Mereka Tidak Menggunakan Akal - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
01/11/2002

Prof. Dr. Salah Kansu: Mereka Tidak Menggunakan Akal

Oleh Redaksi

Beginilah kehidupan para jama’ah ekstrim itu selama bertahun-tahun, mereka tidak menggunakan akal mereka, akal yang sudah dicuci dan dimabukkan dengan doktrin-doktrin itu.

Dari Buletin Tanwirul Afkar LTNU Mesir, Edisi II, November 2002:

Sejak tragedi 11 September tahun lalu, Amerika telah menabuh genderang perang terhadap terorisme. A War Againts Terorism, demikian slogannya. Namun, terorisme sendiri bak makhluk halus, sulit didefinisikan apalagi ditangkap. Ketidakjelasan definisi ini menyebabkan sikap menghadapi terorisme secara membabi-buta. Untuk itu, Tanwîrul Afkâr mencoba mewawancarai salah seorang pemikir Mesir yang tidak asing lagi, Prof. Dr. Salah Kansu. Menurutnya, salah satu penyebab munculnya terorisme adalah tertutupnya pintu dialog dan matinya akal pikiran manusia. Berikut petikan wawancara Mas Guntur Romli, Imam Thola’at, dan M. Anis Mashduqi dari Buletin Tanwîrul Afkâr dengan beliau.

Apa definisi terorisme dan sejauh mana batasan-batasannya?

Terorisme adalah perlawanan atau peperangan bukan pada serdadu (militer) melainkan terhadap orang-orang yang tidak berdosa dan masyarakat sipil. Mereka adalah pembunuh-pembunuh pengecut yang mengambil sikap dengan membunuh orang-orang tak bersalah, dengan target, yaitu menciptakan ketakutan. Teroris adalah menakut-nakuti dan mengancam. Ia tidak bisa diterima oleh akal manusia dan tidak dibenarkan oleh semua agama. Apa yang dilakukan oleh Al-Qaidah adalah nyata-nyata tindakan teroris dan tidak bisa dikatakan sebagai perjuangan di jalan Allah. Ia adalah aksi murahan, pengecut dan tidak jantan.

Apakah ada hubungannya antara ‘unf (kekerasan) dengan terorisme?

Terorisme ya ‘unf itu sendiri, hanya saja ‘unf di sini lebih umum. Orang kemudian cenderung menggunakan ‘unf untuk segala aksi yang terencana oleh suatu kelompok tertentu, khususnya kelompok politik. Dan sekarang ‘unf adalah alat kekejaman dengan dalih membela diri atau untuk melancarkan serangan terhadap orang lain, sebagai ganti dari dialog dan perundingan.

Bisa Anda menjelaskan akar-akar historis dari terorisme?

Akar historis terorisme sangat akrab dengan sejarah, khususnya sejarah kaum Muslimin. Pertama kali, muncul istilah pembunuhan politis (ightiyâl siyâsî). Dalam sejarah, terdapat sekte bernama Al-Hasysyâsyîn. Sekte ini merupakan sempalan dari kelompok ekstrim Syi’ah Isma’iliyyah dan kelompok yang berafiliasi secara politik terhadap Daulah Fathimiyah di Mesir. Dalam pergerakannya mereka sangat ekstrim, dan militan dipimpin oleh Hassan Al-Shabbah. Kelompok itu mempunyai benteng pertahanan di sebuah bukit barat daya Iran, tepatnya di daerah Almut. Di benteng itu sekolompok pemuda dilatih menyerang dan membunuh terhadap musuh-musuh politik kelompok ini, targetnya, para menteri, panglima-panglima meliter, dan pembesar-pembesar pemerintah yang lain. Agar mudah didoktrin mereka diberi hasyîsy hingga mabuk dan diiming-imingi masuk sorga jika melaksanakan perintah. Petuah dan perintah pemimpinnya dipatuhi dan dijalankan dengan ikhlas, hingga disuruh untuk melakukan aksi bunuh diri pun mereka mau, tentu saja dengan jaminan masuk surga. Nah beginilah kehidupan para jama’ah ekstrim itu selama bertahun-tahun, mereka tidak menggunakan akal mereka, akal yang sudah dicuci dan dimabukkan dengan doktrin-doktrin itu. Di dalam bahasa Inggris kita temukan kalimat assasination yang bermakna pembunuhan, kalimat ini sebenarnya diadopsi dari nama itu, yaitu, Al-Hasysyâsyîn. Perbuatan mereka sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan tidak menunjukkan keberanian, kemanusiaan, dan keperwiraan. Setelah itu datang beberapa jama’ah ekstrim yang yang mengaku memperjuangkan Islam. Mereka menggunakan legitimasi-legitimasi agama untuk melakukan aksi mereka sebagaimana pernah dilakukan oleh Khawarij yang membunuh Ali bin Abi Thalib.

Secara umum apa sebenarnya dasar pemikiran mereka?

Mereka tidak mau berdialog, dan berdiskusi, mereka juga tidak mau menggunakan akal mereka, mereka tetap pada pendapat mereka dan melakukan kekejaman, pembunuhan, terorisme dan aksi-aksi kekerasan. Seakan pendapat dan sikap yang diambil oleh manusia itu hanya sebuah bagian dari jasad yang baku dan tetap dan bukannya pemikiran dan ide yang bisa untuk diperdebatkan dan didialogkan.

Jadi dalam hal ini jasad adalah adalah obyek hukuman bagi mereka, bukan dialog dengan menggunakan akal, karena mereka tidak mempergunakan akal mereka, andai saja mereka menggunakan akal mereka tentu akan terjadi dialog. Mereka tidak mempunyai akal untuk berpikir, berdialog dan kemungkinan merubah pemikiran mereka, seumpamanya, sekarang saya berpikir tentang suatu keputusan dan sikap, tidak menutup kemungkinan keputusan itu akan saya rubah dengan memepertimngkan ide dan pendapat lain. Nah mereka tidak memiliki sikap itu, jadi sikap itu bukanlah sebagimana bagian dari jasad saja, tapi keseluruhan. Mereka tidak melihat bahwa pikiran manusia itu adalah kebebasan, opsi dan pemikiran yang mugnkin saja berubah. Inilah paradigma terorisme dan ekstrimis sepanjang sejarah dunia.

Apa sebab-sebab dari aksi terorisme?

Munculnya aksi-aksi terorisme adalah akibat tertutupnya pintu-pintu dialog. Jika jalan-jalan dialog ditutup, maka, mereka akan menggunakan aksi-aksi terorisme dan kekerasan. Maka jangan heran, kalau kelompok-kelompok teroris banyak muncul di negara-negara tiran dan diktator yang tidak memungkinkan adanya dialog, meskipun tidak menutup kemungkinan kelompok-kelompok tersebut terdapat juga di negara-negara demokratis. Terdapat dua sebab yang sangat mendasar, pertama, sebab khusus yang berhubungan dengan pola pikir mereka, dan kedua, kondisi sosial dan politik yang mempengaruhi mereka. Namun sebab yang paling mendasar dan orisinil adalah metode berpikir mereka yang menolak terhadap pemikiran orang lain dan siapa saja yang berbeda dengan mereka, anti toleransi dan dialog. Mereka tidak menggunakan akal mereka, karena jika menggunakan akal maka dengan sendirinya mengharuskan adanya dialog. Sedangkan mereka tidak berpegang kepada akal tetapi kepada senjata yang mereka anggap lebih penting dari akal. Namun pada akhirnya, sepanjang sejarah, mereka diserang diburu dan memperoleh balasan kekerasan lebih besar dari kekerasan yang mereka perbuat. Mengapa? Karena sejak awal mereka menantang untuk berperang dan berkonfrontasi fisik.

Bagaimana posisi agama yang dijadikan sebagai alat legitimasi dari aksi-aksi mereka?

Masalah agama adalah masalah kemanusiaan yang telah menyejarah dan tidak akan berhenti. Meskipun agama mengandung teks-teks suci dan statis, tapi penafsiran dan takwil manusia akan berbeda antara satu individu dengan individu yang lain. Ada orang muslim yang menafsirkan teks tersebut dengan penafsiran yang toleran, ramah dan mampu terbuka dengan manusia dan agama lain. sehingga mensosialisasikan agamanya sebagai pesan, petunjuk dan kemajuan, Akan tetapi kebanykan mereka sekarang ini mensosialisasikan agamanya dengan kekerasan dan anarksime, mengkafirkan dan membagi manusia dengan kategori muslim kafir, tidak kategori lain. Sebagaimana pengkategorian Usama bin Laden yang membagi dunia ini menjadi Islam dan Kafir, ini jelas suatu hal yang tidak islami secara mutlak. Agama datang bukan untuk membenci dan permusuhan tetapi ia datang sebagai petunjuk dan nasehat. Manusia tidak bisa menghukumi atas manusia yang lain dalam hal duniawi, bahkan secara mendasar dalam agama, hukum itu adalah milik Allah sebagaimana hari akhir, Allahu yahkumu bainakum yaumal qiyamah, bukankah begitu? Tetapi mereka malah merampas hak Tuha dihari akhir untuk menghukumi musuh-musuh mereka. Sebagai ganti dari Wallahu yahkumu ma yasya…merekapun menghukumi sesuka mereka seakan mereka menerima perwakilan dari Tuhan untuk mneghukumi.Maka timbullah apa yang kemudian mereka sebut sebagai hakimiyyatullah, tapi sayang mereka telah menjadikannya sebagai alat dan perantara untuk berbuat dengan atau atas nama Allah. Apa yang mereka perbuat, menurut mereka adalah sesuai dengan keinginan Allah, begitu juga apa yang mereka katakan.

Lalu, bagaimana dengan ayat-ayat perang yang sharîh dalam Al-Quran?

Umat Islam sekarang ini terkadang asal mencomot ayat yang kira-kira sesuai dengan motif dan tujuannya, mereka memperlakukan teks tanpa mengerti terlebih dahulu asbâb-l-nuzûl-nya. Al-Quran menyebut orang-orang yang memerangi kita. Islam tidak pernah memulai untuk melakukan permusuhan dan peperangan. Dan Allah tidak menyukai orang yang berlebihan. Kita hanya melakukan sebanding dengan apa yang orang lain lakukan.

Tapi, bagaimana jika ada yang berpendapat bahwa aksi-aksi kekerasan dan terorisme merupakan reaksi dan balasan dari aksi-aksi kekerasan sebelumnya?

Tidak diragukan kebenaran pendapat tersebut, kalau aksi-aksi itu merupakan aksi-aksi balasan. Tapi, masalahnya apakah reaksi ter­sebut bisa dikatakan sudah tepat, benar dan Islami? Tidak diragukan bahwa aksi-aksi teror terutama dari pihak kaum Muslim terhadap Amerika adalah akibat dari kelaliman Amerika, tapi mengapa pembalasannya dengan menghancurkan gedung WTC? Justru akibat dari aksi-aksi itu dijadikan dalih oleh Amerika untuk membalas dan semakin menyudutkan kaum Muslim. Coba kita berpikir sejenak, akibat dari tragedi 11 September, siapa yang membayar mahal? Kita bukan? Kita kaum Muslim. Tindakan yang sangat bodoh, bukan? Saya ti­dak mau menuduh dan meragukan keimanan dan niat para pelaku tersebut. Mereka bebas dengan keyakinannya. Tapi, saya meragukan akal mereka. Jika memang masalahnya kolonialisme, maka, gunakan cara yang mulia dan jantan, bukan dengan cara membunuhi manusia-manusia tak berdosa. Mengapa kita bangga dengan Islam kita, sedangkan pandangan dan sikap kita tidak Islami dan manusiawi? 

Bisa dijelaskan organisasi-organisasi terorisme internasional?

Banyak sekali organisasi terorisme internasional. Dalam ilmu kriminologi, kejahatan ini disebut tindak kriminal terlembaga dan terencana. Modus operandinya seperti mafia di Amerika yang muncul dari Italia Selatan. Tapi, mafia terbatas pada tindak kriminal saja. Tidak jauh dengan mafia, organisasi terorisme juga memiliki jaringan. Baik yang berhubungan dengan politik, ideologi atau yang lainnya. Seperti suku Bask yang se­ring melakukan aksi-aksi teror di Spanyol dengan organisasinya, bernama ETA. Juga organisasi teroris lain seperti kelompok ‘Bendera Merah’ di Jerman yang sudah punah. Mayoritas anggota kelompok teroris ini dari kalangan muda yang penuh semangat, emosional dan pemikiran yang belum matang sehingga mudah dipengaruhi.

Apakah aksi-aksi bom bunuh diri di Israel yang dilakukan orang Palestina bisa disebut aksi teroris?

Masalah ini sedikit berbeda. Tapi, pendapat pribadi saya, aksi tersebut lebih banyak bahayanya dari pada faedahnya. Dan tidak ada satu agama pun yang memperbolehkan membunuh manusia-manusia tidak berdosa. Salah satu alasan dari aksi tersebut sebagai bukti bahwa Sharon tidak berhasil menciptakan kedamaian di Israel, dan per­lawanan Palestina tidak pernah pupus. Tapi, coba Anda saksikan balasan dari pihak Israel, lebih dahsyat dan memakan banyak kor­ban jiwa di pihak Palestina. Balasan yang membabi-buta sangat mudah dilakukan Israel, karena mereka lebih kuat, memiliki tank, rudal, pesawat tempur dan peralatan perang canggih lainnya. Yang perlu dicatat, aksi-aksi bom bunuh diri ini dilakukan oleh kelompok-kelompok di luar pemerintah Palestina (PLO), yang menutup jalan dialog dan perundingan dengan Israel, seperti HAMAS dan Jama’ah Jihad Islam. Saya pribadi yakin pelaku pengeboman yang mayoritas para pemuda itu bisa dibilang syahid. Tapi, saya mengecam otak sutradara di balik aksi-aksi tersebut. Mohon maaf, kalau kita menilik kembali sejarah perjuangan Islam tidak pernah membunuhi masyarakat sipil. Yang diserang adalah militernya, bukan orang yang sedang makan di restoran. Anda bisa membaca kembali sejarah perjuangan Muslim kontemporer, terutama di Aljazair.

Terakhir, bagaimana sikap kita terhadap fenomena terorisme ini?

Pertama, fahami dulu fenomena tersebut. Gesekan dan benturan dalam hidup sudah biasa, tapi bukan berarti berujung pada pembunuhan dan kekerasan. Aksi-aksi teror tidak berfaedah sama sekali. Sekali lagi, tanya pada akal kita, apa faedah dari aksi-aksi kekerasan? Saya yakin, jawabannya pasti satu, tidak ada faedahnya sama sekali. Silakan dipikirkan!. []

Profil Prof. Dr. Salah Kansu

Lahir di Cairo Utara, Delta, 19 Januari 1936. Menyelesaikan studi, S1, S2, dan S3 di Cairo University. Tesis MA dengan judul Al-Qiyam Fî Dhauw’I al-Madzhab al-Insânî. Disertasi Doktornya dengan judul, al-Mawdlu‘iyyah fi al-‘Ulûm al-Ijtimâ‘î. Mengambil Diploma (diblûm ‘âlî) tentang Metodologi Penelitian Ilmu Sosial (Manâhij al-Bahst fi al-‘Ulûm al-Ijtimâ‘iyyah) di Oslo Norwegia.

Karya-karya terpentingnya. Falsafatul ‘Ulûm al-Ijtimâ‘iyyah, Nadlariyah al-Qiyam fi al-Fikr al-Mu‘âshir, Falsafah al-‘Ilm (mendapat hadiah negara kategori buku filsafat terbaik tahun 1981 dan sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris), dll.

Mantan Wakil Dekan Fakultas Adab Cairo University, Mantan Dekan Ma’had Alî li al-Naqd al-Fannî di Akademi al-Funûn Cairo, Mantan ketua jurusan Filsafat Fak. Adab Univ. San’a Yaman.

Sekarang Guru besar filsafat dan sosiologi di Fakultas Adab (Faculty of Art), Fakultas Ekonomi dan Politik, Cairo University. Dan Guru besar filsafat, ilmu estetika (’ilm al-jamâl), dan metodologi penelitian (manâhij al-bahst) di pasca sarjana Akademi al-Funûn Cairo. Anggota Majlis A‘la li al-Tsaqâfah Cairo Mesir, anggota al-Jam‘iyyah al-Falsafiyah al-Mishriyyah.  Menulis masalah-masalah keagamaan, politik, budaya, dll. di koran-koran dan majalah-majalah, seperti Al-Ahram, Al-Hayat, Al-Hilal, dll.

01/11/2002 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq