Merayakan Pluralisme Islam - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
21/11/2004

Merayakan Pluralisme Islam

Oleh Rony Subayu

Apa yang disimpulkan Khalil dan juga Abdul Raziq menggambarkan bahwa Islam, meskipun ia agama langit, tidak ”malu-malu” menampilkan dirinya dalam wajah yang tidak lagi berkarakter langit, wajah yang tidak sepenuhnya memancarkan aura ilahi, tapi sarat muatan lokalistik-Arabistik.

”… Islam banyak mewarisi peninggalan-peninggalan bangsa Arab serta mengadopsi sejumlah sistem yang berkembang di kalangan mereka, seperti aspek sosial, ekonomi, kemasyarakatan, hukum, politik, dan bahasa,” demikian Khalil Abdul Karim dalam sekapur sirih untuk karyanya Al-Judzur al-Tarrikhiyyah li al-Syari`ah al-Islamiyyah. Dalam karya bombastisnya itu, Khalil Abdul Karim menguak beberapa praktik ajaran Islam yang diadopsi dari tradisi masyarakat Arab pra-Islam. Praktik poligami, penentuan seperlima dalam pembagian hasil rampasan perang, perbudakan, syura (musyawarah), kekhalifahan dan sebagainya bukan merupakan ajaran Islam yang pure dari langit. Dalam hal ini, Ali Abdul Raziq benar ketika mengatakan dalam bukunya Al-Islam wa Ushul al-Hukm bahwa kekhalifahan bukan merupakan ajaran Islam.

Bahkan, Khalil juga berkesimpulan bahwa sebagian praktik ritual dalam Islam merupakan kelanjutan belaka dari ritual masyarakat Arab yang berumur ribuan tahun. Ia mencontohkan tradisi pengagungan Ka`bah dan Tanah Suci Mekkah, prosesi Haji dan Umrah, sakralisasi bulan Ramadhan dan bulan-bulan Haram (al-Asyhur al-Hurum/ Dzulqa`dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab), penghormatan kepada Ibrahim dan Ismail sehingga umat Islam disunahkan sembahyang dua rakaat di maqam Ibrahim tatkala menunaikan ibadah Haji, dan kebiasaan berkumpul pada hari Jumat untuk menunaikan salat Jumat.

Kenyataan ini tidak berarti Islam melulu bersifat lokalistik. Di dalam Islam juga terkandung nilai-nilai universalitas karena Islam meneguhkan dirinya sebagai agama rahmatan lil ‘alamin yang bertujuan mencerahkan kegelapan umat manusia, bukan agama rahmatan lil ‘arabiyyin (membawa rahmat hanya untuk orang Arab). Karenanya, penerimaan Islam akan unsur-unsur budaya lokal tidak dilakukan secara mentah atau telanjang, melainkan mengadopsi dan memodifikasinya dalam semangat Islam. Virus paganisme yang bersarang dalam ritus-ritus lokal disapu-bersih dan unsur dehumanitas dalam tradisi masyarakatnya secara perlahan diamputasi. Lokalitas hanyalah kulit luar yang berfungsi sebagai pengemas universalitas yang merupakan inti ajaran Islam.

Apa yang disimpulkan Khalil dan juga Abdul Raziq menggambarkan bahwa Islam, meskipun ia agama langit, tidak ”malu-malu” menampilkan dirinya dalam wajah yang tidak lagi berkarakter langit, wajah yang tidak sepenuhnya memancarkan aura ilahi, tapi sarat muatan lokalistik-Arabistik. Arabisme Islam ini nampak dalam penggunaan bahasa Arab oleh al-Quran dan narasi al-Quran yang bercerita tentang kondisi soio-kultural masyarakat Arab.

Namun, Arabisme Islam merupakan konsekuensi logis semata karena Islam tidak turun dalam masyarakat yang hampa budaya, tidak juga di luar kawasan Arab, melainkan di tengah-tengah masyarakat Arab yang kaya akan tradisi warisan leluhur. Sikap Islam yang sangat akomodatif terhadap panorama budaya lokal ini menyiratkan pesan bahwa Islam harus dibumikan dengan mempertimbangkan kearifan lokal (local wisdom).

Lokalitas merupakan suatu keniscayaan karena tanpanya, universalitas yang menjadi inti ajaran Islam tidak akan pernah punya arti apa-apa lantaran ia tidak membumi. Universalitas dan lokalitas ibarat dua sisi mata uang yang satu sama lainnya tak bisa dipisahkan. Universalitas Islam mustahil dipahami di luar konteks lokalitas. Tentu, sejarah akan bercerita lain jika Islam mengabaikan aspek lokalitas Arab di era pertumbuhannya. Sejarah tidak akan pernah mengenang kebesaran Islam jika Alquran tidak menggunakan bahasa Arab atau tidak bertutur mengenai keadaan masyarakat Arab. Mungkin Islam akan dikenal sebagai pengisi cerita di waktu senggang dalam bentangan hikayat sejarah Arab. 

Ketika Islam mendarat di Bumi Nusantara pada abad VII M dan mengalami pertumbuhan yang cukup serius sekitar abad XIV hingga menjadi agama mayoritas, kesuksesan ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kecanggihan negosiasi budaya yang digerakkan oleh para penyebar Islam Nusantara. Drama penyebaran Islam di tanah Jawa oleh Wali Songo misalnya, prosesnya tidak dilakukan dengan memotong urat nadi tradisi masyarakat Jawa, sekalipun tradisi tersebut berbau animistik- Hinduistik. Tegasnya, cara-cara Wahabistik tidak dikenal dalam kamus penyebaran Islam Jawa.

Wali Songo tidak menghancurkan tembok kuburan, tidak pula menganjurkan rakyat Jawa untuk memakai gamis, memelihara jenggot atau mengenakan jilbab bagi perempuan Jawa. Tapi, Wali Songo malah mengarifi budaya lokal setempat dengan menjadikannya sebagai instrumen penyebaran Islam seperti dipraktikkan oleh Sunan Kali Jaga yang memanfaatkan wayang untuk menarik massa agar masuk Islam. Di luar Jawa, Islamisasi juga berlangsung dalam rel kearifan lokal sehingga Islam bisa diterima secara luas oleh rakyat dari Sabang sampai Merauke tanpa disertai pertumpahan darah.

Kemunculan Islam dengan identitas keindonesiaan yang sangat berlainan dengan Islam Timur Tengah (baca: Arab) tentu merupakan fakta yang absah dan harus dipandang secara apresiatif sebagai sesuatu yang wajar, bukan hal yang menyimpang. Pluralisme dalam skala mikro seperti ditunjukkan oleh keberadaan Islam Kejawen, Islam Dayak, Islam Samin, Islam Sasak dan seterusnya yang dalam banyak segi berbeda haluan dengan Islam masa awal yang Arabsentris, tidak bisa diklaim sebagai sesuatu yang mengada-ada atau heuretik.

Dalam kerangka ini, gerakan puritanisasi yang digelar oleh sejumlah ormas Islam tentu merupakan aksi pengingkaran atas watak Islam yang pluralis. Meminjam sudut pandang Hermeneutika Gadamerian, Islam adalah sebuah ”teks” yang terbuka untuk selalu direproduksi sesuai horison pembaca. Umat Islam Indonesia dengan warna-warni budayanya berada pada posisi sebagai pembaca ”teks Islam” sehingga memiliki otoritas penuh untuk menerjemahkan Islam secara berlainan dengan Islam masa awal atau corak Islam di kawasan dunia manapun. Umat Islam Indonesia berhak mereproduksi Islam dalam semangat keindonesiaan. 

Kesulitan membedakan antara Islam dan Arabisme merupakan penyakit akut yang melanda kebanyakan umat Islam di dunia. Kegagalan memisahkan keduanya berimplikasi pada pemahaman bahwa Islam itu satu, yakni Islam Arab. Pluralisme Islam akan dipandang sebagai bid`ah. Kelekatan Islam dengan Arabisme ini telah berlangsung sedemikian jauh sehingga muncul pandangan bahwa kadar keislaman seseorang diukur dari seberapa kental nuansa Arabisme yang mewarnai perilaku keagamaannya. Berdoa dengan bahasa Arab dipandang lebih ”Islam” ketimbang menggunakan bahasa selain Arab (Ajam). Orang yang memakai gamis atau perempuan berjilbab akan dipandang sebagai seorang muslim sejati dibanding dengan yang lain.

Sepanjang kita gagal memisahkan antara Islam dan Arabisme, maka ada tiga hal yang muncul: Pertama, kegagalan menangkap pesan Islam yang sejati yang terkandung dalam aspek universalitasnya. Kedua, runtuhnya proyek pluralisme Islam, dan Ketiga, matahari peradaban Islam akan selalu terbit di dunia Arab karena dipandang sebagai representasi Islam yang paling absah. Usaha mengalihkan peradaban Islam dari tanah kelahirannya ke Tanah Air misalnya, hanyalah sebentuk angan-angan, meskipun potensi bangsa Indonesia untuk meneguhkan diri sebagai matahari peradaban Islam sangatlah memungkinkan karena ditunjang oleh watak Islam Indonesia yang –meminjam istilah Fazlur Rahman- lebih terbuka, demokratis dan egaliter dibanding Islam yang tumbuh di kawasan lain, serta didukung besarnya jumlah pemeluk agama Islam yang melampaui eskalasi umat Islam di penjuru dunia manapun. 

Dus, Islam dan Arabisme harus dibedakan sehingga pluralisme Islam bisa dirayakan. Islam tidak pernah seragam. Ia beragam karena teramat akomodatif terhadap warna-warni budaya lokal sebagaimana ditunjukkan dalam sejarah perkembangannya. Pluralisme Islam adalah keniscayaan karena Tuhan menghendaki demikian. []

Rony Subayu, Peneliti Ciganjur Centre Jakarta

21/11/2004 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (11)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Buat mas Muh Islam

Ass…

Mas Muh, nama anda ada embel-embel islamnya tp ko pandangan anda jauh dari islam itu sendiri. Islam tdk pnah membeda2kan etnis, suku, bangsa. Semua sama dihadapan ALLAH SWT. Jd kepribadian bangsa indonesia ya ga ada yg ada kepribadian islam. Makanya diislam paham seperti kebangsaan, sukuisme itu tdk ada.

Coba anda baca alquran pasti ada yg menyatakan bahwa umat islam itu bersaudara karena agamanya bukan karena suku, bangsa atau yag lainnya. Anda pcaya Alquran kan? Kl ga pcaya ya udah?
-----

Posted by agung wibowo  on  12/12  at  11:12 AM

Aku mau mengkoreksi tentang kalimat bahwa perempuan yang memakai jilbab itu mengikuti budaya arab. Waduh, menurut saya berkerudung bukan budaya bangsa Arab, tapi budaya Islam. Bisa kita lihat banyak perempuan Arab non-muslim yang tidak menggunakan jilbab dan perempuan Amerika muslim yang menggunakan jilbab. Kalau jilbab disebut budaya Arab, perempuan Arab muslim maupun non-muslim pakai kerudung dong! Perintah jilbabkan sudah jelas, kata-katanya bukan kiasan. Selain itu, kita harus bisa bedakan mana yang sharih dan mana yang ghairu sharih. Sebenarnya saya mendukung islam liberal. tapi kritik saya untuk JIL indonesia itu, cobalah mengerti mana perintah yang jelas (sharih) dan perintah yang tidak jelas (ghairu sharih). Selain itu, program JIL sangat baik untuk menjaga perdamaian antar agama di Indonesia. Thanks. VIVA JIL.

Tanggapan redaksi: Budaya Jilbab memang budaya Arab. Karena perempuan non-muslim di Arab yang juga memakai jilbab.

Posted by Ahmad Zuhdi 'Allam  on  12/09  at  11:13 PM

Assalammu’alaikum....,sesungguhnya kaum muslim ketika menanggapi suatu ayat (apalagi yang sifatnya pedoman hidup) harus lah melihat secara konseptual,bukan kontekstual,jadi ayat/hukumtersebut akan selalu relevan sepanjang masa,syukron,Wassalamu’alaikum!

Posted by Hilmansyah S  on  12/09  at  02:12 AM

1. Islam ada sejak nabi adam diturunkan ke bumi. Dan pada saat itu pula setanpun diturunkan ke bumi. Jadi bukan islam yang berasal dari budaya arab. Tapi yang benar adalah budaya arab yang baik berasal dari islam & budaya arab yang jelek berasal dari setan. 2. Saya sependapat jika islam harus dibumikan oleh kearifan lokal sepanjang hanya bersifat teknis agar hal-hal yang substansial bisa terlaksana dengan baik. Tapi jika yang dimaksud dibumikan adalah menyangkut hal-hal yang substansial, kita harus diskusi dengan Allah karena kita tidak punya hak untuk mengutak-atik hal-hal substansial dari islam agar sesuai dengan keinginan kita. Atau lebih baik secara jantan kita menyatakan bahwa diri kita tidak setuju dengan islam. 3. Islam pluralis yang anda maksud sebenarnya sudah ada & futuh semenjak indonesia merdeka dan sampai sekarang menjadi pemahaman yang didukung oleh banyak orang islam dari tingkat yang paling bawah sampai ke pemerintah dan wakil rakyat. Tapi pada kenyataannya justru islam hanya mewarnai kehidupan dimasjid-masjid. Di dalam kehidupan bermasyarakat & bernegara justru terwarnai oleh pemahaman liberal yang mengesampingkan aturan Allah sejauh-jauhnya. Dan apa produk yang dihasilkan dari semua itu. Generasi yang miskin, korup, banyak tingkah, bodoh karena hanya senang dengan hal-hal yang mistis dan erotis. Akibatnya jelas bisa kita lihat sampai sekarang bangsa indonesia selalu berada dalam kehinaan dan keterpurukan. Jadi jelas, islam pluralis hanya memberikan kesempatan agama lain untuk mengambil peran yang amat substansial dalam kehidupan kita. Agama lain itu adalah agama liberal yang pada kenyataannya tidak pernah menguntungkan buat kita semua.

Posted by Imam BS  on  11/27  at  10:11 AM

Dear Mas Hengki,

Menurut saya, amatlah sangat disayangkan apabila anda menganggap usaha Wali Songo untuk menyebarkan Islam di Indonesia adalah suatau kegagalan. Sebab apabila memang benar beliau-beliau tersebut gagal dalam tugasnya maka mungkin mas Hengki saat ini masih beragama Hindu.

Saya sendiri termasuk orang sangat bangga dengan agama Islam yang tumbuh di Indonesia. Selain kita memiliki Islam sebagai agama yang resmi diakui di Indonesia, kita pun memiliki 4 agama lainnya yang saya yakini sama baiknya dengan agama Islam yang kita anut. Karena selain agama-agama tersebut yang turun langsung dari Allah Swt, kita memiliki suatu pandangan hidup yang amat sangat tinggi nilainya yang berasal dari nilai-nilai luhur yang dianut nenek moyang kita dan saya yakin pun dunia mengakuinya yaitu PANCASILA. Saya pun meyakini dengan adanya Pancasila agama Islam dan keempat agama lainnya yang dianut di Indonesia menjadi lebih sempurna, bahkan tumbuh menjadi lebih sempurna dari tempat asal agama itu sendiri. Ini tentu pandangan saya sebagai orang Indonesia yang mungkin Subyektif.

Kebenaran yang hakiki memang sungguh hanya Allah yang tahu, tetapi alangkah baiknya kita sebagai bangsa yang sudah diakui oleh dunia sebagai bangsa yang berbudaya tinggi, tidak melupakan akar darimana kita berasal.

Wassalam,

Janur Nugroho

Posted by Janur Nugroho  on  11/26  at  01:11 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq