Mudznib dan Mujrim - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
26/07/2005

Mudznib dan Mujrim

Oleh Novriantoni

Dalam ajaran Islam, para pendosa sebenarnya juga punya cara mudah untuk melegakan jiwanya—dengan asumsi dosa membuat jiwa resah. Mereka yang meninggalkan salat, tinggal berkomunikasi lebih intens dengan Tuhan, mengikrarkan tobat nasuha, dan berupaya sebanyak mungkin berbuat baik. Dalam batasan itu, pengakuan individualisme sebetulnya lebih dimungkinkan dalam Islam.

Salah satu ciri negara modern yang hendak berdemokrasi dan mengakui hak-hak asasi manusia adalah pembedaan sikap yang jelas antara para mudznib dan mujrim. Mudznib adalah pelaku dosa atau pendosa, sementara mujrim pelaku kiriminal atau kriminalis. Dalam khazanah Islam, dua kategori yang sangat terkait dengan proses legislagi hukum Islam itu sudah dibedakan sekali pun tidak cukup tegas.

Dalam fikih, bagi pendosa atau mudznibûn (misalnya tidak salat atau tidak puasa) tidak ditetapkan sanksi duniawi, apalagi lewat tangan penguasa. Peradilan mereka diserahkan pada Tuhan di akhirat nanti. Karena itulah kehidupan akhirat perlu diyakini. Mereka yang merasa tidak beroleh keadilan di muka bumi, punya pengharapan tegaknya keadilan di akhirat nanti.

Untuk kriminalis atau mujrimûn, fikih selalu merumuskan sanksi-sanksi duniawi, baik melalui hudud (sanksi pidana yang sudah ditetapkan Alqur‘an dan Sunnah) atau pun mekanisme tak’zîr (ketetapan pemerintah, baik yang teokratis atau pun yang sekuler).

Negara-negara yang masyarakatnya sudah tercerahkan dan lebih demokratis, sadar betul akan pentingnya membedakan dua kategori di atas dalam merumuskan hukum negara. Mereka tidak mau lagi dipusingkan para pendosa, apalagi pada urusan yang bersifat sangat personal. Negara tidak ambil pusing soal keyakinan apa yang dianut warganya.

Mereka yang ingin menyembah setan, asal tidak berbuat kriminal, tak akan pernah dijerat hukum negara. Rezim-rezim sekuler senantiasa menghargai hak-hak tiap individu untuk berkeyakinan, seburuk dan sedungu apa pun keyakinan mereka. Hanya rezim teokratis yang selalu berambisi mengatur keyakinan warganya dan tak pernah ingin membebaskan mereka untuk bersikap dewasa.

Logika praktis sekularisme sederhana saja: kalau setiap pendosa harus ditindak negara, kesempatan untuk mengurus hal-hal yang lebih penting pasti akan terabai. Teori negara modern menyebutkan, semakin kecil ruang lingkup urusan negara, semakin fokus ia berbakti untuk warganya. Negara seharusnya lebih berperan dalam menyejahterakan warganya, ketimbang mengurus para pendosa yang jumlahnya tak terhingga.

Demikianlah logika masyarakat yang berpikiran maju. Mereka tahu mana urusan yang sangat personal dan mana yang menjadi kepentingan komunal. Sebatas para pendosa tidak berbuat onar, mereka berhak mendapat perlakuan baik. Kalau pun mereka bertindak kriminal, sanksinya jelas karena kriminalitas yang ia perbuat, bukan karena ia pendosa.

Arti kata, masyarakat dan rezim sekular mampu membedakan yang mana otoritas mereka dan mana kewenangan Tuhan. Mereka tidak berusaha membajak otoritas Tuhan, apalagi untuk kepentingan politik semata.

Dalam ajaran Islam, para pendosa sebenarnya juga punya cara mudah untuk melegakan jiwanya—dengan asumsi dosa membuat jiwa resah. Mereka yang meninggalkan salat, tinggal berkomunikasi lebih intens dengan Tuhan, mengikrarkan tobat nasuha, dan berupaya sebanyak mungkin berbuat baik. Dalam batasan itu, pengakuan individualisme sebetulnya lebih dimungkinkan dalam Islam. Karena itu, dalam sebuah negeri yang dilandasi nilai-nilai Islam, pemerintah mestinya tidak lagi rewel dengan keyakinan warganya, apalagi memenjarakan para pendosa.

Anehnya, sampai kini negeri-negeri Islam justru yang paling sering memenjarakan “pendosa” dan meregulasi soal-soal yang bersifat personal. Tidak sebatas menjerat pendosa, semua bentuk keyakinan dan praktik agama juga coba diregulasi. Karena desakan para ulama konservatif, pemerintah mewajibkan model pakaian yang dianggap islami, makanan yang boleh dikonsumsi, siapa yang boleh dinikahi, dan regulasi lain yang menafikan hak-hak individu.

Pemerintah dan para ulama konservatif berlomba-lomba mengingkari kaidah dasar Islam tentang nonpaksaan dalam beragama. Dengan menafikan kaidah itu, ketentuan kultural fikih tentang halal-haram tidak memadai bagi mereka, karena itu harus dipaksakan lewat struktural negara. Pesan ideal Qur’an tentang lâ ikrâha fid dîn menjadi tidak bermakna apa-apa. Prinsip nonpaksaan justru berganti menjadi serba-paksa dalam agama.

Nilai itulah yang tampak dalam menyikapi kasus salat dua bahasa Yusman Roy di Malang dan penyerangan atas Ahmadiyah di Parung. Kalangan fundamentalis Islam tidak sabar untuk sekadar menunjukkan “jalan lurus” pada orang yang mereka tuduh sesat, tapi juga memaksakan jalan mereka dengan kekerasan. Ayat nonpaksaan mereka abaikan begitu rupa. Belum lagi menunjukkan jalan, mereka sudah menggebuki orang-orang yang mereka anggap sesat.

Artinya, pada kedua kasus di atas, kita tidak hanya menyaksikan pengingkaran atas nilai nonpaksaan dalam Islam, tapi juga tanda-tanda ketidakmatangan dan sikap otoriter dalam beragama. Mereka bukan lagi du`at atau penyeru kebajikan, tapi sudah menobatkan diri sebagai thughât, para tiran, yang mengatasnamakan agama. [Novriantoni]

26/07/2005 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (23)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Assalamu alaikum Wr Wb Saudara Munir yang baik… tentang ayat Al Quran adalah firman Allah SWT, sedang sabda nabi adalah adalah perkataan nabi Tentang sabda nabi dan Alquran bukan yang jadi perdebatan karena saya meyakini apa yang di perintah maupun larangan dalam Al Quran maupun sabda nabi haruslah kita patuhi....

Firman Allah:

“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang “ (An Nisaa 64)

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. “ (An Nisa 14)

Saudaraku.....bagi saya apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya adalah baik...sehingga kita tidak boleh membedakan ayat kejam dan ayat baik...karena semuanya baik...karena baik dan kejam pengertian relatifitas manusia saja…

Tentang ayat-ayat yang anda cantumkan, sebaiknya anda harus lihat asbabun nuzulnya…

Tentang perang itu bersifat kasuistik dan ada kaidah-kaidahnya.......tidak selamanya harus berperang....

Dan tentang Islam selalu ikut campur dalam negara...itu sudah seharusnya… dan dalam penerapannya ada kaidah-kaidahnya....dan ciri2 orang-orang munafik salah satunya adalah sikap akan menghalanginya, semoga kita menjauhi sifat ini…

Firman Allah : “Apabila dikatakan kepada mereka : “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (An Nisaa 61)…

tentang tulisan anda, sebagai sesama muslim saya nasehatkan untuk mengetahui asbabun nuzul masing2 ayat...agar dapat menghasilkan konklusi yang tepat....

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh

Abu Hira
-----

Posted by abu hira  on  10/04  at  06:11 PM

Assalamualaikum Wr wb Numpang tanya ya….. Ayat ayat yang dikutib bapak Abu itu Wahyu dari Allah atau dari pikiran Nabi? Kalo saya bilang dari Allah langsung, maka senanglah hati Bapak Abu Hira dan pusinglah para bapak yang mendukung pendapat Bp Novri. Akan tetapi kalo saya bilang datang dari pikiran pribadi Nabi maka merahlah muka bp Abu dan tersenyum senyumlah para bapak yang mendukung bapak Novri atau mungkin juga tidak.

Sepengetahuan saya, memang tidak pernah ada kata kata yang haus darah pada saat Nabi baru menerima wahyu dan itu kira kira selama 12 tahun (pada saat itu Nabi berumur 40 sampai 52). Saya coba memberikan contohnya seperti tertulis di QS 2:62; 2:256; 29:46.  Nabi juga meminta kepada pengikutnya untuk menghadap Yerusalem ketika melakukan solat (bukan ke Mekah).

Tetapi setelah pindah dan tinggal di Madinah (Yathrib), beliau meneruskan ajarannya kepada penduduk Madinah, dan mula mula bisa diterima dengan baik, tapi lama kelamaan beliau tidak bisa meyakinkan lagi penduduk Madinah dan penduduk Madinah pada saat itu adalah orang orang Yahudi. Disinilah mulainya penghinaan terhadap beliau, nah pada saat ini juga berturut turut keluar ayat ayat yang kejam (Al Kaka) dan haus darah (Al Hajjaj) seperti apa yang dituliskan oleh bapak Abu. 

Inilah beberapa kata kata kejam yang keluar pada saat nabi mulai dihina oleh bani Israil QS 4:46; QS 26:197-197; QS 5:78: QS 2:47; QS 7:166; QS5:60; QS2:65; QS2:91; QS5:70-71; QS3:85; QS 2:75-79; QS5:13.  Setelah Nabi berdiam selama satu tahun (sampai thn 623) di Madinah kekuatan nabi menjadi lebih besar dan kuat.

Ayat ayat yang tadinya baik baik terhapus (nasakh) dengan adanya ayat di QS 2:106 sehingga terdapat kurang lebih 109 kata kata berbau perang didalam Al Qur’an .

Dan kebencian terhadap umat Israel dan Kristiani juga bertambah ayat ayatnya, misalnya QS 5:82; QS 2:120; QS 5:64; QS 5:67; QS9:30; QS 5:73; QS 4:159; QS 5:18; QS 2:96; QS 4:157

Di Mekah: Nabi mengundang orang orang (seluruh agama) untuk berbagian dalam ceramah ceramahnya Di Madinah: Nabi memaksa orang untuk pindah dengan pedangnya Di Mekah: Nabi bertindak seperti pendeta, hidup penuh dengan sholat, puasa dan mengajar. Di Madinah: Nabi bertindak sebagai komandan perang dengan 27 kali serangan yang langsung dipimpin oleh beliau dan 47 kali dipimpin oleh orang lain (kerabat kerabat beliau) Di Mekah: Nabi … Di Madinah: Nabi … Di Mekah: Nabi melawan penyembah penyembah berhala Di Madinah: Nabi memerangi orang orang Yahudi (penduduk asli Madinah)

Saya numpang tanya lagi yaaaa…, sejak tahus 623 itu, kapankah ada sejarah islam yang menyatakan berhenti berperang? Saya juga tidak tahu apakah perang perang tersebut yang dilakukan berdasarkan ayat QS 8:39 Islam selalu ikut campur dalam kerajaan/negara, pada saat Muamar Qaddafi bilang dia cuma percaya kepada Al Qur’an tapi tidak mau mengakui Hadist maka orang orang dari Mesir, Universitas Al Azhar (yang dipimpin oleh Sheikh Moh Al-Gazali) langsung mendatangi Muamar Qaddafi dan mencapnya sebagai penghianat islam. Anwar Sadat juga dikatakan Kafir sehingga dibunuh tapi yang paling memperhatinkan adalah bukan pembunuhannya, tapi pengadilannya. Di pengadilan Sheikh Abdel Rahman mengalahkan sistem hukum yang berlaku di Mesir. Sekali lagi negara tidak berkuasa atas Islam . Di Indonesia sudah mulai ada gejala seperti diatas, 11 Fatwa yang baru dikeluarkan, kelihatan jelas sekali arahnya.

Bagaimana pak Abu Hira, cocok dong dengan Al Qur’an dan Hadistnya bapak.  Wassalam

Posted by Munir Sjaf  on  09/17  at  05:10 AM

Assalammu’alaikum Terus terang saja saya sangat senang dengan adanya perbedaan2 yang ada, antara JIL dan yang anti JIL. Bukan karena saya senang melihat ada pertentangan, tapi dengan adanya diskusi seperti ini, saya jadi tahu pendapat JIL, dan yang anti JIL dan sehingga nantinya saya akan mendapat ilmu dari kedua belah pihak. Saya ingin sekali menerapkan seperti sabda Kanjeng Nabi, bahwa “perbedaan diantara umatku adalah rahmat” jika saya berusaha memahami sabda tersebut maka saya yakin bahwa perbedaan diantara kita, seharusnya sebagai sarana untuk saling belajar , saling mengisi diantara kedua belah pihak yang bertentangan, dan akhirnya terjadi saling pengertian diantara kedua belah pihak yang berbeda, sehingga kemajuan akan kembali lagi ke Islam.

Saya sangat yakin bahwa perbedaan ada untuk menunjukkan kelemahan manusia, sehingga kita semua bisa saling memepelajari satu sama lain, kenapa ada orang yang berpendapat berbeda dengan kita. Toh kalaupun ada yang salah menurut kita, kita harus tetap menyalahkannya, hanya saja karena kita masih saudara tentunya ada cara yang “bijak” dan “baik” untuk “menyalahkan” sehingga kerukunan diantara umat Islam sendiri tetap terjaga. So tetaplah belajar satu dengan yang lain, saya yakin kalau semua pihak yang ada dalam diskusi ini punya tujuan yang baik (kalo benarnya saya ngga berani bilang, karena"benar" itu sendiri ada standardnya sendiri2).

Semoga ilmu yang kita dapat adalah ilmu yang barokah wassalam

Posted by andre bonny  on  09/17  at  04:10 AM

Assalamualaikum Wr wb

Saudaraku, berikut tanggapan saya…dan penjelasan , dan tentunya setiap perselisihan pendapat haruslah dikembalikan kepada Alquran dan hadist sebagaimana Firman Allah “Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibat-nya.(An-Nisaa’: 59)

Oleh karena itu kita wajib merujuk kepada AlQuran dan hadist setiap ada perbedaan pendapat.

Saudara Haryo mengatakan “Apa Tuhan Yang Maha pengasih lagi maha Penyayang sebegitu keras menghukum hambanya, sehingga menghalalkan darah mereka yang berpindah keyakinan??”

Saudaraku, Kita harus meyakini bahwa Allah maha pengasih (Ar Rahman), tetapi juga harus meyakini bahwa Allah Maha Penyiksa (Al Muntaqim). Sehingga sudah seharusnyalah kita juga takut (khauf) akan siksa Allah dengan selalu mengikuti petunjuk Allah karena Allah juga maha memberi petunjuk (Al Haadiii)…Orang yang keras adalah orang yang tidak bersyukur kepada Allah malah murtad dan mengingkari Islam, padahal niscaya kalau dia bertobat dengan kasih Allah tentu akan diampuni

“Setiap bani Adam (pernah) melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad)

Itulah kasih sayang Allah kepada kita, tetapi dengan kesombongannya orang yang murtad berupaya mendurhakai Allah, dan mereka lupa bahwa Allah juga Maha Penyiksa, dan mereka tidak takut terhadap siksaan Allah.

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (An-Nur: 63)

Oleh karena itu marilah kita terus mengikuti ajaran Rasulullah SAW, dan selalu menjalankana perintah Allah dan menjauhi laranganNya

Saudara Haryo mengatakan : “ Bukankah dia tak butuh disembah? Dan apakah Rasul sang teladan bagi umat manusia sedemikian kejamnya menghukum mati orang yang berpindah keyakinan? “

Saudaraku, Allah memerintahkan setiap insan untuk menyembahNya, ada banyak ayat-ayat yang memerintahkan

Surah Az-Zumar : 2-3 yang artinya:  “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik).”

surah An-Nahl : 36 yang artinya:"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Taghut itu…

Demikianlah perintah2 Allah untuk menyembahnya…sehingga apakah kita sebagai manusia yang telah diberi luapan kasihnya malah murtad….???,

Saudaraku…sikap teladan adalah seluruh tingkah laku Rasulullah, dan jangan sikap teladan menurut barometer pemikiran anda….kalau anda mengatakan dengan membunuh orang yang murtad lantas Rasulullah anda tuduh kejam, berarti anda mencaci Rasulullah, padahal dalam sebuah hadist :

Dari Jabir ra bahwa seorang wanita bernama Ummu Marwan telah muutad, maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk menawarkan kembali Islam kepadanya, bila dia tobat maka diampuni tapi bila menolak maka wajib dibunuh. Ternyata dia menolak kembali ke Islam maka dibunuhlah wanita itu. (HR. Ad-Daruquthuny dan Al-Baihaqi).

Kalau anda sebut Rasulullah kejam...segeralah bertobat karena Allah maha pengampun. Padahal Allah telah menyatakan :

Demi bintang ketika terbenam. kawanmu itu (Muhammad SAW) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan .(QS. An-Najm : 1-4).

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.(QS. Al-Hasyr : 7).

Saudara Haryo berkata: “Konsep dan keyakinan akan “Tuhan yang pemarah dan penghukum” inilah yang menyebabkan timbulnya radikalisme. Dan akibat lainnya, banyak orang menjadi enggan mempertanyakan doktrin-doktrin ajaran agamanya karena takut kalau-kalau Tuhan mengetukkan “palu” hukumannya diatas kepala mereka. akibatnya muncullah pemberhalaan terhadap teks-teks suci agama.

Saudaraku …Rasulullah mengajarkan kita semua sifat-sifat Allah dan harus meyakini semua. Jadi bukan hanya meyakini Allah Maha pengasih saja, Allah maha penyiksa saja, tetapi sifat-sifat Allah yang lain yang terdapat di dalam Al Quran dan hadist. Selanjutnya tentang persangkaan anda adalah tetap merupakan persangkaan saja, bukan kebenaran , seperti firman Allah : “Artinya :  “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.” [An Najm : 28]

Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. Al-Ahzab : 21).

Saudaraku...Islam merupakan Rahmatan Lil Alamin...yaitu semua ajaran yang dibawa Rasulullah… surah Yusuf 108 :“Katakanlah (Ya Muhammad) : “Inilah jalan (agama)ku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (ilmu) aku dan orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”

Sekaligus memberikan tanggapan saudara Rynal”

Sdr. Rynal mengatakan : Saya ingin bertanya pada anda, mengulang apa yang ditanya Haryo; apa Tuhan memang menghalalkan orang saling menumpahkan darah sementara ada hal lain yang lebih mendesak daripada persoalan mempersoalkan seseorang apakah ia sudah shalat atau belum?

Saudari....bantahan saya terhadap tulisan novriantono adalah sebuah antitesa pernyataan Novriantoni yang menyatakan bahwa dalam fikih islam tidak ada hukuman duniawi terhadap orang yang tidak sholat.....dan saya mengajukan fakta bahwa dalam fikih Islam ada...bahkan Imam mahdzab yang empat juga memiliki pendapat tentang hukuman ini.....dan informasi tentang pendapat ini jangan dinegasikan agar keilmiahan suatu pendapat dapat terjaga… Tentu saja penerapannya ada kaidah-kaidahnya....tidak sembrono semau sendiri.....salah satunya adalah ulil amri lah yang berhak berdasarkan Alquran dan hadist...dan apakah telah diajak bertobat atau belum....kalau tetap mengingkari baru dilaksanakan.....Dan rakyat biasa tidak boleh melakukan ini dan hanya memberikan nasehat kepada ulil Amri....

Sdri Rinai mengatakan: Apakah orang yang memenggal leher seseorang karena yang bersangkutan dianggap kafir memang sudah lebih baik kadar keimanannya dibanding dengan yang disembelih (termasuk keimanan sosial)?

Yang mengetahui kadar keimanan hanyalah Allah semata....mengkafirkan orang memiliki kaidah-kaidah sendiri....bahkan rakyat awam yang belum memiliki cukup ilmu tidak boleh mengatakan seseorang kafir.....Hanyalah ulama yang sangat paham tentang Quran dan hadist yang dapat mengetahui apakah sesorang itu telah kafir atau tidak....dengan terlebih dahulu meneliti pemikiran dan tingkah laku apakah pemikirannya benar atau salah berdasarkan Quran dan hadist...kalau ternyata setelah diteliti memiliki penyimpangan maka terlebih dahulu diberi nasehat dan ditunjukkan kepada kebenaran sesuai Al Quran dan hadist…

Sdri. Rinai : Jika kedua hal dibenarkan oleh Abu, berarti islam yang dikenal dengan sebutan agama yang rahmatan lil alamin telah menodai dirinya sendiri?

Saudariku....bila makna Rahmatan lil alamin hanya berdasarkan hawa nafsu masing-masing orang tentu saja akan banyak perbedaan...tentu saja akan banyak perbedaan...orang-orang marxist...akan berkata lain...orang sosialist akan berkata lain....

Allah berfirman ...Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (Q.S. Al-Anbiya ayat 107).

Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Al-Huda dan Dienul Haq. Al-Huda adalah khabar yang benar dan ilmu yang bermanfaat. Dienul Haq adalah syari’at dan hukum yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman :

“Artinya :Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama agama meskipun orang-orang musyrik benci”. [Ash-Shaff : 9]

Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk jin dan manusia, untuk orang Arab dan non Arab, untuk laki-laki dan perempuan. Allah mengutusnya kepada seluruh penduduk dunia sebagai rahmatan (karunia) dan imaman (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa. Diutusnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkan dan memahamkan manusia tentang agama-Nya, menjelaskan penyebab keselamatan dan kebinasaan hidup di dunia dan di akhirat, Allah mengutusnya dengan Dienul Islam.

Allah berfirman : Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. [Ali Imran : 19]

Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa hidayah dan Dienul Haq, yaitu dengan membawa kabar yang benar, ilmu yang bermanfaat, syari’at yang lurus serta hukum-hukum yang adil. Allah mengutusnya untuk menyeru kepada seluruh kebaikan dan mencegah kejahatan. Allah mengutusnya untuk menyeru kepada akhlak yang mulia dan pebuatan yang baik serta mencegah rendahnya akhlak dan buruknya amal perbuatan.

Allah berfirman :

“Artinya : Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan”. [Saba’ : 28]

Bagi orang yang tidak mempercayai bahwa apa yang dikatakan Rasulullah itu benar, pastilah mereka akan ketakutan karena ajaran Islam tidak sesuai dengan hawa nafsunya.....Dan mereka mengaggap Islam sebagai “Laknatul alamin” karena mengganggu kepentingannya dan kebebasannya.... Sehingga orang yang menodai Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin adalah orang-orang yang telah sampai Quran dan hadist padanya tetapi tidak mengamalkannya...bahkan malah menentangngnya....

Demikian pendapat saya.....

Posted by abihira  on  09/15  at  10:10 PM

Alhamdullilah, ya Allah telah Engkau berikan hamba-hamba spt Abu Hira Al Samarindi yang memiliki pengetahuan luas, tutur kata yang baik dan pengetahuan agama yang bagus serta tegas.

Sejuk rasanya membaca apa yang sudah saudara tulis dan anda bantah atas tulisan sdr Novriantoni sudah jelas. Mudah-mudahan menjadi penjelasan yang terbaik dan menambah ketebalan iman kami yg membacanya. Setiap orang akan diminta pertanggungjawabanya di akhir zaman, begitu juga bagi orang yang memiliki intelektualitas atau pengetahuan yang luas apakah akan menggunakannya untuk umat Islam di jalan Allah SWT, atau sebaliknya “menyesatkan ummat islam”.

Posted by dayakman  on  09/13  at  07:09 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq