Menunggu Syariat Universal - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
21/04/2002

Menunggu Syariat Universal

Oleh Burhanuddin

Pada saat kita menghadapi kenyataan hidup yang mengerikan, sementara kepastian hukum menjadi utopia, maka sulit kita mencegah munculnya pemikiran untuk menerapkan hukum Islam di saat hukum positif kehilangan taringnya di bumi ini. Syariat lantas mengalami idealisasi berlebihan, bahkan menjurus “mistifikasi.”

Tuntutan penerapan syariat Islam selalu timbul tenggelam, tak selalu konstan. Kembali kita diramaikan dengan isu tersebut setelah Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Menteri Kehakiman dan HAM, menyatakan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang berdasarkan syariat Islam akan segera diberlakukan di Indonesia (Republika, 11/4/2002). Adakah kaitannya dengan keputusan Mukernas Partai Bulan Bintang (PBB) pertengahan September lalu di Banten, yang merekomendasikan pemerintah untuk segera mengeluarkan KUHP Islam?

Purbasangka di atas wajar-wajar saja. Toh, Yusril adalah Ketua Umum DPP PBB yang punya hajat besar direalisasikannya KUHP Islam tersebut. Tapi, mengapa dalam hal perumusan RUU KUHP Islam ini Yusril berdalih bahwa ia sekadar melanjutkan “proyek lama” mantan Menteri Kehakiman Ismail Saleh? Bukankah, seperti diutarakan Prof. Dr. Jimly Asshiddiqi, kita sulit berbicara tentang aspirasi syariat Islam di masa Ismail Saleh tepat ketika Soeharto berkuasa saat itu?

Kalaupun toh sudah dirilis masa Orde Baru pada masa Ismail Saleh, mengapa draft rancangan UU KUHP Islam tersebut tidak dishare kepada publik? Bahkan, hingga detik ini, para “kuli tinta” sekalipun kesulitan mendapatkan draft yang segera diajukan kepada DPR itu. Selayaknya RUU KUHP Islam didiskusikan secara publik karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Syariat Islam atau hukum agama lain dan hukum adat sah-sah saja dimasukkan dalam RUU KUHP asalkan tidak mencederai prinsip umum yang berlaku pada KUHP.

KUHP, menurut praktisi hukum Bambang Widjojanto, juga harus menjadi payung hukum untuk peraturan lainnya yang terkait dengan tindak pidana. Dengan kata lain, hukum agama yang bersifat partikular (karena hanya berlaku bagi penganutnya saja) harus diuniversalisasikan agar bisa dicerna oleh penganut agama lain. Dalam istilah Kuntowijoyo, hukum agama —dan juga hukum adat— harus diobyektivasi agar pesan universal tertampilkan.

Di atas segalanya, syariat Islam yang coba ditubuhkan ke KUHP tersebut menunjukkan bukti bahwa banyak orang yang berpikir bahwa syariat Islam bisa menjadi eliksir, obat yang seolah-olah bisa menyembuhkan segala hal penyakit yang diidap bangsa ini. Walhal, setiap penyakit membutuhkan terapi dan diagnosis yang berbeda-beda. Kadang kita juga bisa mengerti mengapa tuntutan pelaksanaan syariat Islam begitu overloaded, bahkan menjurus overdosis. Tuntutan syariat tidak berdiri tunggal dalam konteks masih amburadulnya kondisi sosio-ekonomi-politik bangsa ini.

Pada saat kita menghadapi kenyataan hidup yang mengerikan, sementara kepastian hukum menjadi utopia, maka sulit kita mencegah munculnya pemikiran untuk menerapkan hukum Islam di saat hukum positif kehilangan taringnya di bumi ini. Syariat lantas mengalami idealisasi berlebihan, bahkan menjurus “mistifikasi.” Dan KUHP Islam merupakan bukti yang menunjukkan hilangnya asa terhadap hukum positif yang ada. Belum lagi fakta bahwa KUHP kita yang berlaku sekarang merupakan salinan dari wetboek van staatrecht volk Indonesia produk Belanda pada masa kolonialisme yang di negeri Belanda sendiri sudah lama ditanggalkan. Wallahu a’lam. []

21/04/2002 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (1)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Syariat Agama Universal sudah dilukiskan didalam hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad saw., hujjah kitab sici-Nya:

1. An Nashr (110) ayat 1,2,3: Agama Allah Universal setelah agama disisi Allah adalah Islam sejak dahulu kaffah menurut Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208.
2. Al Jaatsiyah (45) ayat 16,17,18: Syariat kiamatUniversal.
3. Al Baqarah (2) ayat 148: Semua kiblat agama/kepercayaan/keyakinan diuniversalkan.
4. Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22: Kebangkitan Agama Allah, Agama Universal
Apabila anda dapat mengolahnya minimal 4 hal tersebut dan hari-hari Allah lainnya, sesuai Ibrahim (14) ayat 5, Al Jaatsiyah (45) ayat 14 menjadikan rumusan universal, maka itulah Syariat Universal !

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

Posted by Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  on  07/22  at  04:56 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq