Membongkar Teks Ambigu - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
02/03/2003

Membongkar Teks Ambigu

Oleh Sumanto al Qurtuby

Tantangan teologis terbesar dalam kehidupan beragama saat ini ialah bagaimana seorang beragama bisa mendefinisikan dirinya di tengah agama-agama lain.

Tantangan teologis terbesar dalam kehidupan beragama saat ini ialah bagaimana seorang beragama bisa mendefinisikan dirinya di tengah agama-agama lain. Atau istilah teologi kontemporernya, bagaimana bisa berteologi dalam konteks agama-agama. Ada satu pertanyaan mendasar: kenapa pertemuan antaragama (tepatnya pihak elitenya) telah sering dilakukan, lembaga-lembaga interfaith juga menjamur di berbagai kota, tetapi masih sering terjadi benturan antarumat beragama? Adakah yang salah dalam “manajemen” dialog antaragama? Para “idealis” akan menjawab benturan itu bukan disebabkan ajaran atau teks keagamaan tapi umat beragama, manusianya bukan ajarannya. Karena “semua agama mengajarkan perdamaian bukan peperangan, rahmat bukan kekerasan, cinta kasih bukan kebencian, kesejukan bukan terorisme” dan rumusan serba ideal yang sejenis. Ini jawaban khas para apolog agama.

Teks keagamaan memang tak ada yang mengajarkan secara langsung kekerasan dan terorisme. Akan tetapi, teks keagamaan itu bisa memberi inspirasi bagi munculnya tindakan kekerasan. Kenapa? Sebab watak dasar teks itu adalah “ambigu”. Satu sisi, teks mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan universal yang serba ideal dan humanistik, tapi saat yang sama juga menuturkan dan melegalkan tindakan-tindakan yang eksklusif-primordialistik demi mempertahankan apa yang disebut “keyakinan”. Susahnya mengikis gerakan fundamentalisme agama di antaranya juga disebabkan kelompok ini memiliki justifikasi teologis melalui “Kitab Suci”. Sebelum teks-teks itu (yang selama ini dianggap “Kitab Suci”) didekonstruksi, transformasi teologis yang lebih egaliter dan manusiawi takkan pernah terwujud dalam kehidupan umat beragama.

Teks-Teks Yang Ambigu

Salah satu contoh teks agama yang bisa menjadi inspirator bagi “petualang agama” melakukan tindakan kekerasan ialah: “Siapa yang mengutuk kamu (Israel), maka terkutuklah dia dan siapa yang memberkatimu maka berkatilah dia” (Kejadian 27:29). Ayat inilah yang dipakai, antara lain, oleh Jarry Falwell, tokoh Gereja Konservatif Amerika, berkampanye pada Jemaat Kristen guna menggalang solidaritas Yahudi dan mengecam Palestina. Padahal, menurut pakar Bibel dari Graduate Theological Union, Norman Gottwald, dalam The Hebrew of Bible, konsep tentang “kekudusan” (maksudnya, Israel sebagai bangsa yang kudus/suci) dan “bangsa yang diberkati” seperti tertuang dalam Alkitab yang mengacu kepada komunitas Yahudi kuno adalah ibarat nyanyian orang yang sedang ketakutan saat melewati kuburan tua. Artinya, dulu para elite Yahudi menggunakan konsep itu karena tak berdaya menghadapi tekanan-tekanan politik yang dilakukan Mesir sebagai negara adikuasa saat itu. Konsep itu dipakai dalam rangka menggalang simpati publik guna melawan hegemoni bangsa Mesir. Semacam eskapisme, “pelarian teologis” dengan menggunakan legitimasi ketuhanan. Gottwald menyebut teks-teks Bibel adalah “akal-akalan” elit Yahudi sejak Daud guna meningkatkan supremasi rezim. Karena itu, ia menyebut Bibel sebagai “a trap of Jews”—perangkap Yahudi.

Selain ayat yang mengandung semangat jihad di atas, juga terdapat beberapa teks lain dalam Alkitab yang juga bernuansa eksklusif-primordial seperti tertuang dalam Injil Yohanes 14/6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang pada Bapa kalau tak melalui Aku.” Juga ayat, “Dan keselamatan tak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tak ada manusia yang kita dapat diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4/12). Inilah yang memunculkan ungkapan yang sangat populer di kalangan Kristen, “No Other Name!” yang menjadi simbol tentang tak adanya keselamatan di luar Yesus Kristus. Ayat ini juga yang memberi inspirasi teolog Hendrick Kraemer untuk menulis buku The Christian Message in a Non-Christian World —buku yang disebut-sebut menjadi basis penginjilan selama bertahun-tahun. Atas dasar mempertahankan kesucian ayat-ayat inilah, umat Kristiani marak membentuk Laskar Jesus untuk melawan orang Islam atau siapa saja yang dipandang mengganggu keagungan doktrin Kristiani.

Dalam Islam juga terdapat seabrek ayat yang dalam perspektif “fundamentalis” sering dibaca secara literal dan dipakai untuk melakukan sejumlah tindakan konfrontasi dan terorisme terhadap non-Muslim, bahkan umat Islam sendiri yang kebetulan berbeda pandangan (ideologi) dengan dalil (yang sebetulnya dalih) “menegakkan Islam yang otentik.” Puritanisme dan otentisitas sebagai sebuah ideologi yang begitu marak di sejumlah negara Islam (termasuk Indonesia) terinspirasi dari teks-teks yang primordialistik ini. Beberapa ayat patut disebut di sini, antara lain, “Barang siapa yang memeluk selain agama Islam, maka tidak akan diterima agama itu, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi” (Q.s. 3/85). Kemudian ayat, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik akan berada di neraka Jahanam dan kekal didalamnya, mereka adalah seburuk-buruk makhluk” (Q.s. 98/7). Juga ayat Alquran yang begitu populer, “Orang-orang Yahudi dan Kristen takkan pernah rela sebelum kalian mengikuti agama mereka”. Ayat inilah yang memberi inspirasi kepada sebagian umat Islam untuk menjaga jarak dan antipati terhadap --istilah mereka-- kaum “salibis” dan “zionis”.

Ayat-ayat ini juga yang dipakai sebagai dasar teologis rezim fundamentalis Islam di negara-negara berbasis Muslim untuk melakukan tindakan kekerasan seperti ethnic cleansing dan konfrontasi terhadap orang-orang Kristen dan Yahudi dan non-Muslim lain. Ini belum termasuk sejumlah teks skriptural lain yang mengajarkan (meski belum tentu menganjurkan) tindakan diskriminatif, dominasi kelompok dan perilaku subordinatif terhadap golongan “lain”. Maraknya praktik diskriminasi terhadap kaum perempuan dan sekte-sekte minoritas, antara lain, juga diilhami ayat-ayat ini.

Di sinilah saya ingin menyebut teks-teks Islam klasik merupakan “perangkap bangsa Arab”, dan Alquran sendiri dalam beberapa hal sebetulnya juga bisa menjadi “perangkap” bangsa Quraisy sebagai suku mayoritas. Artinya, bangunan keislaman sebetulnya tidak lepas dari jaring-jaring kekuasaan Quraisy yang dulu berjuang keras untuk menunjukkan eksistensinya di tengah suku-suku Arab lain. Khalil Abdul Karim dalam buku Quraisy min al-Qabilah ila ad-Daulah al-Markaziyyah telah menunjukkan dengan baik bagaimana bangsa Quraisy telah menegakkan hegemoni sejak Quraisy bin Kilab, sebagai pendiri klan, sampai puncaknya ketika Nabi Muhammad mendirikan negara Madinah. Hegemoni suku Quraisy atas Islam ini mirip seperti hegemoni Israel dalam tradisi Judaisme. Karena itu, tak salah jika Ulil Abshar sering “menganjurkan” agar umat mampu memilah-milah teks-teks Alquran: mana yang merupakan nilai universal Islam dan mana yang hanya merupakan pengaruh kebudayaan Arab.

Dekonstruksi untuk Transformasi
Teks-teks agama dalam tradisi Islam, Kristen dan Yahudi di atas harus didekonstruksi dengan menggunakan pendekatan sosio-historis. Pendekatan “sosio-historis” ini menuntut setiap umat untuk menanggalkan sejumlah asumsi yang selama ini mempengaruhi kognisi kolektif umat. Premis dasar yang dimaksud adalah keyakinan bahwa “Kitab Suci”-nya (Alkitab atau Alquran) sebagai “firman Tuhan” yang bersifat supra-historis, firman yang “mengatasi” sejarah. Jika keyakinan ini belum bisa dilepaskan, maka upaya membongkar dimensi historisitas Alkitab dan Alquran menjadi sia-sia. Dengan pendekatan kesejarahan ini pula kita akan tahu bahwa teks yang kini disucikan oleh umat itu sebetulnya bersifat profan tidak sakral, temporal bukan permanen. Ada proses historis yang begitu panjang dan rumit sehingga teks ini pada akhirnya menjadi semacam “scientia sacra” yang disucikan dan dimitoskan.

Dekonstruksi ini juga dilakukan dalam rangka membangun sebuah komunitas keberagamaan yang transformatif. Sebab gagasan mengenai “transformasi agama-agama” baru mungkin bisa dilakukan jika masing-masing umat bersedia untuk “melepaskan diri” dari kungkungan Teks (T besar) yang selama ini menghegemoni nalar kritis umat. Tanpa disadari Teks selama ini menyelinap dalam “alam bawah sadar” kita, mempengaruhi dan mengendalikan setiap langkah gerak umat beragama: harus begini, jangan begitu. Tanpa disadari hidup kita selama ini bagaikan robot yang gerak-geriknya dikendalikan oleh sebuah remote control. Dan remote control itu kini bernama Teks yang menjadi dasar/ruh sebuah agama. Selama langkah gerak kita positif dan “manusiawi” saya rasa tidak menjadi persoalan. Masalahnya adalah jika langkah dan gerak kita negatif dan “tak manusiawi”. Teks yang kita anggap suci selama ini selain mengandung “prinsip-gerak” positif (misalnya, teks tentang kebebasan/liberasi, persamaan hak, ajaran kasih, solidaritas sosial, emansipasi, persaudaraan universal, dll) juga berisi “prinsip gerak” negatif (misalnya, teks tentang perbudakan, keunggulan doktrin, dominasi gender, jihad, dll). “Prinsip-gerak” negatif dari Teks ini yang kemudian membentuk manusia-manusia kerdil yang mengeksploitasi pihak lain atas nama agama dan Tuhan.

Dekonstruksi untuk melucuti watak hegemonik sebuah Teks bahwa Teks tertentu lebih unggul ketimbang teks lain (yang melahirkan pandangan bahwa agama tertentu lebih unggul ketimbang lainnya. Tidak ada satupun umat beragama yang bisa mengklaim bahwa halaman “Kitab Suci”-nya telah mampu menangkap pesan-pesan Tuhan. Tuhan jelas lebih agung ketimbang sebuah teks. Dia melampaui teks apa pun. Klaim atas supra-historisitas firman Tuhan justru akan mereduksi kebesaran Tuhan itu sendiri. Maka, dengan dekonstruksi, segala klaim otoritas baik agama maupun teks menjadi sirna, lumer, lalu melebur menjadi satu, sederajat (“sikap paralelisme”), tak ada dominasi teks atau agama tertentu atas teks dan agama lain. Inilah usaha-usaha mutakhir yang sedang dijalankan para pendukung dialog antaragama seperti yang dipaparkan Leonard Swidler dalam After the Absolute: The Dialogical Future of Religious Reflection. Mereka berusaha melepaskan diri dari berbagai kompleksitas hubungan antarumat beragama seperti penerapan “standar ganda”, klaim kebenaran atau janji penyelamatan yang dianggap sebagai tanda ketidakkritisan dari cara berpikir agama atau (religion’s way of knowing).

Arthur J D’Adamo menyebut religion’s way of knowing ini sebagai akar dari konflik antarumat beragama yang berawal dari sebuah standar tentang agamanya sendiri dan “Kitab Suci”-nya yang merupakan sumber kebenaran yang diyakini sebagai (1) bersifat konsisten dan berisi kebenaran-keberanan yang tanpa kesalahan sama sekali; (2) bersifat lengkap dan final, dan karena itu tak diperlukan kebenaran agama lain; (3) kebenaran agamanya sendiri dianggap merupakan satu-satunya jalan keselamatan, pencerahan maupun pembebasan; dan (4) seluruh kebenaran itu orisinal dari Tuhan, tak ada konstruksi manusia. Jalan pikiran demikian jelas picik, menyesatkan dan tak kondusif untuk membangun persaudaraan kemanusiaan universal. Para aktivis dialog agama harus mulai mendiskusikan wilayah “muharramat” ini dengan tanpa sungkan dan canggung.

Kita perlu pandangan-pandangan yang bersifat terbuka terhadap sistem keyakinan agama lain dan menutup rapat-rapat segala bentuk egoisme kita. Dengan melepas klaim-klaim kebenaran dan janji penyelamatan yang berlebihan, dengan menanggalkan “identitas primordial” yang juga berlebihan, mengoreksi diri tentang standar ganda yang sering kita pakai terhadap orang lain, dan selanjutnya memperluas pandangan inklusif teologi kita, agama-agama akan mempunyai peranan penting di masa depan dalam memberikan landasan spiritual bagi peradaban masyarakat kita. Seperti yang dengan indah dilukiskan Bhagavan Das, “Kita semua para penganut agama akan bertemu dalam the road of life yang sama. Yang datang dari jauh, yang datang dari dekat, semua kelaparan dan kehausan, semua membutuhkan roti dan air kehidupan yang hanya bisa didapat melalui kesatuan dengan The Supreme Spirit”.[]

02/03/2003 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (2)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Tulisan ini bermaksud menjawab beberapa pertanyaan Saudara Wahyudin atas artikel kami “Membongkar Teks Agama”. Menurut hemat kami, pertanyaan-pertanyaan yang dimunculkan Saudara Wahyudin lebih mengarah pada persoalan metodologis: yakni bagaimana kita, selaku umat beragama, membaca (menafsirkan & memahami) teks-teks keagamaan. Satu hal perlu dipahami, bahwa setiap umat beragama diperbolehkan mempunyai metode yang berbeda dalam membaca teks-teks keagamaan. Banyaknya metode tafsir dari yang tekstual sampai yang liberal, berikut dengan kitab tafsirnya, adalah bukti konkret. Sehingga, teks akan menjadi arena kontestasi tafsir. Namun, satu hal perlu diperhatikan, tidak boleh ada monopoli tafsir.

Metode dekonstruksi (membongkar) yang kami tawarkan pada artikel tersebut sebetulnya juga bagian dari metode baca (tafsir) atas teks, namun metode ini memang sifatnya agak radikal dan terkesan “nakal.”

Dalam artikel tersebut, kami menyebut ayat “Barang siapa yang memeluk selain agama Islam maka tidak akan diterima agama itu, dan di akherat termasuk orang-orang yang merugi” (Q.S.3:85) sebagai teks yang ambigu (kami menyebut teks yang demikian ini sebagai teks “truth claim”) karena teks ini bertentangan dengan kebebasan ekspresi beragama yang juga dijunjung oleh Alquran. Padahal Alquran sendiri menyebut “Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. 2: 256).

Artinya, Alquran yang sebetulnya mendukung pluralisme di satu sisi tapi juga seakan-akan meniadakan pluralisme di sisi lain. Inilah letak ambigunya teks Alquran. Jadi kita memahami kembiguan teks bukannya teks yang berdiri sendiri tapi juga dihubungkan dengan teks yang mengandung makna berbeda padahal teks-teks yang kandungan maknanya berbeda tersebut adalah sama-sama teks Alquran. 

Namun sayangnya, teks Alquran yang “membentuk” watak “truth claim” pada nalar umat tersebut kemudian menjadi senjata umat untuk menghancurkan agama lain. Lihat saja pengeboman di Bali yang dilakukan oleh Amrozi Cs.

Teks-teks keagamaan kalau tidak dibaca secara kritis tentu akan berakibat buruk. Sebab, teks Alquran yang berbahasa Arab itu akan menyelinapkan nalar teks kepada pembacanya. Adam Schaff (1967) menyebutkan bahwa sebuah sistem bahasa (bukan hanya kosa kata tapi juga sistem semantiknya) mempunyai pengaruh cukup besar dalam mempengaruhi cara pandang penuturnya terhadap dunia, termasuk pula cara menafsirkannya, yang pada digilirannya akan mempengaruhi cara dan metode berpikir mereka yang membaca dan yang menafsirkannya. 

Memang, setiap umat beragama berhak untuk mengklaim bahwa agamanyalah yang benar. Namun tentu tidak harus menuduh agama lain salah dan di akherat kelak penganutnya akan masuk neraka. Bukankah untuk menjadi umat beragama sebetulnya adalah sebuah pilihan, sebagaimana memilih baju. Dan dalam memilih tentu tidak ada paksaan, termasuk bagai mereka yang tidak mau memilih (memeluk) agama. Alquran sendiri menulis “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (QS. 109: 6).

Kami memahami jika Saudara Wahyudin mempersoalkan metode dekonstruksi yang kami pakai untuk membaca teks-teks keagamaan. Betapa tidak! Masa’ Alquran yang diyakini sebagai firman Tuhan (Alquran memang menjustifikasi dirinya sebagai firman Tuhan sebagaimana QS. 15: 9, QS. 3:3) kok didekonstruksi, sehingga bisa mengaburkan kevalidan Alquran?

Satu hal yang perlu dipahami, bahwa teks itu cenderung mengunggulkan kebenaran dirinya dan nilai-nilai yang dikandungnya dengan menendang kebenaran teks lain yang tidak dikandungnya. Padahal nilai-nilai yang tidak dikandungnya tersebut sebetulnya juga dikandung oleh teks yang lain. Dan pembaca yang tidak jeli akan terperangkap oleh siasat yang dimainkan teks tersebut.

Strategi semacam ini, oleh Ali Harb disebut dengan teori hijab, yakni teks punya strategi untuk mempertahankan kebanaran yang dimuatnya dengan menutupi kebenaran yang dimuat oleh teks lain. Strategi ini bisa kita lihat dalam beberapa ayat Alquran dan Bibel. Alquran misalnya, dalam beberapa hal, cenderung membenarkan dirinya dan menutupi kebenaran Bibel, demikian sebaliknya. Kebenaran sebuah teks akan dianggap tidak benar oleh teks lain, dan seterusnya. Sehingga kebenaran obyektif sebuah teks (termasuk kesuciannya) sifatnya sangat partikular dan relatif, tidak universal.

Oleh karena itu, bagi Ali Harb, pembaca teks mesti memahami strategi tersebut. Di sinilah pembaca harus bisa membaca di balik apa yang belum terbaca, yang belum terkomunikasikan dalam teks yang dibacanya. Supaya bisa mendapatkan maksud dan makna teks yang sebenarnya. Membaca dengan model demikian adalah sistem baca yang hidup, karena mencoba meraba apa-apa yang belum terungkap dalam teks.

Di sinilah pentingnya kritik teks. Sebab, pembenaran dari internal teks Alquran yang mengaku dirinya berasal dari Tuhan tersebut telah menyebabkan umat Islam menempatkan Alquran pada wilayah teologis, dengan menggambarkan Alquran sebagai sesuatu yang sakral, mutlak, transenden, dan seakan tidak ada hubungan apapun dengan realitas kesejarahan manusia, sehingga siapa yang berani melakukan kritik berarti meragukan Alquran. Nalar demikian inilah yang membuat Alquran menjadi sesuatu yang tak terpikirkan (unthought, Mohammed Arkoun: 2002).

Kalau dirunut akar persoalannya, kenapa ortodoksi Islam bisa terjadi? Semua itu tidak lepas dari studi Alquran yang hanya terfokus pada ranah normativitas dengan menjadikan Alquran sebagai wahyu yang mutlak. Padahal, studi normativitas agak mengesampingkan aspek historisitas.

Di sinilah, signifikansi studi kritik Alquran untuk menggeser mainstream nalar umat Islam yang menempatkan Alquran hanya sebatas studi normativitas (wilayah teologis-dogmatis) menuju studi historisitas (dekonstruktif). 

Dekonstrusi teks adalah membaca realitas di balik teks, dari mulai kehadiran teks hingga ideologi yang dikandungnya. Sebab, setiap teks itu hadir bukan bebas nilai dan tanpa konteks, tapi teks hadir sangat berkelindan dengan konteks dan kepentingan situasi historis pengarangnya. Buktinya, teks Alquran itu berbahasa Arab, karena ia berkelindan dengan realitas dan lokalitas Arab 14 abad silam dan juga kepentingan Muhammad sebagai orang yang melafadzkan Alquran.

Pertama kali yang perlu dicatat adalah bahwa Alquran kini berupa teks, dan sebagaimana petuah teori linguistik bahwa kehadiran teks itu disertai dengan matinya sang pengarang. Dan teks sepenuhnya menjadi milik pembaca. Pembacalah yang menentukan nasib teks. Dalam kondisi demikian, nasib teks tergantung pada si pembaca, karena pembaca adalah panglima di hadapan teks.

Dalam hal ini, Mohammed Abed al-Jabiry menawarkan tiga jenis pendekatan yang memungkinkan tingkat objektivismenya dalam mengkaji teks: Pertama, metode strukturalisme. Metode ini melihat teks apa adanya dengan meletakkannya sebagai korpus, satu kesatuan sistem. Pertamakali yang perlu dilakukan adalah melokalisir pemikiran produsen teks (penulis, sekte atau aliran pemikiran tertentu) pada satu fokus.

Dalam kerangka problematika ini mencakup berbagai perubahan yang menggerakkan dan membatasi pemikiran produsen teks. Oleh karena itu, makna tidak bisa ditangkap sebelum membaca ungkapan yang merepresentasikan sebuah makna. Dan itu hanya dapat ditangkap melalui pembacaan terhadap teks.

Kedua, analisa historis. Pendekatan ini berupaya menghubungkan pemikiran pemilik teks dengan kondisi sejarahnya, budaya, politik, dan seterusnya. Hal ini penting, setidaknya dua hal: keharusan memahami historisitas dan genealogi pemikiran dengan keharusan menguji validitas dan kebenaran logis konklusi pendekatan strukturalis.

Ketiga, kritik ideologi. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengungkap fungsi ideologis, fungsi sosial politik yang dikandungnya, atau yang sengaja dibebankan pada sebuah teks dalam sistem pemikiran (episteme) tertentu. Menyingkap fungsi ideologi sebuah teks adalah jalan untuk menjadikan teks itu kontekstual dan dapat clear diposisikan dalam konteks sejarah tertentu (Mohammed Abed al-Jabiry: 2000).

Apa muatan kepentingan di balik munculnya teks-teks yang “truth claim” tersebut? Jelas untuk menjustifikasi dirinya supaya bisa mendapat tempat di hati umat. Dan bukankah hal semacam itu sudah menjadi kebiasaan dalam tradisi Arab. Jangankan dengan agama lain, dengan sesama umat Islam yang hanya berbeda suku pun saling bertengkar dan mencari justifikasi teologis melalui teks-teks keagamaan.

Kita tentu masih ingat dengan kampanye pembacaan Alquran dengan dialek Quraisy oleh para sahabat keturunan Quraisy seperti yang dilakukan Abu bakar dan Umar ibn Khattab? Sahabat Umar, misalnya, pernah menolak bacaan Alquran model Abdullah Ibn Mas’ud yang membaca surat as-Shaffat ‘atta hiini (dengan memakai ‘ain dalam dialek Hudzail) yang berarti khatta hiini (dengan memakai kha dalam dialek Quraisy).

Kenapa Umar menolak bacaan Alquran dengan dialek selain Quraisy? Karena menurut Umar, Alquran itu diturunkan dengan menggunakan dialek Quraisy. Padahal Nabi Muhammad sendiri pernah mengatakan bahwa “Sesungguhnya Alquran itu diturunkan alam tujuh huruf. Bacalah diantara tujuh huruf itu yang mudah.” Kenapa Umar menuntut Ibn Mas’ud untuk membaca Alquran dengan dialek Quraisy? Tuntutan Umar itu tentu ada kepentingannya, yakni untuk mempertahankan hegemoni dan dominasi suku Quraisy atas suku-suku Arab lain.

Artinya, penggunggulan kelompok (dan dalam lingkup luas adalah agama) atas yang kelompok lain adalah tradisi yang sudah mengakar kuat di Arab. Dan Islam pada dasarnya ingin merubah kondisi ini, tapi kita dalam membaca teks-teks keislaman (termasuk ayat “truth claim tersebut) terkadang kurang kritis dan hanya melihat permukaan teks saja. Maka, dengan spirit Islam yang ingin membebaskan umat dari semangat kelompok inilah yang kita ambil. Karena itu, dekonstruksi atas teks “truth claim” tersebut adalah sesuatu yang harus dilakukan.

Membongkar teks bermaksud untuk mengembalikan elan-vital agama sebagai fondasi kebangunan peradaban yang damai, demokratis, santun, membebaskan dan berkeadilan. Sebab dengan membaca teks secara dekonstruktif tersebut kita bisa mendapati pemahaman yang jernih atas teks supaya bisa kontekstual dan dapat clear untuk diposisikan dalam konteks sejarah tertentu.

Kalau tidak, maka agama-agama tidak bakal bisa memberi kontribusi bagi peradaban manusia. Agama-agama justru malah hanya menjadi mesin yang memproduksi manusia-manusia kerdil yang hanya menyuruh umatnya untuk menebas leher umat agama lain. Sehingga umat tidak sangggup melakukan transformasi dan pembebasan dalam menghadapi problematika kehidupan.

Karena berbicara agama tidak lepas dari teks-teks keagamaan, maka ekspresi keberagamaan adalah sama dengan kerja penafsiran atas teks-teks keagamaan, sehingga sistem baca atas teks menjadi sangat penting. Dus, karena teks-teks keagamaan itulah yang mengkonstruk nalar umat beragama sehingga apa-apa yang dipesankan oleh teks-teks keagamaan tersebut kemudian dilakukan oleh umat, maka membaca teks-teks keagamaan mesti dilakukan secara kritis. Dan kritik tak terhindarkan lagi.

Namun, jangan salah paham. Kritik bukan untuk menghancurkan, tapi untuk melihat celahan yang ada pada sebuah teks supaya bisa clear dalam konteks. Bahkan dalam hal tertentu, kritik adalah sebuah bentuk perhatian kepada obyek yang kita kritisi itu supaya penampakannya lebih baik.

Karena kebenaran teks sangat relatif, maka kita mesti bisa memilah dan memilih mana teks yang universal dan transformatif untuk kita pegang dan mana teks yang sektarian dan diskrimiantif untuk kita istirahatkan (pahami teori nasakh berbalik Mahmud M. Taha).

Artinya, dengan metode dekonstruksi teks, kita bisa mengambil kaidah positif dari Alquran seperti kaidah keadilan, pembebasan, dst., dan tidak mengambil kaidah negatif dari Alquran seperti kaidah jihad pakai pedang untuk membunuh sesama manusia hanya karena berbeda agama, kaidah waris yang bias gender, dst. (Ulil Abshar-Abdalla: 2002).

Metode dekonstruksi teks Alquran juga ditujukan untuk menjawab tantangan realitas kekinian. Sebab, sebagaimana dipahami, bahwa dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, di mana dunia tidak punya sekat, interaksi antarmanusia terjadi setiap saat. Dalam kondisi masyarakat demikian, maka wajib adanya perhormatan kebebasan sipil (civil liberties), Hak Asasi Manusia (HAM), kebebasan ekspresi beragama, dan kesetaraan gender. Semua itu butuh perhatian kita, umat beragama.

Tak hanya itu, umat beragama mesti bahu-membahu menguatkan demokrasi, civil society, mengentaskan kemiskinan, memerangi terorisme, melawan hegemoni/dominasi Barat, supaya tercipta sistem dunia yang adil dan setara. Di sinilah dibutuhkan karakter keberagamaan yang membebaskan, tranformatif, multikultural, dan tidak terkotak-kotak dalam perspektif agama tertentu (Abdullahi Ahmed an-Na’im: 1994 & Farid Essack: 1993).

Di situlah pentingnya kritik Alquran dengan membongkar sejarah pembukuan teks Alquran yang disinyalir sarat muatan politis itu. Beberapa pemikir muslim yang sudah konsentrasi pada kritik teks selain al-Jabiry adalah Mohammed Arkoun (Dekonstruksi Teks & Pewahyuan), Nasr Hamid Abu-Zayd (Kritik Teks & Ulumul Qur’an), Muhammad Shahrur (Tafsir Intratekstualitas), Mahmud M. Taha & Abdullahi Ahmed An-Na’im (Tafsir Mistis & Evolusi Legislasi Islam), dan Ali Harb (Kritik Nalar & Kritik Teks).

Kita memahami, bahwa agenda-agenda tersebut tidak ringan dan mungkin agak susah bagi umat beragama karena mereka sudah mempunyai agenda masing-masing sebagaimana tertuang dalam teks-teks keagamaannya. Karena itulah, semestinya umat beragama berani melakukan dekonstruksi dan liberasi teks-teks keagamaan, bukannya membebek pada teks tanpa kritik dan reserve. Kalau semua itu tidak dilakukan, maka agama akan kehilangan medan gumulnya, yakni umat dan alam. Wassalam.<div align="center">***</div>

M. Kholidul Adib Ach., Pemimpin Redaksi Jurnal Justisia Fakultas Syari’ah dan Koordinator Menteri Departemen Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) BEM IAIN Walisongo Semarang. 

Sumanto Al Qurtuby, Redaktur Eksekutif Jurnal Justisia Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang dan alumnus UKSW-Salatiga.
-----

Posted by M. Kholidul Adib Ach & Sumanto  on  07/26  at  07:07 AM

Sumanto Al-Qurtubi, menulis…

Beberapa ayat patut disebut di sini, antara lain, “Barang siapa yang memeluk selain agama Islam, maka tidak akan diterima agama itu, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi” (Q.S. 3/85). ….

Di mana sih letak ambiguitas ayat ini? Semua orang tahu dan semua agama mengajarkan bahwa ajaran agamanyalah yang benar! Pemeluk agama harus meyakini secara fundamental (mendasar) bahwa ajaran agamanya adalah benar.

Kalau Allah mengatakan demikian, apakah terjadi salah ucap? [astaghfirullah… saya tak bermaksud menyalahkan Tuhan]. Apakah Allah yang ‘huwal awwalu wal akhiru’ dan ‘alimul ghaib’; tidak memiliki bukti, hujjah, kolot, gegabah, egois, eksklusif, dan semacamnya?? [astaghfirullah ‘adzim… saya tak bermaksud ‘memanusiakan’ Tuhan].

Pertanyaan saya: Apakah ayat itu salah? Atau… Apakah pembuat ayat itu yang salah? Orang beragama diibaratkan orang yang memakai baju. Di antaranya ada yang suka pilih-pilih pakai baju sampai bingung sendiri… akhirnya memilih untuk tidak pakai baju!

Selanjutnya dituliskan juga … Kemudian ayat, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik akan berada di neraka Jahanam dan kekal didalamnya, mereka adalah seburuk-buruk makhluk” (Q.S. 98/7). Juga ayat Alquran yang begitu populer, “Orang-orang Yahudi dan Kristen takkan pernah rela sebelum kalian mengikuti agama mereka”. Ayat inilah yang memberi inspirasi kepada sebagian umat Islam untuk menjaga jarak dan antipati terhadap --istilah mereka-- kaum “salibis” dan “zionis”. Ayat-ayat ini juga yang dipakai sebagai dasar teologis rezim fundamentalis Islam di negara-negara berbasis Muslim untuk melakukan tindakan kekerasan seperti ethnic cleansing dan konfrontasi terhadap orang-orang Kristen dan Yahudi dan non-Muslim lain.

Kasih contohnya dong… Mana yang “etnic cleansing” dan mana yang pertahanan diri? Kok sepertinya Tuhan itu jadi “provokator” di mata penulis? Coba baca terjemahan ayat [ini hanya terjemahan, jadi bukan ayatnya] berikut. Sesungguhnya kamu akan dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik [QS. 5: 82]. Atau juga baca ayat 118-120 surat Ali ‘Imran. Bagaimana dengan QS al-Anfal: 30?? Apakah itu juga berita-berita bohong?

Mohon tanggapan balik! [cuman pingin tahu kejujurannya saja].

Posted by Wahyudin  on  07/15  at  04:07 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq