Memikirkan Kembali Sikap Keberagaman Kita - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
15/12/2001

Renungan Iedul Fitri 1422 H Memikirkan Kembali Sikap Keberagaman Kita

Oleh Luthfi Assyaukanie

Hari raya ini adalah momentum yang tepat bagi kita semua untuk memposisikan diri kita masing-masing, apakah kita seorang muslim yang dewasa, yang matang, yang tidak terpengaruh oleh isu-isu politik murahan. Marilah kita jadikan hari raya ini sebagai tonggak kehidupan kita di masa depan yang lebih jujur, adil, dan terhormat.

Pada pagi 1 Syawal 1422 H ini, sekitar satu miliar muslim di seluruh dunia berkumpul di mesjid-mesjid dan di tempat-tempat lapang, untuk menyambut hari yang amat penting dalam salah satu episode kehidupan mereka. Hari raya Iedul Fitri, bagi umat Islam, bukan hanya sekadar hari bersenang-senang dan merayakan kegembiraan, tapi hari itu juga merupakan tanda bagi lembar kehidupan mereka yang baru.

Hari raya Iedul Fitri bukan hanya momen untuk kita berpakaian baru dan merasakan keakraban baru. Tapi, lebih dari itu, hari raya Iedul Fitri adalah momen untuk kita melihat kembali sejarah hidup kita selama satu tahun ke belakang. Hari raya Iedul Fitri adalah sebuah buku harian yang melaluinya kita membuka catatan-catatan masa lalu kita, untuk kita baca, kita renungkan, dan kita ambil hikmahnya. Iedul Fitri adalah tonggak bagi kita semua untuk me-review atau melihat kembali segala perbuatan dan aktivitas kita di masa silam, untuk kemudian memulai kehidupan baru yang lebih baik dan lebih membahagiakan di masa depan.

Perilaku Menjengkelkan. Salah satu review yang akan kita lakukan pada hari yang mulia ini adalah menyangkut sikap dan cara keberagamaan kita selama ini yang berimplikasi pada kehidupan sosial kita, pada pergaulan kita sehari-hari, dan bahkan pada kondisi sosial, ekonomi dan politik negara kita. Mungkin ada di antara saudara-saudara yang bertanya, bagaimana mungkin sikap keberagamaan seseorang dapat mempengaruhi kondisi ekonomi-politik sebuah negara? Bukankah cara beragama itu urusan privat (individu) sedangkan persoalan ekonomi-politik adalah urusan publik (masyarakat luas)?

Perilaku keberagamaan pada dasarnya adalah urusan individual, karena menyangkut hubungan antara seseorang dengan Tuhannya. Tapi, ketika perilaku keberagamaan ini telah disusupi dengan kepentingan-kepentingan tertentu dan dimaknai dengan tafsir-tafsir tertentu, maka urusannya bukan lagi menjadi urusan privat, urusan antara manusia dengan Tuhannya, tetapi telah menjadi urusan publik, urusan yang berimplikasi pada tatanan sosial yang luas.

Saya ingin memberi satu contoh kecil saja dari perilaku keagamaan yang meskipun tampak sepele tapi mempunyai dampak ekonomi politik yang cukup besar. Beberapa waktu lalu, ketika isu rencana aksi serangan Amerika Serikat ke Afghanistan merebak, sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai pembela Islam berencana melakukan sweeping (pembersihan) terhadap warga asing. Orang-orang ini meyakini betul bahwa perbuatan mereka didukung oleh ajaran Islam. Mereka menyitir dan mengeksploitasi dalil-dalil agama (Alquran dan Hadis) untuk membenarkan rencana kekerasan yang akan mereka lakukan.

Kendati tindakan sweeping itu tak sempat terjadi, tapi sikap semacam itu sangat fatal akibatnya, bukan hanya bagi citra Islam yang tercemar akibat diidentikkan dengan kekerasan, tapi juga bagi kondisi ekonomi-politik negeri kita. Kita tahu, setelah ancaman itu, pemerintah AS tak lama kemudian melarang warganya mengunjungi Indonesia dan melarang para investornya menanamkan modalnya di negeri ini. Akibatnya, bukan hanya investor Amerika saja yang takut untuk menanam modalnya di sini, tapi juga para investor dan turis asing lainnya, takut berkunjung ke negeri ini.

Bagi yang tidak mengerti persoalan ekonomi dengan baik, peristiwa semacam itu mungkin tak terlalu berarti. Tapi bagi para ahli ekonomi yang bergelut dan berusaha mengatasi krisis berkepanjangan negeri ini, “sikap keberagamaan” semacam itu pastilah sangat menjengkelkan. Apalagi Indonesia saat ini sangat memerlukan bantuan luar negeri untuk menopang kehidupan ekonominya yang sudah bangkrut. Ini hanyalah contoh kecil saja dari sikap-sikap keberagamaan umat Islam yang tampaknya sepele tapi memiliki implikasi yang sangat besar bagi kehidupan sosial-politik kita.

Penafsiran Harfiah. Sikap-sikap keberagamaan yang keliru muncul dari penafsiran dan pemahaman terhadap agama yang keliru. Kita selalu menganggap bahwa Islam adalah agama perdamaian, agama yang menebarkan kasih-sayang bagi siapa saja, agama yang memiliki Tuhan dengan sifat rahman dan rahim, tapi sayangnya, pada saat yang sama, kita menampakkan wajah Islam yang angker, yang keras, yang berdarah-darah, seolah kita ingin membenarkan tuduhan media Barat selama ini bahwa Islam identik dengan terorisme, bahwa Islam identik dengan kekerasan.

Gejala kekerasan yang mengatasnamakan agama tak hanya berlaku pada sikap-sikap anti-Amerika pasca peristiwa 11 September. Beberapa kasus pengeboman yang terjadi akhir-akhir ini di Jakarta maupun daerah lainnya, patut disayangkan, juga mengatasnamakan Islam. Semangat puritanisme agama yang cenderung merusak tatanan hidup, seperti perusakan terhadap kepentingan umum, jalan-jalan, dan gedung pendidikan, merupakan cerminan keputusasaan dan kehancuran moralitas umat beragama.

Perbuatan itu, selain bertentangan dengan aturan dan undang-undang yang berlaku di negeri ini, juga bertentangan dengan semangat ajaran Islam yang paling fundamental. Ketika Nabi Muhammad s.a.w ditanya para sahabatnya tentang siapakah orang yang disebut muslim, Nabi menjawab:

Orang muslim adalah orang yang dapat memberikan keselamatan kepada orang lain baik dari tangan maupun lidahnya. Orang mukmin adalah orang yang dapat menjaga harta dan jiwa orang lain. (HR. Ahmad).

Janganlah Anda mengaku sebagai seorang muslim jika orang lain terancam dengan keberadaan Anda, dan janganlah Anda mengaku sebagai seorang muslim jika Anda masih merusak jalan, pohon, rumah ibadah, gedung sekolah, dan kepentingan-kepentingan umum lainnya.

Kita selalu dianjurkan untuk memahami agama dengan benar. Kita diperintahkan agar jangan mengikuti seseorang tanpa kita mengetahui secara pasti kapabilitas dan integritas keilmuannya. Seorang muslim sejati bukanlah diukur dari pakaian yang dikenakannya, atau dengan sorban dan ikat kepalanya. Islam tak berurusan dengan pakaian, Islam tak berurusan dengan jenggot, dengan sorban, dan dengan aksesori-aksesori kesalihan yang dimaksudkan agar para pemakainya dihormati atau disegani.

Kebodohan dan kekeliruan sering bersembunyi di balik busana. Ketakwaan dan kesalihan sering disalahpahami dengan mengaitkannya dengan pakaian. Seseorang akan dianggap salih kalau dia memakai “baju tertentu” yang dibelinya dari toko busana muslim. Karena salah persepsi ini, para artis dan selebritis berbondong-bondong mengenakan jilbab atau busana muslim agar dianggap lebih islami dan lebih salih. Kesalihan dan ketakwaan dipahami benar-benar secara literal dan formal. Orang yang tidak mengenakan pakaian khusus dianggap kurang Islami atau kurang pintar ilmu agamanya, padahal kesalihan dan kepintaran tak ada sangkut-pautnya dengan pakaian.

Praktik beragama dan pemahaman keagamaan yang literal atau harfiah semacam itu, sangat berbahaya jika terus didiamkan. Pada tingkat pakaian, malapetaka itu mungkin belum terlihat, tapi pada tingkat yang lebih jauh, pemahaman-pemahaman literal dapat menjerumuskan sebuah bangsa kepada kekacauan dan kebangkrutan.

Saya ingin mengambil Afghanistan sebagai contoh sebuah negara yang bangkrut akibat pemahaman Islam yang literal-formalistik. Penguasa Taliban yang memaksakan kehendak mereka untuk menerapkan Islam Literal terbukti tak cukup kuat untuk bertahan lebih lama lagi, karena diprotes dan dikecam oleh masyarakatnya sendiri maupun oleh dunia internasional. Terlepas dari tindakan brutal Amerika Serikat yang membombardir kekuatan mereka, Islam Taliban adalah sebuah jenis Islam Literal yang berbahaya jika diterapkan.

Kita bisa menyaksikan bagaimana Talibanisme melakukan represi dan kekerasan kepada warganya sendiri yang nota bene kaum muslim juga. Dengan mengatasnamakan Islam, mereka mengharamkan hampir semua aspek kehidupan, dari TV, radio, musik, lipstik, kamera, gambar, patung, dan karya seni lainnya. Islam yang mereka pahami dan praktikkan adalah Islam yang lusuh, terbelakang, dan penuh dengan aroma darah dan kekerasan. Mereka melarang kaum wanita bekerja dan keluar rumah, mereka memaksa para wanita mengenakan burqa atau busana penutup seluruh tubuh. Kaum pria dipaksa memelihara jenggot, dan jika didapati tak berjenggot, mereka akan ditangkap dan dipenjarakan.

Pluralitas dan Keragaman. Mungkin Talibanisme adalah bentuk paling ekstrem dari pemahaman dan penerapan Islam secara literal. Kita tentu tak ingin praktik-praktik semacam itu berkeliaran di sini, di negeri ini. Karenanya, merupakan tugas kita sebagai kaum muslim terpelajar untuk selalu mengingatkan teman-teman dan masyarakat kita akan bahaya pemahaman Islam secara literal. Pemahaman Islam secara literal bukan hanya dapat menghancurkan citra Islam, tapi juga dapat membuat bangkrut sebuah sistem kehidupan sosial.

Islam mengajarkan kita untuk menyampaikan ajarannya dengan baik dan penuh kebijakan. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surah al-Nahl ayat 125. Menyampaikan Islam dengan cara-cara kekerasan bukanlah bagian dari Islam. Mengajak orang kepada kebaikan dengan cara mengancam atau merusak hak-miliknya bukanlah perbuatan Islami. Membela Islam dengan cara meneror dan merusak kepentingan umum bukanlah anjuran Islam, meskipun orang-orang yang mengajak itu “berbusana muslim,” mengenakan serban, dan mengklaim sebagai tokoh Islam.

Islam menganjurkan kita agar menyuruh manusia kepada kebaikan dan melarang mereka dari kemunkaran (amar makruf nahi munkar). Tapi kita tidak boleh menghapuskan kemunkaran dengan kemunkaran lain. Memperingatkan orang dengan cara merusak adalah kemunkaran. Mengajak orang secara paksa dan dengan kekerasan adalah bentuk lain dari kemunkaran.

Jika kita ingin membuat orang simpati kepada kita, maka hadirkanlah Islam yang menarik; Islam yang penuh mau’idzah dan hasanah. Sudah saatnya kita memahami kembali konsep-konsep agama yang selama ini merugikan kita dengan pemahaman baru yang lebih sesuai dengan semangat dasar Islam.

Kita tak mungkin menolak pluralitas atau keragaman, karena semangat dasar Islam adalah plural, seperti dinyatakan Allah dalam surah al-Hujarat ayat 13. Kita juga tak boleh menganggap diri kita paling benar, dan menganggap kita satu-satunya sebagai umat yang berhak masuk surga, sementara orang dari agama lain tak layak masuk surga. Ini jelas-jelas bertentangan dengan ajaran dasar Islam yang ada di dalam Alquran (al-Maidah: 65).

Ajaran-ajaran dasar Islam tentang pluralitas dan keragaman seperti yang dinyatakan dalam Alquran itu sangat penting untuk kita angkat kembali, khususnya di tengah kondisi sosial kita sekarang ini yang terancam konflik dan perpecahan. Jika kita meyakini bahwa Alquran adalah sumber Islam paling utama, marilah kita kembali kepada Alquran, bukan kepada ajakan dan slogan orang-orang yang mengatasnamakan Islam tapi sesungguhnya tak mengerti Islam.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak kita semua untuk berpikir jernih, berpikir dengan akal sehat yang tidak dikuasai oleh emosi dan obsesi berlebihan. Marilah kita kembali kepada semangat dasar Islam yang damai, adil, dan toleran. Marilah kita memahami Islam secara subtansial dan bukan secara literal. Marilah kita mementingkan isi dan bukan kulit, muatan dan bukan bentuk, makna dan bukan simbol.

Hari raya ini adalah momentum yang tepat bagi kita semua untuk memposisikan diri kita masing-masing, apakah kita seorang muslim yang dewasa, yang matang, yang tidak terpengaruh oleh isu-isu politik murahan. Marilah kita jadikan hari raya ini sebagai tonggak kehidupan kita di masa depan yang lebih jujur, adil, dan terhormat.

15/12/2001 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (1)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

assalamu’alaikum Wr.Wb

Semua orang tahu bahwa agama Islam adalah agama yang paling toleran terhadap pemeluk agama dan kepercayaan lain. Seseorang tidak boleh dipaksa masuk ke dalam agama Islam, bila dia tidak mau. Dalam sejarah belum pernah terjadi, ada orang masuk Islam karena dipaksa, diancam atau diintimidasi. Sebab dalam pandangan Islam, setiap orang wajib dihormati kebebasannya dalam menentukan jalan hidupnya.

Bahkan seorang Abu Thalib yang merupakan paman nabi Muhammad SAW sendiri, tidak bisa dipaksa masuk Islam. Padahal dia telah mengasuh, mendidik, melindungi dan membesarkan seorang nabi. Sejarah mencatat bahwa Abu Thalib mati dalam agama yang bukan Islam. Sementara Rasulullah SAW hanya mampu menghimbau, berharap dan meminta, namun keputusan akhir sepenuhnya di tangan Abu Thalib. Kalau Rasulullah SAW yang seorang nabi saja, tidak bisa memaksa masuk Islam pamannya sendiri, apatah lagi dengan kita ini.

Maka Islam dikenal oleh peradaban manusia sebagai agama yang mempelopori toleransi dan kebebasan memilih agama. Bahkan boleh jadi satu-satunya agama yang masih setia menerapkan prinsip toleransi kepada pemeluk agama lain.

Tidak ada paksaan untuk agama ; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 256)

Namun hakikat ini sering kali disalah mengerti oleh sebagian orang. Sehingga makna toleransi memilih agama kemudian dicampur aduk dengan kebebasan menafsirkan dan merumuskan Islam, meski pemahaman yang bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Padahal keduanya bertolak belakang. Merumuskan Islam dengan doktrin yang bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah, sama saja dengan merusak kesucian Islam itu sendiri. Kalau seseorang memilih untuk tidak masuk Islam, tentu 100% dia berhak bersikap demikian. Namun kalau orang sudah menyatakan diri untuk masuk agama Islam, maka otomatis dia terikat dengan semua aturan yang telah ditetapkan Islam.

Kita bisa ambil contoh sederhana. Setiap rakyat sipil tidak boleh diperlakukan secara militer, tidak boleh dipaksa berbaris, keluar masuk hutan dan taat pada komandan. Namun bila ada seorang dari rakyat masuk menjadi tentara, secara otomatis dia terikat dengan aturan-aturan yang ada di dalam dunia militer itu. Dia tidak boleh bermalas-malasan setelah menjadi tentara dengan alasan hak asasi dan kebebasan berekspresi. Kalau ada seorang tentara menyatakan diri bahwa dia tidak terikat dengan aturan yang ada di dalam kesatuannya, lalu membuat sendiri aturan militer sesuai dengan seleranya sendiri, maka wajar bila dia dianggap melakukan desersi lalu dipecat dari kemiliteran.

Kalau anda jalan-jalan ke Singapura, anda tentu terikat dengan aturan yang berlaku di negara itu. Bahkan meski pun anda hanya berkunjung sebagai turis tanpa pindah kewarganegaraan. Jangan sekali-kali gaya hidup di Indonesia anda lakukan disana. Kalau anda buang sampah sembarangan di jalan, jangan kaget kalau anda akan didenda sangat tinggi. Dan jangan coba-coba tertangkap membawa narkotika, karena anda bisa saja dihukum berat. Saat itu, anda tidak bisa berdalih bahwa Singapura tidak memberikan toleransi dan kebebasan berekspresi kepada turis asing. Sebab yang namanya peraturan adalah peraturan, siapapun yang masuk Singapura harus tahu adanya peraturan itu dan kalau tidak mau tunduk pada peraturan yang berlaku, jangan coba-coba masuk ke Singapura. Namun kalau anda buang sampah sembarangan di luar Singapura meski hanya 1 meter di luar perbatasan, silahkan saja lakukan. Yang penting anda tidak melakukannya di dalam wilayah hukum negara itu.

Demikian juga dengan Islam. Siapa pun boleh melakukan apa saja sekehendak hatinya. Mau menyembah patung, berhala, arca, keramat, yesus, kayu salib dan sebagainya, silahkan saja. Tidak mau melakukan shalat, puasa, zakat dan haji, silahkan saja. Mau telanjang, berzina dengan hewan, seks sejenis, minum khamar, judi, sabung ayam dan sebagainya, silahkan saja. Asalkan semua itu dilakukan bukan sebagai muslim. Dan jangan sekali-kali semua perbuatan kotor itu dipaksa masuk sebagai bagian dari ajaran Islam.

Maksudnya jangan sekali-kali ada seorang yang mengaku sebagai muslim mengajarkan atau membolehkan semua perkerjaan kotor dan mengatakan bahwa semua itu dibenarkan dalam Islam, dengan alasan bahwa Islam adalah agama yang toleran. Kalau demikian, maka apa beda Islam dengan tong sampah? Nanti siapapun akan datang dengan sampah dan kotoran lalu dikatakan sebagai bagian dari Islam. Islam bukan agama tong sampah.

Islam adalah sebuah paket ajaran yang terlindung dari segala hal yang dibuat-buat oleh manusia. Islam adalah wahyu suci yang turun dari Allah. Tidak ada seorang pun yang berhak menafsirkannya kecuali Rasulullah SAW, karena beliau memang ‘petugas’ yang resmi utusan dari Allah. Tugas beliau adalah menjelaskan detail ajaran yang turun dari langit itu. Semua tafsiran, pemahamana dan persepsi tentang Islam harus bersumber dan merujuk dari mulutnya. Bukan dari otak manusia atau imajinasi para aktifis liberalisme sesat itu.

Kalau para aktifis liberal itu ingin berekspresi dengan sebebas-bebasnya dan memenuhi seleranya sendiri, silahkan saja membuat agama sendiri. Buatlah kitab suci sendiri, pilihlah nabi sendiri di antara mereka, kalau perlu lewat pemilu. Susunlah buku fiqih sendiri yang independen memenuhi syahwat mereka. Dan jangan lupa untuk membeli sebidang tanah untuk dijadikan tanah suci serta aturlah waktu haji yang paling menguntungkan.

Tapi jangan sebut agama baru itu sebagai Islam. Sebut saja itu agama A atau agama B atau agama C. Terserah mau dinamakan apa saja, asal bukan Islam. Sebab nama Islam sudah ada yang punya plus sudah ada hak patennya, jangan sekali-kali membuat barang palsu lalu diberi label Islam. Ini adalah penipuan dan tindakan kriminal.

Wallahu a’lam bish-shawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
-----

Posted by teguh  on  07/24  at  10:08 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq