Memahami Konsep Islam Liberal - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
30/09/2002

Memahami Konsep Islam Liberal

Oleh Redaksi

Pemahaman yang hanya menyandarkan pada teks-teks dengan ketentuan normatif agama dan pada bentuk-bentuk formalisme sejarah Islam paling awal jelas sangat kurang memadai. Dan di kalangan sebagian besar umat Islam, pola semacam inilah yang berkembang dengan sangat subur. Jika ini terus-menerus dipertahankan, Islam akan membayarnya dengan harga yang sangat mahal, karena dengan pola pikir seperti ini, Islam akan menjadi agama yang ahistoris dan eksklusif. Inilah yang menjadi keprihatinan Islam liberal.

Dimuat dari Suara Merdeka, 30 September 2002

Oleh: Mohammad Nasih

BEBERAPA hari lalu, atas nama lembaga yang saya pimpin, saya meminta kepada salah seorang pimpinan kelompok Islam tertentu untuk menjadi pembicara dalam seminar dan bedah buku “Wajah Liberal Islam di Indonesia” tingkat nasional yang akan dilaksanakan di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang.

Setelah melakukan perbincangan awal untuk permintaan tersebut, jawabannya akan dilakukan koordinasi dulu untuk bisa menyatakan ya atau tidak. Dan akhirnya jawaban yang diberikan yang dikirim melalui SMS yang saya terima dua hari kemudian sungguh membuat saya mengernyitkan kening. “Mohon maaf, kami tidak bisa memenuhi permintaan, tapi kami berterima kasih atas kepercayaan kepada kami, karena kami melihat keanehan pada Islam liberal.”

Jawaban inilah yang kemudian mendorong saya menulis artikel ini untuk sekadar memberikan penjelasan tentang apa sebenarnya Islam liberal dan untuk secara sepintas memberikan jawaban apakah Islam liberal memang aneh seperti apa yang ada dalam benak orang-orang yang kurang komprehensif memahaminya.

Karena itu saya akan memulainya dari persoalan yang sangat sederhana, yakni masalah nama. Sebab tak syak lagi, “adjektif” liberal ini bagi banyak orang sering menyebabkan bias dan bahkan salah paham. Akibat lanjutnya membuat mereka apriori terhadap Islam liberal beserta gagasan-gagasan kreatifnya untuk memberikan sentuhan episteme baru kepada Islam dalam rangka mengarungi perubahan global (baca: modernitas).

Yang lebih berat lagi, adjektif liberal menimbulkan perasaan aneh dari dua kalangan sekaligus, yakni kalangan Islam sendiri dan juga kalangan luar. Bagi kalangan Islam, adjektif liberal seringkali membuat banyak orang langsung mengidentikkannya dengan Barat karena paham liberalisme anutan Barat yang melakukan kritik, lebih-lebih terhadap agama karena dianggap memasung potensi nalar manusia dalam memahami hukum kausalitas alam semesta.

Ini terbukti dengan persepsi-persepsi minir terhadap Islam liberal dengan sebutan proyek imperialis, corong Barat, antiagama, Islam STMJ (Salat Terus Maksiat Jalan) dan masih banyak sebutan lain yang senada dengan itu.

Sebaliknya bagi kalangan luar, istilah Islam liberal terdengar dan terasa sangat aneh karena mereka lebih mengenal Islam selama ini dalam berbagai macam konstruksi pemahaman yang bermuatan stigmatis seperti, Islam radikal, Islam militan, oriental despotism, dan sebagainya.

Inilah yang nampaknya sejak awal disadari oleh Charles Kurzman, seorang sosiolog dari Universitas North Carolina dan juga editor buku Liberal Islam: A Sourcebook (Oxford University Press, 1998), dengan mengatakan: “Liberal Islam, may sound like a contradiction in term.”

Karena itu, saya merasa berkepentingan untuk meluruskan penilaian-penilaian tersebut dengan harapan alternatif-alternatif yang ditawarkan Islam liberal tentunya dapat diterima, atau minimal dapat didialogkan dengan sikap yang lebih dewasa. Jangan sampai gagasan-gagasan cemerlang dan sangat diperlukan untuk memberdayakan agama di era yang penuh dengan problem yang multikompleks ini ditolak hanya gara-gara salah persepsi yang sama sekali tidak substantif.

Dua Pengertian

Islam liberal adalah suatu bentuk penafsiran baru - tetapi sebenarnya tidak selalu demikian - atas agama Islam dengan wawasan keterbukaan pintu ijtihad pada semua bidang. Juga penekanan pada semangat religio-etik, bukan pada makna literal teks, kebenaran yang relatif, terbuka dan plural, pemihakan pada yang minoritas dan tertindas, kebebasan beragama dan berkepercayaan, bahkan untuk tidak beragama sekalipun, dan pemisahan otoritas agama dan otoritas politik. Mengapa kemudian wawasan yang seperti itu dinamakan dengan Islam liberal?

Nama ini hanyalah sekadar untuk menggambarkan prinsip-prinsip yang dianut di atas. Yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi (meminjam istilah Mu’tazilah, salah satu sekte Islam yang terkenal karena penekanannya pada aspek rasionalitas, “kebebasan manusia"), dan pembebasan struktur sosial politik dari dominasi yang tidak sehat dan menindas. Jadi adjektif liberal di sini mempunyai dua makna sekaligus yaitu kebebasan dan pembebasan. Sebab itulah, tidak tepat kalau Islam liberal dikait-kaitkan secara berlebihan dengan liberalisme yang dianut Barat.

Adjektif ini bersifat netral dengan dua arti di atas dan diberikan karena keyakinan para aktivis Islam liberal bahwa tidak ada Islam an sich, Islam tanpa embel-embel, sebagaimana dipahami banyak orang.

Kerangka berpikirnya adalah karena sudah sedemikian lama menyejarah, Islam seringkali hadir dengan -untuk tidak mengatakan tidak mungkin tanpa- adjektif, tanpa kata sifat, dan karena itu tidak ada Islam thok. Sebab pada kenyataannya Islam mengalami penafsiran yang dinamis dan berbeda-beda sesuai dengan konteks sosio-historis yang melingkupinya dan siapa yang menjadi penafsirnya.

Karena itu, kemudian muncul Islam dengan seabrek adjektif di belakangnya seperti Islam modern, neomodern, post-modern, tradisional, post-tradisional, konservatif, lunak, garis keras, Islam kiri, kanan, tengah, atau bahkan nanti - bukan tidak mungkin - akan muncul lagi Islam kiri luar atau Islam kanan luar.

Dengan demikian, tak perlu heran kalau yang menempel menjadi adjektif sangat beragam dan aneh-aneh atau bahkan bisa jadi terasa kontradiktif. Dalam Islam sejarah yang lebih awal saja sudah muncul sekte-sekte yang cukup banyak. Ada khawarij, syari’ah, murji’ah.

Paham tentang kebebasan sekte-sekte tersebut secara diametral dapat ditarik ke dalam dua kutub jabariyah (fatalisme) dan qadariyah (kebebasan). Karena itu, tidak salah kalau untuk memahami Islam, seseorang atau sebuah komunitas mengambil adjektif tertentu. Dalam konteks seperti ini ada beberapa aktivis Islam yang menghendaki adanya pembaharuan dengan cara mengibarkan bendera dengan adjektif liberal di belakang Islam untuk menegaskan identitas guna membungkus misi yang diembannya.

Misi Islam liberal, menurut Charles Kurzman, bertitik tolak pada suatu rasionalitas untuk selalu menjaga kesinambungan syariah Islam dengan tuntutan sejarah. Dengan kerangka seperti ini, perkembangan diseminasi pemikiran Islam yang diproduksi oleh Islam liberal sebenarnya tak perlu dianggap aneh, apalagi dicurigai. Sebab meskipun dalam Islam melekat watak universitas, tetapi pada dataran praktisnya, Islam tetap memerlukan sebuah kerangka pandang, episteme, yang selaras dan senafas dengan semangat zaman.

Pemahaman yang hanya menyandarkan pada teks-teks dengan ketentuan normatif agama dan pada bentuk-bentuk formalisme sejarah Islam paling awal jelas sangat kurang memadai. Dan di kalangan sebagian besar umat Islam, pola semacam inilah yang berkembang dengan sangat subur. Jika ini terus-menerus dipertahankan, Islam akan membayarnya dengan harga yang sangat mahal, karena dengan pola pikir seperti ini, Islam akan menjadi agama yang ahistoris dan eksklusif. Inilah yang menjadi keprihatinan Islam liberal.(33)

Mohammad Nasih, aktivis Jaringan Islam Liberal

30/09/2002 | Kliping | #

Komentar

Komentar Masuk (9)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Saya sangat menikmati kajian-kajian yang dibuat oleh JIL. Segar, baru, radikal, logis dan informatif. Saya fikir sikap teman-teman redaksi sudah baik sekali, yaitu dengan tidak “emosi tinggi” menanggapi dan menghadapi semua cercaan, makian, bahkan vonis hukum mati (UAA). Sikap seperti ini saya fikir dewasa sekali, dimana kita bisa menghargai dan menilai orang lain berdasarkan kemampuannya. Yahh.. kalo emang kemampuan dan pemahamannya “TK” gak ada gunanya dikasih diktat kuliah, kata agama mubazir. Saya sangat mendukung langkah dan sikap yang dilakukan teman-teman di JIL. Sayang, tempat saya jauh sekali (Banda Aceh) sehingga saya tidak bisa mengikuti acara di Utan Kayu, karena itu situs ini adalah pelepas rindu saya dengan teman-teman di JIL.  Maju terus sobat, gak usah dihiraukan yang tidak mau “ikut”, “ikut gak ikut” sama aja..
-----

Posted by Eka Oktavianus  on  08/01  at  10:08 PM

Menurut saya munculnya islam liberal patut disyukuri sebab ide-ide yang diusungnya merupakan cara lain dalam memandang pesan-pesan dari ajaran islam dan saya pikir sangat wajar sebab Alquran membuka pintu bagi siapa saja untuk menafsirkannya yang berarti akan menimbulkan perbedaan dalam memahami teks-teks Alquran sebagaimana sabda Nabi perbedaan dikalangan umatku adalah Rahmat maka seharusnya umat islam harus menjemput Rahmat Tuhan dengan semangat perbedaan sebab dengan perbedaan adalah salah satu jalan dalam memperoleh Rahmat Tuhan. Saya pikir saling mengkafirkan diantara umat islam menunjukkan ketidakdewasaan dalam berfikir.

Posted by octa  on  06/16  at  02:06 AM

Assalaamu’alaikum wr wb,

Saya sangat appreciate dengan pemikiran anda yang sering anda sebut sebagai pemikiran baru dan islam masa depan. Tapi bagi saya pemikiran anda ini malah semakin kuno dan tidak sesuai perkembangan jaman. Terus terang saya masih belum mengerti tentang perkembangan jaman versi anda. Bagi saya perkembangan jaman adalah perkembangan cara berfikir dalam mengoptimalkan manfaat dari ruang tiga dimensi (bumi) tempat dimana kita di hidupkan oleh Allah SWT dan segala macam yang ada di dalam, di permukaan dan di atasnya. Bukan malah mempersoalkan tentang bagaimana tata cara kita dalam beribadah terhadap Allah SWT yang anda sebut sebagai kebudayaan bangsa arab.  Kalau misalnya Anda seorang yang cerdas, tolonglah berpikir bagaimana agar Indonesia bisa mengekspor beras, bagaimana agar kekayaan alam kita bisa optimal termanfaatkan bukannya malah tambah rusak, berpikir bagaimana membuat teknologi baru di bidang komputer dan informatika, bisa melakukan tindakan nyata dalam rangka pemerintahan yang bersih, dan pemikiran tentang wujud 3 dimensi dan ilmu kemanusiaan. Bukan malah membuat ide-ide kosong penuh khayalan yang isinya melulu tentang tatacara islam dan lain sebagainya. Kalau anda orang islam berarti anda harus ingat bahwa ada sesuatu yang fana dan ada sesuatu yang ghaib. Jangan pikirkan sesuatu yang ghaib karena akan membuat kita jadi gila, pikirkanlah yang fana karena akan membuat kita bersemangat dalam hidup. Islam adalah agama yang sempurna, jadi pikirkanlah hal lain yang belum sempurna agar kita semakin modern.

Wassalaamu’alaikum wr wb

Rini

Posted by Rini puji kusumartati  on  08/11  at  08:08 AM

Islam liberal yang dipelopori oleh Ulil Abshor Abdalla itu memuat ide-ide sebab sesuatu yang tanpa ide itu kosong hampa. Jadi saya orang yang mendukung Islam liberal karena dalam Islam itu memuat ide-ide seperti Imam madhab yang empat itu pun mengeluarkan ide-ide. Ide yang sama atau berbeda sesuai dengan pemahaman masing masing dalam satu nash al-Qur’an. Thanks.

Posted by ai sarika  on  08/22  at  07:08 PM

Saya paling benci dengan Islam liberal; Orang yang berotak, tapi tidak menggunakan otaknya. Keterlaluan kalian merendahkan agama Islam yang seolah-olah kalian puja. Kalian adalah orang-orang pendusta atas nama agama, orang yang tidak menggunakan akalnya dengan baik.

Redaksi:

Semoga kami tidak termasuk golongan yang anda tuduhkan di atas. Amien.

Posted by joko utomo  on  08/19  at  03:08 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq