Mengapa Saya Berubah? - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
04/03/2007

Mengapa Saya Berubah?

Oleh Fauzi Isman

Tapi setelah menjalani hukuman penjara selama lebih kurang 10 tahun, fakta menunjukkan kepada saya bahwa doktrin agar lebih mengutamakan jamaah, Amir atau Imam daripada orangtua dan keluarga itu sangat perlu dikoreksi. Mencurigai dan menganggap mereka sebagai potensi musuh atau dalam bahasa jamaah lainnya sebagai orang yang belum memperoleh hidayah hanya karena mereka belum bergabung ke dalam jamaah, jelas tidak benar dan menyesatkan.

Satu dari banyak ayat suci Alquran yang sering didengung-dengungkan sebagai doktrin jihad kelompok Negara Islam Indonesia (NII) dulu dan Jamaah Islamiah (JI) kini adalah ayat 23- 24 surah At-Tawbah yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan barangsiapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang engkau usahakan, perniagaan yang engkau khawatirkan merugi, dan rumah-rumah tempat tinggal yang engkau sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (lebih utama bagimu daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk orang-orang fasik.”

Ayat di atas selalu dijadikan dasar indoktrinasi agar aktivis jamaah NII/JI lebih mengutamakan jamaah, Amir atau Imamnya daripada orangtua, isteri, anak dan kerabatnya. Terlebih kalau kaum kerabatnya tersebut tidak bergabung di dalam kelompok jamaahnya, maka mereka akan dianggap sebagai laisa minna—bukan golongan kami. Jangankan meminta pendapat dan restu orangtua untuk pergi berjihad, menceritakan kegiatan jamaah kepada mereka pun dianggap sebagai dosa besar dan pengkhinatan.

Ringkasnya, orang tua, isteri, anak dan kerabat, juga dianggap sebagai “musuh” potensial sampai mereka bergabung ke dalam jamaah. Mereka mengambil pembenaran dari kisah pengkhianatan putera Nabi Nuh, dan isteri Nabi Luth untuk menegaskan kebebaran doktrin mereka.

Saat memutuskan “jihad” dengan membentuk kamp latihan militer di Talangsari Lampung untuk melatih para mujahid yang disiapkan melawan Pemerintahan “Darul Kuffar” (Negara Orang-orang Kafir) Republik Indonesia pada awal tahun 1989, saya tak pernah membicarakan hal ini, apalagi meminta restu kedua orangtua saya. Keluarga saya termasuk laisa minna dalam kategori jamaah kita waktu itu. Lebih-lebih, ayah saya adalah pensiunan TNI.

Karena setia pada jamaah, waktu tertangkap lalu dipenjara, saya menolak tawaran pembebasan yang diajukan dr. Tarmizi Taher, Sekjen Departemen Agama waktu itu, yang secara implisit mengutarakannya di Markas Badan Intelijen Strategis. Saya lebih memilih penjara. Saya sama sekali mengabaikan perasaan dan pendapat orangtua dan isteri saya. Penolakan itu hanya disebabkan saya mencurigai motif di balik tawaran itu serta khawatir dituduh mengkhianati perjuangan jamaah. 

Tapi setelah menjalani hukuman penjara selama lebih kurang 10 tahun, fakta menunjukkan kepada saya bahwa doktrin agar lebih mengutamakan jamaah, Amir atau Imam daripada orangtua dan keluarga itu sangat perlu dikoreksi. Mencurigai dan menganggap mereka sebagai potensi musuh atau dalam bahasa jamaah lainnya sebagai orang yang belum memperoleh hidayah hanya karena mereka belum bergabung ke dalam jamaah, jelas tidak benar dan menyesatkan.

Jeruji penjara membuktikan kepada saya bahwa isteri, anak dan orangtualah orang-orang yang paling menderita akibat perbuatan jihad saya. Mereka jugalah orang-orang yang paling setia dan istiqamah mengunjungi dan menunggui saya dalam menjalani kehidupan membosankan di balik tembok penjara. Sementara teman satu jamaah, pergi entah kemana, meninggalkan saya sunyi sendiri, hanya ditemani lembabnya sel penjara.

Bukan hanya terhadap doktrin jihad di atas penjara mengajak saya untuk berpikir-ulang. Penjara juga memberikan ruang dan waktu bagi saya untuk merenungi dan memikirkan kembali, serta mengoreksi pandangan, pemahaman, dan indoktrinasi atas nama Islam yang selama ini saya yakini kebenarannya.

Penjara juga memberi kesempatan yang luas kepada saya untuk bergaul dengan napol dari beragam keyakinan ideologis seperti Rewang, Sukatno, H. Ismail Pranoto, Soebandrio, DR Thomas Wainggai, Xanana Gusmao, Tengku Ahmad Nasirudin, AM Fatwa, Ir Sanusi, Nuku Sulaiman, dan Budiman Sudjatmiko. Juga pergaulan dengan napi white and blue collar crime seperti Pak De, Slamet Gundul, Dicky Iskandar Dinata, Eddy Tanzil, Arswendo Atmowiloto, Hartono (germo Prapanca) dan sebagainya.

Dari mereka saya justru belajar banyak tentang keragaman dan bagaimana cara beradaptasi dalam keragaman. Di samping hal tersebut, zaman pun kini telah berubah dan ikut mengoreksi cara pandang saya. Rezim Soeharto yang represif dan militeristik telah tumbang. Reformasi telah menciptakan iklim politik yang lebih kondusif sehingga masyarakat dapat mengekspresikan ideologi dan aspirasi politiknya yang berbeda-beda tanpa rasa takut diintimidasi apalagi dipenjara. 

Memang perubahan tersebut masih jauh dari yang diharapkan. Tapi menurut saya, dalam kondisi politik seperti saat ini, tidak ada lagi alasan pembenar bagi siapa pun untuk melakukan cara-cara kekerasan apalagi teror untuk memperjuangkan ideologi dan aspirasi politik Islam. Bukankah wacana tentang negara Islam kini bebas dibicarakan dan diperjuangkan melalui cara-cara yang demokratis?! Itu hal yang amat mustahil dilakukan di zaman Orde Baru.

Seandainya Asmar Latin Sani meminta restu orangtuanya lebih dulu sebelum melakukan aksi bom bunuh diri di Kuningan, Jakarta, saya yakin peristiwa Bom Kuningan yang merenggut nyawa banyak orang tak berdosa tersebut tidak akan pernah terjadi. Bukankah surga terletak di bawah telapak kaki ibu? Bukankah rida Allah bergantung juga pada rida orangtua—bukan tergantung rida Panglima Komandemen Wilayah atau Amir Majelis Mujahidin?!

** Mantan Napol dan Aktivis Kelompok Warsidi Talangsari Lampung

04/03/2007 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

seseorang harus memahami hak2 yang harus kita berikan kepada Allah,rosul,orangtua,pemimpin,keluarga,tetangga,manusia,hewan,tumbuhan,dirisendiri. agar kita bisa berbuat adil

Posted by nasirudin  on  01/11  at  07:45 AM

Alhamdulillah saudara telah mendapat hidayah atau pencerahan sehingga telah hijrah dari tempat yang gelah ke tempat yang terang. Menurut saya teks ayat di atas sebetulnya benar tetapi dalam aplikasinya ke siapa dulu? ke jamaah mana yang dimaksud?  kalau semua orang mengaku imam dan mengumpulkan orang serta menamainya jamaah tanpa kriteria tentu konsekuensinya tidak akan sehat. pertanyaannya ialah apakah kriteria itu?
-----

Posted by Dildaar Ahmad Dartono  on  03/30  at  04:04 AM

keluarga adalah harta yang terindah di dunia ini. keluarga kita lah yang bisa membawa kita ke surga. jangan sampai kita melupakan apalagi sampai kita meninggalkannya hanya demi suatu hal yang belum ketahuan kebenarannya, sedangkan keluarga adalah amanat dari ALLAH yang sudah terbukti kebenarannya. ingat itu baik-baik wahai saudaraku!

Posted by m.nashruddin  on  03/17  at  10:03 AM

Hari gini masih taqlid buta? ke laut aja lagi… Bodoh dan naif nian orang-orang yang melakukannya.Termasuk anda yang dulu.Menganggap orang yang tidak pada koridor jamaah anda adalah orang-orang kafir.Lagi-lagi ada aja orang yang salah tafsir atau mungkin tidak bisa memahami secara harfiah ayat yang menjadi dasar pengkafiran orang- orang yang diluar jamaah anda.Jalas-jelas disitu orang yang kafir atas agama Allah,bukan orang yang diluar jamaah anda.Saya berdoa semoga jika masih ada orang yang seperti itu cepat saja dilenyapkan Allah dari muka bumi ini..Amien..

Posted by yuna anto  on  03/09  at  07:03 AM

Khan ada lagunya Mas… Yang bunyinya begini:

Harta yang paling berharga adalah keluarga, Puisi yang paling indah adalah keluarga...dst.

Lalu kenapa sekonyong-konyong mengatakan bahwa keluarga adalah musuh? Hanya karena sang imam bilang begitu? Attention! Achtung! Perhatian! Kalau Anda masuk organisasi keagamaan apa pun namanya tapi kudu nyetor duit buat sang Imam atas nama organisasi itu, sebaiknya Anda secepatnya hengkang dari organisasi itu dan segeralah kembali kepada keluarga. Karena harta yang paling berharga adalah keluarga, puisi yang paling indah adalah keluarga.

Posted by Bang Inal  on  03/06  at  03:03 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq