Memahami Multitafsir Islam - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
06/10/2003

Memahami Multitafsir Islam

Oleh Mutohharun Jinan

Munculnya multitafsir keagamaan, selain dilandasi oleh semangat teologis dan tafsir atas teks agama juga sebagai respons terhadap perubahan sosial. Pluralitas pemahaman keagamaan merupakan sunnatullah yang tak mungkin terbantahkan dan mustahil pula kita lawan dan hindari. Yang bisa kita lakukan terhadapnya adalah menghargai, mengakui dan mensyukuri.

Wajah gerakan dan pemahaman Islam di Indonesia semakin tampak beragam bersamaan dengan proses liberalisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagian di antara mereka ada yang fundamentalis, yang memperjuangkan Islam sebagai dasar berkehidupan secara formal-skriptural. Tetapi tidak sedikit yang moderat, yang memperjuangkan secara substantif nilai Islam melalui jalur kultural seperti pendidikan dan dakwah.

Hanya saja, bersamaan dengan berkembangnya ragam penghayatan dan gerakan Islam juga muncul sikap-sikap keberagamaan eksklusif yang cenderung menghakimi kelompok lain. Yang lebih memprihatinkan lagi, sikap seperti itu justru ditampilkan oleh kalangan Islam mainstream. Ada panafian terhadap asusmsi bahwa ragam gerakan Islam bukan sebagai sebuah proses dinamis-dialektik antara pemahaman agama dengan realitas sosial yang terus berubah. Acap kali muncul tuduhan terhada suatu gerakan keagamaan sebagai penyimpangan dan ancaman terhadap stabilitas kehidupan keislaman.

Seperti yang sering kita saksikan, adanya sekelompok orang yang mengatasnamakan umat Islam menilai pemahaman orang lain sebagai penyimpangan dan penyesatan akidah. Tidak jarang pula mereka menvonis kafir dan menghalalkan darah sesama umat sendiri. Lebih dari itu, mereka meminta kepada pemerintah untuk membekukan seluruh kegiatan gerakan yang dianggap menyimpang itu.

Gejala seperti itu mengisyaratkan tidak akomodatifnya muslim ortodoks –demikian Martin Van Bruinessen menyebutnya- terhadap gerakan Islam minoritas. Dan ini berarti secara hegemonik telah terjadi monopoli tafsir kebenaran. Islam ortodoks tidak menyadari bahwa munculnya gerakan baru merupakan bentuk ketidakpuasan terhadap keberagamaan dan institusi agama lama yang telah “mapan”.

Rupanya, dalam masyarakat kita telah tertanam kesadaran bahwa beragama yang benar adalah yang sesuai dengan apa yang telah diwariskan oleh para pendahulunya. Keberagamaan tidak dilihat sebagai proses pencarian menuju kebenaran yang sejati. Keberagamaan juga tidak dikaitkan dengan proses dialogis antara pemeluk agama dengan multikulturalitas yang mengitarinya.

Perlu ditegaskan bahwa timbul dan tenggelamnya gerakan keagamaan minoritas merupakan gejala yang normal di masyarakat mana pun, dan kehadiran mereka mempunyai fungsi yang berguna dalam sebuah dunia sedang berubah dan masa transisi. Di samping itu, gerakan minoritas biasanya lebih efektif menanamkan nilai-nilai moral di kalangan anggota mereka ketimbang kelompok-kelompok keagamaan mainstream.

Memang, secara sosiologis sebagian dari gerakan-gerakan baru dalam agama –sebagaimana dicirikan Milton Yinger dalam Religion, Society and the Individual (1975)-cenderung memilih eksklusif, menutup diri dari lingkungan sosial, hubungan antaranggota sangat rekat, militan dan berbeda dengan corak keberagamaan mayoritas. Sikap keberagamaan ini sedikit banyak akan mempengaruhi keseimbangan sosial yang diciptakan oleh budaya keagamaan mayoritas yang telah mapan. Atas dasar sikap keberagamaan seperti itu, aliran Islam minoritas dituduh menyimpang dari ajaran agama Islam dan mendapat perlakuan yang tidak manusiawi.

Ragam artikulasi

Dalam konteks itulah pentingnya kaum muslim melihat doktrin Islam tentang keragaman dan kebebasan artikulasi beragama. Alquran secara tegas mengritik sikap arogan dan intoleran terhadap tafsir orang lain dalam kalimat berikut: “Bagi setiap kelompok mempunyai tujuan, ke sanalah ia mengarahkannya, maka berlomba-lombalah kamu dalam mengejar kebaikan. Di mana pun kamu berada, Allah akan menghimpun kamu karena Allah berkuasa atas segalanya”. (Q.S. al-Baqarah/2:148). “Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, sungguh akan berimanlah manusia di bumi seluruhnya, apakah engkau akan memaksa manusia hingga semuanya beriman?” (Q.S. Yunus: 99).

Islam sangat menghargai perbedaan pemahaman dalam beragama. Pemahaman itu tetap memiliki peluang kebenaran dan keselamatan. Jangankan pengakuan terhadap perbedaan pemahaman dalam satu agama (Islam), dalam Alquran (Q.S. Al-Baqarah/2: 62) diisyaratkan adanya keselamatan dalam setiap agama.

Munculnya multitafsir keagamaan, selain dilandasi oleh semangat teologis dan tafsir atas teks agama juga sebagai respons terhadap perubahan sosial. Pluralitas pemahaman keagamaan merupakan sunnatullah yang tak mungkin terbantahkan dan mustahil pula kita lawan dan hindari. Yang bisa kita lakukan terhadapnya adalah menghargai, mengakui dan mensyukuri.

Oleh karena itu, kita mengutuk segala tindakan kekerasan terhadap kelompok keagamaan minoritas. Kekerasan atas nama monopoli kebenaran yang mengabaikan pluralitas harus ditentang. Pentakfiran, intimidasi dan penghakiman terhadap aliran minoritas hendaknya dihentikan. Kecuali bila ada bukti bahwa kelompok minoritas ini benar-benar mengganggu tatanan sosial, seperti melakukan tindakan destruktif.

Barang kali penting untuk dikemukakan bahwa tidak mengakui keberadaan suatu paham/aliran keagamaan, sama saja dengan tidak menghargai hak asasi manusia. Keberadaan suatu aliran keagamaan tidak memerlukan pengakuan dari sebuah institusi apapun, termasuk institusi keagamaan.

Seiring dengan itu, dalam sejarahnya pelarangan terhadap berbagai aliran keagamaan dalam kenyataannya tidak efektif. Sebab, hal ini menyangkut keyakinan pribadi seseorang. Keyakinan tidak mungkin ditaklukkan dengan kekuasaan atau kekuatan mayoritas. Hal ini merupakan prinsip kebebasan ekspresi keagamaan atau penafsiran terhadap ajaran agama. Pemaksaan dalam hal agama adalah bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri dan secara diametral juga bertentangan dengan martabat manusia sebagai makhluk yang merdeka.

Menganut paham keagamaan yang berbeda dengan faham mayoritas umat Islam merupakan hak yang harus dihormati. Dalam Islam, keberagamaan menuntut ketulusan. Kata “Islam” sendiri berarti tulus dan pasrah. Ini hanya mungkin bila ada kebebasan untuk menerima atau menolak, faham keagamaan lain. Oleh karena itu, setiap bentuk pengurangan dan pembatasan terhadap ekspresi keberagamaan atau kemerdekaan beragama, sedikit atau banyak akan menimbulkan kemunafikan, yang justru mengurangi nilai keislaman itu sendiri.

Islam adalah agama yang memberikan kebebasan kepada para pemeluknya untuk memahami dari berbagai sisi. Ini menggambarkan keluasan Islam yang memungkinkan untuk menampung berbagai produk penafsiran dan pemahaman.

Ibarat sebuah supermarket, di dalamnya terpampang berbagai jenis produk makanan, pakaian, peralatan dan lain-lain. Pengunjung yang masuk ke dalamnya bebas memilih dan menentukan produk apa yang ia kehendaki. Bila pengunjung menghendaki informasi tentang satu jenis produk bisa ditanyakan kepada ahlinya yang ada di tempat itu.

Begitu juga gambaran tentang Islam saat ini dengan segala produk tafsirannya. Mari kita sadari bahwa kini telah terpampang produk tafsir keislaman yang beragam, baik dalam aksi maupun pemikiran. Hal ini meniscayakan umat Islam untuk secara mandiri bebas memilih tafsir mana yang ia suka. Dengan kata lain, hadirnya multitafsir menuntut umat Islam untuk beragama secara “swalayan”. Yakni, keberagamaan yang dilandasi oleh kemandirian, kebebasan dan tanpa paksaan menentukan pilihan terhadap satu produk penafsiran. Tetapi, tentu saja kesukaan terhadap satu pilihan tidak selayaknya disertai dengan penghinaan dan perusakan terhadap pilihan yang lain.

Beragama secara swalayan memungkinkan terwujudnya harapan bahwa perbedaan tafsir keagamaan akan menjadi ladang dialog konstruktif, kreatif dan saling memperkaya pengalamanengetahuan. Juga dapat mengantarkan umat kepada sikap untuk saling memahami. Bukan sebaliknya, perbedaan sebagai lahan untuk menyuburkan konflik dan saling menyesatkan. Beragama secara swalayan menjanjikan suatu keberagamaan yang egaliter, humanis dan kompetitif dalam kebaikan di tengah hamparan multi produk penafsiran.[]

06/10/2003 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (8)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Adanya multitafsir di dalam memahami teks-teks keagamaan adalah suatu hal yang wajar terjadi, sebab manusia sebagai “sesuatu yang universal” pasti terdapat dalam dirinya “keunikan individu”. “Keunikan individu” inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan penafsiran, setiap penafsiran pasti tergantung pada kemampuan dan kapasitas pengetahuan si penafsir. Ada penafsir yang memang berkompeten untuk menafsirkan sesuatu tetapi ada juga penafsir yang menafsirkan sesuatu untuk kepentingan dirinya. Ada pula penafsir yang menafsirkan tanpa didasari pengetahuan yang memadai. Oleh karena itu untuk menafsirkan sesuatu hendaklah kita bertanya dulu pada diri kita, pantaskah saya menjadi seorang penafsir? Obyektifkah tafsiran saya? Apakah penafsiran saya membawa kemaslahatan bagi masyarakat atau malah menyebabkan timbulnya banyak kemudharatan?

Oleh karena itu berhati-hatilah dalam menafsirkan sesuatu, apalagi yang kita tafsirkan adalah kitabullah dan sunnah Rasul.

Wallahu’alam bisshowab
-----

Posted by mardias gufron  on  10/17  at  05:10 PM

Memang begitu. Seperti pemahaman saya, ayat yang qathiy dalalah sekalipun dapat mengalami ambiguitas (musytarak ma’nan), apalagi dalam tathbiqnya. Jadi tidak mengada-ada. Seperti skripsinya Cak Nur, Alqur’an arabiyyun lughatan wa ‘alamiyyun ma’nan. Jadi kandungan Alquran sangat luas sekali maknanya. Jika kita terjebak pada nash, maka menjadi kering maknanya. Alquran sendiri, walau terkait asbabun nuzul, tetap mengalami pengontekan yang berbeda.

Posted by Lukman Hakim  on  10/17  at  07:11 AM

memang begitu, seperti pemahaman saya, jadi ayat yang qathiy dalalah sekalipun dapat mengalami ambiguitas (musytarak ma’nan), apalagi dalam tathbiqnya. jadi tidak mengada-ada. karena seperti skripsinya cak nur, al-qur’an arabiyyun lughatan wa ‘alamiyyun ma’nan. jadi kandungan al-quran sangat luas sekali. jika kita terjebak pada nash, maka menjadi kering ma’na. sedang al-quran sendiri, walaupun terkait asbab al-nuzul tetap mengalami pengkontekan yang berbeda.

Posted by Lukman Hakim  on  10/17  at  07:10 AM

Assalamuallaikum Wr. Wb.

Menurut hemat saya, Penafsiran baru itu diperlukan mengingat :

1. Ummat Islam seakan terpuruk kedalam “keterbelakangan” dalam banyak hal sehingga tidak punya daya saing terhadap negara/bangsa lain yang “ Non Islam” 2. Islam yang selalu didengungkan sebagai “ Rahmatan lil Alamin” saat ini tidak menampakan jati dirinya. 3. Islam yang “sejatinya” ditafsirkan sebagai Sistem Perdamaian , Keselamatan, Kesejahteraan saat ini seakan jadi sebatas wacana. 4. Di Indonesia Partai Islam belum pernah menang dalam Pemilu , karena rakyatnya yang notabene mayoritas beragama Islam tidak “tertarik” kepada Islam. Meskipun sebagian orang berkata bahwa saya tidak memilih Partai Islam tidak berarti anti Islam.Jadi Islam telah kehilangan “ daya tariknya”. 5. Sebahagian Ummat Islam telah memaksakan cara cara yang mengganggu kepentingan Umum sehingga menimbulkan citra yang buruk terhadap Islam. 6. DLL.

Hal diatas mungkin juga sudah disadari oleh sebagian orang terutama kaum Muda yang masih memiliki semangat untuk mencari jalan keluar dari problem problem yang dihadapi. Salah satu usahanya adalah mengkedepankan pemikiran “Multitafsir”tadi. Pada prinsipnya saya setuju terhadap pemikiran tersebut namun penafsiran “baru” tersebutlah haruslah mempunyai suatu batasan batasan tertentu, diantaranya : 1. Sejauh mungkin menghilangkan subjektivisme (dipengaruhi oleh kepentingan kepentingan tertentu semisal pribadi,partai,golongan). 2. Mem”focuskan” penafsiran yang sudah ada kearah pemahaman yang lebih baik seperti apa yang diinginkan oleh Allah (AlQur’an). Terutama ayat ayat “musytasyabihat”.Sedangkan ayat ayat “muhkamat” diharapkan bisa diterima oleh semua pihak. 3. Adanya metode yang jelas dalam melakukan penafsiran.

Memang penafsiran ini memegang peranan yang sangat penting yang menentukan “maju atau mundurnya “ pemahaman Islam.Saya melihat begitu “parahnya” penafsiran Islam sekarang ini, Antara lain : 1. Islam itu adalah semata mata “ Kepercayaan” seperti halnya Kristen , Yahudi , Budha dan kepercayan kepercayaan sejenis lainnya. 2. Islam adalah suatu keyakinan untuk nanti (AKHIRAAT) bukan untuk masa kini. 3. Islam adalah urusan “rituil (upacara keagamaan)” seperti Syahadat , Shalat , Puasa , Zakat , Hajji , berbuat baik , yang seakan tak ada hubungannya dengan bagaimana mencari rezeki , mengatur kehidupan masyarakat atau alam sekitar dll. 4. Lebih rinci sebagian sudah terpatri dengan pemahaman Fiqih , Tauhid, Tasawuf yang sebenarnya dulu dulunya adalah produksi dari “kebebasan” berfikir dan tafsir pada waktu itu.Yang sebagian orang lebih memahami kaidah (Fiqih , Tauhid, Tasawuf ) tersebut dari pada AlQur’an itu sendiri.Hasilnya apa ? Dapatkah kita mengatakan bahwa gambaran masyarakat sekarang yang berfikir terhadap Islam itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman tersebut ?

Saya rasanya telah melihat artikel artikel semacam ini yang mempunyai ciri ciri dan merupakan suatu representasi pemikiran dari ISLIB itu sendiri.Sejauh ini masih berputar putar pada masalah multitafsir ,pluralisme , HAM , Kritisi terhadap Radikalime Islam , kawin berbeda agama , Polygami ,yang paling tajam ialah kritisnya Mas Ulil tentang monopoli penafsiran, penafsiran yang kontekstual ,tentang memanjangkan janggut dan memendekan kumis, dan tentang jilbab yang kesemuanya saya anggap tidak terlalu significant mengingat bahwa masalah itu sepertinya mau dilakukan syukur , tidak dilakukan yha tidak apa apa. Saya berharap ISLIB lebih terperinci lagi untuk membahas yang lebih prinsipil yang merupakan isi dari penafsiran yang sebenarnya.Mungkin perlu semacam kolom lagi untuk tanya jawab tentang prinsip prinsip Islam.Sebagai contoh : Apakah ISLAM itu ,menurut ISLIB ? Apakah AlQur’an itu ?  Apa dan Siapakah manusia itu ?  Apa tujuan Allah menciptakan manusia ?  Apakah IMAN itu ? Dan seabreg pertanyaan sederhana tetapi sangat prinsipil. Jika itu bisa dilakukan mungkin kita akan lebih memahami kemana ISLIB akan menuju . Wassalam Wr.WB.

Posted by Abu Cholid  on  10/17  at  07:10 AM

Dalam pembahasan nash/teks ambigu dalam Al-qur’an terasa bhw pembahasan dilakukan sepihak, pembahasan tdk ditempatkan scr proposional. Tidak ada teks ambigu(kontradiksi scr extrim) antara satu ayat dan ayat lain. Penurunan ayat sangat situsional dan memiliki sebab musabab (Asbabul Nuzul) sedangkan anda, mengatakan adanya standar ganda dlm Al-qur’an yakni satu sisi membebaskan manusia dari kebodohan/kejahilan, menjunjung hak-hak asasi manusia, tapi di sisi lain anda menyebutkan bhw Islam melegalkan terorisme dan fundamentalisme, dan menghalal segala kekerasan.

Anda tdk membahas scr detail dan proposional. Sedangkan Kristen dan Yahudi jelas bahwa mereka adalah kebohongan belaka. Islam menghormati sepenuhnya/toleransi/tasamuh bagi pemeluk agama lain. (baca sirah Nabawiah) dan nash2 Al-qur’an yang mukhtamat (jelas/tanpa penafsiran) bagaimana Islam menghormati hak2 semua manusia (rahmata lil alamien) rahmat/kedamaian bagi seluruh alam. Jadi tdk ada satupun nash dlm Al-qur’an yang membenarkan kekerasan dan terorisme. Jazzakumullah.Wassalam.

Posted by nizam azhar  on  10/15  at  04:10 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq