Kritik Nalar Teologis - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
21/07/2003

Kritik Nalar Teologis

Oleh Novriantoni

Dalam batas tertentu, nalar teologis memang melegakan. Nampaknya itulah yang diinginkan Abduh dan mereka yang disebut pembaru Islam. Hanya saja, dia juga melenakan, lalu membuat kita tak sadar diri. Saya kira, sudah saatnya kita pelan-pelan meninggalkan nalar basa-basi seperti ini, sekalipun dia cukup membesarkan hati. Kita lebih perlu untuk rendah hati, sekaligus tidak merasa rendah diri.

Kira-kira sepekan lalu, sebagian
anggota milis Jaringan Islam Liberal berpolemik dalam diskusi
elektronik di .
Polemik dipicu oleh judul sebuah berita koran nasional (Jumat, 11/07/03) yang
dinilai bermasalah. “Umat Islam Terbelakang Akibat Ajaran yang Salah”, demikian
judulnya. Isi berita tersebut memuat inti pidato Perdana Menteri Malaysia,
Mahatir Mohamad dalam acara Konferensi Internasional Para Ulama Islam di Kuala
Lumpur. Fokus perdebatan terletak pada kalimat “ajaran yang salah”.

Bagi yang mempermasalahkan, tidak
betul umat Islam terbelakangan akibat ajaran yang salah. Bukan ajarannya yang
salah, tapi “pengajaran” yang bermasalah. Ajaran dan pengajaran adalah dua hal
yang berbeda. Ajaran menyangkut materi yang diajarkan (paham keislaman itu
sendiri), sementara pengajaran menyangkut cara (teknik mengajarkannya). Mereka
sebenarnya ingin menegaskan, tak ada yang error dari materi keislaman
itu sendiri; yang salah hanya cara mengajarkannya. Pendek kata, mereka tak bisa
menerima ajaran Islam dipersalahkan, atau diasumsikan dapat mengandung
kesalahan. Bagaimana salah, bukankah Islam agama paling sempurna yang pernah
“diturunkan” Tuhan?!

Pola pikir semacam itu bukan
pertama kali kita amati. Menegasikan kemungkinan salahnya ajaran suatu agama
merupakan nalar kolektif yang hinggap di kepala banyak umat beragama, bahkan
penganut suatu ideologi umumnya. Sama sekali bukan khas Islam. Pola pikir demikian,
bukan hanya dianut mereka yang berdiskusi via internet, tapi juga dipegang
jutaan umat Islam lainnya. Penganut pola piker ini, selalu saja menegasikan
kemungkinan salahnya ajaran dan paham yang kita anut. Akibatnya, tak ada self
correction
; budaya kritik menjadi lemah atau tak ada sama sekali.

Tanpa disadari, sebenarnya di
situlah inti persoalan kita. Masing-masing, tidak memiliki kerendahan hati --sebagaimana
Ahmad Wahib-- untuk mengakui bahwa beberapa aspek dalam ajaran agama kita
mungkin salah; sebagian yang kita anut mungkin tak becus. Kita, rupanya sedang
dikungkungi oleh sebentuk nalar yang disebut pemikir asal Lebanon, Ali Harb
(1994: 200), sebagai nalar teologis (al-‘aql al-aqâidiy).

Nalar ini banyak digunakan dalam
retorika agama untuk sekedar berapologi atau mengabaikan kenyataan yang
potensial mengurangi nilai kebenaran suatu teori atau mengeliminir sakralitas
suatu keyakinan. Nalar ini berinteraksi dengan doktrin atau ajaran sebagai
“benda” metafisis, esensi yang berdiri sendiri, hidup terpisah, dan tak
tersentuh proses sejarah.

Aib terbesar nalar ini adalah pada
ketidakmampuan untuk melihat kenyataan sebagaimana adanya. Alih-alih mengeritik
satu-dua kesalahan dalam ajaran agama, mereka justru berkelit dengan misalnya,
menyalahkan sisi praksisnya saja, atau mengambinghitamkan aktor-aktor penerap
ajaran tersebut. Bagi nalar ini, kesalahan bukan pada teori (ajaran agama),
tapi terletak pada praktek pelaku. Teori dan praktek dipisahkan secara
diametral. Tak ada yang salah dari Islam, hanya umat saja yang keliru, entah dalam
memahami Islam itu sendiri maupun dalam menerapkannya.

Rupanya, nalar teologis tidak
saja menggelayuti pola pikir kalangan awam, tapi juga membelenggu pemikir sekaliber
Muhammad Abduh. Perhatikan saja! Abduh pernah berujar miris: “Aku melihat Islam
(di Barat) tanpa berjumpa dengan orang Islam. Dan aku tidak melihat Islam (di
banyak negeri muslim yang terbelakang), kendatipun mayoritas mereka menganut
Islam.”

Terang saja, ungkapan tersebut terasa
cukup melegakan karena tidak mengandung secuil kritik pun pada contents ajaran
Islam. Islam tetap necis, suci, kudus dan terlindungi; yang babak belur hanya
umatnya. Padahal, bukankah hubungan keduanya bersifat dialektis dan saling
mempengaruhi? Ajaran Islam terpengaruh --sedikit banyak-- oleh daya tangkap
umatnya, sementara umat Islam tak pelak juga dipengaruhi oleh ajaran-ajaran
Islam.

Tapi persoalan yang paling problematis
dari ungkapan Abduh adalah, perasaan yang terucap bahwa kemajuan apapun tak
mungkin dicapai tanpa Islam. Kalau dicermati lebih jauh, Abduh seakan ingin
menegaskan: majunya Barat, kurang lebih juga karena nilai-nilai Islam. Dalam
pandangannya, Islam tetap unggul dan tak ada yang lebih unggul darinya.

Dalam batas tertentu, nalar
teologis memang melegakan. Nampaknya itulah yang diinginkan Abduh dan mereka
yang disebut pembaru Islam. Hanya saja, dia juga melenakan, lalu membuat kita
tak sadar diri. Saya kira, sudah saatnya kita pelan-pelan meninggalkan nalar
basa-basi seperti ini, sekalipun dia cukup membesarkan hati. Kita lebih perlu untuk
rendah hati, sekaligus tidak merasa rendah diri. [Novriantoni]

Utan Kayu, 18 Juli 2003.

21/07/2003 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (19)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Ikut nimbrung aja mengenai islam. Ada salah satu kebenaran tentang islam yg cocok dengan ilmu science.

coba kita pikirkan tentang “ Malaikat “

knp Malaikat cocok dengan ilmu modern ?

sebab malaikat diciptakan dari cahaya

Lantas mengapa kalau dari cahaya ?

salah satu contoh “malaikat mungkar” yang bertugas menanyakan seseorang di alam kubur mengenai segala perbuatannya semasa hidup di dunia.

coba pikirkan satu malaikat dapat melaksanakan tugas tersebut, sedangkan pada satu hari saja ratusan atau bahkan ribuan orang yg meninggal pada saat bersamaan, apakah malaikat mungkar tidak kebingungan tuh.

kita kembalikan pada al-Quran yg menyatakan bahwa malaikat diciptakan dari cahaya, menurut para ahli iptek Kecepatan cahaya dalam sebuah vakum adalah 299.792.458 meter per detik (m/s) atau 1.079.252.848,8 kilometer per jam (km/h) atau 186.282.4 mil per detik (mil/s) atau 670.616.629,38 mil per jam (mil/h). tetapi ini hanya dasar dari teori iptek tentang kecepatan cahaya.

sumber iptek dapat dilihat dari :
1. http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi? fenomena&1172921459;&1;2. http://www.angkasa-online.com/13/12/fenomena/fenomena1.htm

bahkan cahaya pun dapat menembus ruang ( contohnya penggunaan satelit ) ato bahkan waktu.

jadi ga perlu repot2 malaikat mungkar dalam melaksanakan tugasnya, karena dia diciptakan dari cahaya dan otomatis mempunyai karakter dan kecepatan cahaya ato bahkan lebih pada hakikatnya.

Posted by YUSAM CIPTA PERDANA  on  08/27  at  10:21 AM

subhanallah...Maha suci ALLAH dr segala prasangka buruk dr makhluknya..mengomentari komentar dr sodara taufik..Sungguh sangat isronis bila seorang muslim berpendapat seprti itu..tentang pembukuan al quran..bahwa ada pemusnahan kitab dari edisi sahabat lain...itu bukanlah redaksi yang berbeda ayat..tetapi logat ato cara pengucapan..dan mushaf usmanipun telah menjadi ijma` shabat di kala itu, bahwa mushaf tersebutlah yang paling valid...Jika di andai-andaikan..sungguh segala sesuatu yang di andaikan akan rusak, padahal para sahabat ..juga ulama setelah itu telah sepakat terhadap masalah itu, bukan cuma mengekor tetapi telah melalui proses yang ketat.

Mengenai perbedaan adalah rahmat, sebenarnya tidak ada hadist yang shohih yang menjelaskan hal tersebut (hadist ttg itu hadist dhoid) justru yang shohih mengatakan bahwa perbedaan itu adalah bencana..JIka secara logika saja, yang namanya pedoman hidup itu tenulah sesuatu yang baku..jikalau tidak, bahwa pedoman hidup seperti penafsiran sendiri sendiri..yah percuma saja di adakan pedoman hidup..jika memang berpikiran demikian..sama aja , meremehkan ALLAH, karena ALLAHlah yang menurunkan pedoman hidup tersebut.

Tentang wahyu...yang di katakan ada kemungkinan kesalahan dr Muhammmad ke para shahabat..SUNGGUH SANGAT IRONIS, sebagai umat muhammad sangat tidak pantas berkata demikian. Muhammad sebagai penyampai wahyu di katakan bisa saja salah menyampaikan sama aja MERAGUKAN MUHAMMAD SEBAGAI UTUSAN ALLAH...sungguh hal tersebut bisa mengakibatkan pelakunya keluar dr iman islam..
-----

Posted by shady huda el fikri  on  06/10  at  02:07 AM

Saya pernah membaca dan berdiskusi kepada salah seorang yang menurut saya tahu lebih banyak dari saya dalam hal agama Islam. Kita perlu merunut lagi sejarah pengkodefikasian Al-Qur’an. Sejarah telah mengatakan bahwa, pengkodefikasian al-kitab dari berupa lembaran-lembaran (mushaf) menjadi sebuah kitab utuh, tidak selancar yang diperkirakan.

Di waktu pemerintahan Utsman, agar terjadi penyamaan dalam al-kitab, maka ada beberapa al-qur’an dari beberapa sohabat yang dimusnahkan. Dan yang dimusnahkan itu adalah yang tidak sejalan dengan mushaf utsmani. Jadi ada beberapa ayat al-qur’an edisi sohabat nabi yang lain tidak tereksplorasi hingga sekarang.

Jadi ada beberapa kemungkinan, ayat yang kemungkinan besar benar terbakar pada waktu jaman utsmani. Itu hanya dari segi sejarah pengkodefikasian al-qur’an, masih belum dari segi tafsir yang berbeda-beda. Menurut saya pembahasan ini perlu pendiskusian yang berlanjut dari para ulama. Kalaupun itu tidak sepaham, hargailah perbedaan pendapat dari segi tafsir maupun yang lainnya sebagai rahmat bagi umat.

Firman yang diturunkan dari Allah ke Muhammad tidak melalui Jibril tidaklah mungkin salah. Yang kemungkinan salah adalah dari Nabi ke Sahabat, selanjutnya ke Tabi’in, terus ke Tabi’in-tabi’in, dan seterusnya hingga saat ini.

Posted by Taufik  on  02/11  at  06:03 PM

Ane prihatin dengan hadirnya JIL. Pemikiran yang dengan “dalil” ijtihad, tetapi merusak permaslahan yang baku dam Islam. Penafsiran dengan seenaknya, dengan alasan Islam adalah agama yang mudah. jangan dipermudah. JIL terus mempermudahkan semua persoalan, sehingga dalam penafsiran dibuat agar orang “mudah” bertindak. Padahal Islam sudah mengatur semua.

Posted by shady huda el fikri  on  01/29  at  09:02 AM

Keegoan kita dalam menyikapi sejarah menjadikan kita sombong dan menjauh. Bacalah Sirah Nabawiyah!

Bacalah fase-fase Islam dari mulai dikenalkan, ditawarkan, ditentang, diperangi, dan seterusnya.

Bukankah Hukum-hukum semisal larangan khamr tidak ditentukan di awal fase?

Bukankah Iblis pertamanya seorang yang beriman?

Islam itu “way of life”. Akhlaq adalah ruh aktualisasinya! Siapa yang sudah dibelokkan jalannya?

Posted by Baihaqi  on  01/08  at  11:01 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq