Kita Selalu Butuh Tafsir yang Sesuai Zaman - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
25/10/2006

Achmad Chodjim: Kita Selalu Butuh Tafsir yang Sesuai Zaman

Oleh Redaksi

Katakanlah kita melihat ada ayat, ”Bunuhlah dan perangilah orang-orang kafir itu!” Ayat ini kalau mau kita angkat bukan untuk mencari sosok si kafir, tapi bagaimana kita harus bisa membunuh sifat ketertutupan manusia di dalam hidup yang semakin maju ini.

25/10/2006 00:00 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (13)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Senang dan gembira jika bisa bertemu apalagi nanti bisa membaca Tafsir dg cara dan gaya Pak Achmad Chodjim ini. Saya ucapkan salut yg setinggi tingginya atas kemauan dan usaha beliau yang bukan hanya menulis buku sejarah saja tapi mau melangkah kebidang tafsir Al Qur’an yang dalam masa kekinian sangat diperlukan , terutama dalam membaca semua phenomena phenomena globalisasi yang menjadi sebab makin terasingnya ummat Islam bahkan ummat lain dalam menapak kehidupan yang berkembang jauh lebih cepat daripada kesiapan individu manusia yang masakini yg makin tak berdaya memahami perobahan perobahan yg belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. Dapat dikatakan bahwa pemahaman al Qur’an adalah berarti Sejarah pemahaman menafsirkan Al Qur’a itu sendiri. Yang namanya Sunatullah pasti tunduk ( atau sama )kepada hukum hukum Sejarah pada suatu saat dan suatu masa . Karena tiap tiap zaman memiliki kaidah kaidah tertentu , syarat syarat kemungkinan tertentu ,pengandaian pengandaian tertentu ( Foucault , Filsuf Perancis ). Demikian Pak Khodjim , semoga bukunya bisa cepat terbit.

Salam,

Soegianto S.

#1. Dikirim oleh Soegianto Sastrodiwiryo  pada  25/10   09:10 PM

luar biasa al quran ini bisa digali sesuai dengan urutan zaman dan kepentingan zaman. dan bisa ditafsirkan sesuai dengan urutan dan kepentingan zaman. dam memang kenyataannya sudah banyak yang menafsirkan dengan berbagai metode tafsir. tapi manfaat itu semua untuk kepentingan umat. sehingga saya sebagai umat merasa beruntung ada penafsir-penafsir al quran dengan gaya baru sesuai dengan kepentingan zaman. saya percaya itulah spirit al quran selalu menjawab tantangan zaman jasdi kita tunggu edisi tafsir dari bapak Achmad Chodjim.

#2. Dikirim oleh dhamaq  pada  07/11   02:11 AM

Assalamualaikum.

Aku berkali-kali menghubungi JIL untuk berpartisipasi, selalu gagal, tidak bisa dikirim, apakah aku ini di"wanted". Kalau demikian adanya, yah sudah nasibku. Untuk mas Chodjim, kami menunggu karya yang hebat ini, mudah-mudahan semua dapat mendapatkan manfaatnya, amien.

Wassalam

H. Bebey

#3. Dikirim oleh H.Bebey  pada  07/11   06:11 PM

Setiap ajaran agama selalu bersifat absolut, tidak bisa relatif atau kompromi. Apa yang ada di kitab suci adalah mutlak dilakukan setiap penganut kepercayaan itu. Jika Kitab Suci menyuruh anda harus membunuh, bunuhlah! dan jika harus mengasihi, kasihilah!

Kalau kita mempercayai Tuhan itu kekal, maka ajarannyapun kekal, dan saya kira tidak istilahnya “jaman sudah berubah”. Tuhan dan ajaran-ajarannya selalu melampaui batas antara ruang dan waktu.

Salam Sejahtera

Lubis

#4. Dikirim oleh H.M. Lubis  pada  08/11   12:12 PM

Ass wr wb Bagaimana kita bisa yakin akan kebenaran bukti sejarah, kronologis sejarah pada waktu itu? Itu susahnya jaman skrg, dahulu masih ada rasul, setelah itu ya ntah berapa tafsir yang muncul, saya lebih suka menyebutnya varian. Monggo buat tafsir, niat yang bagus. Good Luck Wass

#5. Dikirim oleh Oktara  pada  09/11   01:11 AM

Setuju sekali dengan Sdr. Lubis.......saya tambahin kalau manusia ingin membuat ajaran baru dalam hal ini harus sesuai dengan jamannya......berarti siapa yah yang menduduki jabatan sebagai Tuhan....?????? hahahahahah..... manusia...manusia.....PINTAR atau KEPINTARAN

#6. Dikirim oleh Kabul  pada  12/11   11:11 PM

Benar sekali, Pak Lubis, Tuhan dan ajaran2-nya melampaui waktu dan ruang. Tetapi manusia dibatasi waktu dan ruang dalam melaksanakan ajaran2 itu. Satu pertanyaan kecil: jika kita menafsirkan belaka apa yang tertulis di kitab suci, sudahkah Anda bayangkan akibatnya? Di sekitar Anda banyak orang kafir (per definisi). Kenapa Bapak sampai sekarang tidak memerangi dan membunuh mereka? Apa yang menahan Anda untuk mematuhi ‘perintah’ ini? Mohon direnungkan.

#7. Dikirim oleh P Sumanto  pada  13/11   12:11 PM

Bapak Achmad Chodjim Yth. Anda tidak perlu buang-buang waktu, fikiran, tenaga, emosi dan materi, sebab KItab Suci yang dibawa oleh Bani suci telah menyediakan ayat-ayatnya yang anda tidak pernah memperhatikan dan pasti terjadi di Indonesia dan untuk bangsa Indonesia menjadi guru agama seluruh penjuru bola atlas pada millennium ke-3. Yang wajib ditunggu-tunggu dan jangan dilupakan adalah: 1. Datangnya Allah dengan hari takwil jkebenaran kitab sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53 dan didukung oleh Yohanes 7:14,15. 2. Datangnya Allah menjadikan Al Quran dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain bahasa Arab dan akan ditolak oleh orang yang kearab-araban sesuai Fushshilat (41) ayat 44. 3. Datangnya Allah menyempurnakan Al Quran di Indonesia sesuai Thaha (20) ayat 114,115, maka berdo’alah agar hal ini benar-benar terjadi di Indonesia dan untuk bangsa Indonesia. Lebih baik menunggu dari pada cape bekerja, karena ketentuannya sudah ada.  Wasalam, -Soegana Gandakoesoema- Pembaharu persepsi tunggal agama millennium ke-3 masehi.

#8. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaha  pada  01/02   09:03 PM

Ass wr wb. Saudara lubis yang baik. Saya kira iman Anda keliru kalau Allah memerintahkan membunuh maka membunuh. Apakah Anda mengidolakan iman Ibrahim yang mau mengurbankan anaknya karena iman? Anda ingin meniru Ibrahim untuk hidup jaman sekarang dengan membunuh karena di Al Qur’an terdapat ayat yang “membenarkan”? Tindakan iman itulah yang sungguh keliru. Anda salah memahami Allah yang Anda imani. Itulah sebabnya dibutuhkan tafsir baru. Termasuk menafsirkan hal-hal seperti yang saya sebutkan.

Allah tidak mengajarkan membunuh. Karena kalau Allah mengajarkan atau membunuh berarti Allah melawan diriNya sendiri. Kalau Allah melawan diriNya sendiri bagaimana dengan sifat Allah yang menghidupkan, mengasihi, mengampuni, mendamaikan ?

Wito
-----

#9. Dikirim oleh Dari Wito  pada  02/02   12:02 PM

Yg dimaksud bunuh di situ bunuh akidahnya yg tdk sesuai dg ajaran alloh,dg cara yg baik spt tdk memaksakan dsb.  bukan bunuh orgnya/jasadnya.
Begitu pula tentang seruan ‘perangi’.perangi akidahnya.coba kalau kita perhatikan dlm hal barat memerangi islam di indonesia,perhatikan gaya hidup remaja perkotaan,spt:cara berpakaian,pergaulan,perlakuan terhadap guru,atau org tua dsb.semua contoh itu sdh semakin jauh dr islam.mereka menyebarkan virusnya agar umat islam jauh dari akidah islam,dgn mencuri cara yg ada dlm al qur’an.jd barat lebih jeli terhadap al qur’an.makanya mrk phobia dgn islam.islam sendiri kecolongan.skian dan trima kasih.maaf klo saya salah menafsirkan.

#10. Dikirim oleh Ozi  pada  15/09   11:29 PM

saya melihat pak chodjim sangat cermat dalam melakukan e\penelitian tentang tafsir yang di tlisnya, namun yang lebih di perhatikan bagi pak chodjim ketika melakukan penafsiran suatu surat atau ayat maka ketelitian dalam bentuk bahasanya, karena dalam al Qur’an ada kalimat yang sifatnya umum tapi yang di maksudkan adalah khusus juga ada yang sifatnya khusus. jadi ketelitian dalam hal ini kemudian menyembungkannya dengan realitas yang di hadapi sangatlah di perlukan. jadi saya harap semoga tulisan bapak bisa bermamfaat.

#11. Dikirim oleh Baqir  pada  07/10   08:05 AM

Memang seharusnya begitu, tafsirkan alQuran sesuai tempat, masa, dan tingkat intelektual audiensnya selama esensial dari pesan yang dikabarkan alQuran tidak diubah juga. Seperti Hukum Qishas, apakah kita harus membunuh orang yang disangkahkan membunuh, apakah kita menjambuk orang di depan umum untuk memberikan hukuman bagi penjudi? apakah kita harus menampilkan foto tersangka di media massa? tentu saja tidak, keadilan dari manusia adalah relatif, kebenaran dari manusia adalah nisbih, semua hanya hipotesis. karena pahlawan di satu sisi adalah penghianat di sisi lain, begitu juga sebaliknya. So harus hati-hati dalam menafsirkan alQuran, jangan letter let, dan jangan terlalu visioner, sedang-sedang saja, karena ALLAH menyenangi yang sedang-sedang saja, be moderate. Karena Manusia berada Antara Iblis dan Malaikat, hanya jadi manusia saja, jangan jadi Iblis yang selalu JAHAT dan JANGAT jadi malaikat yang selalu Benar, apa lagi jadi TUHAN, wah ngeri sekali, jadi manusia saja, bisa salah dan bisa benar, karena kita berada di dunia yang relatif.

#12. Dikirim oleh hendri  pada  14/01   09:56 PM

Assalamualaikum mas Chodjim.

Sudah lama saya menunggu, dan mencari di toko buku kalau2 tafsirnya sudah dicetak jual.
Sudah berkali-kali aku coba menghubungi mas, ternyata mas begitu sibuk sehingga surat e-mailku tidak bisa masuk.
Mudah2an dengan memberi salam di sini bisa sampai kabar ini ke mas, dan mas bisa menjawab.

Wass

H. Bebey

#13. Dikirim oleh H. Bebey  pada  01/05   05:15 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq