Mistifikasi Mudik Lebaran - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
08/09/2010

Mistifikasi Mudik Lebaran

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Masa kanak-kanak tak pernah bisa didaur ulang. Pulang ke masa kecil itu absurd. Tanah, tempat kita dulu diasuh dan dibesarkan secara kultural, sudah banyak berubah. Bukan hanya fisik desa yang berubah, melainkan juga para penghuninya. Romantisme tentang gotong royong dan ketulusan orang desa sudah mulai pupus. Akhirnya, jika hanya ingin pulang dan mendapat akar kebudayaan, kiranya tak harus pada saat Lebaran.

Lebaran adalah kosa kata Indonesia untuk menggantikan Idul Fitri atau Idul Adha yang kental beraroma Arab. Kata “lebaran” lebih mudah diucapkan oleh umat Islam Indonesia yang sehari-hari tak menggunakan bahasa Arab. Bukan hanya karena Idul Fitri atau juga Idul Adha tak mudah diindonesiakan, melainkan juga karena bahasa Arab memang dikenal sebagai bahasa paling rumit di dunia. Daripada keseleo lidah, umat Islam Indonesia apalagi yang abangan lebih suka menggunakan kata “lebaran” daripada Idul Fitri. Sebagian besar media pun lebih kerap menggunakan kata “lebaran”.
Namun, tak terlampau jelas asal-usul kata “lebaran” ini. Ada yang berkata bahwa ia berasal dari bahasa Jawa, yaitu kata “lebar” yang berarti “selesai”. Kemudian kata “lebar” diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan diberi akhiran “an”, sehingga menjadi kosa kata umum untuk sebuah perayaan setelah selesai menjalankan puasa. Yang lain berkata, lebaran berasal dari bahasa Betawi, “lebar” yang berarti “luas”, yaitu keluasan hati seseorang setelah melakukan puasa. Orang-orang Madura punya kata yang mirip, yaitu “lober” untuk menggambarkan selesainya sebuah acara, yaitu puasa Ramadan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, lebaran akhirnya dimaknai sebagai hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idul Fitri.
Terlepas dari itu, dalam konteks masyarakat Indonesia, lebaran selalu diikuti dengan mudik atau pulang kampung. Ribuan manusia bergerak dari kota ke desa untuk berjumpa dengan orang-orang tercinta. Mereka tak peduli dengan harga tiket yang membubung tinggi, kesengsaraan di jalan karena berjubelnya manusia, hingga resiko kecelakaan yang kerap terjadi. Mudik lebaran menghipnotis banyak orang. Pertanyaannya, mengapa orang begitu bersemangat untuk mudik. Pertama, mudik dianggap punya makna spiritual juga kebudayaan. Setelah memohon ampun kepada Allah sepanjang bulan Ramadan, seseorang bermaksud meminta maaf terhadap orang tua, sanak saudara, dan tetangga di kampung. Dalam tradisi Jawa juga Madura, lebaran adalah salah satu ritus tahunan untuk sungkem pada orang tua. Sekiranya orang tua sudah meninggal dunia, maka mudik lebaran adalah momen untuk menziarahi pusara mereka. Kuburan adalah tempat anak-anak merajut komunikasi dengan almarhum orang tua, karena itu mereka tak rela sekiranya ziarah kubur diharamkan. 
Kedua, menghadapi kompleksitas masalah di kota, seseorang kadang dihinggapi perasaan untuk kembali ke masa lalu saja. Ia seperti hendak melipat waktu, menuju ke masa kanak-kanak dan masa remaja yang serba indah dan mempesona. Terekam kuat dalam ingatan ketika ia bersama teman-temannya dulu berkejaran di pematang sawah dengan bulir-bulir padi yang menguning, bermain pasir di pantai, mandi di air sungai yang bening, dan sebagainya. Itu sebabnya, orang-orang menyerbu dusun, tempat dahulu mereka tumbuh dan berkembang. Sekali dalam setahun, mereka akan berupaya sekuat tenaga untuk pulang kampung. Padahal, seiring waktu, tempat bermain mereka dulu sudah banyak yang berubah menjadi pabrik, waduk, tambak, dan lain-lain. Bukit yang indah sudah rata dengan tanah, dilumat longsor bertubi-tubi. Sumber mata air, area pemandian orang-orang desa, telah lama kering akibat ganasnya penebangan hutan penahan air. Kini keindahan desa itu hanya ada dalam ingatan, bukan dalam realita.
Sebagian orang kini tak ingin terjebak pada tindak mistifikasi lebaran a la kaum agraris itu. Toh, masa kanak-kanak tak pernah bisa didaur ulang. Pulang ke masa kecil itu absurd. Tanah, tempat kita dulu diasuh dan dibesarkan secara kultural, sudah banyak berubah. Bukan hanya fisik desa yang berubah, melainkan juga para penghuninya. Romantisme tentang gotong royong dan ketulusan orang desa sudah mulai pupus. Akhirnya, jika hanya ingin pulang dan mendapat akar kebudayaan, kiranya tak harus pada saat Lebaran. Sungkem pada orang tua dan minta maaf pada tetangga kampung tak harus menunggu sampai lebaran tiba. Selamat berlebaran 1431 H., mohon maaf lahir dan batin.

08/09/2010 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (12)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Saya adalah seorang pemudik handal. Hampir tiap tahun, pasti ritual ini saya lakukan.Bukan apa-apa, bagi saya, saat lebaran adalah hari yang pas buat mudik, mancing, main bola, ngambil kelapa muda, dan kegiatan santai lainnya.
Yang pasti, mistik dalam mudik mungkin ada, meski harus dikaji!

Posted by Cecep Hasanuddin  on  09/26  at  06:47 PM

Aku agak ketawa ya lihat kajian mudik disangkut pautin dengan lebaran, kajiannya aku pikir tidak masuk akal.

Tradisi mudik itu pasti ada di daerah-daerah yang pembangunannya tidak merata, apapun hari rayanya, selama pembangunan disebuah negara tidak merata, maka akan terjadi Tradisi mudik yang overload.

Indonesia dan China mempunyai tradisi mudik yang overload di setiap hari raya besar mayoritas dinegara tersebut, bukan karena mistis atau apa, tapi karena pembangunan yang tidak merata.

Thanksgiving di Amerika jg merupakan tradisi mudik, tapi kapastitasnya tidak over load, bahkan pada level yng sangat low, karena pembangunan disana sangat merata.

Itu aja sih aku pikir, ga ada kaitan apapun hihi lucu jg )

Posted by Naldo  on  09/25  at  04:29 AM

Nggak apa2 mudik asal gak maksain. Saya biasa mudik H+1, jalan udah relatif sepi, tapi di daerah masih juga ketemu teman2 lama karena kita desain setiap pertemuan reuni sekolah dan keluarga adalah H+2 atau H+3, baik siang, sore maupun malam. Disamping itu, lebaran juga merupakan momen penyebaran/redistribusi pendapatan dari kota ke daerah, daripada dikasih sama pengemis ibukota yg kebanyakan adalah pengemis palsu, mending kepada saudara dari desa yg kurang mampu tp gak mau ngemis.

Posted by nurcahaya  on  09/20  at  09:26 AM

masih lebih mudah mengeja idul fitri daripada mengeja nama sampeyan pak moqsith.Bagi saya mudik lebih karena alasan praktis, yaitu dengan pulang pada hari raya selain bertemu dengan orangtua juga bertemu dengan saudara2 dan temen2 yang menyebar ke berbagai kota, yang sulit kita temui jika kita pulang pada hari biasa. Itu artinya lebih hemat secara ekonomis karena untuk bersilaturahmi nggak perlu datang ke tempat saudara2 dan temen2 berdomisili.

Posted by fery  on  09/18  at  10:52 AM

Mudik dipahami sebagai salah satu momentum perayaan Idul Fitri di Indonesia dari sisi kultural. berkenaan dengan keterkembalian yang absurd dalam dunia lampau, mungkin memberi secercah pengaruh terhadap emosional masyarakat yang kadang menabrak titik jenuh bahkan panas dalam keseharian penat kota, alhasil, Mudik juga bisa dijadikan media penyegaran pola pikir manusia untuk kembali menyemangatkan dan menyehatkan komunitas urban Indonesia, sekaligus terkesan seperti sebuah refresh bahkan babak baru dalam menghadapi segala persoalan umum yang ditanggung masyarakat Indonesia. setelah itu, mari kita tadaruskan kembali PR-PR melelahkan seperti Skandal Bank Century, Luapan Lumpur Lapindo, Kekerasan atas nama agama, dan lain-lain, akhirnya, setelah mudik, suci, fitri, jangan lupakan masalah-masalah yang belum pernah terselesaikan.

Posted by Sobih Adnan  on  09/15  at  12:39 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq