Membumikan Gagasan “Civil Islam” - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
04/08/2010

Membumikan Gagasan “Civil Islam”

Oleh Sumanto Al Qurtuby

Di tengah maraknya gerakan “uncivil Islam” yang anti-demokrasi, anti-minoritas, dan anti-pluralisme dewasa ini seperti dilakukan oleh kaum Salafi-Wahabi, dan di tengah berbagai aksi “kekerasan berbaju agama” yang dilakukan secara istiqamah oleh kelompok “Islam ekstrim”, maka umat Islam harus bersatu membangkitkan sekaligus membumikan gagasan “civil Islam” yang demokratis, toleran-pluralis, damai, inklusif, serta peka terhadap kemajemukan bangsa. 

Civil Islam, sebuah istilah yang dipopulerkan oleh antropolog dan Indonesianis dari Boston University, Robert W. Hefner dalam buku Civil Islam: Muslims and Democratizations in Indonesia. Istilah ini mengacu pada kaum Muslim atau varian keislaman yang memiliki karakteristik toleran, pluralis, peaceful, sekuler, liberal, demokratis, inklusif, humanis, pro-perubahan sosial, serta menjunjung tinggi nilai-nilai “keadaban” (civility).  Di Barat khususnya, banyak yang tidak percaya terhadap gagasan dan fenomena “civil Islam” ala Hefner ini. Di dunia akademik Barat, literatur-literatur yang menempatkan Islam “secara positif” atau ide-ide tentang “Islam yang civil” memang kalah populer dengan pemikiran-pemikiran yang memosisikan Islam dan kaum Muslim sebagai entitas kultural-politik yang jauh dari nilai-nilai keadaban (civility), kemajuan (advancement), kemodernan (modernity), dan seterusnya.

Bahkan bagi sebagian “orientalis yang tak bersahabat” dan ilmuwan sosial yang kurang simpatik terhadap sisi positif atau “civil” Islam, gagasan-gagasan demokrasi, pluralisme, feminisme, liberalisme, civil society dan lain-lain tidak akan pernah “hijrah” ke dunia Islam. Bagi mereka, ide-ide seperti ini hanya bisa tumbuh dan berkembang di negara-negara Barat yang mewarisi tradisi Pencerahan Eropa dan Helenisme Yunani. Begitulah kira-kira keyakinan para “pemikir esensialis” seperti Samuel Huntington, Bernard Lewis, John Hall, Ernest Gellner, dan masih banyak lagi.

Tidak hanya pemikir non-Muslim saja yang berpandangan eksklusif seperti ini, sosiolog Muslim Turki, Serif Mardin, juga berargumen sama. Dalam artikelnya yang sangat provokatif dan memicu perdebatan luas, “Civil Society and Islam”, Mardin mengatakan, “civil society is a Western dream, a historical aspiration” dan mimpi masyarakat Barat ini, lanjutnya, “has not become the dream of Muslim societies” kendati banyak negara-negara Muslim saat ini yang punya institusi-institusi modern seperti yang berkembang di Barat. Institusi-institusi modern itu merupakan prasyarat bagi terwujudnya negara demokrasi dan civil governance (Mardin dalam Hall 1995: 278-296).

Lebih lanjut Mardin menegaskan bahwa gagasan civil society, demokrasi, dan “Islam yang civil” itu susah tumbuh di dunia Islam sebab masyarakat Muslim adalah pewaris “a collective memory of a total culture which once provided a ‘civilized’ life of a tone different from that of the West”. Nilai-nilai inti kebudayaan Islam itu, tegas Mardin, bukan otonomi, independensi, dan self-determination seperti di Barat, tapi “faithful adherence to an awesome revelation”. Karena itu, ia tak bisa dijadikan sebagai basis membangun masyarakat egaliter yang bertumpu pada sistem demokrasi dan kultur kewargaan (citizenship).

Berbeda dengan gagasan para “pemikir esensialis” di atas, Robert Hefner dan sejumlah ilmuwan sosial seperti Chris Hann, Dale Eickleman, James Piscatori, John Esposito, Augustus Norton, Jenny White, Asef Bayat, dan lain-lain berargumen bahwa—dengan merujuk pada berbagai studi tentang politik Muslim dan civic culture—dunia Islam telah mengalami kemajuan signifikan dan perubahan sosial yang sangat penting dalam ide-ide demokrasi, civic pluralism, citizenship, feminisme, dan lain-lain. Singkatnya, “civil Islam” itu ada. Oleh karena itu, bagi mereka, menggunakan ide-ide klasik Weberian yang “pesimistik” terhadap Islam dan dunia politik Muslim—sebuah gagasan yang kemudian dikritik dan diulas dengan baik oleh Bryan S. Turner dalam Weber and Islam: A Critical Study—untuk mengkaji perkembangan wacana kepolitikan dan kebudayaan Islam kontemporer akan misleading dan tidak akurat.

Memang agama—tak terkecuali Islam—selain memiliki “sisi negatif” atau “dimensi uncivil” yang tidak demokratis, anti-pluralisme serta bisa mengispirasi lahirnya tindakan kejahatan kemanusiaan, terorisme, dan kekerasan, juga memuat aspek-aspek positif dan “civil” yang bisa dijadikan sebagai “basis teologis” untuk mewujudkan gagasan keagamaan (keislaman) yang demokratis, toleran-pluralis, peaceful. Ini bisa dijadikan sebagai dasar membangun hubungan antar dan intra agama yang lebih sehat, dinamis, berkualitas, dan manusiawi.

Richard Solomon, Presiden the United States Institute of Peace (USIP) yang berbasis di Washington, D.C. suatu saat pernah berkata: ”While religion can and does contribute to violent conflict, it also can be powerful factor in the struggle for peace and reconciliation”. Pernyataan ini sekedar untuk menegaskan watak “ambiguitas” agama atau apa yang oleh sejarawan Scott Appleby disebut “the ambivalence of the sacred.” Satu sisi agama bisa dijadikan sebagai sumber kekerasan, perang, kebencian, permusuhan, intoleransi, tapi pada saat yang sama ia juga bisa dijadikan sebagai medium untuk menggerakkan demokrasi, pluralisme, perdamaian, cinta-kasih, harmoni, dan aksi-aksi kemanusiaan lintas-budaya dan agama. Agama bisa berperan sebagai “faktor pembelah” yang mengerikan tetapi juga bisa berfungsi sebagai “elemen pemersatu” yang powerful atas kelompok-kelompok agama yang terbelah dan tercerai-berai akibat perang dan kekerasan.

Agama bisa melahirkan tindakan kemanusiaan yang positif dan “civil” karena ia bisa menjadi “sumber makna dan kebijakan” bagi pemeluknya. Agama menanamkan pada para pengikutnya apa yang oleh antropolog Clifford Geertz disebut “vitalitas moral” yang hadir karena manusia yakin dan komitmen pada esensi “Realitas yang fundamental.” Keyakinan pada “Realitas yang fundamental” inilah yang menjadikan agama bisa menjadi “sumber makna” bagi pemeluknya yang diharapkan mampu menjadi kekuatan penggerak aksi-aksi kemanusiaan yang berbudaya dan beradab. Selain itu, agama juga berisi ajaran, doktrin, teks, dan simbol-simbol yang positif dan mencerahkan, sehingga bisa dijadikan “common values” dan basis untuk membangun dialog peradaban antar kemanusiaan yang kondusif dan prospektif. 

Di tengah maraknya gerakan “uncivil Islam” yang anti-demokrasi, anti-minoritas, dan anti-pluralisme dewasa ini seperti dilakukan oleh kaum Salafi-Wahabi, dan di tengah berbagai aksi “kekerasan berbaju agama” yang dilakukan secara istiqamah oleh kelompok “Islam ekstrim”, maka umat Islam harus bersatu membangkitkan sekaligus membumikan gagasan “civil Islam” yang demokratis, toleran-pluralis, damai, inklusif, serta peka terhadap kemajemukan bangsa. Kaum Muslim yang mempercayai agamanya sebagai “rahmat bagi seluruh alam” dan bukan “bencana bagi manusia”, harus bangkit menggerakkan gagasan dan wacana “civil Islam” ini guna membendung laju gerakan “uncivil Islam” yang ditebarkan kaum militan agama.

Umat Islam tidak bisa hanya berpangku tangan dan cuma mengutuk di depan TV aneka kekerasan dan tindakan anti-pluralisme dan anti-minoritas yang dilakukan kelompok militan-puritan yang marak di Indonesia. Kita harus bergerak dan maju ke muka melawan tindakan ekstrimisme berbaju agama ini. Tentu saja perlawanan itu harus dilakukan dengan cara-cara beradab, damai, dan tanpa kekerasan. Hanya dengan mempraktekkan jenis keislaman yang “civil” inilah, citra dan komitmen Islam sebagai agama “rahmatan lil alamin” yang menghargai pluralistas dan pro-minoritas akan tetap lestari di bumi persada ini.

04/08/2010 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Andaikan ingin persatuan, dibutuhkan keberanian, keikhlasan dan kesungguhan total umat beragama dan umat yang percaya Tuhan untuk mau dan ikhlas membaca kebenaran Tuhan yang ada dalam realitas kehidupan ini sebab logikanya kebenaran Tuhan tentunya hanya satu, universal dan abadi dan itu ada dalam realitas kehidupan ini, dalam realitas kesadaran.

Posted by heru  on  09/07  at  12:01 AM

kenapa baru sekarang kita berbicara civil islam. padahal sejara sudah pernah ada ketika zaman rasulullah. lantas apa sekarang yang ingin kita lakukan. membuat baru....memperbaiki yang sudah ada,,,,, atau merubahnya… tapi kita harus ingat. kita belum pasti lebih baik dengan para masyarakat muslim sebelumnya..

Posted by kahar  on  09/03  at  09:53 PM

Gagasan Islam menuju civil society hanya bisa terwujud jika umat Islam bisa menyadari bahwa tidak ada yang sempurna selain Allah.

Islam, agama Allah sebagaimana agama Allah lainnya seperti Yahudi, Kristen dan lain-2 tidaklah sempurna.

Qur’an mengajarkan bahwa agama samawi para nabi itu mengalami kedaluarsa sehingga harus digantikan oleh agama baru yang dibawa nabi baru.
Islam tidak berbeda dengan agama-2 samawi lainnya, akan tiba saatnya kedaluarsa, manakala teks-2 ajarannya sudah semakin jauh dari manfaat bagi masyarakat dan kemanusiaan.

Keterikatan dengan teks lama hanya akan menegaskan kematian Islam. Islam hanya bisa eksis manakala Islam melahirkan ajaran baru yang bermanfaat bagi masyarakat dan kemanusiaan.

Di masa lalu peran itu dilakukan oleh nabi yang ditunjuk Allah, tetapi sekarang tidak ada lagi nabi baru yang akan turun. Allah telah menyapih kita, dengan menegaskan bahwa Muhammad adalah nabi terakhir dan Islam adalah agama terakhir. Tetapi bukan berarti kebutuhan akan agama baru akan berhenti.

Allah telah menjadikan kita sabagai khalifah diatas bumi, maka sekarang adalah tugas kita secara kolektif untuk melahirkan agama baru dengan bekal teks-2 Islam yang ada dan kepercayaan kita atas sebuah agama hanif yang berlanjut dari Yahudi, Kristen, Islam dan Agama baru yang harus kita bentuk bersama.

Posted by Harun  on  08/22  at  07:24 AM

Alloh mencipatkan alam semesta ini tentu disertai petunjuk buat manusia untuk memakmurkan bumi sampai kiamat menghancurkan bumi ini. Petunjuk itulah yang dibawa Nabi Muhammad.Dus,Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW adalah petunjuk manusia yang sudah final. Jadi tidak perlu “diotak-atik” oleh manusia. Kalau umat islam saat ini posisinya dibawah, kalah segalanya dengan umat non musilm, bukan berarti islam sebagai way of life itu salah sebagaimana interpretasi saudara kita JIL and its disciples. Kalau JIL melihat kondisi umat Islam saat ini tidaklah fair. Lihatlah sejarah kejayaan Islam sebelumnya. Dunia saat itu damai, tidak genocide, pemaksaan beragama dsb. Bangsa Eropapun berguru dari peradaban Islam sehingga mereka maju seperti saat ini.
Tapi lihatlah bagaimana peradaban Eropa yang tanpa mengikuti petunjuk Alloh setelah umat islam melemah? Apakah Peradaban disanjung-sanjung oleh teman-teman JIL and its followers mampu membuat dunia damai dan sejahtera?
Lihatlah mereka menjajah negeri-negeri lain demi kemajuan mereka. Lihatlah mereka menggobarkan perang dan genocide. Apakah mereka tidak melanggar HAM? Tapi mereka sekarang seolah-olah pembela HAM nomer satu.
Lalu Siapa yang menciptakan dam terlibat Perang dunia I dan II karena nafsu serakah mereka. Siapa yang pertama menggunakan bom pemusnah massal untuk menghancurkan Hirosima dan Nagasaki? Setelah itu, siapa yang suka menyerang negara lain, chili lybia, Afganistan dan Irak. Negara mana yang paling pendendam? WTC memang runtuh menewaskan 3000. Tapi mereka menyerang Afganistan dan IraK sehingga kedua negeri tersebut hancur lebur.
Dari segi ekonomi, mereka memaksakan negara-negara lain mengikuti paham liberal mereka sehingga hancurlah negeri Indonesia tercinta. Sumberdaya alam memang masih milik bangsa Indonesia tetapi mereka yang menguasainya. Mereka pun tidak fair. Lihatlah kesepakatan dalam pergagangan dunia WTO? Negara majulah yang diuntungkan.
So, itulah yang diinginkan teman-teman JIL?

Posted by perkasa  on  08/18  at  07:01 PM

jangan biarkan diri kita terjebak dalam truth claim yang berlebihan yang pada akhirnya akan menumbuhkan sikap fanatik yang ekstrim,membangun tembok baja antara ‘kami’ dan ‘mereka’.kamilah yang benar dan mereka lah yang salah. kalau sudah begitu mustahil persatuan akan terwujud ‘’’’’
repot atuh akang kalau sudah begitu !!!!

Posted by taufiq  on  08/18  at  11:42 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq