Metode Studi Alqur’an ala JIL - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
05/01/2010

Metode Studi Alqur’an ala JIL Reportase Diskusi Buku Metodologi Studi Alqur’an

Oleh M. Irsyad

Dia juga menyebutkan adanya sejarah kekuasaan saat Mushaf Usmani dijadikan ‘closed official corpus’ dalam istilah Mohamed Arkoun. Saat itulah Alqur’an menjadi suci. Dia menekankan pembaca untuk membedakan antara wahyu dan penulisan, qur’an dan penafsiran, yang absolut dan yang relatif. Menurutnya hubungan antara teks, konteks dan pembaca itu sangat menentukan. Pada kelompok tekstualis, yang terjadi adalah hubungan antara teks dan pembaca saja, tidak memperhatikan konteks. Menurutnya, konteks perlu dilihat agar Alqur’an menjadi “shâlih li kull-i zamân wa makân”. 

Buku “Metodologi Studi Alqur’an” hadir di tengah langkanya buku-buku bermutu tentang metode penafsiran Alqur’an. Karena itu Forum Mahasiswa Ciputat bekerja sama dengan Jaringan Islam Liberal dan BEM Aqidah Filsafat UIN Jakarta, menggelar Seminar untuk memperkenalkan buku tersebut kepada kalangan akademik UIN Jakarta. Acara itu diselenggarakan Selasa, 22 Desember 2009, bertempat di Ruang Teater Lantai II Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN Jakarta. Seminar menghadirkan Prof. Dr. Zainun Kamal, Dr. Yusuf Rahman, dan Dr. Moqsith Ghazali dengan moderator Mumu Mahmudin S.Th.I. Secara umum, buku ini disambut baik oleh para dosen dan mahasiswa. Tercatat ada 145 peserta dari berbagai kampus dan jurusan yang hadir dalam acara itu.

Acara dimulai pukul 9.30 WIB. Prof. Dr. Zainun Kamal, dosen dan guru besar UIN Jakarta, mendapat kesempatan pertama untuk mengulas buku itu. Dia melihat masih banyak yang belum terulas dalam buku yang menurutnya terlalu tipis untuk ukuran buku daras itu. Salah satu yang harus diperinci dan dikembangkan adalah tentang sejarah huruf, alfabet dan bahasa Arab, pada bagian pertama. Itu ada kaitannya dengan tema sab`ah ahruf yang selalu jadi polemik dalam Ulumul Quran. Selain itu, banyak kata-kata kunci yang perlu diperjelas dan dipertegas seperti makna kitab, qur’an, wahyu dan syariah; apakah dalam artian umum atau hukum. Dia melihat ide-ide dalam buku ini tidak terlalu baru. Namun meski demikian, secara umum buku ini merupakan sumbangan yang bagus dengan catatan perlu terus dikembangkan.

Pembicara kedua, Dr. Yusuf Rahman, dosen pascasarjana UIN Jakarta, mengingatkan adanya peluang untuk mempertanyakan otoritas penulis buku yang latar belakangnya bukan dari tafsir hadits. Meski begitu, ia lebih mengutamakan argumen ketimbang latar belakang penulis. Menurutnya, dalam tipologi Abdullah Said, ketiga penulis itu termasuk critical muslim scholars. Dia juga menyebutkan adanya sejarah kekuasaan saat Mushaf Usmani dijadikan ‘closed official corpus’ dalam istilah Mohamed Arkoun. Saat itulah Alqur’an menjadi suci. Dia menekankan pembaca untuk membedakan antara wahyu dan penulisan, qur’an dan penafsiran, yang absolut dan yang relatif. Menurutnya hubungan antara teks, konteks dan pembaca itu sangat menentukan. Pada kelompok tekstualis, yang terjadi adalah hubungan antara teks dan pembaca saja, tidak memperhatikan konteks. Menurutnya, konteks perlu dilihat agar Alqur’an menjadi “shâlih li kull-i zamân wa makân”.

Pembicara ketiga yang merupakan salah satu penulis buku, Dr. Abd. Moqsith Ghazali, menjelaskan dua tujuan penulisan buku ini. Pertama untuk dijadikan buku panduan bagi UIN/STAIN dll. dan karena itu dibuat sepadat mungkin. Tujuan kedua adalah untuk menjawab kritik yang menganggap bahwa JIL tidak punya metode dalam menafsirkan Alqur’an. Isi dari buku ini menurutnya ada dua hal: pertama, memberikan konteks yang lebih historis terhadap Alqur’an. Alqur’an mengalami proses yang sangat panjang dan tidak ada secara tiba-tiba. Ini berkaitan dengan bagian kedua yang membicarakan tentang yang ‘aural’ dan yang ‘kanonik’. Pada masa awal, Alqur’an hanya diucap dan belum dalam bentuk benda tertulis. Baru beberapa waktu kemudian Alqur’an disusun menjadi tulisan dan dijadikan kanun atau hukum. Saat itulah baru dicari kemukjizatannya. Proses itu cukup panjang, kita bisa melihat tertib surat, urutan ayat dalam satu surat yang berbeda-beda antar satu mushaf dan mushaf yang lain. Bagian ketiga kemudian mengkaji “Al-Itqân fî `Ulum al-Qur’ân”. Di situ dipaparkan beberapa kesalahan gramatikal dalam Alqur’an.

Dalam sesi tanya jawab, ada lima peserta yang mengajukan pertanyaan dan pernyataan. Penanya pertama, Ulul Azmi, meminta agar ditunjukkan tafsiran yang paling benar yang bisa dijadikan pedoman. Dia juga menanyakan jika Allah maha benar, kenapa dalam Alqur’an masih terdapat kesalahan? Penanya kedua dari Institut Ilmu Alqur’an, menanyakan pendekatan dan nuansa yang ditawarkan dengan latar belakang penulis yang demikian. Dia mengemukakan keberatannya dengan kata liberal dan mempertanyakan kenapa orang liberal kebanyakan berlatar belakang santri. Dia juga meminta penjelasan soal konsekuensi “corpus tertutup” Arkoun yang dikemukakan Yusuf Rahman bagi penafsiran.

Penanya ketiga, dari jurusan Tafsir Hadits UIN mempertanyakan perspektif penulis buku ini. Dia juga meragukan apakah gramatika yang mengikuti aturan Alqur’an atau Alqur’an yang mesti mengikuti gramatika bahasa Arab. Menurutnya tidak ada yang baru dalam buku ini dan JIL hanya membuat kekacauan saja. Penanya keempat dari Tafsir Hadits mengemukakan ketidaksetujuannya terhadap pernyataan Moqsith Ghazali tentang adanya kesalahan gramatikal di dalam Alqur’an. Menurutnya gramatika Arab itu muncul belakangan pada abad 3-4 dengan mengikuti Alqur’an, bukan sebaliknya. Dia juga berpendapat bahwa ada penafsiran ulama yang absolut, yaitu penafsiran yang sudah mencapai tahapan ijmâ`. Penanya kelima hanya berkomentar bahwa buku ini tidak diragukan akan mengundang banyak perdebatan, namun dari situlah ilmu berkembang.

Dr. Moqsith berkesempatan untuk memberi tanggapan pertama. Satu, dalam menafsirkan Alqur’an, penafsir di antaranya harus mengerti konteks linguistik dan sosial Alquran. Kita harus mengerti bukan hanya sabab al-nuzul yang juz’i tapi juga yang kulli. Dua, kekeliruan gramatikal dalam Alquran itu bisa saja terjadi. Bukan hanya karena Allah berfirman tanpa suara dan aksara, melainkan karena ketika Alquran itu turun ilmu gramatika bahasa Arab belum tersusun secara sistematis. Allah berfirman tak seperti ketika kita bicara atau membaca Alqur’an. Sementara menanggapi orang yang meragukan otoritas dirinya, Moqsith mengatakan bahwa otoritas justru baru diperoleh saat seseorang menulis buku. Lalu, mengapa orang liberal itu banyak yang berlatar belakang santri? Menurutnya, menjadi Muslim liberal itu membutuhkan sejumlah kelengkapan intelektual, mulai dari penguasaan terhadap ilmu-ilmu keislaman tradisional seperti fikih, tafsir, gramatika bahasa Arab, hingga ilmu-ilmu modern seperti sosio-linguistik, antropologi, filsafat, dan lain-lain. Menjadi liberal tak cukup hanya membaca majalah-majalah keislaman yang berisi provokasi dan pengkafiran.

Prof. Zainun menyoroti penggunaan kata ‘dzikrâ’ oleh Dr. Moqsith yang diartikan sebagai Alqur’an. Menurutnya, ’dzikrâ’ itu adalah transformasi dari wahyu Allah yang tidak berbahasa untuk kemudian dibahasakan. Dia menegaskan, Ilmu Nahwu Sharaf belum ada pada masa awal. Pada saat Alqur’an dibukukan, tentang gramatika tidak pernah dibicarakan. Saat itu tidak ada gramatika karena orang-orang sudah mengerti, tapi kemudian hari, setelah Islam berkembang ke luar jazirah Arab, terjadi banyak salah paham dan dari situlah diperlukan gramatika. Karena itu jangan gegabah menjadikan gramatika Syibaweh sebagai ukuran benar atau salahnya Alqur’an, karena ia muncul belakangan. Dia berpesan, ilmu terus berkembang, dan buku ini langkah awal yang harus terus dikembangkan oleh para mahasiswa.

Yusuf Rahman dalam menanggapi penanya yang meminta tafsiran yang paling benar, kembali mengulas soal kekuasaan. Mengenai tafsir absolut yang sudah mencapai tahap ijmâ`, dia mengatakan bahwa ulama juga manusia yang bisa salah. Yang menentukan mana ijmâ` qath`i dan dzannî itu adalah ulama dan mereka jualah yang menentukan mana ayat muhkamât dan mana ayat mutasyâbihât. Tentang konsekuensi corpus tertutup terhadap penafsiran, ia mengatakan, setelah dibukukan, Alqur’an tidak ditambah dan tidak dikurangi lagi, tapi itu bukan berarti kemudian tafsirnya ikut tertutup. Dalam proses unifikasi Alqur’an, ada unsur kekuasaan. Tapi jangan sampai tafsir juga ikut diunifikasi. Terakhir dia menegaskan, seandainyapun ada kesalahan gramatikal di dalam Alqur’an, penafisiran tetaplah tidak ditujukan untuk merombak teks dasar Alqur’an karena itu sudah menjadi textus receptus. Dalam menafsirkan, yang dicari adalah makna dan signifikansinya untuk saat ini.

Diskusi ini kemudian ditutup oleh moderator tepat pukul 13.00.

05/01/2010 | Diskusi | #

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Jika membaca Al-qur’an pahalanya dihitung perhuruf.. maka hermeneutika menggunakan Al-qur’an tanpa ada latar belakang tafsir dari yang melakukannya..Allah ngitungnya juga perhuruf bukunya deh. Trust me!

Posted by elmaliki  on  07/22  at  04:42 PM

Bismillahirrahmanirrahim. Kalau mau menterjemahkan alquran jangan semaunya saja, harus faham nahwu shorof & asbabun nuzul sebuah ayat, yang paling penting jangan mempertuhankan “otak” manusia sehingga beraninya menganggap alquran salah & sudah tidak sesuai zaman, padahal otak manusia kemampuannya sangat terbatas, sampai sekarang belum mampu mendefinisikan bentuk & ukuran angin sekalipun, apalagi bicara kebesaran, kalam & kekuasaan Allah SWT yang tidak mungkin hanya bisa difahami pakai otak saja tetapi harus dilandasi iman yang benar kepada Allah SWT, ingat demokrasi hanya untuk urusan non agama sedangkan urusan agama hak mutlak ada di tangan Allah SWT.

Posted by sumarno  on  07/08  at  05:17 PM

saya masih bingung nich dg jil,gimana konsep ketuhanan,peribadatan dll.gimna nich kalau saya punya usul kan allah tuhan semua agama/orang gimana kalau jil nyatuin aja seluruh agama ,yg penting percaya tuhan seperti dasar pancasila sila pertama.Dan nggak perlu pussing2 terjemahin alquran ataupun ngelakuin syariat agama biar kita nggak perlu repot2 bener nggak??? wah pasti banyak pengikutnya tuh

Posted by arema bandung  on  06/29  at  08:30 PM

bissmillah
salam

sepakat bahwa teks al’quaran itu tdk untuk dirubah tapi penafsirax tdk lantas ditutup tapi di cari makna yang signifikan utnk segala keadaan yang berkembang semoga islam menjadi dunia buat umat manusia.
‘wassalam’

Posted by mady  on  03/07  at  07:05 PM

Salam hangat dari pelataran makam Gus Dur..
JIL harus n wajib untuk tetap eksis dgn berbagai pembaharuan wacana Islam agar Agama ini tetap pr0gresif dan tidak stagnan..
Tafsir ini adalah satu dri sekian banyak cara untuk mempertahankan Islam agar shalih li al-zaman wa al-makan..
Viva JIL..
Viva Islam..

Posted by elfaiez  on  02/03  at  11:41 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq