“Momen Penghapusan Kezaliman” - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
15/09/2010

Merayakan Idul Fitri 1431 H “Momen Penghapusan Kezaliman”

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Fenomena syirk dapat kita saksikan juga dari perilaku beberapa orang atau sekelompok orang yang suka menuhankan diri sendiri. Laksana Tuhan, mereka tampil sebagai penentu; siapa ke sorga dan siapa ke neraka. Memandang orang lain sesat dan diri sendiri sebagai sentra kebenaran. Tak berhenti sampai di situ. Yang dianggap sesat pun (hendak) dihancurkan, hanya karena berbeda tafsir keagamaan dengan dirinya.  Padahal, dalam ayat al-Qur’an jelas ditorehkan, “sesungguhnya Tuhanmu yang paling tahu; siapa yang sesat jalannya dan siapa pula yang mendapat petunjuk Tuhan”.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di "KOLOM PAKAR” Media Indonesia, Senin 13 September 2010

Seperti siklus tahunan, Lebaran akan datang dan kembali menjumpai kita. Itu sebabnya, Hari Lebaran disebut sebagai ‘Id yang dalam bahasa Arab berarti “kembali” dan “berputar”.  Tentu bukan hanya itu. Ia disebut “’id”, juga karena manusia diharapkan kembali kepada “fithrah” (‘idul fithri). Dalam satu tahun, selalu ada momen yang memungkinkan manusia untuk kembali ke fithrahnya. Bagi umat Islam, momen kembali ke fithrah itu adalah Bulan Ramadan. Lalu, apa fithrah (watak dasar) manusia itu?

Sejumlah literatur Islam menyebutkan bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan suci. Ia tak membawa dosa. Namun, seiring waktu, manusia kerap terperangkap pada dosa (itsm). Kata Nabi, dosa adalah apa yang terlintas dalam hatimu dan kamu tidak suka sekiranya orang lain mengetahuinya. Kita tak suka jika orang lain mengetahui motif negatif yang ada dalam hati kita. Setiap kejahatan tak meloncat dari ruang kosong. Bukankah setiap tindak kriminal bermula dari niat jahat dari para pelakunya. Korupsi bermula dari betik hati dan mewujud menjadi tindakan nyata.

Dalam Islam, dosa kerap disebut sebagai sebuah kezaliman. Zalim atau zhulm dalam bahasa Arab berarti gelap atau kegelapan. Dosa disebut “zhulm” karena ia dapat membutakan hati kita sehingga tak sanggup untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara kebenaran dan kesalahan. Jika hati seseorang sudah gelap, maka ia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Hati para wakil rakyat yang gulita tak akan peduli terhadap penderitaan rakyat yang diwakilinya. Sebagian mereka menyukai pesta pora di tengah kesengsaraan hidup masyarakat. Maka, proyek pembangunan gedung parlemen dengan fasilitas spa, kolam renang, ruang fitnes, dan lain-lain segera diusulkan. “Nurani” yang berarti “jiwa yang bercahaya” itu telah berganti dengan “zhulmani” yang berarti “jiwa yang gelap”.

Tiga Kezaliman

Imam Ali ibn Abi Thalib dalam kitab Nahjul Balaghah menyebut tiga jenis kezaliman. Pertama, kezaliman yang tak terampuni. Itulah syirk atau menyekutukan Tuhan. Fenomena syirk dalam bentuk penyembahan berhala dan patung makin langka kita jumpai atau bahkan sudah tak ada lagi. Dengan akalnya, manusia modern tak bisa lagi menyembah batu berhala. Kini syirk hadir dalam bentuk lain. Dengan satu-dua modifikasi, seperti dulu, manusia masih menyembah manusia yang lain. Seorang bawahan menyembah atasan. Sang Bawahan mengikuti apa yang dititahkan Sang Atasan, tanpa peduli apakah yang diperintahkan itu bertentangan dengan hukum nurani atau tidak. Maka korupsi pun di negeri ini berjalan dari hulu ke hilir.

Fenomena syirk dapat kita saksikan juga dari perilaku beberapa orang atau sekelompok orang yang suka menuhankan diri sendiri. Laksana Tuhan, mereka tampil sebagai penentu; siapa ke sorga dan siapa ke neraka. Memandang orang lain sesat dan diri sendiri sebagai sentra kebenaran. Tak berhenti sampai di situ. Yang dianggap sesat pun (hendak) dihancurkan, hanya karena berbeda tafsir keagamaan dengan dirinya.  Padahal, dalam ayat al-Qur’an jelas ditorehkan, “inna rabbaka huwa a’lamu biman zlalla ‘an sabilih wa huwa a’lamu bi al-muhtadin” (sesungguhnya Tuhanmu yang paling tahu; siapa yang sesat jalannya dan siapa pula yang mendapat petunjuk Tuhan).

Kedua, kezaliman yang tak boleh diabaikan. Yaitu, kezaliman seseorang atas orang lain, atau satu kelompok pada kelompok lain. Ini berarti, kita tak boleh membuang muka terhadap kekerasan yang dilakukan satu kelompok atas kelompok lain di negeri ini. Boleh jadi kita tak setuju terhadap teologi Jemaat Ahmadiyah, misalnya. Tapi, kita tak punya hak apapun untuk membasmi mereka. Tak ada Licence to Kill yang kita kantongi. Islam adalah agama damai, bukan agama kekerasan. Sebuah hadits menyebutkan, “al-muslim man salima al-muslimun min lisanih wa yadihi”. Artinya, seseorang baru bisa disebut sebagai muslim apabila orang lain bisa terselematkan dari lisan dan tangannya. Dengan perkataan lain, seseorang tak boleh disebut sebagai muslim kalau melalui lisan dan tindakannya banyak orang lain yang tersakiti.

Karena itu, kita diperintahkan mencontoh akhlak Nabi Muhammad. Sebagai pribadi, Nabi tak menyakiti orang lain. Lisannya berisi ungkapan kasih dan tangannya adalah pelaksanaan dari ajaran kasih itu. Nabi pun tak membiarkan kezaliman terjadi dan terus berulang. Setiap ada ketidak-adilan, Nabi selalu datang sebagai pembelanya. Pemerintah Indonesia kiranya bisa belajar dari kehidupan Nabi Muhammad ini. Bahwa segala kebijakan yang dikeluarkan harus bertumpu pada terhapuskannya kezaliman. Politik pembiaran bukanlah politik Nabi Muhammad. Politik Nabi adalah politik untuk menghapuskan kezaliman, satu kelompok pada kelompok lain.

Ketiga, kezaliman yang terampuni. Itulah kezaliman manusia atas dirinya dengan melakukan serangkaian dosa-dosa kecil. Sebuah hadits menyebutkan, al-nas kulluhum khaththa’un wa khairul khattain al-tawwabun (semua manusia punya potensi melakukan kesalahan. Tapi sebaik-baik manusia yang bersalah adalah mereka yang bertobat). Manusia rentan untuk melakukan keburukan, tapi dengan tobat ia bisa cepat dipulihkan. Kisah Adam yang terusir dari sorga adalah salah satu kisah yang menunjukkan kerentanan manusia yang berada dalam tegangan, antara “yang baik” dan “yang buruk”. Pada mulanya, Adam tergoda untuk melakukan dosa, namun pada akhirnya ia punya jalan untuk kembali pada-Nya. Tobat Adam diterima Allah. Sebagaimana Adam, kita juga bisa terjatuh pada kesalahan. Namun, seperti Adam kita perlu dengan gegas bertobat atas dosa-dosa kita kepada Allah. Lalu, bagaimana dosa kita terhadap sesama, terhadap rakyat, terhadap negara?

Jenis Dosa

Saya suka mengklasifikasikan dosa ke dalam dua jenis kategori. Pertama, dosa privat, yaitu dosa seseorang pada Tuhan dan dosa satu orang dengan orang lain. Dosa kita kepada Allah bisa diselesaikan dengan permintaan maaf kita kepada Allah. Dan Allah sebagai Yang Maha Pengampun dan Maha Penerima Tobat akan mengampuni semua dosa manusia. Sementara dosa seseorang dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari biasanya ditempuh dengan permintaan maaf kepada orang lain itu. Sebagaimana Allah mengampuni dosa-dosa manusia, maka kita sebagai makhluk dan hamba-Nya perlu meneladani akhlak Allah, yaitu mengampuni segala kesalahan orang lain kepada kita. 

Kedua, dosa publik adalah dosa kita kepada banyak orang. Ia tak selesai hanya dengan meminta ampun kepada Allah di bulan Ramadan. Ia juga tak rampung dengan meminta maaf kepada satu-dua orang. Dosa publik harus diselesaikan melalui forum publik. Masuk ke dalam kategori dosa publik ini adalah dosa korupsi.  Para koruptor di negeri ini tak cukup hanya meminta maaf kepada Allah atas korupsi yang telah dilakukannya. Ia seharusnya perlu meminta maaf kepada publik atas kejahatannya itu. Dan penerimaan maaf publik dapat diwujudkan dalam bentuk ditegakkannya hukum seadil-adilnya bagi sang koruptor. Tanpa ada penegakan hukum bagi para koruptor, maka tak ada pengampunan bagi yang bersangkutan.


Penutup

Ramadan telah berlalu. Kini Idul Fitri di depan kita. Melalui momen inilah banyak orang berharap akan adanya perubahan yang lebih kualitatif dan substansial dari wajah masyarakat Indonesia. Yaitu terciptanya orang-orang yang tak menuhankan diri-sendiri, tak melakukan kezaliman, dan tak terjebak pada dosa-dosa.  Selama angka korupsi masih tinggi, kekerasan atas nama agama terus meningkat, kezaliman masih merajalela, maka puasa yang dilakukan kemarin tak lebih dari sekadar menahan lapar dan haus belaka. Tak ada pahala yang didapat darinya. Selamat merayakan Idul Fitri 1431 H, dan mohon maaf lahir dan batin.[]

15/09/2010 | Kliping | #

Komentar

Komentar Masuk (11)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Para pengacau kebenaran akan tumbang seiring waktu..wacana,ide,atau buah perenungan mereka hasilnya akan sia2..seperti buih di lautan..meskipun para penerus mereka akan melanjutkan perjuangan,namun satu yang pasti..mereka akan selalu kalah..kalah…

Posted by MUHAMMAD SURYA ALGHAZALY  on  10/01  at  06:46 PM

sepertinya, di du nia i ni ada orang yang berkeyakinan bahwa Tuhan “tidak mampu” memahamkan pada hambanya tentang jalan yang benar dan jalan mana yang salah. sehingga semuanya jadi relatif. Bahkan ada orang yang berkeyakinan bahwa manusia diciptakan hidup didunia ini untuk bebas. bebas inilah yang kemudian dikatakan kebenaran tertinggi diatas kebenaran wahyu yang diturunkan keopada manusia sekalipun. dengan paham ini, maka smua pendapat, ajaran atau apapun namanya yang tidak sesuai dengan paham kebebasan (sebagaimana dalam piagam PBB) harus ditafsirkan sesuai dengan paham kebebasan itu sendiri. jangankan soal rumah ibadah dan soal beribadah, zina saja yang telah pasti dikatakan dalam alquran sebagai perbuatan keji dan jalan yang sangat buruk, masih ada juga yang menentang ketentuan itu. Konon katanya pegiat JIL sendiri ada yang berpaham seperti itu, berpaham bahwa seks bebas tanpa ikatan pernikahan itu boleh-boleh saja.

Posted by pardi  on  09/24  at  07:32 PM

anda sendiri ada pada posisi tersebut,semoga ya raab memberi petunjuk anda dan saya,…
Setan menggoda manusia dg berbagai cara,salah satu mentakabburkan orang yg punya banyak pengikut,

Posted by zulfikar  on  09/24  at  10:05 AM

Komentar Pak Waid sepertinya justru anda yang merasa sudah mendapat petunjuk..rasanya tidak perlulah menyuruh orang beribadah segala macam dengan tujuan mendapat petunjuk “seperti anda”.
Memang benar Nabi mengajarkan menghormati ajaran agama orang lain, tetapi bukankah Nabi juga mengusir kaum Yahudi yang mengganggu Kaum Muslimin di Madinah.
Mengenai Ahmadiyah mestinya anda lebih jernih melihat ini bukan hanya sekedar kebebasan beragama tetapi penodaan agama, dan dari zaman Rasulullah pun sudah ada nabi palsu (anda bisa baca sejarahnya sikap Nabi terhadap pembangkang tersebut)
Amerika memang sekarang sedang menyerang umat islam, ada yang dengan senjata mis: Irak, afganistan dan dengan faham dengan komplotan JIL dkk sebagai kepanjangan tangannya..
Mereka selalu memancing-mancing keributan dengan dalih HAM, apabila ummat islam bereaksi keras maka AS & sekutunya punya alasan untuk meneyerang dengan senjata..
Kita memang tidak boleh tidur nyenyak, sementara kaum munafikin bekerja keras untuk memecah belah umat islam karena memang mereka tidak akan rela melihat kemajuan islam

Posted by Tommy  on  09/21  at  05:24 PM

Pak muqsith, memang benar ada ayat seperti yang anda tulis diatas, tetapi bukankah Allah juga memberikan petunjuk siapa-siapa kaum yang sesat dan yang mendapat petunjuk, Allah memberi tahu sifat kaum munafik, sifat para Ahli Kitab dan bukankah sifat kaum munafik akan tetap terus sama hingga akhir zaman?
Justru memang andalah yang merasa cara berda’wah (kalau memang sedang berda’wah) yang paling benar, cth: di artikel lain anda menyalahkan Habib Rizieq Shihab, Ust Arifin ilham, dll yang mempunyai metode da’wah sendiri. Kalau anda konsisten dengan ayat diatas tentu tidak akan keluar kata2 seperti itu
Sebagai muslim kita wajib menjaga diri kita, keluarga, ummat yang kita pimpin dari tipu daya orang munafik yang selalu menghalangi orang dari membela agama Allah

Posted by Tommy  on  09/21  at  04:54 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq