Mengenang dan Menghargai Ibn Khaldun - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

14/10/2009

Mengenang dan Menghargai Ibn Khaldun

Oleh Ihsan Ali-Fauzi

Proyek islamisasi ilmu juga bisa mengerdilkan wawasan kaum muslim karena pandangan yang disebarkan bahwa apa-apa yang ditulis para sarjana nonmuslim akan dengan sendirinya tidak berguna. Betapa besar kehilangan yang harus diderita kaum muslim yang mau mengerti masyarakatnya, jika mereka tak lagi membaca karangan antropolog seperti Clifford Geertz atau Mitsuo Nakamura, yang sebagiannya dengan bahagia mengembangkan ilmu yang dimulai Ibn Khaldun!

Artikel ini telah dipublikasikan sebelumnya di Media Indonesia, Senin, 12 Oktober 2009

Ramadan lalu saya diundang bicara tentang Muqaddimah, buku agung Ibn Khaldun. Niat panitia (Jaringan Islam Liberal, JIL), sambil mensyukuri malam Ramadan, kita ingin belajar dari warisan intelektual Islam. Ini tradisi tahunan JIL (sebelumnya pernah dibahas al-Ghazali, Ibn al-’Arabi, dan lainnya). Asyik kan, dapat dunia dan akhirat?

Bagi yang belum kenal Ibn Khaldun, ini sedikit info. Dia lahir di Tunis (1332) dan wafat di Fez (1406). Meski basisnya Afrika Utara, dia rajin ke mana-mana. Dia pernah menjadi guru dan qadhi (semacam hakim), diplomat, dan penasihat penguasa. Tapi ketakpastian politik mendorongnya untuk lebih rajin meneliti dan menulis, di akhir hayatnya. Karyanya tak banyak. Tapi lewat Muqaddimah dan al-’Ibar, karya sejarahnya, dia banyak disebut sebagai sejarawan muslim terbesar. Kalangan tertentu, bahkan di Barat, memandangnya sebagai penemu sosiologi modern, lewat ‘ilm al-’umran (ilmu peradaban) yang digagasnya.

Nah, bagaimana kita sebaiknya menghargai Ibn Khaldun?

Sudah lama saya bosan dengan cara banyak kalangan, terutama muslim, mendiskusikan khazanah intelektual Islam, termasuk Ibn Khaldun. Gayanya sering kali retoris-apologetis: sudah begitu hebat, toh dia tak diakui dunia ya? Kadang arah diskusi jadi defensif-eksklusif: karena sudah ada dalam Islam, apa perlunya kita belajar dari Marx atau Weber?

Kita harus segera hijrah dari gaya diskusi yang tak produktif itu. Saya khawatir ini cermin kekerdilan, tumbuh dari pola-pikir ‘katak dalam tempurung’. Jika Islam itu rahmat bagi semesta alam, mengapa pula kita takut berenang bersama orang-orang lain di semesta itu?

Asal tahu saja: Ultah ke-600 kematian Ibn Khaldun (2006) dirayakan di New York University dengan seminar tentang sumbangannya pada dunia ilmu-ilmu sosial. Tahun itu, jurnal-jurnal sosiologi terkemuka, seperti Current Sociology, International Sociology, Contemporary Sociology, memuat artikel-artikel khusus tentangnya. Sebelumnya, sudah ada Ibn Khaldun Chair di George Washington University, yang diduduki Akbar S Ahmed, antropolog muslim terkemuka.

Kurang apa lagi? Dunia tidak mengakuinya?

Sekarang mari kita berkaca (enaknya sambil mendengarkan Man in the Mirror, lagu mendiang Michael Jackson itu). Toh saya tak menemukan penghargaan sejenis oleh kalangan muslim di tahun itu untuknya.

Yang ada malah kabar buruk. Di Mesir, sebuah lembaga riset yang membawa namanya dan ingin mengembangkan ilmu yang diawalinya, Ibn Khaldun Center, malah ditutup pemerintah. Alasannya, hasil riset lembaga itu menjelek-jelekkan pemerintahan Husni Mubarak (seakan diktator Mesir itu, yang memanipulasi suara rakyat dalam pemilu dan menyiapkan anaknya sebagai penggantinya, perlu dijelek-jelekkan untuk tampil bopeng). Adapun Saad el-Din Ibrahim, sosiolog dengan reputasi internasional yang mendirikannya, harus ngacir ke Turki untuk menghindari penjara, yang pernah dialaminya beberapa tahun lalu.

***
Karena bosan dengan gaya diskusi yang retoris-apologetis dan defensif-eksklusif itu, saya sengaja membawa warisan Ibn Khaldun masuk ke debat kontemporer tentang ilmu-ilmu sosial. Kecuali jika dia sendiri mengemukakan sisi-sisi keislaman teorinya, saya melepaskannya dari akar-akar Islamnya (juga Arabnya, sebenarnya).

Kita memperoleh banyak hal. Teori terkenalnya tentang ‘ashabiyah, ‘solidaritas bawaan’, benar-benar bisa diperbandingkan dengan teori-teori mutakhir tentang formasi negara pramodern, yang hingga kini masih sering digunakan untuk memahami banyak negara di Timur Tengah. Juga bermanfaat melihat Ibn Khaldun sebagai teoretikus yang lebih dekat kepada Marx (konflik) daripada Weber (integrasi). Bukankah teori berpengaruh Ernest Gellner, tentang gerak pendulum dalam reformasi Islam, seperti diakuinya sendiri, banyak dikembangkan dari Ibn Khaldun? Dan lainnya.

Ringkasnya, bersama Ibn Khaldun, kita harus mengembangkan optimisme lebih jauh tentang manusia dan ilmu yang dibangun untuk lebih memahami mereka. Sehubungan dengan Islam dan non-Islam, mari kita cari lebih banyak irisan di antara keduanya. Itu dengan menemukan titik temu dan titik pisah, untuk saling berbagi atau menerima dan mengelola perbedaan.

Saya kira inilah cara terbaik kita menghargai Ibn Khaldun. Dengan Muqaddimah dan al-’Ibar, dia tidak saja tertarik pada peristiwa sejarah tertentu, tapi juga pada hukum sosial apa yang bisa ditarik darinya untuk membangun peradaban manusia.

Sayangnya, yang saya sarankan itu tak cukup populer. Kecenderungan umumnya malah ingin melakukan ‘sakralisasi’ atas Ibn Khaldun, dalam proyek yang disebut ‘Islamisasi ilmu’. Contohnya artikel Mahmoud Dhaouadi, yang hebatnya--tetap diterbitkan Contemporary Sociology, jurnal kafir yang hendak merayakan Ibn Khaldun itu.

Kata Dhaouadi, model sosiologi Khaldunian tak bisa didialogkan dengan model-model lain, karena model itu bukan saja bersumber dari akal (’aql), tapi juga dari wahyu (naql). Perhatikan bahwa dia menutup kemungkinan bagi ‘Sosiologi Timur Khaldunian’ untuk bisa (dan sudah) ditolak oleh sosiolog lain yang sama-sama berasal dari Timur. Jika sosiologi Islam hanya bisa dicapai kaum muslim, dari mazhab apa si sosiolog itu berasal? Repotnya, produk akhir dari proyek islamisasi ini tidak bisa difalsifikasi, karena hal itu tidak dapat diakses apalagi diperbandingkan dengan hasil temuan kalangan lain.

Salah satu bahaya dari proyek ini adalah anti-kritisisme, karena proyek itu mengibarkan bendera ‘nativisme’: wahyu (Islam) itu unik, pasti benar, tidak bisa diakses kalangan yang di luarnya. Ingat bahwa dalam wacana ini, misalnya, sosiologi Islam harus diturunkan dari doktrin Islam tentang masyarakat. Tapi bukankah ini nantinya menjadi, seperti diduga Akbar Ahmed, ‘too much Islam and too little sociology’? Bukankah, sebagai ilmu, sosiologi harus empiris? Dan bukankah kita bisa memisahkan antara apa yang Allah kehendaki dari umatnya, seperti disebutkan dalam teologi atau tafsir, dan apa yang secara aktual dilakukan sang umat, yang harus menjadi telaahan sosiologi?

Jika ini berkembang, saya takut Ibn Khaldun bangkit dari kuburnya! Seperti diketahui, dia dikenal sangat kritis baik terhadap laporan tentang masa lalu maupun opini dari masanya, termasuk yang disampaikan kaum muslim.

Akhirnya, proyek islamisasi ilmu juga bisa mengerdilkan wawasan kaum muslim karena pandangan yang disebarkan bahwa apa-apa yang ditulis para sarjana nonmuslim akan dengan sendirinya tidak berguna. Betapa besar kehilangan yang harus diderita kaum muslim yang mau mengerti masyarakatnya, jika mereka tak lagi membaca karangan antropolog seperti Clifford Geertz atau Mitsuo Nakamura, yang sebagiannya dengan bahagia mengembangkan ilmu yang dimulai Ibn Khaldun!

Mohon saya tak disalahpahami. Saya tidak antiwahyu atau perannya dalam kerja-kerja ilmu. Saya hanya keberatan jika kita diharuskan memilih antara wahyu dan akal. Kita memerlukan keduanya dan akal semua orang. Sebuah teori dari kalangan muslim tidak serta-merta benar hanya karena teori itu diturunkan dari wahyu, seperti halnya teori-teori Barat (sic!) tidak serta-merta salah hanya karena dia berasal semata dari akal.

Apakah kenyataan bahwa Ibn Khaldun itu berasal dari lingkungan Islam atau Arab sama sekali tidak bermakna? Tidak juga. Sebaliknya, kenyataan itu penting diperhatikan untuk lebih memahami asal-usul pembentukan teorinya. Tapi menelusuri asal-usul satu teori tidak sama dengan menerima apa adanya teori itu karena asal-usulnya, bukan?

Dus, cara terbaik menghargai Ibn Khaldun adalah dengan membawa masuk sosiologinya, apa adanya, seperti sosiologi pada umumnya, ke dalam debat semesta sosiologi manusia. Bukan dengan membungkusnya rapat-rapat dengan jubah Islam dan mensterilkannya dalam museum kemegahan sejarah ilmu di dunia Islam di masa lalu. Ini enak yang sesaat dan memabukkan.

14/10/2009 | | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq