“Mengaji Pada Para Sufi Liberal” - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
16/08/2010

Tadarus Ramadan Jaringan Islam Liberal 1431 H “Mengaji Pada Para Sufi Liberal”

A. Mengaji Tasawuf Abu Yazid al-Busthami. Narasumber: Novriantoni Kahar & Media Zainul Bahri, Moderator: Saidiman. Kamis, 12 Agustus 2010. Jam 19.00.21.30.

B. Mengaji Tasawuf Suhrawardi al-Maqtul. Narasumber: Ulil Abshar-Abdalla & Mohammad al-Baqir. Moderator:  Taufik Damas. Kamis, 19 Agustus 2010. Jam 19.00-21.30 WIB.

C. Mengaji Tasawuf Abu Manshur al-Hallaj. Narasumber: Mohammad Guntur Romli & KH Husein Muhammad. Moderator: Malja Abrar. Selasa, 24 Agustus 2010. Jam 19.00-21.30 WIB.

Diskusi dimulai dengan acara buka puasa bersama di Teater Utan Kayu (TUK) Jl. Utan Kayu 68H Jakarta Timur

Tadarus Ramadan 1431 H
Jaringan Islam Liberal
“Mengaji Pada Para Sufi Liberal”

Para sufi menempuh Tuhan dalam sunyi. Tuhan tak didekati dengan formalisme yang ingar bingar, melainkan dengan esoterisme yang senyap. Mereka tak mendefiniskan Tuhan sebagai Tuhan yang ganas dan kejam (syadid al-`iqab, al-muntaqim), melainkan Tuhan yang ramah dan toleran (al-rahman al-rahim). Dengan sifat rahman-Nya, Allah tak bertindak diskriminatif. Semua makhluk-Nya akan diberi sejumlah karunia. Itulah yang menjadi pegangan para sufi. Mengikuti petunjuk Nabi Muhammad SAW, para sufi berlomba untuk berakhlak dengan akhlak Allah (takhallaqu bi akhlaq Allah).

Kitab Suci pun tak dipandang sebagai pasal-pasal hukum yang mengancam melainkan sebagai tamsil-tamsil kehidupan yang mencerahkan. Mereka tak berhenti di syariat, melainkan terus bergerak ke atas, mengejar makrifat dan haqiqat. Syariat tak dilucuti dari spirit moralnya; untuk menyebarkan kasih dan menghindari anarkhi. Itu sebabnya, para sufi selalu mencari titik temu antar-syariat, bukan mempertentangkan syariat yang satu dengan yang lain. Bagi sufi, syariat bukan tujuan (ghayat), melainkan salah satu wasilat (sarana) untuk berjumpa dengan Tuhan (ibtigha’ wajhi Allah).

Dari perjumpaannya dengan Tuhan, para sufi senantiasa menebar kasih dalam keganasan hidup dan menyalakan lilin dalam kegelapaan nurani. Kepada para sufi kita perlu mengaji; bagaimana menghadirkan Tuhan dalam diri, dan bagaimana men-spiritualisasi Kitab Suci? Sebab, menghadirkan sifat-sifat Tuhan dalam diri menyebabkan seseorang bertindak dengan kasih dan sayang. Tak memandang orang lain sebagai ancaman dan musuh, melainkan sebagai hamba-hamba Tuhan yang perlu mendapat sentuhan kasih kita. Spiritualisasi Kitab Suci pun perlu dilakukan. Dengan nilai-nilai yang dikandungnya, al-Qur’an akan menjadi petunjuk bagi manusia (hudan li al-nas).

Tema, Narasumber, Waktu, dan Tempat

1.  Mengaji Tasawuf Abu Yazid al-Busthami
Narasumber: Novriantoni Kahar & Media Zainul Bahri. Moderator: Saidiman. Kamis, 12 Agustus 2010. Jam 19.00.21.30. Tempat, di Teater Utan Kayu (TUK) Jakarta.

2. Mengaji Tasawuf Suhrawardi al-Maqtul
Narasumber: Ulil Abshar-Abdalla & Mohammad al-Baqir. Moderator:  Taufik Damas. Kamis, 19 Agustus 2010. Jam 19.00-21.30 WIB. Tempat, di Teater Utan Kayu (TUK) Jakarta.

3.  Mengaji Tasawuf Abu Manshur al-Hallaj
Narasumber: Mohammad Guntur Romli & KH Husein Muhammad. Moderator: Malja Abrar. Selasa, 24 Agustus 2010. Tempat, di Teater Utan Kayu (TUK) Jakarta.

16/08/2010 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (15)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

obat mujarab..
ikuti saja Qur’an dan Hadits. tidak usaha menjangkau Tuhan kalu kita sendiri banyak kekurangan

Posted by kahar  on  09/14  at  12:28 PM

Agama adlh sarana manusia utk bertemu Tuhannya. Dalam tiap agama membawa syariat yg berbeda-beda, namun memiliki tujuan yg sama bukan? Utk mengenal & semakin mendekatkan diri pd Tuhan. Sy sependapat dgn pemikiran para sufi & kaum liberalis, tdk perlu mempermasalahkan syariatnya, toh nantinya di akhirat masing2 manusia mempertanggung jawabkan perbuatannya jg amal ibadahnya, kitapun baru akan tau mana yg benar & mana yg salah di akhirat nanti, krn semua umat suatu agama menganggap bahwa agama mereka adlh yg paling sempurna.

Posted by Singa Padang Pasir  on  09/06  at  12:09 AM

klau tasawuf itu ajaran yang lurus,knapa terlalu berlebihan dalam juhud?
Kalau orang-orang sufi mencintai Allah dan RasulNya knapa banyak para tokoh sufi yg memeakai sutera sdangkan Rasulullah mengharamkan sutera bgi laki2 ?! Bukankh ini nmanya penantangan atas hadis Rasul !! dan buat Ali Makhrus,tlong ya sbelum menyindir orang kamu koreksi diri-Afwan-, ingat ‘’Tak kenal maka tak benci’’.... !!
assalamualaikum.

Posted by Al-Rahma  on  08/27  at  01:17 PM

berdasarkan sejarah mitologi, secara garis besar tujuan awal orang beragama dan membuat agama adalah supaya mereka dapat bersyukur atas apa yang telah allah berikan kepada mereka. jika dilihat dari hal ini maka berarti bukan hanya kelompok tertentu saja yang berhak menentukan bagaimana cara seseorang untuk berterimakasih kepada tuhan karena tiap orang pasti mempunyai cara yg berbeda untuk mengungkapkan rasa syukurnya. jadi intinya, tiap orang memiliki cara2 sendiri untuk mendekatkan dirinya kepada allah dan tiap orang memiliki hak yang sama untuk menunjukkan rasa syukur dan cinta mereka kepada allah.

Posted by ikhul  on  08/24  at  11:37 AM

di tengah hiruk pikuknya keraimaian dunia abad modern yang panas dan gersang(jasad dan ruhani),,sangat perlu sekali dihadirkan obat dahaga dari jiwa yang haus akan substansi keimanan,,,,

Posted by taufiq  on  08/18  at  11:27 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq