Menciptakan Mukjizat - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
09/07/2006

Menciptakan Mukjizat

Oleh Novriantoni

Selagi mondok di pesantren, para santri hafal betul definisi mukjizat. Biasanya, mukjizat diartikan sebagai ’amr khâriqun lil `âdah (Arab), atau perkara-perkara menakjubkan atau mencengangkan yang melampaui atau bersifat luar biasa. Agar definisinya jâmi` (meliputi apa-apa yang masuk katagori mukjizat) dan mâni` (mereduksi apa-apa yang bukan), definisi itu dikunci hanya pada ”perkara-perkara mencengangkan yang ditunjukkan oleh para nabi atau rasul saja, dengan campur-tangan dari Yang Mahakuasa”.

Selagi mondok di pesantren, para santri hafal betul definisi mukjizat. Biasanya, mukjizat diartikan sebagai ’amr khâriqun lil `âdah (Arab), atau perkara-perkara menakjubkan atau mencengangkan yang melampaui atau bersifat luar biasa. Agar definisinya jâmi` (meliputi apa-apa yang masuk katagori mukjizat) dan mâni` (mereduksi apa-apa yang bukan), definisi itu dikunci hanya pada ”perkara-perkara mencengangkan yang ditunjukkan oleh para nabi atau rasul saja, dengan campur-tangan dari Yang Mahakuasa”.

Dengan begitu, keajaiban-keajaiban yang bukan hasil kreasi para nabi atau rasul, seperti yang diperagakan tukang sihir, dukun, ataupun manusia-manusia jenius di bidangnya, dianggap bukan mukjizat. Atas dasar itulah, mukjizat dibedakan dengan sihir, sulap, tenung, atau keajaiban yang bukan bersumber dari para nabi dan rasul. 

Untuk tahu fungsi mukjizat, orang dengan gampang dapat menganalisis asal kata mukjizat itu sendiri, yaitu mu`jiz. Kata Arab mu`jiz berarti sesuatu yang melemahkan atau membuat takjub dan takluk mereka yang menjadi objek pesan yang sedang disampaikan sang penyampai (nabi atau rasul).

Konon, dengan kemampuan menghadirkan naganya ular, Musa mampu membuat takjub dan takluk para penyihir Fir’aun di era yang masih magis itu. Dengan pelbagai kemampuan di bidang terapi penyakit, Isa mampu memikat beberapa umatnya, dan menebarkan risalah kasih sayang kepada umat manusia. Konon, Alqur’an yang dianggap sebagai mukjizat terbesar Islam, hadir mencengangkan di masa-masa keemasan prestasi kepenyairan Arab di jarizah Arab, dan banyak menginspirasi jalan hidup umat Islam sampai kini.

Namun masihkah bentuk-bentuk mukjizat zaman arkaik tersebut betul-betul menakjubkan dan berfungsi bagi manusia zaman kini? Sebagian ya, sebagian tidak. Apalah artinya ular memakan ular untuk zaman kita kini; dan pesona apakah yang bisa ditebar oleh bernyawanya kembali burung yang sudah mati bila pertunjukan sirkus pun sudah dapat memamerkannya?

Dan, buat apalah huruf-huruf dan kalimat-kalimat Alqur’an bila tidak menstimulasi umatnya untuk menghadirkan mukjizat-mukjizat baru yang lebih dahsyat di zaman modern ini? Kini, dunia semakin berkembang berkat kemajuan-kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap hari, ada saja perkembangan terbaru di bidang sains dan teknologi. Di manakah letak dan kontribusi umat Islam? 

Alqur’an memang sudah sedikit-banyak berbicara soal alam raya, watak-watak dan gejala-gejala yang ditimbulkannya, seperti fenomena bintang-gemintang dan bahkan gunung-gunung dan gurun-gurun. Tapi sedikit sekali yang bisa menerjemahkan ”mukjizat saintifik” Alqur’an itu ke dalam penelitian yang mampu memahami dan menjinakkan watak bengis alam raya yang kadang-kadang muncul seketika.

Alqur’an juga secara normatif menganjurkan umat Islam untuk mencermati bagaimana si burung bisa melanglang-buana di angkasa raya, dan langit bisa terbentang tanpa tiang. Tapi hanya BJ Habibie yang mengerti bagaimana caranya burung besi mampu terbang ke hamparan angkasa. Kini terasa betul, kita membutuhkan mukjizat-mukjizat modern dari para jenius-jenius Islam yang lebih menakjubkan.

Mukjizat-mukjizat tersebut dapat saja diabdikan untuk menekan angka kematian dan menaikkan tingkat harapan hidup; mempermudah sarana transportasi dan komunikasi, serta mengantisipasi kemalangan dan dampak buruk bencana alam. Tentu masih banyak lagi fungsinya yang diharapkan.

Di sini, mukjizat dalam artian yang konvensional, seperti yang diajarkan di pesantren itu, sudah bergeser maknanya. Ia tidak hanya datang dari nabi dan rasul karena dengan begitu tidak akan ada lagi mukjizat. Sementara, dunia terus saja mengharap mukjizat.

Mukjizat di masa kini dan di sini, kita maknai sebagai segala bentuk terobosan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang oleh umat beragama dapat saja dijadikan sebagai bentuk keterpanggilannya oleh ayat-ayat kauniyyah Alqur’an, dan lebih penting lagi, diabdikan untuk sebanyak mungkin kemaslahatan manusia.

Dengan kemampuan membuat lebih banyak mukjizat itulah umat Islam akan dihargai di tingkat dunia dan kebesaran Islam dan umat Islam dapat dicapai. Selagi kita tidak dapat membuat mukjizat-mukjizat baru, kita akan tetap menjadi tumbal dari mukjizat ”burung besi” yang dipaksa terbang meski sudah tua dan renta. Tanpa kemampuan mengkreasi mukjizat-mukjizat baru dalam pelbagai lapangan kehidupan, kita akan selalu menjadi pengumpat kemurkaan alam, walau dengan niat baik menyebutnya sebagai bala atau ujian Tuhan.

Dengan kemampuan menghadirkan mukjizat dalam teknik penanggulangan gempa, misalnya, kita terbebas dari efek destruktif gempa sekaligus kecenderungan berburuk sangka kepada Allah. Rasanya, kita memang membutuhkan lebih banyak mukjizat lagi, sekalipun tidak datang dari seorang nabi atau rasul. []

09/07/2006 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (15)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Yang Mulia Bapak Novriantoni, Memang diperlukan suatu mu’jizat untuk hari ini, dan untuk itu sesuai dengan kehendak dan rencana Allah, kita wajib mengacu kepada Al Baqarah (2) ayat 148: Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri-sendiri masing-masing diantaranya rasulnya, kitabnya, aqidahnya, syariatnya, tatacara ibadahnya, muamalahnya, tempat ibadahnya dll.) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan (berpersepsi agama). Dimana saja kamu berada (diagama Buddha, Hindu, Yahudi-Nasrani, Islam dan kepercayaan lainnya)pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat kepada satu persepsi tunggal agama). Sesungguhnya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu (sesuai An Nahl (16) ayat 93). Persepsi tungal agama ini sangat dibutuhkan oleh umat manusia untuk membuktikan bahwa Allah itu Esa. Wasalam, -Soegana Gandakoesoema- Pembeharu persepsi tunggal agama millennium ke-3 masehi.
-----

Posted by Soegana Gandakoesoema, Pembaha  on  02/10  at  07:03 PM

Saya disini tidak berniat untuk memberi sumbangan pemikiran. Tapi hanya memberi acungan jempol kepada mereka (si pemberi tanggapan) yang punya selera santun dalam menyumbang pemikiran. Anda semua benar-benar membantu saya dalam menikmati suatu bacaan. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan tidak membuat kalian GE’ER kepala. Cara berdiskusi ini akan saya tampilkan dalam mading sekolah saya.

Trims…

Peace.. untuk manusia, hewan, tumbuhan

SALAM

Posted by unknown  on  07/18  at  10:08 PM

Kita tentu saja mampu untuk dengan gampang mengatakan ketidak petensial mukjizat pada zaman ini. Namun harus diketahui bahwa untuk menguraikan mukjizat bukan segampang mencari kosa katanya di kamus besar bahasa indonesia atau arab. Perlu penggalian sangat mendalam sekaligus pengurain kembali apa-apa yang di bukukan para ahli abad pertengahan.

Secara garis besar, mukjizat diuraikan menjadi dua potong besar.

1.mukjizat yang bersifat temporal murni. Potong pertama ini terlihat dalam seperti ular yang berubah menjadi kayu atau sebaliknya, atau juga emas yang berubah menjadi gundukan pasir atau sebaliknya. Bagian pertama ini tentu saja tidak lagi menarik untuk dibicarakan pada saat eksistensi temproal dan parsialnya sudah habis. Kecuali tentunya dengan metaforis yang mendalam.

2.Mukjizat yang mempunyai dua sisi. Temporal dan universal. temporal berarti bahwa ia diturunkan berdasar latar belakang tertentu dan pada masa tertentu, namun lebih dari itu juga mengandung segi universal yang antara lain tampak pada format dan redaksinya yang luar biasa, dilain saat juga menjelma dalam ruang - ruang maknanya yang bersifat rasional-universal. Dari uraian ini mungkin akan dengan mudah untuk menebak bahwa al-Qur’an merupakan contoh yang paling mudah ditarik. Namun mungkin sangat sedikit di ketahui bahwa ada lebih banyak mukjizat dengan model seperti ini dari apa yang kita bayangkan semula. Hijrah, perang uhud, badr, dan pambentukan negara madinah merupakan sebagian dari banyak contoh dari mukjizat model ini.

Hal ini memungkinkan untuk mewujudkan kembali mukjizat-mukjizat tersebut, walaupun tentu dengan nama yang berbeda. Dan inilah yang setidaknya menjadi satu dari harapan dan tujuan gelombang ketiga gerakan kaum beriman.

Posted by khaled el-Nazhif  on  07/17  at  04:07 AM

Tidak disangkal lagi bahwa mukjizat merupakan sesuatu yang luar biasa pada saat mukjizat itu diberikan pada nabi-nabi sebagai alat melemahkan lawan dan menunjukkan betapa risalah yang dibawa oleh nabi-nabi adalah benar dari Allah.

Secara umum dapat dikatakan bahwa mukjizat sebenarnya adalah teknologi tinggi yang diturunkan pada masa dimana pengetahuan masih rendah, sehingga persepsi yang terbentuk bagi yang melihatnya pada saat itu adalah sebuah keajaiban.

katakan misalnya mukjizat nabi Ibrahim yang tidak terbakar dalam api, sekarang kan ada zat yang biasa digunakan oleh pasukan pemadam kebakaran agar tahan terhadap panasnya api. atau mukjizat nabi Musa membelah laut, sekarang kan sudah ada terowongan yang membelah laut. dan sebagainya.

hal ini dapat kita analogikan dengan seorang dari zaman purba melihat pesawat terbang, maka dia akan menyangka itu adalah burung yang besar, atau manusia purba yang akan heran melihat ada kotak bergambar dan bersuara (televisi).

Ironinya, semua gagasan yang hendak disampaikan Allah dalam sebuah mukjizat seringkali diannggap remeh oleh kita, buntutnya, orang luar yang lebih berhasil merespon.

tapi satu yang perlu kita ingat. adalah bukan namanya mukjizat jika kita meniru keajaiban tersebut, tatapi hanyalah penemuan ilmiah biasa. disamping itu, ada sebuah perbedaan besar antara mukjizat nabi-nabi dengan pengembangan teknologi yang terinspirasi olehnya, yaitu bahwa pada mukjizat terdapat kesempurnaan dan kontrol internal karena yang menciptakan Allah. sedangkan pada penemuan tidak pernah mengenal kesempurnaan dan kontrol yang ada adalah bersifat eksternal dan selalu harus diperbaharui.

Posted by ahmad faizin karimi  on  07/16  at  11:07 PM

Saya kira Bung Novri memahami mukjizat dengan pemahaman yang sangat dangkal. Dia (Bung Novri) hanya memahami dari segi asal kata dan makna mukjizat saja, yaitu keajaiban yang mampu melemahkan. Sehingga dia beranggapan bahwa semua peristiwa yang terjadi di luar kebiasaan adat digolongkan mukjizat. Yang lebih naif lagi, Bung Novri telah mengkhianati pemahamannya sendiri tentang mukjizat dengan pengertian yang “jami’” dan “mani’” sebagaimana yang dia ungkapkan di atas, bahwa mukjizat adalah kajaiban yang diberikan Tuhan kepada utusan-Nya.

Saya yakin banget kalo Bung Novri adalah alumni pesantren tulen, lebih-lebih dia juga alumni al-Azhar yang secara kapabilitas dan kredibilitas tidak diragukan lagi tentang pengetahuanya terhadap Islam. Bung Novri, Anda lupa ya? Kalo kejadian-kejadian menakjubkan tidak hanya terjadi pada utusan-utusan Tuhan, tetapi juga terjadi pada hamba-NYa yang lain. Misal (1)"Irhash" kejaiban yang diberikan Tuhan kepada calon utusan-Nya, (2)"Karamah" keajaiban yang terjadi pada hamb-Nya yang salih, (3) “ihanah” kejaiban yang terjadi pada nabi-nabi palsu, (4) “istidraj” kejaiban yang muncul dari orang-orang kafir, (5) “sihir” kejaiban yang diperoleh seseorang memalui proses belajar.

Dari bentuk-bentuk kejaiban yang terjadi pada manusia di atas, tepatkah segalah bentuk penemuan dan terobosan baru sebagaimana disinggung oleh Bung Novri di atas sebagai mukjizat? Jika anda sepakat, maka secara tidak sadar anda telah kehilangan sebagian iman anda, bahwa Nabi Muhammnad adalah Nabi-Nya yang terakhir, dan tanpa sadar anda telah mengangkat nabi-nabi baru dan mengimaninya. Mengapa demikian? Sebab mukjizat hanya terjadi pada utusan-utusan-Nya sebagai pembuktian atas risalah Tuhan yang dibawahnya, sebagaimana yang dipahami Bung Novri ketika duduk manis di bangku pesantren. Wallahu a’lam bissawab.

Posted by M. Syamsoe Kady  on  07/16  at  09:07 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq