Kita Butuh Teologi Harapan - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
16/01/2005

Syamsurizal Panggabean: Kita Butuh Teologi Harapan

Oleh Redaksi

Menanggapi bencana tsunami di Aceh (26/1) muncul pandangan keagamaan yang terjebak dalam dua kecenderungan: menyalahkan korban dan menyalahkan Tuhan. Padahal, yang kita butuhkan teologi yang memberikan harapan, memecahkan persoalan, dan membebaskan dari pandangan teologis yang sempit. Berikut perbincangan Ulil Abshar-Abdalla dengan staf pengajar UGM Jogjakarta Syamsurizal Panggabean Kamis (13/1) tentang tema ini.

16/01/2005 20:49 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Membaca artikel mas panggabean saya tertarik untuk sedikit menanggapi mengenai makna teologi yang bersifat Transformatif. Dalam sebuah ayat alquran surat Ali Imran, disebutkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini merupakan sebuah kajian yang wajib untuk direnungkan (khususnya bagi mereka orang-orang yang berakal). Konteks orang yang berakal di sini tidak dipandang dari sisi agamanya.. namun lebih ditekankan kepada usaha seseorang dalam mencari makna yang tersembunyi dari adanya sebuah fenomena. Tuhan tidak membeda-bedakan akal seseorang berdasarkan agamanya, melainkan melalui sejauhmana orang tersebut bisa belajar untuk memahami kenyataan dari adanya peristiwa yang terjadi. Adalah tepat jika bencana tsunami yang menimpa Aceh dipandang sebagai sebuah cobaan sekaligus harapan “Bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan (QS Attakasur)”. Cobaan agar kita (umat Islam Indonesia) senantiasa berbenah diri, dengan harapan dari adanya cobaan tersebut kita bisa meraih keadaan yang lebih baik

#1. Dikirim oleh Mei Odi Wijaya  pada  17/01   05:01 AM

bencana yang merenggut ribuan korban baru-baru ini ialah wajar adanya. tuhan dalam ini tidaklah mempunyai andil. semuanya kembali pada manusia itu sendiri. tentu saja korban bukan berarti pelaku karena dalam sebuah bencana tidak ada namanya pemilahan status baik buruk. berbudi pekerti baik dan penjahat. semuanya sama.  bencana terjadi karena ia diundang untuk datang oleh kerakusan sebagian manusia dimuka bumi ini. dengan mengeksplorasi secara berlebihan isi bumu ini tanpa upaya untuk menghentikannya. jangan salahkan tuhan karena tuhan hanya terseyum ketika kita menyalahkannya.  sayangilah kehidupan ini dengan memelihara lingkungan sekitar. bumi dan isinya harus dikelola dengan baik. mengenai agama ia hanya sebuah teks yang bisa dijadikan pemnenaran bagi yang tidak tahu. dan tentu saja tafsiran akan teks tunduk kepada kehendak penafsir teks agama.

#2. Dikirim oleh moch.hilmi ashidiqie  pada  18/01   09:02 AM

Assalaamualaikum Wr. wb

Saya disini hanya ingin menanggapi apa yang saudara telah katakan. Saya memang setuju kita jangan menyalahkan Tuhan karena kita sebagai manusia tidak punya hak dan kuasa untuk menyalahkan yang Maha kuasa, tetapi yang saya yakini bahwa seluruh alam raya ini diciptakan Allah swt dan dialah yang Mengatur segala macam kejadian dialam semesta ini dari kejadian siang dan malam,perputaran planet2 sampai peredaran darah manusia dialah yang mengatur dan apabila tuhan berkehendak apapun bisa terjadi dan itu senantiasa menunjukan Tuhan itu ada dan Maha Kuasa dan apabila kita sebagai manusia meyakini hal tersebut dalam konteks kejadian tsunami di aceh kita seharusnya bertambah yakin bahwa Tuhan itu ada dan maha kuasa tetapi bukan berarti kita menyalahkan Tuhan karena meyakini Tuhan itu ada dan Maha kuasa sama sekali berbeda dengan artinya kita menyalahkan Tuhan

#3. Dikirim oleh Saeful Anwar  pada  20/01   06:02 AM

Saat ini janganlah sekiranya teologi hanya engawang-awang di negeri awan sana yang tidak mampu dicapai manusia dan hanya dapat di ucapkan oleh beberapa “orang pintar” saja.

Inilah saatnya memunculkan teologi pengharapan dan teologi bertindak demi momen untuk kemanusiaan ini!

#4. Dikirim oleh Geger Riyanto  pada  21/01   08:01 AM

tsunami yang telah melibas habis ratusan ribu nyawa, memang sangat menyentuh perasaan kita semua. bencana ini telah mampu menyatukan seluruh perasaan manusia dibumi belahan manapun. akan tetapi yang menjadi persolan kemudian wacana yang berkembang dimasyarakat bahwa gempa dan tsunami ini adalah bencana alam murni atau ada yang mengatakan bahwa ini semu terjadi karena murka Tuhan.

wacana ini sudah cukup mendominasi dan dengan analisa BMG yang meng-iya-kan bahwa memang bencana ini adalah bencana alam murni. tetapi memang benarkah demikian adanya? ada sebuah analisa yang bersumber dari kawan-kawan kita di India bahwa Tsunami terjadi akibat ekses yang ditimbulkan uji coba nuklir yang dilakukan oleh negara super power didasar laut yang mengakibatkan bergesernya lempengan bumi itu. inilah yang belum terbaca oleh kita. selama ini kita terhanyut dalam duka dan tidak pernah berfikir kesana.

kalau memang benar bahwa tsunami ini adalah ekses dari uji coba nuklir maka bencana ini merupakan sebuah konspirasi kapitalisme global dalam rang mengembangkan ekspansinya kenegara-negara jajahannya.  demikian semoga menjadi bahan pemikiran jangan suka menyalahkan Tuhan komentator

pemerhati masalah sosial korps dakwah islamiyyah sunan kalijaga (KORDISKA) UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta
-----

#5. Dikirim oleh mohamad sholihin  pada  23/01   04:01 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq