Massa yang ‘Membangkang’ - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
23/08/2004

Massa yang ‘Membangkang’

Oleh M. Khoirul Muqtafa

Fenomena Pilpres I yang lalu menunjukkan betapa ‘massa’ begitu cair dan dinamis. Mereka bukan lagi makhluk yang diam dan mudah dikendalikan baik oleh elite maupun lembaga-lembaga tertentu. Massa justru menjelma menjadi makhluk yang liar dan tak mudah dikendalikan. Tidak ada satu hal pun yang mampu menentukan langkahnya. Sikapnya selalu berubah dan tak dinyana-nyana.

Pemilu presiden (pilpres) putaran II yang siap digelar 20 September nanti memunculkan dua kandidat utama yakni SBY-Kalla dan Megawati-Hasyim. Kalau kita amati sepintas, berdasar hasil pilpres I, SBY-Kalla lebih berpeluang dari Megawati-Hasyim karena suara yang diperoleh jauh melebihi suara Megawati-Hasyim. Namun pilpres II, dapat dipastikan peta kekuatan akan berubah. Fluktuasi suara tak bisa dielakkan lagi. Dalam hal ini, tiga kandidat lain yang tidak lolos memegang peran yang cukup signifikan. Suara mereka tentu takkan dibuang percuma. Kondisi ini akan memicu (kembali) wacana koalisi antar (elite) partai.

Perkembangan mutakhir menunjukkan Megawati-Hasyim lebih lincah menggalang koalisi. Elite-elite partai didekati dengan tawaran koalisi yang menggiurkan. Tak pelak, Rapim Golkar secara mantap memberikan dukungan terhadap Megawati-Hasyim dalam putaran II nanti. Sebelumnya, DPP PPP juga sudah memutuskan untuk memberikan dukungan secara all out untuk kandidat ini. Sebaliknya, SBY malah mengeluarkan statemen yang justru dianggap menyakiti kalangan elite partai. Koalisi dengan rakyat yang diperkenalkan SBY dipandang telah memecah- belah partai dengan rakyat. Apalagi keengganan SBY untuk menjalin koalisi sebelum 20 September juga dilihat sebagai bukti ketidakseriusan SBY-Kalla menggandeng partai lain.

Wacana-praksis koalisi juga tidak terbatas pada kalangan partai saja. Ormas yang mempunyai basis riil seperti NU dan Muhammadiyah juga dilirik. Meski secara struktural mereka menyatakan tidak turut dukung-mendukung, lain halnya dengan kondisi massa di tingkat bawah. Karena itu, lobi-lobi dan silaturahmi politik terus digiatkan. Layaknya karnaval, tim sukses berkeliling dari satu daerah ke daerah lain. Semua itu dilakukan demi meraup suara massa sebanyak-banyaknya. Sebab, asumsi yang muncul selama ini adalah dengan mendekati atau berkoalisi dengan (elite) partai atau ormas maka otomatis massa akan tersedot ke kantongnya. Dalam wacana politik, asumsi di atas tentunya sah-sah saja. Namun demikian, ada satu hal yang layak dicermati. Masihkah wacana koalisi dan model-model pendekatan elit(is) seperti di atas masih signifikan pada pemilu nanti?

Kalau kita mau belajar dari pilpres I, kita disuguhi fakta menarik. Dari kelima pasangan capres, praktis Megawati-Hasyim dengan mesin PDI-Perjuangan dan SBY-Kalla dengan Partai Demokrat yang mampu mengendalikan dan menarik simpati massa. Suara yang diperoleh pada pemilu legislatif dibandingkan dengan suara pada pilpres I mengalami peningkatan yang signifikan. Kalau dalam pemilu legislatif, PDI-P berhasil meraup suara sekitar 18,53 persen, maka dalam pilpres I, Megawati-Hasyim mendulang suara sekitar 26,60 persen. Kenaikan sekitar 8,07persen bisa dipastikan hasil limpahan suara Hasyim Muzadi. Sedangkan SBY-Kalla sebagai calon dari partai Demokrat justru mengalami lonjakan suara yang tak terkira. Kalau dalam pemilu legislatif Partai Demokrat hanya mampu meraih posisi empat dengan suara sekitar 7,45persen,maka dalam pilpres I suara SBY-Kalla mencapai 33, 57 persen .

Akan halnya dengan kandidat yang lain. Massa partai yang diharapkan mengisi lumbung mereka justru ‘membangkang’. Lihat saja suara yang diperoleh Wiranto-Wahid yang secara resmi dijagokan oleh partai Golkar dan PKB. Mereka hanya mampu mencapai suara sekitar 22,15 persen. Padahal, Wiranto-Wahid adalah koalisi Golkar (21,58 persen) dan PKB (10,57 persen). Secara matematis, mereka mestinya bisa mengantongi suara sekitar 32 persen. Demikian juga yang dialami oleh Amien -Siswono. Amien Rais yang didukung oleh PAN dan PKS serta PP Muhammadiyah juga hanya mampu mencapai suara 14,66 persen. Padahal Muhammadiyah sendiri mempunyai massa puluhan juta. Demikian juga yang dialami oleh Hamzah -Agum yang dicalonkan dari PPP. Mereka hanya mampu mencapai suara sekitar 3, 01 persen. Padahal, dalam pemilu legislatif PPP mampu meraup suara sekitar 8, 15 persen. Di saat yang sama kita juga disodori fakta golput yang kian membengkak. Yakni mencapai 30 juta jiwa setelah pada pemilu legislatif, golput mencapai 23 juta jiwa.

Fenomena ini menunjukkan betapa ‘massa’ begitu cair dan dinamis. Mereka bukan lagi makhluk yang diam dan mudah dikendalikan baik oleh elite maupun lembaga-lembaga tertentu. Massa justru menjelma menjadi makhluk yang liar dan tak mudah dikendalikan. Tidak ada satu hal pun yang mampu menentukan langkahnya. Sikapnya selalu berubah dan tak dinyana-nyana. Sebagaimana diungkap Jean Baudrillard (1978), dalam situasi tertentu, massa menyerap seluruh energi sosial namun tidak lagi membiaskannya. Ia menyerap setiap tanda dan setiap arti, namun tidak lagi mencerminkan mereka. Ia menyerap setiap pesan dan mencernanya untuk setiap pertanyaan yang diberikan. Lalu ia mengirimkan kembali suatu jawaban yang merupakan pengulangan yang tidak memperjelas dan memutar.

Monorasionalitas vs Plurirasionalitas

Massa kerap mempermainkan narasi besar politik yang dibangun oleh para politisi dalam setiap kampanye yang dilakukan. Mereka hadir tapi tidak mendukung. Mereka mendukung, tapi tidak memilih. Dan seterusnya. Tak hanya itu, upaya lain yang dibangun dengan sentimen tertentu, baik etnik maupun agama juga nihil. Bahkan money politic yang dianggap ampuh juga tak sepenuhnya menjamin. Sebagian mereka mungkin menerima money politic, tapi apakah serta-merta mereka pasti memilih? Tidak juga. Sebab, tidak ada yang bisa mengontrol mereka. Tidak juga uang. Banyak dari mereka yang menerima ‘suap’ dari elite partai tertentu tapi pada hari pemilihan malah tidak memilih.

Di sinilah logika monorasionalitas yang kerap dipakai oleh elite justru tidak efektif, malah disartikulatif. Sebab logika ini dibangun di atas pemikiran konvensional dan lemah. Yakni ketika janji-janji diumbar, iming-iming kekuasaan diberikan serta kompensasi politik digelontorkan pasti mampu menarik massa sebesar yang diinginkan. Ketika berbagai hal dilakukan meski dibalut dengan kepura-puraan pasti menarik simpati massa untuk memilihnya pada pemilu mendatang. Faktanya, semua ini tidak lagi bisa dijadikan pegangan.

Bagi massa, logika yang berlaku adalah logika plurirasionalitas. Yakni logika yang dibangun bukan dari ruang kosong, tapi responsif dan sarat dengan pertimbangan sosi-politik-kultural. Logika ini tak hanya terpaku pada satu sisi, logika yang diam dan manunggal. Plurirasionalitas selalu mempertimbangkan banyak hal dalam mengambil setiap keputusan. Juga tidak selalu menurut pada setiap perintah yang dititahkan. Wajar saja kalau massa begitu susah untuk diidentifikasikan. Sebab, massa bukan lagi sekelompok orang bodoh yang mudah disetir. Tidak juga pelacur politik yang mengumbar dirinya demi kekuasaan. Mereka selalu menyimpan dengan baik setiap hal yang terjadi disekelilingnya. 

Kenyataan inilah yang akan dihadapi oleh SBY-Kalla dan Megawati-Hasyim pada pilpres nanti. Jangan terlalu PeDe meski berhasil meraih dukungan dari parpol atau ormas tertentu. Sebab massa yang dihadapi adalah massa yang ‘membangkang’. Silakan mereka merancang strategi politik yang canggih dan meyakinkan. Pada akhirnya, mereka juga harus legowo untuk menerima kenyataan ‘biarkan rakyat memilih’. Memilih untuk mendukung atau tidak dan memilih untuk menggunakan hak pilihnya atau tidak. Sebab, kini, tidak ada lagi yang bisa memastikan. []

M. Khoirul Muqtafa, koordinator Piramida Circle Jakarta dan kontributor Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR).

23/08/2004 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq