Mengenang Kembali Nurcholish Madjid - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
04/09/2006

Mengenang Kembali Nurcholish Madjid

Oleh Bawono Kumoro

Inilah salah satu kontribusi penting Cak Nur dalam mendekonstruksi paradigma berpikir umat Islam Indonesia. Jika kita melihat keengganan yang meluas terhadap ide negara Islam dan formalisasi syariat Islam di Indonesia dewasa ini, ataupun menyaksikan trend keberagamaan yang lebih menekankan sisi substantif ketimbang sisi simbolisnya, maka tidak ada keraguan sedikitpun dalam diri kita untuk menyebut nama Nurcholish Madjid sebagai seorang pioneer yang memungkinkan itu semua dapat terjadi.

04/09/2006 21:15 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Saya yakin tanggapan saya tidak akan masuk dan diterbitkan, karena saya memandang berbeda dengan orang JIL, kalo saya amati sih Dosen IAIN, yang sama keblingernya dengan Cak Nur. Cak Nur bagi penulis adalah Nabi dan dewa yg gak punya kecacatan misalnya anak Cak Nur nikah dengan orang Yahudi yang jelas bukan Islam gak pernah disingung2. Gimana dijadikan bapak bangsa wong ngurus anaknya aja gak bisa? Gimana dikatakan bapak bangsa orang gak merubah bangsa ini menjadi lebih baik, korup, ngemis sama asing dan masih percaya tahyul dan klenik. Bagi saya sih simpel aja, Cak Nur adalah orang yang tidak paham Islam tapi ngomong Islam, cendikiawan muslim itu kan kata JIL, coba dipoling yang jujur apa bener cendikiawan muslim.

#1. Dikirim oleh budi santoso  pada  08/09   05:09 AM

Assalamuálaikum wr. wb.

pendapat/tanggapan saya bahwa cak Nur tidak usah dianggap sebagai “Bapak bangsa” menurut saya (yang hanya orang awam ini) “Islam itu satu “karena di Al-Qurán Allah telah menyatakan bahwa yang artinya kurang lebih ; Aku ridho Islam sebagai agamamu(tidak ada Islam sekuler, Islam moderat atau Islam Liberal dll.) kalaupun ada sebutkan pada surat dan ayat berapa di Al-Qurán. yang saya tahu juga di al-Qurán hanya menyebut 3 golongan yaitu: Kafir, Munafik dan Mu’min.....kira-kira kita masuk pada golongan mana ? itu saja tanggapan dari saya.

mohon maaf bila ada kekeliruan

#2. Dikirim oleh ari ortega  pada  14/09   01:09 AM

susahnya diskusi sama orang yang bisanya menghujat orang lain. sepertinya tidak ada kebenaran di pihak lain. seolah-olah surga itu hanya milik mereka. jangan-jangan bung budi santoso ini gak pernah baca bukunya Cak Nur secara tuntas, tapi cuma mendengar selentingan dari ustad2 kampung yang bisanya mengkafirkan orang lain dan cuma membakar2 emosi umat tanpa pernah memberikan solusi yang jitu atas problem keterbelakangan dan kemerosotan umat Islam.

#3. Dikirim oleh roni adi  pada  20/09   01:09 AM

kalau terjadi perang dengan mengangkat senjata antara islam dengan non islam mau membela yang mana sih orang-orang jil? atau anda diserang karena memakai nama islam pada organisasi anda. kira-kira gimana ya? atau tiba-tiba saja yahudi /amerika nyerang indonesia mau ngebala islam nggak? saya sarankan orang-orang jil untuk bangun tengah malam (SHALAT TAHAJUD) LALU MERENUNG. mudah-mudahan anda dapat hidayah. semoga kerja anda-anda kedepan tidak melulu menyudutkan islam. yang katanya anda mengaku islam

#4. Dikirim oleh khairul amri  pada  20/09   11:09 AM

setidaknya ada 2 ciri jenis manusia naif dan picik: Pertama, karena ketidaktahuannya (baca: kebodohan), tetapi dia meyakininya sebagai sebuah “kebenaran” dan digunakannya untuk mencela orang lain. Kedua, melihat satu kekurangan seseorang sebagai keseluruhan, melupakan kebaikan yang lebih besar. Sayang saudara budi susanto mengindap kedua ciri manusia jenis naif dan picik tersebut sekaligus! Apa dasar anda mengatakan dosen IAIN dan Cak Nur sama-sama kebliger? kebliger menurut siapa? Tolong anda baca sejarah perkembangan pemikiran dan pembaharuan Islam di Indonesia, materi kuliah dasar di semua perguruan tinggi Islam. Agar anda bertambah wawasan sejarah Islam di Indonesia, termasuk visi-misi IAIN. Nafas Islam bisa selalu menyapa realitasnya karena ia mampu kontekstual dengan zamannya. disini sumbangsih terbesar para pembaharu Islam! sejak zaman Umar, Abduh, Ghazali, hingga Cak Nur, Gus dur dkk (sayang tidak cukup space untuk menjelaskan tema ini disini). Bayangkan Islam jika harus berhenti di abad ke 7M, menghadapi keniscayaan kemoderenan hari ini. Persoalan keluarga dan anak Cak nur, siapa sih yang lebih tahu urusan keluarganya dibanding keluarga itu sendiri? Apakah yang mejadi jaminan, nikah sesama agama lebih dicintai dan mendapat “keselamatan” dari Tuhan dibandingkan nikah beda agama? Hak preogratif “keselamatan” sebenarnya datang dari siapa? manusia atau Tuhan? Cak Nur bukan tanpa salah, banyak kritik pemikiran terhadapnya, tolong saudara budi santoso sesekali ikut kajian akademik dan baca buku lagi. (kami siap kasih referensinya jika dibutuhkan). namun, mengaitkan perkara nikah beda agama anaknya dengan “gelar bapak bangsa” serta mengabaikan kontribusinya bagi Islam di Indonesia (yang diakui oleh dunia international, lihat buku Greg Borton, Leonard Binder, Mark. R.Woodward dll) adalah sikap naif dan picik terhadap sejarah! Sayang meskipun budi mengkritik Cak Nur seperti Nabi, disisi lain budi mengharap Cak Nur menjadi ‘Dewa’ yang bisa menyelesaikan semua hal di negeri ini; korupsi, pengemis pada bangsa asing, tahayul dll, yang tentu saja mustahil dilakukan cak Nur sendiri. Proporsianlitas adalah sikap bijak menilai seseorang. Saya yakin Cak Nur ndak elergi kritik, tapi kalau dia dikatakan ndak bisa ngurus anaknya, hanya karena nikah beda agama, kalau masih hidup, mungkin Cak Nur akan tersenyum dan berdo’a “Ya Allah, ampuni orang yang memfitnahku karena ketidaktahuannya (sekali lagi baca: Kebodohan)?

#5. Dikirim oleh Eko c  pada  20/09   06:09 PM

salam hormat saya buat Bp Budi Santoso dan Khairul Amri, Bapak budi salah sangka terhadap JIL, dikira tanggapannya tidak akan dimuat, ya itulah tipe orang yang suka buruk sangka, merasa dirinya paling benar, kita semua tidak ada yang tau siapa yang paling benar, karena kebenaran yang mutlak itu hanya milik Allah SWT, kita hanya berusaha untuk menggapai kebenaran itu? salah satu caranya adalah dengan berpikir terus menerus, karena Tuhan telah memberikan semua fasilitasnya termasuk dengan otak kita, tentu otak ini untuk berpikir, jadi apakah salah kalau Tuhan mengkaruniakan otak pada manusia? Pak Budi dan Pak Khairul, kalau boleh aku memberikan saran kepada Bapak berdua, lebih baik bapak banyak-banyak membaca daripada mencela, membenci sesama manusia, karena Nabi Muhammad tidak pernah mencela dan membenci manusia,itu kalau bapak berdua masih ingin dikatakan umatnya Nabi Muhammad, kalo tidak ya terserah bapak, marah-marah itu kerjaan orang bodoh lho pak...banyak merenung dan dzikir pak khairul, jangan kebanyakan marah.
-----

#6. Dikirim oleh Sukirno  pada  21/09   04:09 AM

tolonglah pd kolam komentar tidak perlu berdebat. tunjukkanlah kalau anda2 memang memiliki intelektualitas..buat yang belum faham akan jil dan prof. Nurcholish, tlg anda bc tiap karya2 beliau dr awal, agar anda memahami pemikiran beliau.

#7. Dikirim oleh donny indra  pada  09/06   01:27 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq