Mengapa Justifikasi Agama - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
24/03/2008

Mengapa Justifikasi Agama

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Yang menarik adalah bahwa justifikasi dibutuhkan oleh manusia, karena dia mengandaikan adanya suatu standar tertentu. Kita bertanya tentang boleh-tidaknya melakukan tindakan tertentu karena sebetulnya di luar sana kita mengandaikan adanya semacam plafon moral tertentu yang menjadi semacam standar. Biasanya seseorang melakukan penalaran berdasarkan standar-standar itu.

Salah satu ciri khas manusia yang sangat menarik adalah adanya kecenderungan untuk memberikan justifikasi kepada sebagian besar tindakan yang ia lakukan. Tentu kecenderungan semacam ini tidak seluruhnya bersifat eksplisit. Biasanya kenderungan ini akan muncul pada saat orang yang bersangkutan berhadapan dengan (meminjam istilah yang sering dipakai dalam filsafat eksistensialisme) “situasi batas”.

Pada umumnya, orang bertindak setiap hari tanpa mempersoalkan apakah yang ia lakukan justifiable atau tidak. Pertanyaan soal justifikasi biasanya tidak muncul dalam konteks tindakan rutin sehari-hari. Misalnya, seorang guru sekolah melakukan kegiatan rutin setiap hari: berangat pagi-pagi ke sekolah, mengajar, menyelesaikan tugas-tugas pendidikan yang lain, sore pulang ke rumah, berlibur dengan keluarga pada akhir minggu, dsb. Pak Guru melakukan semua kegiatan rutin itu secara alamiah saja tanpa mempersoalkan justifikasi untuk tindakan-tindakan tersebut.

Tetapi, pertanyaan tentang justifikasi akan muncul saat kita berhadapan dengan situasi tak normal. Dalam kasus Pak Guru tadi, pertanyaan tentang justifikasi baru muncul manakala dia berada pada situasi yang tak lazim. Andaikan saja, dia menghadapi situasi berikut ini. Ada dua murid yang ingin mendaftar di sekolah tempat ia mengajar. Murid pertama sangat pintar tetapi datang dari keluarga miskin. Murid kedua pas-pasan dari segi kecerdasan, tetapi berasal dari keluarga kaya. Keluarga murid yang kedua menjanjikan untuk memberikan bantuan yang cukup besar untuk memperbaiki fasilitas di sekolah tersebut, dengan anak mereka diterima di sekolah tersebut. Sementara itu, Pak Guru, karena satu dan lain hal, tak bisa menerima kedua murid itu sekaligus.

Ini hanya situasi artifisial yang saya andaikan saja sekedar untuk memberi gambaran tentang situasi batas yang kadang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam situasi semacam ini, Pak Guru berhadapan dengan sebuah dilema. Untuk memutuskan menerima entah murid pertama atau kedua, dia membutuhkan justifikasi yang masuk akal, agar dia bertindak dengan tenang dan tak terganggu oleh nuraninya.

Justifikasi biasanya dicapai melalui sebuah proses yang saya sebut reasoning atau penalaran. Dalam kehidupan sehari-hari, kita terus-menerus berhadapan dengan situasi-situasi baru yang kerap membutuhkan penalaran untuk mencapai justifikasi tertentu. Ini berlaku baik pada level kehidupan pribadi atau sosial.

Yang menarik adalah bahwa justifikasi dibutuhkan oleh manusia, karena dia mengandaikan adanya suatu standar tertentu. Kita bertanya tentang boleh-tidaknya melakukan tindakan tertentu karena sebetulnya di luar sana kita mengandaikan adanya semacam plafon moral tertentu yang menjadi semacam standar. Biasanya seseorang melakukan penalaran berdasarkan standar-standar itu. 

Misalnya, kita mengandaikan bahwa norma keadilan adalah standar yang mengatur semua tindakan manusia. Atau seorang Muslim beranggapan bahwa hukum-hukum yang ada dalam Alquran dan Hadis adalah norma dasar yang menjadi landasan mereka untuk bertindak secara moral. Penalaran biasanya kita lakukan berdasarkan norma-norma semacam itu. Melalui penalaran itu, kita sampai pada suatu kesimpulan bahwa tindakan tertentu memenuhi standar norma tertentu, dan karena itu justifiable .

Ada dua jenis justifikasi. Pertama adalah justifikasi tradisional, dan kedua justifikasi rasional. Yang pertama adalah justifikasi yang diperoleh dengan bersandar pada sebuah otoritas tradisi tertentu, entah dalam bentuk kitab suci, adat, kebiasaan sosial, dsb. Yang kedua adalah justifikasi yang dicapai berdasarkan proses individual dengan memakai rasio kita sendiri.

Secara empiris, jarang sekali seseorang semata-mata memakai satu model justifikasi. Yang terjadi pada umumnya adalah seseorang memakai penalaran berdasarkan norma tradisional dan norma yang bersifat rasional secara serentak. Dengan kata lain, baik justifikasi tradisional dan rasional berlangsung secara simultan dalam proses yang sifatnya dialektis.

Justifikasi tradisional biasanya cenderung bersifat sosial, sementara justifikasi rasional bersifat individual. Tetapi, saya harus memberikan caveat di sini. Meskipun justifikasi rasional bersifat individual, secara empiris tidak lah demikian keadaanya. Apa yang kita sebut sebagai rasio pada dasarnya bukan sebuah wujud yang terisolasi dari proses sosial di luar dirinya. Rasio juga terbentuk dan dibatasi oleh keadaan-keadaan dalam masyarakat. Dengan demikian, saat seseorang melakukan penalaran rasional, dia bukanlah seorang individu yang secara otonom bekerja dengan rasionya, karena pada momen yang sama masyarakat juga bekerja dalam dirinya.

Di atas semua itu, sebuah justifikasi pada akhirnya bekerja dalam konteks tertentu. Justifikasi dibatasi oleh horison sosial dan individual sekaligus. Tentu batas di situ bukan sesuatu yang bersifat statis. Batas terus bergerak, dan bersamaan dengan itu justifikasi bergerak pula.

Saya hanya bisa memakai istilah yang sama sekali bersifat umum dan sangat ambigu di sini, yakni horison. Saya sendiri belum bisa menjelaskan dengan detail apa bentuk horison itu. Saya hanya membayangkan bahwa setiap justifikasi selalu bergerak dalam horison semacam itu. Justifikasi tidak bisa bekerja sepenuhnya secara transendental dan melampui horison tersebut. []

24/03/2008 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Masukan untuk “Mengapa Justifikasi Agama”

1. Perhatikan pesan Allah, beriman kepada yang turun kepadamu, beriman kepada yang turun sebelummu, dan beriman kepada apa yang akan diturunkan Allah kepadamu sesuai Al Baqarah (2) ayat 4,5. Inilah cara yang tetap mendapat petunjuk. Artinya yang turun kepadamu masih dalam ujian, yang turun sebelummu masih dalam ujian, yang turun pada akhirnya itulah yang membenarkannya 100%.

2. Apakah yang turun kemudian yang akan membenarkan meluruskan 100% itu adalah:
a. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Allah datang menurunkan HAWI TAKWIL KEBENARAN KITAB.
b. Yohenas 16:12,13,14,15: Bapa datang menurunkan ROH KEBENARAN.
c. Weda, Baghawatgita, Percakapan IV:5,6,7,8: Dharam mengalahkan Adharma (Kebenaran Ilmu mengalahkan kebathillan ilmu).
b. Tipitaka, Cakka Vati Sihanada Butta Digha Hikaya, Roh Kebenaran Tiba kepada kita semua.

3. Buktinya nabi Muhammad saw. meramalkan bahwa umatnya akn terpecah menjadi 73 firqah sampai era globalisasi ini, Nasrani pecah menjadi 72 firqah, Yahudi terpecah menjadi 71 firqah dan hal ini 100% benar.

4. Akan beres semuanya apabila Allah telah menurunkan:
a. Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22: Ilmu Kebangkitan Agama.
b. Fushshilat (41) ayat 44; Al Quran dijadikan dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab.
c. Thaha (20) ayat 114,115: Al Quran disempurnakan pewahyuannya dengan ilmu pengetahuan do’a manusia.
d. Ibrahim (14) ayat 5, Al Jaatsiyah (45) ayat 14: Datangnya Hari-Hari Allah disebut didalam sebanyak 400 ayat.
e. Hal-hal seperti ini tidak disadari selam 8000 tahun oleh seluruh umat manusia dan untuk umat Muhammad 1400 tahun lebih (terutama pemuka-pemuka agama), makanya kejadiannya akan tetap dalam keadaan pecah-belah dan membawa ilmu yang mubazir seluruhnya. Sekali lagi mubazir, mubazir, mubazir!

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

Posted by Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  on  08/05  at  01:57 PM

pernahkah orang-orang JIl membaca sejarah hukum di negara2 lain..?

bicara soal justifikasi agama dalam peraturan negara,bukanlah hal baru (banyak membaca lagi bung!).asal muasal hukum barat sebagaimana indonesia juga ikuti sampai saat ini,ialah berasal dari Codec (aturan gereja2 romawi yang diterbitkan penguasa gereja pada masa Aufklarung).perancis mentransformasikan codec dalam hukum negaranya, dan menerapkannya pada negara2 jajahannya,termasuk belanda. ketika belanda menjajah indonesia,untuk mempermudah pengaturan sistem hukum dan bernegara, dengan asas Konkordansi (persuesuaian hukum/aturan negara penjajah dengan negara dijajah)menerapkannya di Indonesia.kalau mau tegas,hukum yg kita nasional yang kita pakai sekarang adalah hukum gereja katolik yang bersumber dari Codec.

perancis tidak mengadopsi mentah2 is aturan codec,tapi mentransformasikannya sesuai karakter budaya dan adat masy.prancis waktu itu, dan prancis pun bukan negara kristen...!!

sama hal perancis,kita berupaya mentransformasi kaidah syariah islam kedalam hukum nasional yang disesuaikan dgn kondisi dan masy .Indonesia,jadi NKRI tepat,namun syariah islam transformasi yang kita anut. mengapa syariah islam..? karena mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim,sama ketika prancis mengadopsi codec,karena mayoritas penduduk prancis adalah nasrani.

Posted by Moon Child  on  07/20  at  02:13 PM

Jika memang Kang Ulil menganggap bahwa justifikasi rasional tidak semata-mata dibentuk oleh individu, maka bagaimana dengan kasus seperti yang dilakukan oleh para teroris? jika dikatakan bahwa itu adalah justifikasi tradisional, maka kenapa tidak semua yang memegang standar yang sama oleh para teroris menganggap itu suatu kebenaran, akan tetapi jika dikatakan bahwa mereka menggunakan justifikasi rasional, maka akan muncul pertanyaan, dalam sebatas mana kita bisa mendahulukan rasional atas tradisional atau sebaliknya? perlukah justifikasi tradisional atau cukup justifikasi rasioanl untuk mengatakan bahwa justifikasi rasional dapat didahulukan atas justifikasi tradisional (atau sebaliknya).  Jika dikatakan mereka menggabungkan keduanya, maka pertanyaan yang muncul adalah pertanyaan seperti yang pertama, dan juga muncul pertanyaan lain tentang sejauh mana rasio seseorang bisa menghakimi rasio orang lain. jika dikatakan kita tidak bisa menghakimi rasio orang lain, maka jelas tidak ada yang namanya kesalahan atau keburukan di dunia ini. karena bukankah tindakan itu dimulai dari cara berpikir? tapi jika dikatakan bisa menghakimi rasio orang lain, standar apa yang digunakan?
-----

Posted by abu mushlih  on  03/26  at  07:03 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq