Mengenang Jasa Watt dan Geertz - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
13/11/2006

Mengenang Jasa Watt dan Geertz

Oleh Muhamad Ali

Dalam satu minggu terakhir, ada dua profesor ternama yang meninggal dunia, yaitu Prof. William Montgomery Watt, Islamolog asal Skotlandia, dan Prof. Clifford Geertz, antropolog Amerika yang di akhir hayatnya mengabdi di Universitas Princeton. Bagi mahasiswa dan sarjana bidang studi ilmu sosial, keduanya bukanlah nama asing. Saya menulis catatan kecil ini sebagai ungkapan terima kasih kepada keduanya.

Dalam satu minggu terakhir, ada dua profesor ternama yang meninggal dunia, yaitu Prof. William Montgomery Watt, Islamolog asal Skotlandia, dan Prof. Clifford Geertz, antropolog Amerika yang di akhir hayatnya mengabdi di Universitas Princeton. Bagi mahasiswa dan sarjana bidang studi ilmu sosial, keduanya bukanlah nama asing. Saya menulis catatan kecil ini sebagai ungkapan terima kasih kepada keduanya.

Di tahun 2000, saya memilih Edinburgh University untuk program Master Jurusan Studi Islam dan Timur Tengah, setelah membaca tulisan Prof. William Roff: Pengantar Studi Alqur’an. Saya juga membaca karya-karya Watt seperti Muhammad at Mecca, Muhammad at Medina, Muhammad Prophet and Statesman, Free Will and Predestination in Early Islam, Islamic Political Thought: The Basic Concepts, Islamic Philosophy and Theology, dan Muslim-Christian Encounters: Perceptions and Misperceptions.

Banyak karya-karya lain Watt yang saya tahu tapi belum sempat baca. Di antaranya Islam and the Integration of Society, Muslim Intellectual: A Study of Al-Gazhali, A History of Islamic Spain, What is Islam?, Islamic Revelation in the Modern World, the Influence of Islam in Medieval Europe, The Formative Period of Islamic Thought, Islam Past Influence and Future Challenge, Islam and Christianity Today: A Contribution to Dialogue, Islamic Fundamentalism and Modernity.

Sebagai mantan mahasiswa Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin IAIN (kini UIN) Jakarta, membaca karya-karya Watt tentang Alqur’an, teologi, filsafat dan politik Islam, adalah kewajiban. Watt adalah sedikit sarjana Barat yang sering disebut Orientalis—tapi ia sendiri tidak menggunakan label itu—yang mendalami bahasa Arab dan giat menggali sumber-sumber dasar Islam untuk meramunya menjadi karya yang kaya fakta dan analisis yang mencerahkan. Watt juga sarjara Barat yang simpatik terhadap kehidupan Nabi Muhamad dan optimistis tentang hubungan Islam dan Kristen Barat. Karena itu, Watt menulis bagaimana Islam mempengaruhi peradaban Eropa.

Saya sempat berkunjung ke rumah Watt tahun 2001, ditemati Prof. Carole Hillenbrand, murid Watt yang menulis buku The Crusades: Islamic Perspectives. Kondisi fisik Watt kala itu sudah lemah, bicara terbata-bata, tapi tetap menerima saya sebagai tamu. Dalam pertemuan itu, kami berbicara banyak hal. Saya memuji tulisannya tentang Islam, juga tentang pentingnya hubungan harmonis antara Muslim dan Kristen.

Watt setuju tantangan zaman modern adalah menjalin hubungan harmonis antara Muslim-Kristen. Salah satu caranya adalah dengan menggali sejarah perjalanan kedua penganut agama ini dari sumber-sumber aslinya. Pengkajian yang lebih ”obyektif” terhadap keduanya sangat penting, karena kebanyakan tokoh dan penganut kedua agama ini lebih mengedepankan apologi teologis semata-mata.

Watt secara khusus telah menulis adanya persepsi dan mispersepsi dalam hubungan Islam dan Kristen. Dia menawarkan pemikiran dan praktek yang berguna bagi dialog Islam-Kristen. Mengenai fundamentalisme Islam, Watt berpendapat itu merupakan fenomena modern. Sejarah Islam awal juga mengenal pertentangan teologis yang diawali oleh pertentangan politik. Bagi Watt, perbedaan teologis Islam zaman awal, yang berdampak sampai sekarang, pada dasarnya bersifat politis, yaitu perselisihan tentang kepemimpinan.

Jika Watt lebih menguasai sejarah Islam awal dan pertengahan, terutama ajaran-ajaran normatif Islam dari sumber-sumber berbahasa Arab, Clifford Geertz adalah antropolog yang lebih memperhatikan situasi empiris orang Islam dalam konteks tertentu. Kehebatan Geertz terletak pada kemampuan analitik dan teoritisnya dalam memahami dan menjelaskan fenomena Islam seperti yang ia amati di Mojokuto (The Religion of Java) dan perbandingannya dengan orang Islam di Maroko (Islam Observed).

Pengaruh Geertz melampaui batas disiplin antropologi. Sarjana Asia Tenggara, apapun disiplinnya, tak dapat melewatkan karya-karya Geertz. Untuk bidang antropologi agama saja, Geertz telah memicu lahirnya karya-karya revisionis dari sarjana lain, seperti James Peacock (Muslim Puritans), Merle Ricklefs, Drewes, Doland Emmerson, Nakamura, Andrew Beatty, Woodward, Roff, Robert Hefner, Mortimer, Jay, Lyon, Wertheim, serta sarjana-sarjana lebih muda sepeti Greg Barton dan Eldar Braten.

Sarjana-sarjana Indonesia yang telah memodifikasi teori Geertz antara lain Harsja Bachtiar, Supardi Suparlan, Kuntjaraningrat, Zamakhsyari Dhofier, dan antropolog muda setelah mereka. Kajian-kajian agama dan khususnya Islam modern di Indonesia dan Asia Tenggara, tak bisa melewatkan karya-karya Geertz.

Tentu bukan Geertz yang menemukan istilah santri, abangan, dan priyayi dalam The Religion of Java, karena istilah-istilah itu sudah dipakai di kalangan yang lebih terbatas. Namun, Geertz-lah yang pertama-tama mensistematisasi istilah-istilah itu sebagai perwakilan kelompok-kelompok kultural yang penting.

Tentu ada banyak kritik terhadap kategori Geertz ini. Misalnya, ia dianggap mencampurkan istilah priyayi (yang merupakan kategori kelas) dengan istilah santri dan abangan (kategori keagamaan). Orang menganggap Geertz kurang memahami teks-teks normatif Islam sehingga menyangka tradisi selamatan Jawa murni bersifat lokal dan tidak berhubungan dengan pengaruh ajaran normatif Islam.

Namun begitu, dari Geertz-lah para sarjana belajar tentang agama di Jawa walau mereka kemudian memodifikasi atau memperbaiki penjelasan-penjelasan Geertz. Dalam Islam Observed, Geertz membandingkan corak Islam Jawa yang akamodatif dan sinkretik dengan Islam Maroko yang lebih fundamentalistik. Geertz tentu tak mengatakan bahwa Islam Jawa melulu sinkretik, seakan-akan Islam puritan sama sekali tidak berkembang.

Dalam After Facts: Two Countries, Four Decades, One Antropologist (1995), Geertz mulai menyadari semakin menguatnya Islam puritan di Jawa; paling tidak lebih terasa dibanding masa 1960-an. Salah satu kalimatnya yang menarik dalam buku itu adalah tentang teori perubahan. Geertz menulis: “Change, apparently, is not a parade that can be watched as it passes.” Perubahan, bukanlah sebuah parade yang bisa dilihat sejurus ketika ia lewat. Perubahan baru betul-betul dapat dirasakan pengamat ketika sesuatu sudah betul-betul lewat.

Saya mengagumi metodologi etnografi Geertz yang dia sebut “Thick Description” dalam The Interpretation of Cultures. Thick Description atau Penggambaran yang Mendalam, adalah suatu pendekatan dalam memahami, memaknai, dan menjelaskan (bukan sekedear mengamati) fenomena, kejadian, gagasan, kebiasaan sosial, atau apa saja (termasuk agama, politik, dst). Yang diutamakan dalam pendekatan itu adalah kedalaman data dari berbagai aspek fenomena, yang sering kali aneh, tidak beraturan, dan tidak eksplisit.

Bahasa Geertz memang rumit, berliku-liku, namun jernih dan membuat pembaca berpikir tiada henti. Di sini bukan tempatnya untuk mendiskusikan teori-teori Geertz. Cukup bagi saya menekankan betapa menariknya konsep-konsep ilmu sosial yang dikemukakan Geertz. Dan saya duga, konsep-konsep itu akan terus dikembangkan oleh para pelanjutnya.

Yang sangat menarik dari Geertz adalah refleksi dan interpretasinya yang mendalam ketika menjelaskan berbagai fenomena dan topik, dari yang sangat kecil seperti fenomena sabung ayam, sampai perubahan-perubahan besar seperti perubahan ekologi (ingat konsepnya tentang involusi pertanian), agama, hukum, ekonomi, filsafat, negara dan politik.

Pendek kata, kedua sarjana “Barat” di atas telah berjasa dan mungkin akan terus mempengaruhi perjalanan studi ilmu sosial dalam beberapa dekade lagi. Jika ada sesuatu yang dapat membuat mereka berdua tetap mendapat cahaya dan kedamaian, itu tak lain berkat jasa mereka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, melampaui batas-batas agama dan identitas. Terima kasih Watt dan Geertz!

* Muhamad Ali adalah dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, alumnus MSc Islam dan Politik di Edinburgh University, Inggris, dan kini kandidat Doktor Sejarah di University of Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat.

13/11/2006 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Mungkin kalau tiadanya insan seperti Geertz dan Watt, perang dunia ke 3 sudah lama tercetus dan kini mungkin perang yang kesekian kalinya. walaupun perang itu sebenarnya wujud di perantauan lain namun tetap dikutuk oleh dunia. pokoknya ialah kesedaran tentang kehidupan harmonis. Intinya adalah kerana kajian dan penulisan serta idea yang disumbangkan oleh tokoh pemikir tersebut.

Saya sebagai pendidik dengan ijajah sosiologi san sarjana antropologi tetapi mengajar bahasa di sekolah akan mengaplikasikan ilmu kemanusiaan sejagat ini pada setiap insan agar dunia ini tidak meletup seperti “time bom” tetapi akan jadi sejuk dengan manusia yang menghuninya adalah harmonis. Insyaalllah.
-----

Posted by Marcus Aquze Shapie  on  02/03  at  10:03 AM

Assalamualaikum wr wb Adalah hal baik mengangkat tema dari cendikiawan asing. Ada beberapa hal yang ingin saya komentari, 1. Tetapi perlu kita pahami bawah agama “religy is not only science”. Dan kita tidak bisa mutlak men"science" kan Islam. Karena ada wilayah-wilayah yang tidak bisa diterjemahkan oleh science. 2. Perlu adanya “counter-balance” dari pihak Islam academicians untuk turut menulis, terutama dalam bahasa asing “Inggris”.  Adalah hal yang sangat mengecewakan karena kurangnya akademisi/cendekiawan muslim yang menulis buku atau peer review journal.  Wassalam

Posted by Nesya  on  11/29  at  02:11 PM

Ass wr wb

Saya hanya berharap,mudah-mudahan ada atau banyak akademisi/cendikiawan islam indonesia yang mau menulis/meneliti seperti kedua almarhum. Dan juga hasil karya mereka tidak diajarkan pada tingkat mahasiswa saja.Mulai dari tingkat pendidikan tertentu sebaiknya anak-anak Islam diajarkan juga(tidak perlu mendalam).

Wass

Posted by oktara  on  11/14  at  08:11 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq