan, menuntut hak untuk boleh menjadi angota parlemen. Mereka berhasil, karena penguasa mendukung tuntutan mereka. Yordania tak luput dari derak demokratis itu. Pers Amman makin sering memuat berita dan kartun kritis – umumnya tentang para otokrat lain Timur Tengah. Meski pers belum cukup berani mengkritik rezim Hasyimi, tapi jelas nada tulisan-tulisan itu menyindir Raja dan kerabat istana.

Gelombang demokratisasi tampaknya tak akan terbendung. Ada banyak faktor yang menopangnya. Tekanan Amerika Serikat, melalui pernyataan-pernyataan lugas Presiden Bush, tentulah salah satunya.

Di luar faktor Amerika, sejumlah kondisi objektif jelas menyumbang besar bagi bangkitnya gelombang itu. Tekanan demografi tentulah salah satu faktor penting. Jumlah penduduk meledak, sementara rezim-rezim yang letih itu makin tak sanggup menyediakan lapangan kerja dan kenyamanan hidup yang memadai. Sumber-sumber pendapatan negara terus menipis, sementara sistem politik kian mandek, dan ketidakadilan sosial kian mencolok. Aparat keamanan dan intelijen terus saja bergerak sebagai mesin pembunuh atau penyiksa.

Maka slogan yang makin sering diteriakkan oleh warga Timur Tengah adalah “Kifaya” – “Cukup” (cukuplah segala penindasan ini, cukuplah segala kepengapan politik, ekonomi dan sosial ini, cukuplah sudah bagi para penguasa lalim yang keterbelakangan cara-cara pengelolaan kekuasaannya kian menjengkelkan).

Arus informasi yang mustahil dibendung membuat mata kaum muda terbuka makin lebar. Lewat kelancaran dan kecepatan email mereka saling bertukar informasi dan analisis. Televisi Al-Jazeera makin rajin menayangkan aneka peristiwa politik, dengan cara dan keterampilan teknis yang hebat – membuatnya digemari oleh puluhan juta pemirsa di kawasan itu.

Timur Tengah tetaplah etalase terpenting bagi Islam, meski jumlah Muslim di sana sekitar 260 juta orang, atau seperlima pemeluk Islam di seluruh dunia. Karena itu, jika sejarah mutakhir Timur Tengah sungguh-sungguh berjalan linear, atau menuju ke arah logisnya yaitu demokrasi, hal itu akan merupakan iklan yang sangat baik bagi Islam. Pihak Barat pun mulai menggeliat dengan merespons positif perkembangan ini. Pertemuan G5 (Jerman, Prancis, Italia, Inggris, Spanyol) beberapa hari lalu menelurkan kesepakatan resmi bahwa Islam tidak boleh diidentikkan dengan terorisme.

Uluran tangan Barat itu perlu disambut hangat, bukan hanya oleh rezim-rezim kuno yang selama ini menangguk berkah berkat dukungan mereka, tapi juga terutama oleh rakyatnya—sumber utama demokrasi dan penentu terpenting wajah kawasan itu.

Bayi demokrasi mulai merangkak di jalan-jalan Timur Tengah. Dengan gembira kita mencermati pertumbuhannya menjadi balita, remaja dan, semoga, dewasa. Kifaya! (Hamid Basyaib)

22/03/2005 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (9)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Saya sedih melihat bahwa kejadian baru-baru ini lebih condong menggunakan agama sebagai tameng. Karena menurut saya agama itu bagaimana kita terhadap Tuhan (khususnya) dan dan kepada orang lain (umumnya). Menurut saya agama adalah ketika kita memberi kasih dan melayani orang lain. Jadi kalau kita berbuat kekerasan kepada orang lain dan melibatkan agama sebagai alasannya itu tidak dibenarkan. Kalau kita ingin menghayati agama itu sendiri, kenapa kita tidak duduk bersama dan mendiskusikan sgala yang mengganjal di hati tentunya dengan pikiran dingin dan terbuka bahwa kita bukanlah orang yang paling baik, tetapi kita bersama-sama menuju kebaikan! Hal pertama dalam agama adalah kebaikan itu sendiri! Salamuntuk seluruh umat beragama di dunia! Marikita ciptakan perdamaian dunia atas dasar agama!
-----

Posted by Yoshua  on  03/01  at  07:04 PM

artikel-artikel yang dimuat bagi saya sangat membantu saya untuk terus berkembang, bukan hanya untuk saya tetapi juga bagi perkembangan dan kedewasaan kehidupan berbangsa dan bernegara kita di Indonesia. Bravo ........bravo ..... kiranya diskusi-diskusi intelektual seperti ini terus berkembang sehingga dapat membantu manusia Indonesia untuk tumbuh dalam peradaban yang lebih baik, yang tidak mencontek dari peradaban barat atau Timur tetapi asli (pure) Indonesia. hehehehehe........ semoga sukses. saya mendukung. oke!!!!!

Posted by Rychy  on  01/31  at  07:03 PM

Salam Dalam salah satu alinea dari tulisan mas Hamid ada kesalahan fatal. Alinea tersebut sbb: 

“Suriah mulai menarik secara bertahap pasukannya dari perbatasan dengan Lebanon, setelah 30 tahun bercokol di sana, lengkap dengan jaringan intelijen dan pasukan mautnya yang gemar membunuh atau menyiksa warga. Pembunuhan terhadap mantan perdana menteri populer, Rafiq Hariri, membuat rakyat murka. Ratusan ribu warga Lebanon tumpah ke jalan untuk meneriakkan slogan-slogan anti-Suriah, sebagai jawaban atas demonstrasi ribuan warga sebelumnya yang pro-Suriah, yang antara lain digerakkan oleh kelompok Hizbullah.”

Setelah terbunuhnya mantan PM Rafik Hariri, memang betul rakyat Libanon murka. Kemudian ada demontrasi ribuan rakyat Libanon yang meminta tentara Suriah hengkang dari Libanon, dan mereka menuduh Suriah terlibat dalam pembunuhan ini. Demontrasi ini digerakakn oposisi Libanon yang dipimpin oleh Walid Jumblat (Pemimpin sekte Druze). Kemudian Walid Jumbalat juga meminta campur tangan Amerika dalam kasus ini.

Kemudian dikarenakan Libanon menghadapi krisis politik dan mengancam persatuan, Hisbullah menggerakkan rapat akbar (salah satau alasan yang dikemukakan oleh Sayyid Hasan Nasrullah,pemimpin tertinggi Hisbullah dalam pidatonya) yang secara politik berlawanan dengan demonstrasi sebelumnya (yang digerakkan oleh Walid Jumblat). Dalam pidatonya yang disiarkan oleh TV Iran, Hasan Nasrullah menolak campur tangan AS dan Barat dalam urusan dalam negeri Libanon, dan mengatakan Israel lah yang paling diuntungkan oleh ledakan bom yang membunuh Rafik Hariri. Hasan Nasrullah dalam pidatonya juga memberikan penghargaan yang sangat luar biasa atas peran Suriah yang memberikan keamanan di Libanon setelah lama Libanon dirundung perang saudara.

Jadi fakta yang saya dengar langsug (kontak telpon saat rapat akbar) dari teman saya, pelajar Indonesia di Libabnon yang saat itu berada saat rapat akbar rakyat Libabon yang digerakkan oleh Hisbullah menunjukkan sebaliknya. Lima ratusan ribu lebih,bahkan ada yang menyebut satu juta (karena saat itu semua perkantoran dan toko tutup)demontran yang menentang As & Israel dan mendukung Suriah. Demontrasi besar yang digerakkan oleh Hisbullah ini jauh lebih besar dibanding demontrasi pertama yang digerakkanoleh sekte Druze (Walid Jumblat).

Salam

Posted by Mujtahid Hashem  on  03/27  at  05:04 AM

Wah ya kenapa anti kata demokrasi sih, disederhanakan saja demokrasi itu hanya alat, makanya harus dibimbing agama. Demokrasi membuka pikiran untuk kritis mempertanyakan sesuatu, membuktikan sesuatu, so ada dinamisasi. Memang betul sih, akan ada penyusupan paham-paham yang tidak sesuai dengan Islam. Justru disitu kita harus buktikan dalam wadah yang “fair” Islam tetap unggul dengan segala kemuliaannya. Jangan kata demokrasinya dong yang disorot itu kan seperti membakar lumbung padi hanya untuk nyari tikus ...misal kalo Amerika nyerang Irak untuk alasan demokratisasi di Irak, nyerang di kutuk habis-habisan, tapi membantu demokratisasinya didukung salahnya dimana rakyat mengeluarkan aspirasi, dimana sayangnya Saddam Hussain (ga usah dibelain deh, dah jelas kekejamannya) malah memasung hidup rakyatnya hanya untuk kebesarannya sendiri ...

So intinya, mari kita awasi praktek yang negatif dari demokrasi itu bukan anti simbol demokrasinya sendiri.

Posted by Sigit  on  03/25  at  03:04 AM

Sebelumnya saya ingin kejelasan dari JIL, akan makna mencerahkan dan membebaskan, dari apa dan dari siapa? Kalau terkait masalah perbaikan akidah yang kebanyakan bercampur dengan budaya syirik saya sangat setuju, tetapi kalau menyangkut akidah yang baku dari Allah dan Rasullulah, mbo ya jangan diotak atik. Namun yang saya dengar perkembangannya dibuat samar2 oleh JIL!! Katakanlah pemikiran-pemikiran Nurcholis Madjid yang menganggap suatu saat manusia akan berlebur dengan tuhan, tiada tuhan (T huruf kecil) melainkan Tuhan (T huruf basar). Ahlil kitab termaksud non kristen dan yahudi.

Sebagai orang awam saya jadi bingung! Maaf kalau saya harus sedikit berburuk sangka, saya kurang percaya sarjana-sarjana islam alumni barat, kenapa mesti belajar islam di negeri kafir? Yang jelas-jelas Al-Quran menjelaskan, mereka tidak akan pernah senang dengan kita sampai kita mengikuti mereka. Contoh adalah isu yang di angkat mas Hamid, barat menganggap demokrasi bukan untuk islam mas! Kemana demokrasi saat pemerintah melarang siswi-siswi menggunakan jilbab, dimana demokrasi kalau prasanka menjadi alasan pembenaran menyerang negara lain, demokrasi bukan untuk pemaksaan khendak doank! Demokrasi sejati sebenarnya ada dalam islam! Tak perlu mengikuti definisi barat yang mengecualikan makna demokrasi untuk Islam. Untuk cendikiawan: mohon keintelektualan anda tidak untuk meredefinisikan sebuah makna yang sebenarnya sudah jelas ada dalam islam, dan menganggap barat cerminan demokrasi dan peradaban yang sejati. Saya sangat bermohon agar redaksi JIL mengklarifikasi pertanyaang saya di atas (membebaskan, mencerahkan....dari apa dan dari siapa?) kalau bisa lewat email saya! Agar kecurigaan saya tentang paham ini tidak terus berkembang, mau membangun islam yang sesungguhnya atau malah membingungkan umat. Itu pun kalau anda-anda peduli akan perbaikan pemahaman umat. Demikian Wassalamu`allaikum

Dari Redaksi: Untuk penanya dan pembaca lainnya, mohon baca kembali halaman Tentang JIL. Di situ berisi apa yang kami sebut manifesto JIL, visi dan pemikiran kami tentang apa dan bagaiman pemikiran Islam itu seharusnya. Tentang pemikiran JIL, Anda bisa menggali dari bacaan terhadap publikasi artikel kami di situs ini. Terima kasih.

Posted by firman  on  03/23  at  08:04 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq