Meninjau Ulang Teori Kenabian - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
03/09/2007

Meninjau Ulang Teori Kenabian

Oleh Umdah El-Baroroh

Karena meski sumber kenabian itu mempunyai hubungan dengan Yang Di Atas, yaitu Tuhan, tetapi ia sebenarnya juga bersumber dari bawah, yaitu masyarakat. Sejalan dengan pandangan kaum heterodoks adalah pandangan Fazlur Rahman yang mengatakan bahwa Nabi sesungguhnya bukanlah tukang pos yang hanya menyampaikan pesan. Sebaliknya, dalam menyampaikan wahyu, Nabi juga turut intervensi.

“Teori kenabian dalam agama Islam telah menjadi perdebatan sengit yang belum berhenti hingga saat ini. Sayangnya, perhatian umat Islam terhadap tema ini tidak terlalu besar.” Demikian pernyataan Ulil Abshar-Abdalla, mahasiswa Phd Universitas Harvard, Amerika Serikat, dalam diskusi bulanan Jaringan Islam Liberal, 5 Juli 2007 lalu. Mantan kordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) ini mengaku prihatin dengan kemandekan pembahasan soal ini. Menurutnya, wacana kenabian terakhir kali yang ditulis secara akademis oleh sarjana muslim adalah pada tahun 1980-an, oleh Fazlur Rahman. Setelah itu nyaris tak ada lagi peninjuan ulang tentang topik ini.

Sementara itu, dampak dari perdebatan tentang wacana ini telah menarik umat Islam dalam pertikaian yang berkepanjangan dan tak jarang berujung pada benturan fisik. Kasus terakhir yang membuat Ulil termotivasi untuk mendalami wacana ini adalah peristiwa kekerasan fisik terhadap Jamaah Ahmadiyah dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok yang berasal dari Pakistan ini mengaku bahwa kenabian tidaklah berakhir dengan Nabi Muhammad. Kenabian terus berlangsung, meski tidak membawa syariat baru. Lantaran berpendapat seperti ini, kelompok Ahmadiyah menjadi bulan-bulanan massa yang mengaku dirinya Islam yang paling benar di Indonesia. Keprihatinan Ulil atas kasus tersebut juga mendorongnya untuk menulis topik ini dalam tugas akhir kuliah masternya di Universitas Boston.

Dalam diskusi yang digelar untuk mempresentasikan hasil tesisnya itu, Ulil menjelaskan panjang lebar tentang perdebatan klasik soal kenabian. “Salah satu tokoh Islam klasik yang menaruh perhatian besar atas tema ini adalah Ibnu Sina”, jelasnya. “Dalam sejarah Islam, perdebatan tentang wacana kenabian diwakili dua kubu. Kubu pertama adalah kaum ortodoks yang direpresentasikan oleh para teolog Sunni. Dalam pandangan kelompok ini, Nabi atau kenabian merupakan sebuah anugerah dari Tuhan kepada manusia. Oleh karenanya, gelar kenabian bisa diberikan kepada siapa saja. Pendapat ini berbeda dari pendapat kelompok kedua, yakni kaum heterodoks yang diwakili para ahli filsafat. Mereka menyatakan bahwa kenabian sesungguhnya merupakan keniscayaan dalam kehidupan ini.”

”Wujud fisik ini tidak mungkin ada tanpa Nabi”, tandas Ulil menjelaskan pandangan kelompok kedua itu. Ibnu Sina, misalnya, mensinyalir adanya tiga kelompok manusia di dunia ini. Pertama, orang yang tidak punya kecakapan teoritis dan praktis. Kedua, orang yang punya kecakapan teoritis dan praktis hanya pada dirinya sendiri dan tidak mampu menyempurnakan orang lain. Ketiga, adalah orang yang punya kecakapan teoritis dan praktis sekaligus, serta mampu mentransformasikannya kepada orang lain. Inilah sesungguhnya yang disebut sebagai Nabi.

Masih mengutip Ibnu Sina, Ulil menyatakan bahwa Nabi intinya adalah seorang yang kekuatan kognitifnya mencapai akal aktif, yakni malaikat Jibril. Hakikat akal aktif itu sesungguhnya adalah batasan antara dimensi ketuhanan dan kemanusiaan. “Pendeknya, seorang Nabi adalah orang yang mampu berkomunikasi bukan saja dengan Tuhan tetapi juga kepada manusia. Sebab, bagi Ibnu Sina, tugas kenabian sesungguhnya juga memerankan fungsi politik, dalam arti mampu menuntun manusia untuk mengetahui hukum baik-buruk dan memberikan teladan kepada mereka untuk melaksanakannya,” jelas Ulil.

Perbedaan cara pandang dua kelompok di atas terhadap kenabian, berimplikasi pada perlakuan mereka terhadap Nabi dan ajaran-ajarannya. Bagi kelompok ortodoks, ajaran kenabian adalah ajaran yang suci dan mutlak kebenarannya. Karena semuanya bersumber dari wahyu Tuhan. Sementara bagi kelompok kedua, yaitu kelompok heterodoks, ajaran kenabian adalah ajaran manusia biasa saja. Ia bisa punya nilai kebenaran, tapi juga dimungkinkan adanya kekurangan. Karena meski sumber kenabian itu mempunyai hubungan dengan Yang Di Atas, yaitu Tuhan, tetapi ia sebenarnya juga bersumber dari bawah, yaitu masyarakat. Sejalan dengan pandangan kaum heterodoks adalah pandangan Fazlur Rahman yang mengatakan bahwa Nabi sesungguhnya bukanlah tukang pos yang hanya menyampaikan pesan. Sebaliknya, dalam menyampaikan wahyu, Nabi juga turut intervensi.

Meski kenabian menjadi tema penting dalam kajian Islam, tetapi itu tidak berarti terjadi pula pada agama lain. Menurut penelitian Ulil, tema kenabian hanya menjadi tema serius pada agama Islam dan Yahudi. Agama-agama timur, seperti Hindu, Buddha, Tao, dan lainya, tidak menaruh perhatian serius pada tema kenabian. Bahkan agama Kristen yang nota bene sesama agama samawi pun tidak seserius Islam dan Yahudi dalam memperbincangkan soal kenabian.

Karena itu, dalam menulis tema kenabian ini, Ulil pun melakukan perbandingan antara konsep kenabian dalam Islam dan dalam agama Yahudi. Salah satu tokoh Yahudi yang menarik perhatian Ulil adalah Maimonedes atau Musa bin Maimun. Seorang filosof Yahudi yang hidup sejaman dengan Ibn Rusyd ini berpendapat bahwa puncak kenabian sesungguhnya adalah Musa. Setelah itu tidak ada lagi Nabi, kecuali kenabian-kenabian minor. Kenabian minor, menurut penjelasan Ulil adalah kenabian yang muncul sebagai repetisi atau paling jauh penyempurna terhadap sebelumnya. Ia tidak sepenuhnya hadir dengan ajaran baru. Jadi Isa, Muhammad, serta Nabi-Nabi setelah Musa, dalam perspektif Maimonides hanya mengulang atau menegaskan ajaran yang telah dibawa Musa. Dan kenabian minor dalam pandangan Maimonedes ini bisa dicapai oleh siapa saja. Artinya, fenomena kenabian itu masih terus berlanjut dan siapapun bisa menjadi Nabi.

Tidak seperti biasanya, diskusi malam itu hanya menghadirkan nara sumber tunggal. Meski demikian, diskusi tetap mampu menarik perhatian audiens. Ruangan Teater Utan Kayu, tempat dilangsungkannya diskusi yang berkapasitas lebih kurang seratus orang, malam itu pun penuh sesak dipadati oleh peserta dari berbagai kalangan. Bahkan hingga sesi dialog berakhir, sebagian besar audiens tetap sabar mengikuti acara.

03/09/2007 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (9)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

saya muslim (Orang islam), saya yakin tuhan saya Allah SWT, Nabi sekaligus Rasul terakhir adalah Muhammad SAW. karena dalam AL-Quran disebut begitu.

Trus Allah menjamin Al-Quran itu benar, bukan buatan orang bodoh dan tidak ada pertentangan di dalamnya.

Jadi kalo Al-Quran bilang Muhammad adalah nabi terakhir maka otomatis saya percaya sepenuh hati karena saya percaya Allah SWT.

kalo ada yang bilang ada nabi atau rasul sesudah Muhammad SAW berarti islamnya tidak sama dengan islam saya. Islamnya mungkin beda, kalo ngaku kitabnya sucinya Al-Quran, mungkin Al-Qurannya juga beda dengan saya. Al-Quran yang saya imani adalah Al-Quran yang tidak pernah berubah selama kurang lebih 14 abad.

itulah hebatnya Allah tuhan saya. Dia sudah bisa memastikan kalo Al-Quran ku tidak akan berubah. didalamnya disebutkan nabi/rasul terakhir adalah Muhammad SAW.

kalo ada orang yang punya nabi/rasul setelah Muhammad SAW berarti Al-Qurannya ga sama dengan punyaku.
kalo dia mau percaya sama nabinya, terserah dia, ga ada urusan.

buat orang-orang yang punya Tuhan bernama Allah SWT seperti saya pasti percaya sama Al-Quran yang diturunkannya dan nabi Muhammad yang terakhir diutusnya.

Bravo untuk saudara-saudaraku yang sama-sama percaya Allah SWT, Al-Quran dan Muhammad SAW nabi terakhir.

yang tidak percaya ya terserah. kitakan beda..

i love you full..

Posted by ardi  on  08/10  at  08:31 PM

BismillahirRahmanirRahim
allahumma salli ala Sayiddina Muhammadin wa ala alihi wa sahbihi wa salim.

Allah tidak sama dengan tuhan agama lain,Nabi Muhammad saww adalah nabi terakhir,manusia tidak mengalami renkarnasi.
cari dong pewaris Alquran,tanya pada ahlinya,seorang pewaris alquran adalah orang2 yg tau sari pati dari kandungan Al-quran dan tidak akan pernah mengakui dirinya nabi walaupun pewaris alquraan memiliki karomah2 yg dasyat,apa2 yg ada di alquran pasti bisa dijohirkan dengan izin Allah dan syafaat rosulullah,seorang pewaris Alquran harus bisa menunjukkan
1.sirotul maut (8 pintu jalan kematian) (dibukakan mursid dlm 6 jam)
2.Musyahadah haqiqatun nafsi (liqo un nafsi) melihat wujud nafsi dengan mata kepala 3.musyahadah Nurun alan Nurin (QS 24:35) (liqo Allah) (dibukakan mursid 2 -4 jam)
4.Musyahadah haqiqatun Muhammadiyah SAWW (berjumpa dengan Rasulullah SAWW/liqo Rasul)

NB:kalau ada seorang guru agama atau kyai atau ahli2 dalam spiritual dan dia tau caranya dan mampu mengajarkan kepada orang2 mengenai 4 hal diatas silahkan datang ke alamat kami dibawah ini untuk membuktikan kpd kami dan ada hadiahnya uang banyak, KAMI SERIUS…
jl.BINTARA PRADANA NO 85 BINTARA BEKASI BARAT INDONESIA.

allahumma salli ala Sayiddina Muhammadin wa ala alihi wa sahbihi wa salim.WSLM

Posted by haq  on  01/31  at  12:36 AM

musa nabi trakir umatnya, yesus juga, muhammad juga… brarti silahkan buat agama lagi dong kalo pengen jadi nabi trakir. jangan ngaco agama laen dong. kalo ada yg ga trima ya wajar. memang sudah di atur begitu kekekekeke..

Posted by syahwadun  on  01/18  at  12:59 PM

bisme Allah
saya sangat setuju dengan ulil, mainstream mengatakan nabi muhammad 14 abad yang lalu sebagai nabi terakhir ini adalah laguu lama, karena semua agama besar mangatakan demikian. yahudi mengatakan tidak ada nabi yang besar lagi setelah musa sehingga mereka mengkapiri yesus sebagai juru bicara tuhan, kemudian nasrani mengatakan yesus anak tunggal Allah sehingga mereka mengingkari kenabian muhammad, sekarang banyak orang yang mengaku islam mengatakan muhammad 14 abad yang lalu nabi terakhir dengan alasan Q.s 33:40, sebenarnya ayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud muhammad bukan bapak dari seseorang anak lelaki akan tetapi muhammad itu rosul/juru bicara Allah yang menjadi kunci/stempel/akhir dari para pembawa berita/nabi, jadi musa,yesus,muhammad dan yang akan menjadi nabi di milinium 3 ini adalah sama mereka semua utusan Allah tidak boleh kita beda-bedakan, masalah sekarang banyak yang mengaku nabi biarkan saja alam yang menyeleksi mereka. kenapa tuhan mendatangkan nabi lagi karena sudah menjadi sunnatullah segala sesuatu ada batas akhirnya termasuk ajaran para nabi maka untuk memurnikannya Allah akan mendatangkan utusannya/anaknya kembali dimuka bumi ini agar tercipta kedamaian dan kesejahteraan.

Posted by rahmat syawal  on  11/26  at  02:35 PM

Yang Mulia Umdah El-Baroroh,

I. BILA INGIN JELAS TEORI KENABIAN, telah diatur didalam hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad saw., hujjah kitab-suci-Nya, yaitu seluruh nabi/rasul menyampaikan hanya satu persepsi agama yang tunggal disebut Risalah Tuhan/Allah sesuai:
1. Al Maidah (5) ayat 67: Risalah Tuhan/Allah disampaikan oleh tiap-tiap RASUL/NABI.
2. Al An Aam (6) ayat 124,125: Risalah Tuhan/Allah disampaikan oleh Allah sendiri.
3. Al A’raaf (7) ayat 62,60: Risalah Tuhan/Allah disampaikan oleh NUH.
4. Al A’raaf (7) ayat 68.65,66: Risalah Tuhan/Allah disampaikan oleh HUD.
5. Al A’raaf (7) ayat 79,75: Risalah Tuhan?Allah disampaikan oleh SHALEH.
6. Al A’raaf (7) ayat 93,88: Risalah Tuhan/Allah disampaikan oleh SYUAIB.
7. Al A’raaf (7) ayat 144,145,109: Risalah Tuhan/Allah disampaikan oleh MUSA dengan perintah langsung dari Allah.
8. Al Ahzab (33) ayat 38,39,40: Risalah Tuhan/Allah disampaikan oleh MUHAMMAD melalui jibril, dan siapa saja orang-orang yang mau menyampaikan risalah Tuhan/Allah.
9. Al Jinn (72) ayat 23,26,27,28: Risalah Tuhan/Allah disampaikan oleh RASUL yang dirido’i.
10. Penolaknaya senantiasa dari dahulu sejak Adam adalah pemuka-pemuka agama yang mengaku ulama dan nabi Muhammad saw. melukiskan Risalah Tuhan/Allah pada manasik haji sesuai Al Baqarah (2) ayat 125, Ali Imran (3) ayat 96,97, Al Maidah (5) ayat 97, Al Baqarah (2) ayat 158,189,196,197, Al Hajj (22) ayat 26,27.

II. Pemuka Agama yang mengaku warosatul anbiyaa / pewaris nabi tidak pernak menyampaikan Risalah Tuhan/Allah, tetapi menyampaikan Risalah seorang nabi yang dilarang oleh An Nisaa (4) ayat 150,151,152.
a. Menyampaikan risalah sorang nabi adalah musrik dan menyimpang jauh dari jalan yang lurus sesuai Al Hajj (22) ayat 31.
b. Musrik bunuh dengan hujjah ilmu agama sesuai At Taubah (9) ayat 5.
c. Musrik adalah najis sesuai At Taubah (9) ayat 28.
d. Musrik perangi dengan hujjah ilmu agama sesuai At Taubah (9) ayat 36.
e. Musrik jangan dido’akan untuk tidak musrik sesuai At Tabah (9) ayat 113.
f. Musrik tidak ada ampunnya untuk tidak musrik sesuai An Nisaa (4) ayat 48,116.
g. Umat beragama adalah korban teori pemuka agama yang mengaku ulama sesuai Al Baqarah (2) ayat 170, Al Maidah (5) ayat 104, Luqman (31) ayat 21.

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

Posted by Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  on  11/01  at  05:06 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq