Konservatisme Musuh Kebebasan Berekspresi - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
16/05/2006

Konservatisme Musuh Kebebasan Berekspresi

Oleh Umdah El-Baroroh

Sebagian besar orang salah memahami makna kebebasan. Kebebasan seringkali diartikan sebagai kebebasan untuk melakukan apapun tanpa ada aturan dan hukum. Orang yang memahami kebebasan seperti ini dinilai oleh Armando sangat simplifistis. ”Kebebasan berekspresi bukanlah kebebasan tanpa batas”.

Wacana kebebasan berekspresi belakangan menjadi perbincangan hangat di berbagai media. Isu ini menjadi menarik dengan maraknya kasus-kasus kekerasan dan teror atas kebebasan berekspresi. Kekerasan yang menimpa Jama’ah Ahmadiyah, penutupan gereja, sweaping buku maupun majalah, perusakan kantor majalah Playboy beberapa waktu lalu, adalah sederet kasus yang muncul di halaman muka media. Kasus-kasus tersebut tentu saja meresahkan sejumlah aktivis dan intelektual.

Selasa 26/4 lalu Jaringan Islam Liberal bekerjasama dengan Radio 68H menggelar diskusi bertema “Kebebasan Berekspresi Di Tengah Konservatisme Agama”. Menurut Abdul Moqsith Ghazali, aktivis Repro (Religious Reform Project), yang menjadi moderator dalam diskusi tersebut, lawan kebebasan berekspresi adalah konservatisme agama. “Di era Orde Baru nasib kebebasan berekspresi dikekang oleh pemerintah. Tapi di era reformasi, ancaman kebebasan berekspresi ada di tangan konservatisme agama”, jelasnya. Kekhawatiran Moqsit itu beralasan ketika melihat semakin vulgarnya sekelompok massa yang mengaku memperjuangkan nilai agama dan melawan segala bentuk kemaksiatan dengan cara kekerasan. Mereka bukan saja melakukan aksi demo, tapi juga telah merusak dan meneror orang-orang yang berseberangan dengan mereka. Sementara pemerintah dengan aparat penegak hukumnya diam dan terkesan melindungi.

Kekhawatiran yang sama juga dirasakan oleh Kordinator Jaringan Islam Liberal, Hamid Basyaib yang hadir sebagai pembicara pada kesempatan itu. ”Kebebasan berekspresi benar-benar terancam, dan sumbernya adalah agama”, ucapnya dengan nada putus asa. Bahkan ia juga tidak percaya dengan kemampuan gerakan pembaruan agama untuk mengatasi ancaman itu.

Fakta ini juga diakui oleh ketua KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), Ade Armando. Namun demikian fenomena kekerasan dan anti kebebasan yang semakin memuncak itu tak membuat Armando patah arang. Bagi mantan wartawan Republika ini, masyarakat Indonesia adalah masyarakat moderat. Sehingga ia tidak khawatir dengan gerakan konservatisme agama yang muncul akhir-akhir ini. Ia tetap optimis gerakan konservatisme itu akan selalu diimbangi dengan gerakan pencerahan yang tak kalah kuatnya. ”Karena masyarakat kita lebih terbuka”, tegasnya. ”Buktiknya, JIL juga tetap bisa eksis sampai sekarang.” ”Jadi saya tidak terlalu khawatir”, imbuhnya.

”Selain itu bentuk konservatisme juga tidak selamanya dengan kekerasan sebagaimana yang dilakukan oleh sekelompok kecil masyarakat. Model somasi yang dilakukan oleh para aktivis MMI (Majlis Mujahidin Indonesia) terhadap lawannya harus tetap kita hormati. Karena bagaimanapun mereka melalui jalur hukum yang benar sesuai nilai-nilai demokrasi.” ”Meski kita tidak sepakat dengan mereka”, tambahnya.

Menurut pria pemerhati media ini, yang perlu dilakukan saat ini adalah menegaskan kembali makna kebebasan itu. Karena menurutnya sebagian besar orang salah memahami makna kebebasan. Kebebasan seringkali diartikan sebagai kebebasan untuk melakukan apapun tanpa ada aturan dan hukum. Orang yang memahami kebebasan seperti ini dinilai oleh Armando sangat simplifistis. ”Kebebasan berekspresi bukanlah kebebasan tanpa batas”, tegasnya.

”Di Amerika, meski memberikan kebabasan pada rakyatnya, tapi tetap memberikan batasan-batasan dan sangat ketat dalam menegakkan hukum.” ”Artinya kebebasan berekspresi bukanlah kebebasan tanpa regulasi”, tandasnya. Pernyataan ini juga diamini oleh Kordinator Jaringan Islam Liberal. Menurutnya kebebasan berekspresi bukanlah keliaran. ”Dalam kebebasan tentu ada tanggung jawab dan batasan”, tandasnya. Batasan-batasan itu dituangkan dalam undang-undang, norma masyarakat dan sopan santun yang sudah dikenal. ”Tetapi batasan itu tentu saja terus berkembang mengikuti perubahan zaman, bukan statis.” ”Konsep HAM, misalnya, tentu terus berkembang.” ”Dulu, hak kultural tidak masuk dalam HAM, sekarang masuk.” ”Oleh karenanya persoalan sebenarnya adalah law inforcement (penegakan hukum).”

Sayangnya, lanjut Hamid, Islam kelihatannya takut pada kebebasan, terutama dalam seni. 
Hamid yang barus saja menghadiri konferensi internasional di Mesir tentang HAM dan pembaruan wacana agama di negara-negara muslim non Arab, banyak menceritakan pengalamannya selama mengikuti acara tersebut. ”Di Mesir, syaikh Al Azhar pernah mengeluarkan fatwa tentang haramnya membuat patung”, tuturnya. Dalam Islam juga terdapat larangan yang tegas untuk melukis atau menggambar manusia. Ini menunjukkan adanya permusuhan dalam Islam terhadap dunia seni. Oleh karenanya seni dalam Islam tidak berkembang, dan tak ada seniman muslim yang mampu bersaing di dunia internasional. Anehnya, Islam seperti ini pula yang saat ini menjadi kiblat masyrakat muslim Indonesia.

Berbeda dengan Hamid, Nirwan Dewanto, budayawan dan editor jurnal Kalam, yang menjadi pembicara terakhir pada diskusi malam itu, menilai bahwa perkembangan seni di Indonesia masih lebih baik dibanding Malaysia. Meski muncul upaya-upaya pembatasan terhadap kebebasan berekspresi, tapi ia tidak merasa khawatir dengan nasib seni di Indonesia. ”Karena wilalyah seni sangat luas”, ucapnya tegas. 

Bagi Armando, perlawanan terhadap kebebasan berekspresi merupakan bentuk ketidakfahaman masyarakat atas makna kebebasan. ”Kebebasan berekspresi hakikatnya diperlukan untuk kesejahteraan masyarakat luas dan pencarian kebenaran”, jelasnya. ”Apabila kebebasan berekspresi dihancurkan maka, paling tidak, berimplikasi pada tiga hal.” ”Pertama, apabila ada pendapat yang benar, maka kita akan kehilangan kebenaran itu, karena ia dibungkam. Kedua, apabila sebagian pendapat itu salah, maka kita akan kehilangan sebagian yang benar. Ketiga, apabila pendapat itu salah, maka kebenaran itu tidak akan ditemukan selamanya karena kesempatan untuk mencari kebenaran itu dihancurkan.” ”Oleh karenanya kebebasan berekspresi tetap harus diperjuangkan”, tandasnya optimis.

Diskusi yang berlangsung di Teater Utan Kayu ini adalah bagian dari rangkaian acara yang digelar untuk memeriahkan peringatan Ultah ke-7 Radio 68H Jakarta. Selain diskusi, terdapat pula pemutaran film, pameran produk, pentas musik, bedah novel, dan lain-lain. Acara yang berlangsung selama satu minggu (24-30 April lalu) itu tampaknya diminati oleh masyarakat. Pameran, diskusi, maupun pemutaran film pun selalu penuh oleh pengunjung yang rata-rata adalah mahasiswa, aktivis, pendengar setia KBR 68H, juga masyarakat umum.[]

16/05/2006 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (1)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

“Komunikasi, komunikasi, komunikasi. Komunikasi adalah segalanya..”

Dalam setiap hubungan apapun, komunikasi efektif adalah titik sentral dalam menjembatani setiap perbedaan. Apapun, termasuk perbedaan dalam mempersepsi. Dalam keluarga, persahabatan, bisnis, team work, apapun.

Saya menyetujui dengan apa yg disebutkan nara sumber bahwa kita memang perlu untuk duduk dan berbincang, berdiskusi dalam mempersepsi arti kebebasan. Bangsa Indonesia sesungguhnya sudah mempunyai modal dalam hal ini, yaitu budaya rembug dan musyawarah. Toh hal itu juga menjadi bahan pembelajaran dari pelaksanaan demokrasi dan ciri masyarakat madani.
-----

Posted by Ichsan Ari Wibowo  on  05/21  at  08:05 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq