Kisah dari Arab Saudi - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
08/11/2004

Kisah dari Arab Saudi

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

INI adalah sebuah kisah yang dituturkan oleh seorang kolumnis perempuan Arab Saudi yang tinggal di Ryadh, dan dimuat di koran berbahasa Inggris, Arab News, yang terbit di Jeddah. Kisah itu dimuat hari Jumat lalu, 5 November 2004.

INI adalah sebuah kisah yang dituturkan oleh seorang kolumnis perempuan Arab Saudi yang tinggal di Ryadh, dan dimuat di koran berbahasa Inggris, Arab News, yang terbit di Jeddah. Kisah itu dimuat hari Jumat lalu, 5 November 2004.

Seorang perempuan tua yang berjalan dengan bantuan kursi roda sedang bersitegang dengan petugas imigrasi. Pasalnya adalah, ia bepergian dengan tidak disertai oleh seorang “muhrim” resmi. Menurut peraturan pemeritah, seorang perempuan tak boleh melakukan perjalanan sendirian. Ia harus didampingi oleh seorang laki-laki yang masih ada hubungan kerabat yang dalam kosa kata fiqh disebut dengan sebagai “muhrim”.

“Tetapi, Tuan Petugas, bukankah saya telah didampingi anak saya,” kata perempuan itu sambil menunjuk kepada seorang remaja yang ada di sampingnya.

“Ya, betul. Tetapi dia bukan muhrim resmi yang tertera dalam dokumen Anda. Muhrim resmi Anda adalah anak yang lain, bukan anak yang ada di hadapan saya sekarang. Saya tak bisa mengizinkan Anda bepergian tanpa disertai muhrim resmi,” jawab si petugas.

Si anak mencoba membujuk agar ibunya diperkenankan pergi ke luar negeri, toh ia sudah didampingi anaknya sendiri. Tetapi si petugas tetap ngotot menolak, seraya menganjurkan agar menunda perjalanan itu sampai si muhrim resmi bisa menyertai. Si anak marah hebat, meneriaki petugas itu.

Kejadian ini berlangsung persis di muka si kolumnis perempuan tadi. Ia sendiri sedang berdiri persis di belakang perempuan tua yang “sial” tadi, dan mengamati peristiwa itu dengan perasaaan was-was pula. Ia juga sedang melakukan perjalanan ke luar negeri. Khawatir ada dokumen yang kurang, ia melihat tasnya, mengecek apakah semua persyaratan sudah lengkap: paspor, surat izin dari muhrim untuk melakukan perjalanan. Di sampingnya, seorang laki-laki yang adalah saudaranya sendiri sedang bermain-main dengan HP-nya: si muhrim resmi. Persyaratan sudah lengkap, tetapi ia toh masih merasa was-was, jangan-jangan si petugas sengaja mencari-cari alasan untuk mencegah perjalanannya.

Kisah semacam ini mungkin terasa aneh, janggal, dan tak masuk akal jika dibaca oleh kaum perempuan di Indonesia. Di negeri kita yang penduduk muslimnya jauh lebih banyak ketimbang Saudi Arabia, perempuan bisa menikmati perjalanan dengan bebas ke mana-mana, walaupun sendirian. Tanpa ada ketentuan harus didampingi oleh seorang muhrim. Hal serupa juga saya lihat di negeri-negeri Arab lain yang lebih “liberal” seperti Mesir, Jordania, Iraq, dan lain-lain.

Di Saudi Arabia, perkaranya lain. Di sana, perempuan tidak bisa bergerak bebas ke mana-mana. Larangan perjalanan tanpa muhrim ini bahkan berlaku juga buat seorang perempuan Saudi Arabia yang menjadi wakil resmi negeri itu di PBB, Thoraya Obaid.

Perempuan tidak boleh menyetir mobil sendiri, sehingga ratusan ribu sopir dari Asia mesti didatangkan ke negeri kelahiran Islam itu untuk “menyetiri” kaum perempuan. Perempuan juga tidak bisa check-in di hotel sendirian, tanpa disertai seorang muhrim.

Dalam bagian lain artikelnya, si kolumnis tadi melakukan kritik atas sejumlah praktik di negerinya yang sangat diskriminatif terhadap perempuan Dan sialnya, praktik-praktik itu dibenarkan atas nama tafsiran tertentu atas ajaran Islam. Seperti kita tahu, Saudi Arabia menganut suatu ideologi yang disebut wahabiyah yang memperkenalkan penafsiran yang kaku dan rigid atas Islam.

Si kolumnis tadi juga memprotes pemaksaan penggunaan cadar. Ia mengatakan bahwa tiga dari mazhab resmi dalam Islam tidak mewajibkan cadar. Kenapa pemerintah yang konon mengklaim melaksanakan syariat Islam tidak mempertimbangkan hal itu. Setelah menunjukkan sejumlah praktek diskriminasi atas perempuan di negerinya, si kolumnis tadi membuat kesimpulan, “Our state has been organized by certain mentalities in order to preserve one thing: Male dominance.” (Negeri kita diatur menurut mentalitas tertentu hanya untuk mempertahankan satu hal: dominasi laki-laki).

Kolomnis itu bernama Mody Al-Khalaf. Kalau anda berniat untuk berkomunikasi dengannya, silahkan berkirim surat-e ke: . Saya terharu membaca kolom Mody ini. Di sana ada keberanian yang luar biasa untuk “bersuara lain”. Di negeri yang, atas nama Islam, didominasi laki-laki seperti Saudi, suara perempuan adalah sesuatu yang langka. Saya tak yakin, apakah kolom itu bisa diterbitkan dalam versi Arab di koran-koran resmi di sana. []

08/11/2004 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (26)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

saya adalah muslimah islam yang berdomisili di indonesia..
Sepengetahuan saya,,hal itu bukanlah diskriminasi untuk wanita..itu adalah ajaran islam yang shahih..
Allahu’a’lam,,mungkin yang menulis kisah ini tidak tahu manfaat bila wanita pergi harus disertai dengan “mahram” bukan “muhrim”..
Sedikit kritik: lebih baik qt menulis berdasarkan ilmu yang benar2 shahih,,jangan karena bebas mmengeluarkan pendapat,,qt jd salah tulis,,
Untuk penulisnya jangan kebalik lagi ya nulis kata “mahram” menjadi “muhrim”..salah satu huruf aja ya pastinya salah arti..atau jangan2 penulisnya malah emang ga tau..Allahu a’lam..
So,,lebih baik qt banyak menuntut ilma aja,,biar bisa tahu yang mana yang bener dan yang mana yang salah,,betul kan ??..

Posted by khansa  on  11/29  at  11:52 AM

Arab Saudi itu melindungi wanita biarpun wanita itu sudah tua renta, kalau Indonesia wanitanya nggak dilindungi. Contohnya beberapa minggu yg lalu ada seorang mahasiswi yg pulang malam tanpa mahramnya , saat hendak pulang si mahasiswi diculik dan dirampok kemudian si perampok melihat keseksian si gadis dan akhirnya diperkosa di sebuah hotel. Kisah ini sudah dimuat di surat kabar loh
-----

Posted by Fahrul Aprianto Prayudi  on  03/23  at  12:04 AM

Bang Ulil Abshar YTH: Pada jaman Nabi dan para sahabat Nabi sampai pada tabiit-tabiin sampai pada pengikut Nabi yang istiqamah melaksanakan ajarannya asampai saat ini, Hukum agama yang diajarkan oleh nabi tetap dipatuhi dengan sepenuh hati dan tidak dapat ditentang atau ditolak, kecuali orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya,karena hukum Allah bersifat absolut dan tidak bisa dipengaruhi oleh manusia, Hukum Allah tidak diskriminatif kepada makhluknya,Hukum Allah bersifat melindungi kepada makluknya tanpa kecuali.

Adapun mengenai artikel tersebut berkaitan dengan aturan/peraturan yang berlaku di Saudi Arabia bahwa wanita tidak boleh bepergian tanpa didampingi oleh muhrimnya itu shoheh, karena Saudi Arabia adalah negara Islam Undang-undang dasarnya adalah Al-Qur’an,pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku mesti dikenakan sanksi hukum, sedangkan manusia pada umumnya menuntut kebebasan dan cendurung melanggar hukum, akan tetapi hukum apapun saja dapat berlaku effektif apabila sesuai dengan SIKONDOMnya. ( Situasi, Kondisi, Domisilinya) dengan perlakuan tepat,adil dan bijaksana (Ahsan) Wallahu a’lam.

Posted by H Abdullah Baidawi  on  02/13  at  06:03 PM

Sebenarnya kisah ini tidak sepenuhnya diskrimansi atas perempuan. Kita juga harus melihat dari sisi positifnya. Banyak keuntungan dan manfaat dari rule semacam itu. Hanya tergantung orang yang melihatnya saja.

Posted by Raden Mas Sandi  on  08/15  at  09:08 PM

saya sebagai pribadi muslim, melihat perkara itu dengan sudut pandang positif artinya, saya mendukung rule/peraturan di arab saudi. bukan masalah diskrimanasi atau apapun lainnya, tetapi setahu saya ada hadist menyebutkan tak hanya tubuh wanita yang seperti setan jika dilihat dari depan maupun belakang, bahkan suaranya pun termasuk pula. jadi seperti penggunaan cadar dimaksudkan agar laki-laki/ikhwan menjaga pandangannya terhadap wanita, juga demikian akhwat jika berpergian harus dengan muhrimnya, ini dimaksudkan agar akhwat tersebut tidak melakukan hal yang tidak diinginkan atau menjaga dari gangguan pria lain dsb.hukum dalam islam memang kompleks, bisa saya katakan segalanya sudah diatur dalam islam/Quran dan hadist.

Posted by ananda indra  on  04/21  at  11:05 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq