Memaknai Kembali Jihad - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
04/12/2006

Memaknai Kembali Jihad

Oleh M. Guntur Romli

Ketika kita membaca beberapa literatur Islam klasik dalam masalah jihad, makna peperangan merupakan makna yang baku bagi jihad. Mulai dari para ulama tafsir, hadis, dan fikih, yang telah sedemikian kuatnya “mengunci” jihad dalam makna peperangan saja. Ahli tafsir menyamakan ayat-ayat jihad dengan ayat-ayat pedang dan perang. Pertanyaannya kemudian, benarkah jihad identik dengan peperangan sebagaimana pendapat ulama-ulama di atas?

04/12/2006 03:27 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (14)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Pada awal tulisan anda yg mengatakan bahwa ada reaksi keras dari umat Islam,dalam menanggapi pidato Pope Benedict yg mengatakan bahwa “Jihad dalam Islam identik dengan kekerasan dan perang”. kelihatan sekali bahwa penulis ini tidak membaca atau mendengar apa yg dikatakan Pope Benedict yg berakibat marahnya umat Islam.Yg membuat marah umat Islam adalah pidato Pope Benedict yg quoting ucapan Kaisar Katolik di abad 14 yg menuduh Nabi Muhammad SAW menyebarkan Islam dengan pedang dan kekerasan. Jelas sekali penulis tidak kompeten,dan sangat tendesius, Wajar saja kalau umat Islam itu emosional karena junjungannya di tuduh berbuat anarkis. Seharusnya anda juga ikut mengecam pernyataan Pope tersebut yg pada akhirnya Pope minta maaf kepada umat Islam, koq malah penulis membuat tulisan yg menyangkutkan quote yg keliru dengan alur ocehan yg membosankan.

#1. Dikirim oleh Subkhan BN  pada  06/12   03:12 AM

dari dulu, isla adalah agama yang rahmatan lil’alamin (agama yang “ramah” lingkungan dimanapun ia berada. sehingga sifat dari islam sendiri adalah “universal”. jadi ketika ada ajaran jihad dengan “mengacungkan pedang”, sebenarnya itu bukan inti dari (ajaran) islam. islam selalu mengajarkan kepada ummatnya “perdamaian” termasuk kepada orang-orang kafir non muslim).

dan inipun telah dicontohkan pada oleh baginda rasulullah SAW. akan tetapi sekarang jihad telah mengalami penyelewengan makna, artinya jihad sekarang selalu diidentikkan dengan kekerasan, pembunuhan dan “darah”. ironisnya mereka berdalih bawa apa yang mereka lakukan adalah sesuai dengan al qur’an dan tuntunan rasulullah, sehingga mereka mengklaim hal itu sebagai “perang suci”, membela agama. mereka tidak mengkaji dulu relevansi dan kontekstualisasi ayat-ayat al qur’an tentang konsep jihad, mereka juga tidak melihad dulu, apa latar belakang rasulullah berperang (jihad)pada masa itu. apakah benar konsep tersebut jika diterapkan pada zaman sekarang??...............

hal ini menunjukkan “keawaman” mereka dalam beragama (islam), mereka masih terlalu tekstual dan literal dalam memaknai setiap teks-teks keagamaan. tak heran ketika teks-teks keagamaan dimaknai secara tekstual dan literal maka akan menghasilkan pemahaman yang “kurang tepat” (kalau tidak mau dibilang “salah"). maka, mari kita rombak kembali konsep jihad dalam islam.

#2. Dikirim oleh abdul rauf  pada  06/12   08:12 PM

Menurut saya, kedua arti yang dimiliki oleh kata Jihad, yakni berperang atau berusaha sungguh-sungguh (dengan segenap potensi dan bukan perang) sama-sama tetap relevan sesuai dengan tempat dan waktunya. Memang, kalau di Indonesia pada saat sekarang, arti kedua lebih relevan. Tapi di negeri yang dijajah oleh negara lain secara semena-mena dan tertutup segala jalur diplomasi untuk memperoleh kemerdekaan, maka makna yang pertama lebih relevan.

#3. Dikirim oleh Misbahul Huda  pada  06/12   08:13 PM

Islam Klasik? ada berapa banyak islam dari dulu hingga sekarang? Sehingga kamu menulis Islam klasik. Apakah islam yang kamu anut sekarang adalah Islam Modern? Yup!!! Jihad = Qital

#4. Dikirim oleh Abu Jihad  pada  08/12   06:13 PM

Menurut saya jihad (umum/khusus) dengan berbagai bentuknya adalah releven karena merupakan bentuk dari keimanan”...bukankan apabila melihat kemungkaran kita diminta berbuat dg tangan,dg lisan,dan dg hati itu selemah2 iman?”.Apakah mas Guntur apabila sebagai orang afganistan,irak,iran dan seorang muslim akan diam apabila negaranya dijajah,minyaknya dicuri ,harkat martabatnya diinjak2 akan diam? Saya rasa tidak akan diam bukan? Alagi mas Guntur ilmu agamanya mumpuni.

Jadi jihad (umum/khusus) adalah releven dalam kontek keimanan(mardhotillah) dalam upaya mencegah kemungkaran/angkara murka..la wong jelas2 barat(AS motornya) menjajah kok ya musti dilawan to...dan bukan berarti juga anti barat to kalau melawan barat ...

Jadi Jihad (umum/khusus) ya tetap releven karena manifestasi keimanan.

#5. Dikirim oleh muhammad nur baladi,ir  pada  09/12   05:12 AM

Tulisan ini cukup memberikan wawasan bahwa konteks Jihad yg merujuk pd al-Quran memang luas dan lentur. Konteks jihad sebagai peperangan atau tindak kekerasan memang memiliki arti yg sempit, namun sebaliknya jihad sebagai suatu kesungguhan dalam berusaha memang lebih kotekstual dengan permasalahan umat muslim Indonesia.

#6. Dikirim oleh Perdana Santosa  pada  09/12   09:12 AM

Setiap umat islam merasa berhak untuk mendefinisikan sendiri makna jihad; bisa jadi karena TERGANTUNG situasi dan kepentingan. lebih netral jika jihad diberikan makna dengan terlebih dahulu mengesampingkan situasi-situasi yang menjadikan TERGANTUNG tadi karena kalo masih ada kata TERGANTUNG tipis sekali bedanya dengan PEMBENARAN.

Akan halnya ada dua makna jihad, satu di antaranya PERANG karena penjajahan dan penindasan, tidak perlu Jihad yang dikobarkan dari agama pun, sudah sewajarnya umat/warga melakukan pembelaan diri, bukan untuk balas dendam yang berarti melakukan niat dan tindakan seperti penjajah itu sendiri, tetapi bertujuan untuk menghentikan kejahatan dan penindasan tersebut.

Jadi, jihad tanpa di embel-embeli AGAMA sifatnya netral, universal terhadap semua MANUSIA/WARGA. Jihad, untuk memerangi penindasan, penjajahan, intimidasi dan sejenisnya.

Namun sayang, jihad saat ini di seluruh dunia islam, dimaknai sebagai memerangi non-islam, mengelompokkan kafir, dll. Dan selusuh umat islam begitu antusias jika makna jihad seperti itu. Pemimpin yang tahu dengan situasi emosi seperti ini dapat mengambil keuntungan menjadi suatu kekuatan tawar terhadap pihak lain.

Sehingga makna jihad yang sebenarnya yaitu untuk mengatasi 1. kemiskinan, kebodohan, dsb dan 2. penjajahan,penindasan, dsb, menjadi terdistorsi dan kehilangan arah menjadi pekerjaan untuk mempertentangkan keyakinan/keimanan tentang SIAPAKAH PENCIPTA itu YANG PALING BENAR. salam

#7. Dikirim oleh sijana  pada  10/12   07:12 PM

Menghilangkan nyawa diri sendiri maupun orang lain dengan cara apapun namanya dan dan dengan alasannya apapun semua pekerjaan setan. Setiap agama harusnya mengajarkan umatnya untuk menjadi bermoral, bernurani, dan menjauhkan pengikutnya dari perbuatan setan dan dosa.  Jika seorang pimpinan agama dan pendiri agama mengiming-imingi pengikutnya dengan 72 bidadari cantik dan minuman anggur kelak jika pengikutnya berhasil melakukan misi membunuh lawannya , pemimpin itu sama saja dengan seorang kepala mafia yang memberikan hadiah yang sama kepada anak buahnya/pengikutnya jika anak buah berhasil menumpas lawan/saingan bosnya??

#8. Dikirim oleh Qirun  pada  14/12   01:12 AM

ngak bisa dikotak-kotak donk mas,masih ingat kekejaman ksatria templar yang mewakili sayap militer katolik yang dengan kejamnya membunuh,menganiaya.memperkosa orang2 yang tidak melawan otoritas gereja katolik pada masa itu.bukanlah katolik mengajarkan kasih,atau aplikasi ksatria templar merupakan cara penerapan kasih yang diajarkan gereja katolik,pantas saja konflik di ambon dan poso tidak bisa damai.gerakan misi kasih ala templar dan pengikut seperti ini yang wajib di tumpas.!!

#9. Dikirim oleh l'cratoes  pada  16/12   11:12 PM

Menggarisbawah komentar Sijana, Bandung, bahwa setiap umat Islam ‘merasa’ berhak untuk mendefinisikan sendiri makna’jihad’, saya kira pendapat itu ada benarnya, kendati agak berbahaya. Mengingat tidak ada ‘patokan resmi’ definisi dari kata jihad, setiap orang islam bisa dan boleh menafsirkannya. Bahayanya adalah ketika tafsiran atau definisi individual itu berbenturan dengan definisi ‘publik’ artinya definisi yang banyak diikuti orang kebanyakan. Jika definisnya sejalan maka tidak ada konfrontasi, paling penyesuaian, tapi jika bertentangan, nah..ini yang bisa berdampak negatif, lebih-lebih bila tidak disikapi dengan ilmiah.

Kata jihad memang berakar dari ‘tradisi lisan dan tertulis’ dalam sejarah islam sejak jaman nabi Mohammad SAW. Oleh karena itu sangat wajar bila ada tafsiran yang lebih mengarah ke jihad dalam arti perjuangan fisik yang lebih mengarah ke peprangan(jihad by sword)sebab akar dari jihad memang suasana ketertindasan yang dialami orang Islam Medinah pada saat itu. Maka jika Nabi Mohammad dan para pengikutnya pada waktu itu berperang, peperangan itu adalah untuk mempertahankan hidup mereka dari ancaman atau ketika tidak ada jalan lain kecuali peperangan.

Namun sejarah berkembang, kehidupan umat manusia dan pemahaman mengenai hak asasi manusia pun berkembang, sejalan dengan itu berkembang pula penafsiran mengenai jihad. Namun pada umumnya perkembangan pemahaman mengenai jihad bisa dikelompokkan dalam 2 kelompok besar yakni ‘greater jihad’ dan ‘lesser jihad’, demikian A.G. Noorani, dalam bukunya Islam and Jihad yang dipersembahkannya untuk mengenang jasa besar Syed Ahmad Khan(1817-1898)-yang adalah sorang guru besar, pembaharu Islam, orang yang soleh tapi tetap rationalis, dan pendiri Universitas Aligarh Muslim.

“Greater jihad is fighting one’s animal tendencies....to overcome animal’s side” kata beliau. Sementara “Lesser jihad is a duty incumbent on Muslim provided he is attacked”. Maka hanya jika diserang maka jihad sebagai perang layak dilakukan (sebagaimana pada jaman Rasullulah dulu). Dengan demikian, dalam situasi sekarang ini, ‘greater jihad’ jauh lebih dubutuhkan untuk membangun dunia ini menjadi tempat kediaman yang aman dan damai, tempat seluruh makluk ciptaan Tuhan hidup rukun dan saling menghormati, mencintai.

#10. Dikirim oleh Eddy  pada  17/12   06:12 AM

Kalo rujukan adalah hasil pemikiran manusia kecuali Muhammad SAW yang maksum dalam konsep beragama tentu akan kusut dan ruwet, serta dunya oriented kaya JIL.
-----

#11. Dikirim oleh Tri Natalia  pada  09/06   07:07 AM

Sudah jelas2 kalo muslim itu teroris, masih mau juga menjadi muslim.
Sungguh bodohlah orang yang mau menjadi muslim!!
Anda naik haji, siapakah yang diuntungkan??
Bahkan anda sampai rela bunuh diri dengan bom yang sering diartikan jihad, siapakah yang diuntungkan?
Coba dipikirkan lagi arti hidup anda?
Untuk apa anda hidup?
Apakah untuk menjadi boneka orang2 arab? terlebih lagi menjadi boneka muhamad yang hobi berperang?
Coba dipikirkan sekali lagi sebelum anda terlalu larut dalam kebodohan anda sendiri.
Apakah anda bermimpi akan ditemani wanita2 cantik setelah mati nanti?hahahahaha
muhamad tertawa besar melihat anda.
Lebih baik tidak punya agama daripada menjadi islam!!
Satu kata terakhir ” Jangan mau menjadi korban pembodohan muhamad”

#12. Dikirim oleh Kenistaan jihad  pada  09/10   05:15 PM

thanx atas infonya kang,,kebetulan saya lagi nyari-nyari makna jihad yang sebenarnya krn saya takut menjadi salah satu hamba-Nya yan dilaknat kelak karena tidak menanggapi panggilannya.
karena setahu saya sbg pemuda yang masih minim dalam hal agama,, tidak selalu hal yang tidak kita sukai itu buruk untuk kita, begitupun sebaliknya, hanya Allah SWT Yang Maha Tahu.
mungkin saya,kita semua berpikir perang itu buruk, tspi sebenarnya baik untuk kita??????
atau sebaliknya?????

#13. Dikirim oleh alim  pada  05/03   01:02 AM

“makna jihad yang sebenarnya adalah perang”
wahai orang2 kafir dan orang2 yang memusuhi agama Allah Azza wa Jalla, kalian boleh tertawa dengan apa yang ada dihadapan kalian sekarang, tapi kami tidak hanya bermimpi, Islam adalah Haq, apalah arti hidup tanpa islam, bahkan hidup tidak akan ada harganya tanpa islam, sehingga kami tidak gentar meski harus mati, karena kami yakin.

#14. Dikirim oleh hambaAllah  pada  06/04   07:02 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq