Muhammad Ibn Abd al-Wahab (1703-1791) - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Tokoh
12/01/2004

Muhammad Ibn Abd al-Wahab (1703-1791)

Oleh Luthfi Assyaukanie

Muhammad Ibn Abd al-Wahab lahir di Najd, salah satu kota penting dalam sejarah Hijaz Arab modern, pada tahun 1703. Masa kecilnya dilewati di kota itu. Ia belajar ilmu-ilmu agama dan menyukai kajian-kajian Al-Qur’an dan Hadits. Ia memperdalam ilmu-ilmu Al-Qur’an di Madinah, Mekah, dan beberapa kota penting di Arab Saudi. Dalam usia belajarnya, Ibn Abd al-Wahab juga sempat berkunjung ke beberapa negara di luar Arab Saudi, termasuk ke Iran, di mana dia melihat adanya praktik-praktik keagamaan yang menurutnya kemudian dianggap menyimpang.

12/01/2004 01:35 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (37)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

Muhammad bin Abd. Wahhab adalah seorang mujaddid.  Beliau adalah seorang pengikut sunnah yang sangat kuat, maka dikatakan sebagai ahlu sunnah. Dan bukan seorang mubtadi` (pembuat bid`ah). Dan ini telah teruji dikalangan ulama ahlu sunnah as salafiyyah. Saya hanya menggunakan dua istilah yaitu ahlu sunnah imma ahlu bid`ah. Dan saya tidak setuju dengan istilah fundamentalis, karena itu bukan istilah Islam, tetapi istilah yang gembor2kan dari kalangan di luar Islam untuk mencap kepada orang/individu atau kelompok yang berusaha menjalankan Islam dengan murni dan konsekuen. 

Sehingga dengan kata-kata ini, orang akan phobi terhadap Islam (islamophobia). Saya tidak setuju dengan tampilnya Usamah bin Laden (kata Amerika Osama bin Laden) berikut pemikirannya, saya tidak setuju dengan kelompok ahlu kerusuhan dari kalangan silam yang suka ngebom dimana-mana sehingga mengganggu kepentingan umum. Akan tetapi saya suka kepada pemahaman para ulama ahlu sunnah dari pertama kali Islam muncul hingga sekarang dan ila yaumil qiyamah. Saya sangat terkesan dengan ucapan Imam Ahlu sunnah Ahmad bin Hambal yang berdo`a: Ya Allah hidupkanlah aku di atas sunnah dan matikanlah aku di atas sunnah.  karena Al-Islam huwa sunnah As Sunnah dan As Sunnah huwa Al-Islam.

Demikian dikatakan oleh Al Imam Al Barbahary didalam kitab beliau Syarhu Sunnah.  Sekian terima kasih.

#1. Dikirim oleh abuqonita  pada  14/01   07:01 PM

...setelah Ibn Saud menaklukkan Mekkah pada tahun… dst.

Saya ingin bertanya, pengertian ‘menaklukkan’ itu berarti berperang dengan penguasa sebelumnya? Apakah orang-orang Arab itu memang suka berperang? Tidakkah mereka sesama orang Islam juga? Apakah tindakan ‘menaklukkan’ juga didasari oleh pengertian ‘jihad’?

Tolong jawab, Pak atau Ibu yang paham masalah ini.

#2. Dikirim oleh sastiastari  pada  17/01   05:01 PM

Salaam

Muhammad bin Abdulwahhab (MAW) mengklaim dirinya dan diklaim pengikut2nya sebagai mujadid (pembaharu). Tapi sebetulnya banyak pemikirannya yg bertentangan dg mainstream Islam waktu itu (mazhab yang 4). Ulama2 waktu itu juga meng-counter semua pemikiran Wahabi ini, termasuk ayahnya (Abdulwahhab) dan kakaknya (Sulaiman bin Abdulwahhab) yang adalah ulama2 mazhab Hambali.

Jika hanya sebatas sebuah pemikiran di tengah pluralisme pemikiran, dan untuk dipraktekkan oleh KALANGAN SENDIRI dengan tetap menjaga TOLERANSI antar sekte dalam Islam, sebetulnya Wahabiah ini sah2 saja.

Masalahnya, MAW kemudian berkolaborasi dg bani Saud (yg waktu itu hanya menguasai sebagian kecil daerah Arab) dengan motif yg segera kelihatan: ambisi menguasai tanah Arab se-luas2nya. Hambatan psikologi dan moral publik, yaitu “memerangi sesama muslim” (karena para penguasa Arab waktu itu kan muslim juga) berhasil dihilangkan melalui pembentukan mazhab baru Wahabiah ini. MAW mengklaim bahwa Wahabiah-lah “the true and pure Islam”, dan konsekuensinya siapapun yg tidak se-akidah dg Wahabiah adalah kafir dan halal darah, harta dan tanahnya. Wahabiah memvonis bahwa mereka yang ber-tawasul, tahlilan, ziarah kubur, mauludan itu sebagai ber-bid’ah ria dan telah KELUAR dari Islam. Nah, jadilah gerakan ekspansionis bani Saud ini dilegitimasi sebagai “jihad fi sabilillah” melalui Wahabiah. Jadilah perampokan, penjarahan dan pembunuhan terhadap sesama pengucap dua kalimat syahadat ini valid secara fiqih (versi Wahabi).

Jadi, mazhab/sekte Wahabiah memang lahir dan besar melalui kekerasan dan kekuasaan. Agaknya, MAW cukup cerdik untuk nggak mengulang kegagalan Ibnu Taimiyah (IT) 5-6 abad sebelumnya. FYI, doktrin2 MAW adalah setali tiga uang dengan pemikiran IT, hanya saja IT gagal karena penguasa waktu itu masih berpihak kepada doktrin2 Islam tradisional (4 mazhab).

Suatu saat, saya ngobrol dg seorang ordinary Australian ttg masalah terorism dan Islam. Saya katakan bahwa Islam in general adalah agama damai, tapi memang ada satu sekte dalam Islam yang berpandangan sangat keras, sehingga dg sentuhan yg jitu, para penganutnya akan potensial untuk di-brain washed menjadi teroris. Saya cukup surprise ketika dia menebak tepat bahwa sekte itu adalah Wahabiah. Surprise, sebab dia benar2 ordinary dalam arti nggak menekuni sejarah terbentuknya sekte2 dalam Islam, walaupun dalam bidang science yg lain dia seorang ilmuwan.

Semoga ini cukup membantu menjelaskan pertanyaan Sastiastari. Jadi, bukannya orang Arab itu suka berperang sebab semua manusia sebetulnya cenderung suka damai. Hanya saja, iming2 kekuasaan, harta dan tanah boleh membuat segelintir orang tega memelintir agama untuk menjadi legitimasi kekerasan dan perang.

Anyway, saya nggak yakin tanggapan ini bakalan dimuat sama JIL, sebab mungkin dapat menyinggung banyak saudara2 kita yg -sadar atau tidak- telah terpengaruh doktrin2 kerasnya Wahabiah.

Jika ingin bahan lebih lengkap, silakan japri saja.

Wallahu a’lam Wassalaam

#3. Dikirim oleh Abdullah bin Umar  pada  23/01   10:01 PM

Assalamu ‘alaikum,

Untuk menyeimbangkan tulisan Pak Lutfi perihal Muhammad ibnu Abdul Wahhab, artikel berikut mudah-mudahan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh siapa dan apa sesungguhnya gerakan wahhabi itu:

KOMENTAR MENGENAI ASAL-USUL MAZHAB WAHHABI1

Mazhab Wahhabi sering menimbulkan kontroversi berkaitan dengan asal-usul dan kemunculannya dalam dunia Islam. Umat Islam umumnya keliru menganggap mereka kerana mereka mendakwa mazhab mereka mengikuti pemikiran Ahmad ibn Hanbal dan alirannya, al-Hanbaliyyah atau al-Hanabilah yang merupakan salah sebuah mazhab dalam Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah. Nama Wahhabi atau al-Wahhabiyyah kelihatannya dihubungkan dengan nama `Abd al-Wahhab yaitu bapa dari pengasasnya, al-Syaikh Muhammad bin `Abd al-Wahhab al-Najdi. Ia tidak dinamakan al-Muhammadiyyah yang mungkin bisa dikaitkan dengan nama Muhammad bin `Abd al-Wahhab, bertujuan untuk mengelakkan persamaan antara para pengikut Nabi Muhammad (s.`a.w) dengan mereka, dan juga bertujuan untuk menghalangi sembarang bentuk eksploitasi (istighlal).2 Bagaimanapun, nama Wahhabi dikatakan ditolak oleh para penganut Wahhabi sendiri dan mereka menggelarkan diri mereka sebagai golongan al-Muwahhidun3 (unitarians) kerana mereka mendakwa ingin mengembalikan ajaran-ajaran tawhid ke dalam Islam dan kehidupan murni menurut sunnah Rasulullah. Mazhab Wahhabi pada zaman modern ini tidak lain dan tidak bukan, adalah golongan al-Hasyawiyyah kerana kepercayaan-kepercayaan dan pendapat-pendapat mereka seratus persen sama dengan golongan yang dikenal sebagai al-Hasyawiyyah pada abad-abad yang awal.  Istilah al-Hasyawiyyah adalah berasal dari kata dasar al-Hasyw yaitu penyisipan, pemasangan dan pemasukan. Nama ini diberikan kepada orang-orang yang menerima dan mempercayai semua hadith yang dibawa masuk ke dalam Islam oleh orang-orang munafiq. Mereka mempercayai semua hadith yang dikaitkan kepada Nabi (s.`a.w) dan para sahabat baginda berdasarkan pengertian bahasa semata-mata tanpa terlebih dahulu dilakukan penilaian. Bahkan sekiranya sesuatu “hadith “ itu dipalsukan (tetapi orang yang memalsukannya memasukkan suatu rangkaian perawi yang baik kepadanya), mereka tetap menerimanya tanpa mempedulikan apakah teks hadith itu sejalan dan selaras dengan al-Qur’an ataupun hadith yang diakui sahih atau sebaliknya. Kebanyakan ulama hadith (muhaddithun) Sunni termasuk ke dalam golongan al-Hasyawiyyah. Ahmad bin Yahya al-Yamani (m.840H/ 1437M) mencatat bahwa: “Nama al-Hasyawiyyah digunakan kepada orang-orang yang meriwayatkan hadith-hadith sisipan yang sengaja dimasukkan oleh golongan al-Zanadiqah sebagai sabda Nabi dan mereka menerimanya tanpa terlebih dahulu dilakukan interpretasi, dan mereka juga menggelarkan diri mereka Ashab al-Hadith dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah… Mereka bersepakat mempercayai konsep pemaksaan (Allah berhubungan dengan perbuatan manusia) dan tasybih (bahwa Allah seperti makhluk-Nya) dan mempercayai bahwa Allah mempunyai jasad dan bentuk serta mengatakan bahwa Allah mempunyai anggota tubuh ... “4 Al-Syahrastani (467-548H/ 1074-1153M) menulis bahwa: “Terdapat sebuah kumpulan Ashab al-Hadith, yaitu al-Hasyawiyyah dengan jelas mengisytiharkan kepercayaan mereka tentang tasybih (yaitu Allah seumpama makhluk-Nya) ...sehingga mereka sanggup mengatakan bahwa pada suatu ketika, kedua-dua mata Allah kesedihan, lalu para malaikat datang menemui-Nya dan Dia (Allah) menangisi (kesedihan) kerana banjir Nabi Nuh (`a.s) sehingga mata-Nya menjadi merah, dan `Arasy meratap hiba seperti suara pelana baru dan bahwa Dia melampaui `Arasy dalam keadaan melebihi empat jari di segenap sudut.”5 Definisi dan gambaran ini secara langsung menepati golongan Wahhabi yang menamakan diri mereka sebagai Ashab al-Hadith atau Ahl al-Hadith dan kerapkali juga sebagai Sunni, dan pada masa kini mereka memperkenalkan diri mereka sebagai Ansar al-Sunnah ataupun Ittiba` al-Sunnah. Latar belakang Pendiri Mazhab Wahhabi Muhammad bin `Abd al-Wahhab dilahirkan di perkampungan `Uyainah, salah sebuah kampung daerah Najd bagian selatan pada tahun 1115H/ 1703M. Bapanya, `Abd al-Wahhab merupakan seorang Qadi di sini. Muhammad dikatakan pernah mempelajari bidang fiqh al-Hanbali dengan bapanya, yang juga adalah salah seorang tokoh ulama al-Hanabilah. Semenjak kecil, dia mempunyai hubungan yang rapat dengan pengkajian dan pembelajaran kitab-kitab tafsir, hadith dan akidah. Pada zaman remajanya, Muhammad selalu merendahkan syiar agama yang biasanya dipegang oleh penduduk Najd, bukan saja di Najd bahkan hingga sejauh Madinah selepas dia kembali dari menunaikan haji. Dia sering mengada-adakan perubahan dalam pendapat dan pemikiran di dalam majlis-majlis agama, dan dia dikatakan tidak suka kepada orang yang bertawassul kepada Nabi (s.`a.w) di tempat kelahiran (marqad) Baginda yang suci itu. Kehidupannya selama beberapa tahun dihabiskan dengan mengembara dan berdagang di kota-kota Basrah, Baghdad, Iran, India dan Damsyik. Di Damsyik, dia dikatakan telah menemui kitab-kitab karangan Ibn Taimiyyah al-Harrani (m.728H/ 1328M) yang mengandung ajaran-ajaran yang berunsur kontroversi dibandingkan dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jama`ah. Dia kembali ke Najd dan kemudian berpindah ke Basrah. Dalam perjalanannya ke Syam, di Basrah dia berjaya memenuhi keinginannya mencegah orang-orang dari melakukan syiar agama mereka dan menghalangi mereka dari perbuatan tersebut. Justeru itu penduduk Basrah bangkit menentangnya, dan menyingkirkannya dari perkampungan mereka. Akhirnya dia melarikan diri ke kota al-Zabir. Dalam perjalanan antara Basrah dan al-Zabir, akibat terlalu penat berjalan kerana kepanasan sehingga hampir-hampir menemui ajalnya, seorang lelaki (dari kota al-Zabir) telah menemuinya lalu membantunya ketika melihatnya berpakaian seperti seorang alim. Dia diberikan minuman dan dibawa kembali ke kota tersebut. Muhammad bin `Abd al-Wahhab berazam untuk ke Syam tetapi dia tidak mempunyai harta dan bekal yang mencukupi, lalu bermusafir ke al-Ahsa’ dan dari situ, terus ke Huraymilah (dalam kawasan Najd) juga. Pada tahun 1139H/ 1726M, bapanya berpindah dari `Uyainah ke Huraymilah dan dia ikutserta dengan bapanya dan belajar dengannya tetapi masih meneruskan tentangannya yang kuat terhadap amalan-amalan agama di Najd, yang menyebabkan berlakunya pertentangan dan perselisihan yang berkecamuk antara dia dan bapanya di satu pihak dan, dengan penduduk-penduduk Najd di pihak yang lain. Keadaan tersebut terus berlangsung hingga tahun 1153H/ 1740M apabila bapanya meninggal dunia.6 Sejak itu, Muhammad tidak lagi terikat. Dia telah mengemukakan akidah-akidahnya yang sesat, menolak dan mengenepikan amalan-amalan agama yang dilakukan, serta menyeru mereka menyertai kumpulannya. Sebagian tertipu manakala sebagian lagi meninggalkannya hingga dia mengisytiharkan kekuasaannya di Madinah. Muhammad kembali ke `Uyainah yang diperintah oleh `Uthman bin Hamad yang menerima dan memuliakannya dan berlakulah ketetapan di antara mereka berdua bahwa setiap seorang hendaklah mempertahankan yang lain dengan seorang memegang kekuasaan dalam perundangan Islam (al-tasyri`) dan seorang lagi dalam pemerintahan. Pemerintah `Uyainah mendukung Muhammad dengan kekuatan dan Muhammad bin `Abd al-Wahhab pula menyeru manusia mentaati pemerintah dan para pengikutnya. Berita telah sampai kepada pemerintah al-Ahsa’ bahwa Muhammad bin `Abd al-Wahhab mendakwahkan pendapat dan bid`ahnya, manakala pemerintah `Uyainah pula menyokongnya. Beliau telah memerintahkan supaya suatu risalah peringatan dan ancaman dihantarkan kepada pemerintah `Uyainah. Pemerintah `Uyainah telah memanggil Muhammad dan memberitahu bahwa dia enggan membantunya. Ibn `Abd al-Wahhab berkata kepadanya: “Sekiranya engkau membantuku dalam dakwah ini, engkau akan menguasai seluruh Najd.” Pemerintah tersebut menyingkirkannya dan memerintahkannya meninggalkan `Uyainah dengan cara mengusirnya pada tahun 1160H/ 1747M. Pada tahun itu, Muhammad keluar dari `Uyainah ke Dar`iyyah di Najd yang diperintah oleh Muhammad bin Sa`ud (m.1179H/ 1765M) yang kemudian menziarahi, memuliakan dan menjanjikan kebaikan kepadanya. Sebagai balasannya, Ibn `Abd al-Wahhab memberikan khabar gembira kepadanya dengan jaminan penguasaan Najd keseluruhannya. Dengan cara itu, suatu ketetapan dimeterai.7 Penduduk Dar`iyyah mendukungnya sehingga akhirnya Muhammad ibn `Abd al-Wahhab dan Muhammad bin Sa`ud memeterai perjanjian atau memorandum persefahaman (`aqd al-Ittifaqiyyah).  Ibn Basyr al-Najdi yang dipetik oleh al-Alusi mengatakan: “Penduduk Dar`iyyah pada masa itu dalam keadaan sangat menderita dan kepayahan, mereka lalu berusaha untuk memenuhi kehidupan mereka ... Aku lihat kesempitan hidup mereka pada kali pertama tetapi kemudian aku lihat al-Dar`iyyah selepas itu - pada zaman Sa`ud, penduduknya memiliki harta yang banyak dan senjata disaluti emas, perak, kuda yang baik, para bangsawan, pakaian mewah dan lain-lain lagi dari sumber-sumber kekayaan sehingga lidah kelu untuk berkata-kata dan gambaran secara terperinci tidak mampu diuraikan.” “Aku lihat tempat orang ramai pada hari itu, di suatu tempat yang dikenal sebagai al-Batin - aku lihat kumpulan lelaki di satu pihak dan wanita di satu pihak lagi, aku lihat emas, perak, senjata, unta, kuda, pakaian mewah dan semua makanan tidak mungkin dapat digambarkan dan tempat itu pula sejauh mata memandang, aku dengar hiruk-pikuk suara-suara penjual dan pembeli ... “8 Harta yang banyak itu tidak diketahui datang dari mana, dan Ibn Basyr al-Najdi sendiri tidak memberitahukan secara terbuka asal muasal sumber harta kekayaan yang banyak itu, tetapi berdasarkan fakta-fakta sejarah, Ibn `Abd al-Wahhab memperolehnya dari serangan dan serbuan yang dilakukannya bersama-sama para pengikutnya terhadap kabilah-kabilah dan kota-kota yang kemudian meninggalkannya untuknya. Ibn `Abd al-Wahhab merampas harta kekayaan itu dan membagi-bagikannya kepada penduduk Dar`iyyah. Ibn `Abd al-Wahhab mengikuti kaedah khusus dalam pembagian harta rampasan dari umat Islam yang meninggalkannya. Ada kalanya, dia membahagikannya di antara 2 atau 3 orang pengikutnya. Amir Najd menerima bagiannya dari ghanimah itu dengan persetujuan Muhammad bin `Abd al-Wahhab sendiri. Ibn `Abd al-Wahhab melakukan mu`amalah yang buruk dengan umat Islam yang tidak tunduk kepada hawa nafsu dan pendapatnya seumpama mu`amalah kafir harbi dan dia menghalalkan harta mereka. Ringkasnya, Muhammad ibn `Abd al-Wahhab kelihatan menyeru kepada agama Tawhid tetapi tawhid sesat ciptaannya sendiri, dan bukannya tawhid menurut seruan al-Qur’an dan al-Hadith. Sesiapa yang tunduk (kepada tawhidnya) akan terpelihara diri dan hartanya dan sesiapa yang enggan akan dianggap sebagai kafir harbi (yang perlu diperangi) baik darah maupun hartanya.  Atas alasan inilah, golongan Wahhabi menguasai medan peperangan di Najd dan kawasan-kawasan di luarnya seperti Yaman, Hijaz, sekitar Syria dan `Iraq. Mereka mengangkut keuntungan yang berlimpah dari kota-kota yang mereka kuasai mengikut kemauan dan kehendak mereka, dan jika mereka menghimpunkan kawasan-kawasan itu ke dalam kekuasaan dan kehendak mereka, mereka akan lakukan semua itu, tetapi jika sebaliknya mereka hanya memadai dengan merampas harta kekayaan saja.9 Muhammad memerintahkan orang-orang yang cenderung mengikuti dakwahnya supaya memberikan bai`ah dan orang-orang yang enggan wajib dibunuh dan dibahagi-bahagikan hartanya. Oleh kerana itu, dalam proses membuang dan mengasingkan penduduk kampung di sekitar al-Ahsa’ untuk mendapatkan bai`ah itu, mereka telah menyerang dan membunuh 300 orang dan merampas harta -harta mereka.10 Akhirnya Muhammad meninggal dunia pada tahun 1206H/ 1791M tetapi para pengikutnya telah meneruskan mazhabnya dan menghidupkan bid`ah dan kesesatannya kembali. Pada tahun 1216H/ 1801M, al-Amir Sa`ud al-Wahhabi mempersiapkan tentera yang besar terdiri dari 20 000 orang dan melakukan serangan ganas ke atas kota suci Karbala’ di `Iraq. Karbala merupakan sebuah kota suci dihiasi dengan kemasyhuran dan ketenangan di hati umat Islam. Pelbagai bangsa berhasrat untuk ke sana, baik mereka berbangsa Iran, Turki, Arab dan sebagainya. Tentera Wahhabi mengepung dan memasuki kota itu dengan melakukan pembunuhan, perampasan, peruntuhan dan kebinasaan. Kelompok Wahhabi telah melakukan keganasan dan kekejaman di kota Karbala’ dengan kejahatan yang tidak mengenal batas perikemanusiaan dan tidak mungkin dapat dibayangkan. Mereka telah membunuh 5000 orang Islam atau bahkan lebih lagi, sehingga disebutkan sebanyak 20 000 orang. Apabila al-Amir Sa`ud menyudahi perbuatan keji dan kejamnya di sana, dia merampas khazanah harem al-Imam al-Husayn bin `Ali (`a.s) yang banyak dengan harta, perhiasan dan hadiah yang dikurniakan oleh raja, pemerintah dan lain-lain kepada maqam suci ini. Selepas melakukan keganasan yang cukup menjijikkan ini, dia kemudian menaklukan Karbala’ untuk dirinya sehingga para penyair menyusun qasidah-qasidah penuh dengan rintihan, keluhan dan dukacita mereka.11 Kelompok Wahhabi memerlukan waktu selama 12 tahun untuk membuat serangan atas kota Karbala’ dan kawasan sekitarnya, termasuk Najaf. Mereka kembali sebagai perampas, penyamun dan pencuri dengan memulainya pada tahun 1216H/ 1801M. Para penulis Syi`ah bersepakat bahwa serangan dan serbuan itu terjadi pada hari `Aid al-Ghadir bagi memperingati ketetapan Nabi (s.`a.w) mengenai pelantikan al-Imam `Ali bin Abi Talib sebagai khalifah selepas baginda.12 Al-`Allamah al-Marhum al-Sayyid Muhammad Jawwad al-`Amili mengatakan:13 “Allah telah menentukan dan menetapkan dengan kebesaran dan keihsanan-Nya dan juga dengan berkat Muhammad dan Al baginda (s.`a.w), untuk melengkapkan juzuk ini dari kitab Miftah al-Karamah, selepas pertengahan malam yang ke-9, bulan Ramadan al-mubarak tahun 1225H/ 1810M - menurut catatan penyusunnya ...” dengan kekacauan fikiran dan kecelaruan keadaan, orang-orang `Arab dikelilingi oleh orang-orang dari `Unaizah yang mengucapkan kata-kata kelompok al-Wahhabi al-Khariji di al-Najaf al-Asyraf dan masyhad al-Imam al-Husayn (`a.s) - mereka telah memintas jalan dan merampas hak milik para penziarah al-Husayn (`a.s) begitu mereka kembali dari ziarah itu pada pertengahan bulan Sya`ban. Mereka membunuh sebagian besar darinya, terdiri dari orang-orang `Ajam, diperkirakan 150 orang ataupun kurang ...” Jelaslah, bahwa tawhid yang diserukan oleh Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan jemaahnya adalah dengan membolehkan darah dan harta orang yang mengingkari dakwah mereka, juga menerima kata-kata atau akidah-akidah mereka bahwa Allah berjisim, mempunyai anggota tubuh badan dan sebagainya. Al-Alusi dalam penjelasannya tentang Wahhabi mengatakan: “Mereka menerima hadith-hadith yang datang dari Rasulullah (s.`a.w) bahwa Allah turun ke langit dunia dan berkata: Adakah orang-orang yang ingin memohon keampunan?”14 Sehingga dia mengatakan: “Mereka mengakui bahwa Allah ta`ala datang pada hari Qiyamat sebagaimana kata-Nya: “ dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam, dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya “ (al-Fajr (89): 23) dan sesungguhnya Allah menghampiri makhluk-Nya menurut kehendak-Nya seperti yang disebutkan: “dan Kami lebih hampir kepadanya dari urat lehernya “ (Qaf (50): 16). Dapat dilihat dalam kitab al-Radd `ala al-Akhna’i oleh Ibn Taimiyyah bahwa dia menganggap hadith-hadith yang diriwayatkan tentang kelebihan ziarah Rasulullah (s.`a.w) sebagai hadith mawdu` (palsu). Dia juga turut menjelaskan “orang yang berpegang kepada akidah bahwa Nabi masih hidup walaupun sesudah mati seperti kehidupannya semasa baginda masih hidup,” dia telah melakukan dosa yang besar. Inilah juga yang diiktiqadkan oleh Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan para pengikutnya, bahkan mereka menambahkan pemalsuan dan kebatilan Ibn Taimiyyah tersebut. Para pengikut akidah Wahhabi yang batil memberikan tanggapan kepada para pengkaji yang melakukan penyelidikan mengenai Islam - mengikuti perhatian dan penelitian pada kitab-kitab mereka dan mengenalkan Islam mengikuti bahan-bahan cetakan mereka sendiri - hingga menyebabkan mereka akhirnya beranggapan bahwa Islam adalah agama yang kaku, beku, terbatas dan tidak dapat dimanfaatkan pada setiap masa dan zaman. Lothrop Stodard berbangsa Amerika mengatakan: “Kesan dari itu, kritikan-kritikan telah timbul kerana kelompok Wahhabi berpegang kepada dalil tersebut dalam kalam mereka hingga dikatakan bahwa Islam dari segi jawhar dan tabiatnya tidak mampu lagi berhadapan dengan perubahan menurut kehendak dan tuntutan zaman, tidak dapat berjalan seiringan dengan keadaan kemajuan dan proses perubahan serta tidak lagi mempunyai kesatuan dalam perkembangan kemajuan zaman dan perubahan masa ...”15 Penentangan Terhadap Mazhab Wahhabi Sejak semula para ulama al-Hanbali memberontak terhadap Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan mengeluarkan hukum bahwa akidahnya adalah sesat, menyeleweng dan batil. Tokoh pertama yang mengisytiharkan penentangan terhadapnya adalah bapanya sendiri, al-Syaikh `Abd al-Wahhab, diikuti oleh saudaranya, al-Syaikh Sulayman. Kedua-duanya adalah dari mazhab al-Hanabilah. Al-Syaikh Sulayman menulis kitab yang bertajuk al-Sawa`iq al-Ilahiyyah fi al-Radd `ala al-Wahhabiyyah untuk menentang dan menghantamnya. Di samping itu tentangan juga dihadapkan kepadanya oleh sepupunya, `Abdullah bin Husayn. Mufti Makkah, Zaini Dahlan mengatakan: “’Abd al-Wahhab, bapa dari al-Syaikh Muhammad adalah seorang yang salih dan merupakan seorang tokoh ahli ilmu, begitulah juga dengan al-Syaikh Sulayman. Al-Syaikh `Abd al-Wahhab dan al-Syaikh Sulayman, kedua-duanya dari awal, yaitu ketika Muhammad mengikuti pengajarannya di Madinah al-Munawwarah telah mengetahui pendapat dan pemikiran Muhammad yang meragukan. Kedua-duanya telah mengkritik dan mencela pendapatnya dan mereka berdua turut memperingatkan orang-orang mengenai bahaya pemikiran Muhammad...”16 Dalam keterangan Zaini Dahlan yang lain dikatakan bahwa “bapanya `Abd al-Wahhab, saudaranya Sulayman dan guru-gurunya telah dapat mengenali tanda-tanda penyelewengan agama (ilhad) dalam dirinya yang didasarkan kepada perkataan, perbuatan dan tentangan Muhammad terhadap banyak persoalan agama.”17 `Abbas Mahmud al-`Aqqad al-Misri mengatakan: “Orang yang paling kuat menentang al-Syaikh dalam persoalan ini adalah saudaranya, al-Syaikh Sulayman, penulis kitab al-Sawa`iq al-Ilahiyyah. Beliau tidak meng-iktiraf saudaranya itu mencapai kedudukan berijtihad dan berkemampuan memahami al-Kitab dan al-Sunnah. Al-Syaikh Sulayman berpendapat bahwa para Imam yang lalu, generasi demi generasi tidak pernah mengkafirkan ashab bid’ah, dalam hal ini tidak pernah timbul persoalan kufur sehingga timbulnya ketetapan mewajibkan mereka memisahkan diri darinya dan sehingga dibolehkan pula memeranginya kerana alasan tersebut.” Al-Syaikh Sulayman berkata lagi bahwa: “Sesungguhnya perkara-perkara itu berlaku sebelum zaman al-Imam Ahmad bin Hanbal yaitu pada zaman para Imam Islam, dia mengingkarinya manakala ada di antara mereka pula mengingkarinya, keadaan itu berterusan sehingga dunia Islam meluas. Semua perbuatan itu dilakukan oleh orang-orang yang kamu kafirkan kerananya, dan tiada seorang pun dari para Imam Islam yang menceritakan bahwa mereka mengkafirkan (seseorang) dengan sebab-sebab tersebut. Mereka tidak pernah mengatakan seseorang itu murtad, dan mereka juga tidak pernah menyuruh berjihad menentangnya. Mereka tidak menamakan negara-negara orang Islam sebagai negara syirik dan perang sebagaimana yang kamu katakan, bahkan kamu sanggup mengkafirkan orang yang tidak kafir kerana alasan-alasan ini meskipun kamu sendiri tidak melakukannya...”18 Jelaslah bahwa Muhammad bin `Abd al-Wahhab bukan saja sengaja mengada-adakan bid`ah dalam pendapat dan pemikirannya, bahkan beberapa abad terdahulu darinya, pendapat dan pemikiran seperti itu telah pun didahului oleh Ibn Taimiyyah al-Harrani dan muridnya, Ibn al-Qayyim al-Jawzi dan tokoh-tokoh seperti mereka berdua. Pengaruh Ibn Taimiyyah Dia ialah Abu al-`Abbas bin `Abd al-Halim atau lebih dikenali Ibn Taimiyyah (m.728H/ 1328M) termasuk dalam kalangan ulama al-Hanabilah. Pendapat dan pemikirannya berlawanan dengan akidah ulama dan umat Islam pada zamannya, sehingga tokoh-tokoh ulama telah mengeluarkan perisytiharan perang dan menghukumkannya fasiq dan sesat, terutama selepas akidahnya yang penuh kebatilan dituliskan dan disebarkan kepada orang banyak. Penentangan terhadap Ibn Taimiyyah dilakukan dengan dua cara: (1) Penulisan kitab-kitab dan tulisan-tulisan yang menjawab dan menyangkal pendapat dan pemikirannya yang batil berdasarkan pandangan al-Qur’an dan al-Hadith. Contohnya: a) Taqi al-Din al-Subki dengan kitabnya, Syifa’ al-Siqam fi Ziyarah Qabr al-Imam. b) Al-Subki dengan kitabnya, al-Durrah al-Mudi’ah fi al-Radd `ala Ibn Taimiyyah.  c) Taqi al-Din Abi `Abd-Allah al-Akhna’i, Qadi al-Qudat al-Malikiyyah. d) Fakhr bin Muhammad al-Qarsyi, Najm al-Muhtadi wa Rajm al-Mutadi. e) Taqi al-Din al-Hasani, Daf` al-Syubhah. f) Taj al-Din, al-Tuhfah al-Mukhtarah fi al-Radd `ala Munkir al-Ziyarah. Semua tokoh yang disebutkan di atas menolak pendapat dan pemikiran Ibn Taimiyyah dan memperlihatkan kedangkalan serta kecetekan pendapatnya. (2) Celaan dan kritikan para ulama dan fuqaha’ terhadapnya dengan mengeluarkan hukum dan fatwa tentang kefasikan dan kekufurannya, dan mereka turut memberikan peringatan tentang bid`ah dalam agama yang bisa merosakkan, yang dihasilkan dari pemikirannya. Tokoh ulama tersebut ialah al-Badr bin Jama`ah, Qadi al-Qudat di Mesir. Umat Islam telah menulis kepadanya tentang pendapat Ibn Taimiyyah mengenai ziarah kubur Nabi (s.`a.w). Qadi al-Qudat tersebut menjawab: “Ziarah Nabi adalah sunat yang dituntut. Ulama bersepakat dalam hal ini dan sesiapa yang berpendapat bahwa ziarah itu adalah haram, maka para ulama wajib mengutuknya dan mencegahnya dari mengeluarkan pendapat tersebut. Sekiranya dia enggan, maka hendaklah dipenjarakan dan diperendah-rendahkan kedudukannya sehingga umat manusia tidak mengikutinya lagi.” Bukan Qadi al-Syafi`iyyah di Mesir saja yang mengeluarkan fatwa ini, bahkan Qadi al-Malikiyyah dan al-Hanbaliyyah turut serta mendakwa kefasikan Ibn Taimiyyah dan menghukumkannya sebagai sesat dan menyeleweng.19 Al-Dhahabi, salah seorang ulama abad ke-8H/ 14M, tokoh sezaman dengan Ibn Taimiyyah telah menulis sebuah risalah kepadanya, dengan mencegahnya dari mengeluarkan pendapat tersebut ... dan beliau menyamakannya dengan al-Hajjaj bin Yusuf al-Thaqafi dari segi kesesatan dan kejahatan.20 Ibn Taimiyyah meninggal dunia pada tahun 728H/ 1328M di dalam penjara al-Syam. Ibn al-Qayyim mencoba menyambung dan meneruskan usaha gurunya, tetapi tidak berhasil. Dengan kematian Ibn Taimiyyah, segala pendapat dan pemikirannya juga turut mengalami kematian, dan umat Islam terlepas dari bid`ah dan kesesatannya. Kemudian Muhammad bin `Abd al-Wahhab datang dengan membawa pemikiran Ibn Taimiyyah dan bersekongkol pula dengan keluarga Sa`ud yang saling menyokong di antara seorang dengan yang lain dari segi pemerintahan dan keislaman. Di Najd, kesesatan telah tersebar dan faham al-Wahhabiyyah merebak ke seluruh pelusuk tempat seumpama kanser (al-saratan) dalam tubuh badan manusia. Dia menipu kebanyakan umat manusia dan mendirikan sebuah kelompok atau dengan kata lain, mazhab atas nama Tawhid dengan menjatuhkan hukuman ke atas Ahl al-Tawhid, menumpahkan darah umat Islam atas alasan jihad menentang golongan musyrikin hingga menyebabkan beribu-ribu orang manusia, lelaki dan wanita, kecil dan besar menjadi mangsa bid`ah mereka yang sesat. Ia turut serta menyebabkan perselisihan (khilaf) yang sempit semakin membesar dan menjadi-jadi di kalangan umat Islam dan dengan cara itu, mazhab yang baru ini dihubungkan dengan mazhab-mazhab yang banyak itu. Musibah itu akhirnya sampai ke puncaknya dengan jatuhnya dua buah kota suci, Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah. Penduduk Najd bermazhab Wahhabi memperoleh bantuan dan pertolongan Britain yang ingin melihat perpecahan negara Islam menjadi negara-negara yang lebih kecil dari segi kedudukan geografi. Mereka dengan secara sengaja berusaha menghapuskan segala kesan dan tinggalan Islam di kota-kota Makkah dan Madinah dengan memusnahkan kubur para wali (awliya’) Allah, mencemarkan kehormatan kerabat Rasulullah (Al Rasulillah) dan lain-lain dengan perbuatan-perbuatan jenayah dan dosa untuk menggoncangkan hati dan perasaan umat Islam. Sesetengah ahli sejarah menyebutkan: “Kemunculan secara tiba-tiba mazhab Wahhabi dan sewaktu mereka memegang kekuasaan di Makkah, operasi pemusnahan secara besar-besaran telah dilakukan oleh mereka dengan memusnahkan pertama, apa saja yang ada di al-Mu`alla, sebuah kawasan perkuburan Quraisy yang terdiri dari kubah-kubah (qubbah) yang begitu banyak, termasuk kubah-kubah Sayyidina `Abd al-Muttalib, datuk Nabi (s.`a.w), Sayyidina Abi Talib, al-Sayyidah Khadijah sebagaimana yang telah mereka lakukan kepada kubah-kubah tempat kelahiran Nabi (s.`a.w), Abu Bakr dan al-Imam `Ali. Mereka juga turut memusnahkan kubah zamzam dan kubah-kubah lain di sekitar Ka`bah, seterusnya diikuti oleh kawasan-kawasan lain yang mempunyai kesan dan peninggalan orang-orang salih. Semasa mereka melakukan pemusnahan itu, mereka membuang kekotoran sambil memukul gendang (al-tubul) dan menyanyi dengan mengeluarkan kata-kata mencaci dan menghina kubur-kubur ... sehingga dikatakan sebagian dari mereka sanggup kencing di atas kubur-kubur para salihin tersebut.”21 Al-`Allamah al-Sayyid Sadr al-Din al-Sadr mengatakan: “Demi usia hidupku, sesungguhnya al-Baqi` telah menerima nasib yang sangat malang, kerana hati-hati yang kecewa, mengikut nafsu dan berperangai kekanak-kanakan, maka berlakulah pencetus kepada segala kecelakaan, apabila tiada lagi kedamaian. Bagi umat Islam kepada Allah diadukan, hak Nabi-Nya yang telah memberikan petunjuk dan syafaat.” Katanya lagi: “Celakalah anak cucu Yahudi dengan perbuatan jenayah yang mereka lakukan, mereka tidak mendapat apa-apa darinya dengan membongkar harim Muhammad dan kaum kerabat baginda. Neraka wail untuk mereka dengan apa yang mereka tentang terhadap orang-orang yang kuat (al-Jabbar). Mereka musnahkan kubur orang-orang salih dengan perasaan benci mereka. Hindarkanlah dari mereka kerana sesungguhnya mereka membenci orang-orang yang terpilih (di sisi Allah).” Nabi Muhammad (s.`a.w) pernah bersabda bahwa: “Apabila sesuatu bid`ah itu muncul di kalangan umatku, maka orang-orang alim hendaklah memperlihatkan dan menyampaikan ilmu mereka kerana kalau mereka tidak melakukannya, laknat Allah akan ditimpakan kepada mereka.”22 Rasulullah (s.`a.w) juga bersabda: “Apabila bid`ah timbul dan orang-orang yang terkemudian dari umat ini melaknat orang-orang yang terdahulu, maka barang siapa yang memiliki keilmuan, maka hendaklah menyampaikannya. Sesungguhnya orang yang menyembunyikan keilmuannya pada hari itu seumpama orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad.”23 Para Siddiqin (`a.s) dari kaum kerabat Rasulullah (s.`a.w) mengatakan bahwa: “Apabila bid`ah lahir, maka orang alim hendaklah menzahirkan keilmuannya, sekiranya dia tidak berbuat demikian, cahaya keimanan (Nur al-Iman) akan hilang.”24 Atas dasar inilah, para ulama Syi`ah dan Sunni telah bersama-sama bangkit menentang serangan mazhab Wahhabi. Mereka telah menulis, menerbitkan kitab-kitab dan menjelaskan keburukan dan kejahatan tokoh-tokoh Wahabi yang berusaha untuk merealisasikan cita-cita dan harapan Britain. Kitab pertama yang ditulis untuk menolak dan menentang faham Muhammad ibn `Abd al-Wahhab ialah al-Sawa`iq al-Ilahiyyah fi al-Radd `ala al-Wahhabiyyah yang ditulis oleh al-Syaikh Sulayman, yaitu saudara Muhammad sendiri. Di kalangan golongan Syi`ah pula, kitab pertama ditulis untuk tujuan tersebut ialah Manhaj al-Rasyad oleh al-Syaikh Ja`far Kasyif al-Ghita’ (m.1228H/ 1813M). Kitabnya ditulis untuk menjawab risalah yang dihantarkan kepadanya oleh al-Amir `Abd al-`Aziz bin Sa`ud, salah seorang pemerintah Sa`udi pada zamannya. Beliau telah membongkarkan kecetekan dan kedangkalan pemikiran Muhammad ibn `Abd al-Wahhab dalam kitabnya dan mensabitkan kebatilan pemikiran Muhammad berdasar pandangan al-Qur’an dan al-Sunnah. Kitabnya itu telah dicetak pada tahun 1343H/ 1924M di al-Najaf al-Asyraf di `Iraq. Selepas itu, kitab-kitab lain mulai menyusul satu demi satu dengan menolak dan mengkritik pemikiran Muhammad ibn `Abd al-Wahhab dari perspektif yang lain hingga hari ini. Pada zaman itu, golongan Wahhabi telah meningkatkan serangan mereka yang merosak dan berbahaya terhadap Islam dan umatnya dengan penentangan dan peperangan yang didalangi oleh keluarga Sa`ud dengan bantuan dari hasil keuntungan minyak mereka. Pemerintahan kesultanan Sa`udi telah memperuntukkan sejumlah besar hasil keuntungan minyak mereka untuk menyebarkan dan mengembangkan mazhab ciptaan Britain ini di kalangan orang Islam. Kalaulah tidak kerana kekayaan yang besar itu tentulah mazhab Wahhabi tidak akan dapat bertahan hingga hari ini. Kelihatan bahwa unsur-unsur penjajahan (al-isti`mar) Britain begitu jelas mendasari mazhab tersebut dan mereka mengambilnya sebagai cara yang terbaik untuk mewujudkan perpecahan, pertelagahan, persengketaan, permusuhan, perselisihan dan pertentangan di kalangan umat Islam sendiri. Mazhab tersebut juga turut memperkuat dan memperkukuh tujuan penjajahan Britain dengan mengada-adakan fitnah di kalangan umat Islam seperti menuduh orang-orang Islam yang lain sebagai fasiq dan kafir. Umat Islam yang tidak prihatin dan mempunyai pemikiran yang cetek dengan mudah diperdayakan oleh mereka hingga akhirnya mereka secara sedar atau tidak, turut serta menyokong usaha-usaha mazhab Wahhabi dan Britain, bahkan melaksanakannya dalam kehidupan mereka dengan perbuatan dan tindakan terhadap umat Islam lain yang disangkakan sebagai lawan-lawan mereka. Keadaan yang berlanjutan ini menyebabkan umat Islam menjadi lemah dan mudah dikotak-kotakkan oleh musuh-musuh Islam yang sebenarnya tetapi bertopeng dengan Islam.

1Nota Hujung: Artikel ini dipetik dari kitab al-Wahhabiyyah fi al-Mizan oleh Profesor Ja`far al-Subhani.  2 Farid Wajdi, Da’irah Ma`arif al-Qarn al-`Isyrin, Vol. I, h.871; dipetik dari Majalah al-Muqtataf, Vol. XXVII, h.893. 3 Munir al-Ajlani, al-Dawlah al-Sa`udiyyah al-Ula, Riyad, t.t, h.279-281. 4 Ahmad bin Yahya al-Yamani, al-Munyah wa al-`Amal fi Syarh al-Milal wa al-Nihal, 1988, h.114. 5 Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, h.141. 6 Al-Alusi, Tarikh Najd, h.111-113. 7 Salah seorang pengarang `Uthmaniyyah menceritakannya dalam kitabnya, Tarikh Baghdad, h.152 tentang permulaan hubungan di antara Muhammad bin `Abd al-Wahhab dan keturunan Sa`ud dengan cara yang berbeza tetapi kelihatan sama dengan apa yang diceritakan. 8 Al-Alusi, Tarikh Najd, h.117-118. 9 Tarikh Mamlakah al-`Arabiyyah al-Sa`udiyyah, Vol. I, h..51. 10 Ibid. 11 Lihat tulisan Dr. `Abd al-Jawwad, Tarikh Karbala’, h.112. 12 Untuk maklumat tambahan, lihatlah: al-Amini, al-Ghadir, Vol. I. 13 Al-`Amili, Miftah al-Karamah, Vol.V, h.653. 14 Al-Alusi, Tarikh Najd, h.90-91; Lihat sama: Ibn Taimiyyah, Risalah al-Hamwiyyah. 15 Hadir al-`Alam al-Islami, Vol.I, h.264. 16 Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, h.357.  17 Zaini Dahlan, Fitnah al-Wahhabiyyah, h.4.  18 Al-Islam fi al-Qarn al-`Isyrin, h.108-109. 19 Lihat: Taqi al-Din al-Hasani, Daf` al-Syubhah. 20 Al-Amini, al-Ghadir, Vol. V, h.87-89; Ja`far al-Subhani, al-Wahhabiyyah fi al-Mizan, h.48. Risalah ini dikatakan terdapat dalam Kitab Takmilah al-Sayf al-Sayqal, h.190. 21 Untuk penelitian selanjutnya, lihat: Al-Jabarti, Kasyf al-Irtiyab, h.40. 22 Al-Kulayni, al-Kafi, Vol. I, h.54; al-Syirazi, Wasa’il al-Syi`ah, Vol. IX, h.510; al-Muhammadi al-Riyy al-Syahri, Mizan al-Hikmah, Vol. I, h.384. 23 Al-Syirazi, Wasa’il al-Syi`ah, bab 40, Vol. IX, h.510; al-Muhammadi al-Riyy al-Syahri, Mizan al-Hikmah, Vol. I, h.384-385. 24 Ibid.

#4. Dikirim oleh M. Isa Ansori  pada  25/01   12:01 PM

Pak Abdullah bin Umar,

Jangan su’udzon dulu, komentar Anda dimuat kok.

Bravo JIL, bravo pak Abdullah!

#5. Dikirim oleh sastiastari  pada  25/01   10:01 PM

Assalamualaikum wr. wb.

Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang muslim garis keras. Maksud dia sebenarnya --sewaktu keruntuhan Bagdad-- berfikir kenapa, itu terjadi? Jawabnya karena terlalu banyak orang cinta sama Tuhan. Oleh sebab itu, dia berkedok memberantas bid`ah, padahal maksudnya yang saya sebutkan di atas tadi. Padahal sebaliknya orang sufi tidak hanya selalu ke ibadah saja, tapi juga masalah-masalah keduniawian termasuk jihad.

Salah satu contoh, ketika itu raja muslim tidak tampil melawan tentara Kristen, maka dengan beraninya Syekh Akbar Ibnu Arabi RA (Guru Besar Tasawuf) mengatakan, “Engkau pengecut! Ayo maju! Bila tidak kami akan memerangi engkau sebagaimana kami memerangi mereka.” Contoh lainnya tidak mungkin saya sebutkan di sini. Semoga Allah mengampuni Abdul Wahab.

#6. Dikirim oleh Andi Maung  pada  28/01   01:01 PM

Assalamualaikum wr.wb

Saya sependapat dengan sdr. Abdullah bin Umar. Sekedar menambahkan, sebelumnya saya mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan. Semestinya aliran Wahabi tidak pantas masuk dalam lingkup ahlu sunah wal jamaah. Karena mereka selain melakukan kekerasan juga memerangi sufi-sufi dan antitasawuf. Kalau Wahabi memang ahlu sunah, seharusnya mereka berlaku baik dan toleran terhadap sesama muslim. Akibat pengaruh Wahabi yang meluas termasuk ke Indonesia menyebabkan penganutnya yang didukung para ulama Wahabi dan salafian di Arab Saudi, sekarang dengan seenak perutnya menghujat ulama-ulama Indonesia, juga masyarakatnya dengan berbagai macam tuduhan murahannya. Mereka berkata, pendapat kamilah yg benar. Ulama, ustadz, kyai di Indonesia tidak ada yang benar; mereka ahli bid`ah dan khurafat. Saya sebagai muslim miris melihat keadaan tersebut. Pesan untuk JIL, kalau Anda-Anda memang sangat menghormati dan menjunjung HAM, Anda pun harus menghormati kaum sufi. Saya pun akan menghormati saudara-saudara muslim di JIL, bila Anda menghormati kaum sufi dan tidak melecehkan tasawuf. Sebab tasawuf merupakan penerapan Ihsan dalam Islam. Sekian. Terima kasih.

Wassalam wr. wb.

#7. Dikirim oleh Muhammad Arief  pada  30/01   12:01 PM

Mau tahu mengapa umat Islam sekarang mengalami kemunduran. Itu karena umat Islam sendiri meninggalkan ajaran Islam. Itulah sebab umat Islam saat ini bagai buih di lautan, banyak tapi tak punya arti.

Salah satu yang paling parah adalah, jika ada yang menegakkan ajaran Islam secara kaffah maka dia akan dihina. Contohnya Abdul Wahab. Yang lebih ironis, itu semua dari umat Islam sendiri.

#8. Dikirim oleh milvan murtadha  pada  26/02   09:02 AM

Disini ada dua penilaian yang berbeda berkenaan dengan sosok yang bernama Abdul Wahab ini. Ada yang menganggapnya sebagai ulama besar - Sang Pemberangus praktek2 bid’ah, tapi tak sedikit pula diantara para ulama yang menganggapnya sebagai (maaf) penjahat besar karena telah merampas sekian banyak harta dan menumpahkan darah sesama saudara Muslim hanya karena sebuah “kebenaran” yang diyakininya. Tak hanya itu, dia pun dipersalahkan atas kejahatannya yang telah menyebabkan hancurnya peningalan2 bersejarah Islam yang amat sangat berharga itu. Pertanyaannya memang sangat logis, apakah kebenaran yang diyakininya harus merugikan orang lain bahkan sampai membunuhnya?  Juga, apakah harus menghancurkan peninggalan2 bersejarah Islam yang luar biasa pentingnya?

Bagaimanapun, dalam menyikapi perbedaan penilaian thd Abdul Wahab ini, bukankah Islam telah memberikan solusi yaitu agar kita mendiskusikannya dengan cara2 santun dan bertanggungjawab? Oleh karena itu, menurut saya, sah2 saja bila pak Luthfi, pak Abdullah, pak Ansori atau yang lainnya mengemukakan “data"nya masing2 – walaupun saling bertolak belakang - yang berkaitan dengan suatu masalah sejauh data2 yang dikemukakannya itu dapat dipertanggungjawabkan. Yang kita harapkan, semakin banyak data maka semakin akurat pula kita dalam melihat/menilai sesuatu, termasuk dalam menilai tokoh kita kali ini (Abdul Wahab).

Jadi, saya sih tidak melihat tuh adanya unsur penghinaan dalam diskusi ini. Bagi saya, menghina itu kalau kita merendahkan/menuduh seseorang tanpa bukti dan tujuan yang jelas. Adapun kalau didasari oleh bukti2 meyakinkan dan bertujuan agar kita semua mengetahui hal yang sebenarnya, itu saya anggap sebagai pengungkapan fakta dan kebenaran. Demikian koreksi saya atas koreksi pak Milvan, demi kehormatan Islam.

Bravo JIL, bravo pak Milvan!

#9. Dikirim oleh Yayan Haryanto  pada  18/03   09:03 AM

Bravo juga buat bung Yayan.

Kita tunggu aja penelitian bang Luthfi mengenai ini, kalau memang thesis beliau terkait dg masalah kontroversi Muhammad bin Abdulwahhab (MAW) dalam Islam.

Anyway, siapapun yang secara jujur mempelajari sejarah terbentuknya Kerajaan Saudi sampai seluas sekarang ini, tentu mengakui peran besar MAW dan para penerusnya sebagai ulama2 yang me-legitimate perang2 (memerangi kaum muslimin juga!) yang dilakukan oleh bani Saud untuk memperluas kekuasannya. Ini seperti disebutkan oleh bang Luthfi di awal tulisannya itu, sehingga kemudian menimbulkan pertanyaan sdr Sastiastari itu.

Saya menyadari kekaguman sementara kalangan dengan konsep2 MAW (yang sebenarnya cuma pengulangan konsep2 Ibnu Taimiyah dan murid2nya), yang kemudian membuat se-olah2 praktek2 tawassul, tahlilan, ziarah kubur, tasawuf, dll itu sebagai bid’ah. Sayapun dulu sempat menjadi pengagum MAW. Tapi saya nggak mau berhenti sampai di situ. Saya merasa TIDAK ADIL terhadap diri sendiri jika tidak mencari bantahan2 (counter arguments) terhadap tuduhan2 MAW itu. Dan toh, bantahan2 ini sudah ada sejak MAW mengeluarkan fatwa bid’ahnya (bahkan yang pertama adalah dari kakaknya sendiri, Sulaiman bin Abdulwahhab), hanya saja memang availability-nya tidak segencar promosi buku2 Wahabiah yang ditunjang uang Saudi itu.

Karena itu bagi saya, dari segi konsep, tuduhan2 MAW sudah dapat di-counter menggunakan hujah2 Quran dan sunnah. Jadi kalo mau husnudz dzon, konsep2 MAW itu sebenarnya adalah kesalahpahaman belaka. Karena itu dalam posting tanggapan pertama saya katakan bahwa kalau konsep2 MAW ini sekedar wacana atau untuk dipraktekkan kelompok sendiri saja dengan tetap menjaga toleransi dg kelompok muslimin lainnya, NGGAK MASALAH. Tapi husnudzon ini menjadi perlu dipertanyakan ketika mengetahui bahwa “kesalahpahaman” itulah dasar legitimasi bani Saud membunuhi muslimin lainnya dan merebut tanah2 mereka. Sekali lagi, bani Saud dan ulama2 Wahhabinya telah men-takfir-kan kaum muslimin di luar mazhab wahabi, sehingga darah dan harta mereka menjadi “halal”.

Silakan lihat catatan sejarah, TIDAK ADA dialog waktu itu. Semua bantahan dari ulama2 dicuekin aja sama Wahhabi, malah dibalas dengan perang. Apakah begini cara Rasul SAW berdakwah? Sedangkan penolakan Nasrani Najran saja (setelah melalui adu argumen) nggak membuat Rasul SAW memerintahkan untuk memerangi mereka, padahal kekuatan Islam sudah solid (tahun 9 H). Rasul mengajak mereka bermubahalah, perang doa. Nah, apakah sunnah Rasul SAW ini dicontoh oleh Wahhabi? NO.

Intinya adalah, kalau kita mau adil, pelajarilah counter arguments dari tuduhan2 MAW itu, yang sekarang banyak tersedia di internet. Ini tentu saja kalau memang kita mau mencari kebenaran sejati, tanpa fanatism ataupun prejudice terhadap suatu mazhab.

Nah, posting ini pun belum tentu dimuat oleh JIL . Tapi nggak jadi masalah. Apapun, saya berterimakasih sama redaksi JIL.

Wassalam

#10. Dikirim oleh Abdullah bin Umar  pada  30/03   06:03 PM

insyaAllah kalau boleh tuan menghantar kepada saya beberapa artikel tentang pemikiran ibnu Taimiyyah . Pemikiran yang dibawa oleh Muhammad al-Wahabbi adalah kurang diketahui oleh orang kebanyakan dan justeru itu ramai yang menyangka pemikiran seumpama ini adalah tidak berbahaya.Saya sendiri tidak mengetahui perbuatan yang telah dilakukan oleh pengikut-pengikut fahaman Wahabbi semasa menyebarkan pengaruh mereka . Soalan saya , adakah pemikiran Ibnu Taimiyyah juga serupa dengan fahaman Wahabbi , maksud saya dari segi memerangi orang Islam lain yang tidak menerima pendapat mereka . Harap mendapat balasan dari pihak tuan .

Pelajar , 19 tahun , Pj

#11. Dikirim oleh Nasrullah  pada  01/08   06:08 PM

Assalamualaikum wr.wb

tahukah anda bahwa Ibn Taymiya di akhir hayatnya adalah seorang penganut ajaran tasawuf yaitu tarikat Qadiriyah, dalam buku karya beliau Majmua Fatawa volume 11 (buku tentang tasawuf) dan buku ilm as-suluk, begitu jelas diterangkan pentingnya menjalankan praktek tasawuf, dan beliau sendiri mengakui dan menghormati keberadaan para wali beserta karamahnya, bahkan beliau mengakui kebenaran ungkapan dalam keadaan fana dari Bayazid Bustami dan dari karya beliau : al-masala at tabriziya, beliau berkata : aku mengenakan jubah sufi yang penuh berkah dari Shaykh Abdul Qadir Jailani dan di dalam manuskrip lainnya beliau mengungkapkan : aku telah mengenakan jubah sufi dari berbagai Shaykh Sufi, diantaranya yang teragung adalah Shaykh Abdul Qadir jailani.

dan dalam tulisan dari Shaykh Abdullah ( buku : Ad diaat al-mukatththafa did shaykh Muhammad ibn abdul wahab), anak dari Muhammad abdul Wahab.. “ayahku dan aku tidak pernah menolak atau mengkritik ilmu tasawuf, tapi sebaliknya kami mendukungnya karena inilah sarana untuk memurnikan dosa baik yang tampak maupun tidak dari hati dan bentuk luarnya, sufisme dibutuhkan untuk mengkoreksinya.

dan dalam volume ke 5 dari kumpulan surat muhammad ibn abdul wahab, tertulis : sungguh aku tidak pernah menyatakan Ibnu arabi atau ibnu farid sebagai kafir atas interpretasi sufisme mereka.

tahukah anda ketika gerakan wahabi dimulai, lebih dari 800.000 ulama ahlul sunnah wal jamaah dibunuh, ribuan khaniqah/zawiyah dibakar, mereka bahkan mengganti tulisan di pintu gerbang : Allah dan Muhammad menjadi Allah Maajid, dan mereka membunuh pula keluarga nabi, tahukah anda?

Wassalam wr. wb.

#12. Dikirim oleh rif'at ali  pada  18/08   09:08 PM

saya bersetuju yg ibnu taimiyyah sebenarnya pelopor kpd fahaman wahabbi.drpd hasil kajian ulama yg muktabar saya mendapati muhammad ibn wahab terpengaruh dengan pemikiran ibnu taimiyyah yg dianggap mujtahid oleh pengikut2 mereka yg taksub kpd pemikirannya.satu tesis yg ditulis oleh pelajar sebuah universiti di malaysia mendapati kehadiran ibnu taimiyyah ke dalam dunia islam amat diragui.bahkan kalau kita membuat penilitian drpd kaedah al-jarh wal ta’dil kita boleh mempertikaikan sumber ilmu yg diperolehinya.tidak ada satu pun kitab samada yg pro atau yang anti menceritakan dengan jelas sejarah ibnu taimiyyah.siapa guru dia,di mana dia belajar dan siapa yg mengi’tiraf dia sbg mujtahid.sdgkan kalau kita perhatikan ulama’ besar spt imam yg empat,imam ghazali,imam nawawi dan ramai lagi kita akan dapati kealiman mereka diiktiraf kawan dan lawan.mereka diiktiraf oleh ulamak sezaman mereka tetapi berlainan dgn ibnu taimiyyah krn pd zaman dai sendiri sudah ada ulamak yg mengkritik fatwa2 yg dikeluarkanya.

#13. Dikirim oleh Al-Amin  pada  20/08   07:08 PM

Sehubungan dengan Tokoh pendiri Wahabi ini adakah buku sejarah berdirinya Wahabi berbahasa Indonesia dan sejarah berdirinya Kerajaan Arab Saudi (Keluarga Saúd).? Jika ada tolong diinformasikan kesaya dan juga apakah ada bukti otentik ttg yang disebutkan sdr Rifát Ali.Kalau ada tolong juga dikirimkan informasinya kesaya.Terimakasih atas bantuannya.

#14. Dikirim oleh aba aga  pada  27/09   07:09 AM

assalamu’alaikum wr wb. Ibnu taimiyah.adalah seorang ulama,yang besar dijamannya,dia adalah seorang yang,tegas dalam menjalankan syariat.dan ia adalah ulama pedang lihat ketika ia mengusir suku bar2,dan dilihat dari tulisannya,dia adalah pembawa ajaran islam yang jelas.smuanya ada dasar dari al Quran dan assunah,yang shohih.tidak seperti ulil yang selalu ,menyimpang,pemahamanya dari dua sumber utama,yaitu al Quran dan sunnah ,pantaslah syekhul islam ibnu taimiyah dijuluki ulama besar. wassalam

#15. Dikirim oleh syahrul  pada  09/10   07:10 AM

Assalamu’alikum wr wb Tidak diragukan lagi bahwa dakwah dan Jihad Syeikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahhab memperlihatkan hasil yg begitu nyata dengan berdirinya kerajaan islam Saudi Arabia negeri yang diberkahi tempat dua tanah suci ummat islam. Keberhasilan dakwah salafiyah syiekhul islam tidak lain karena pertolongan dari Allah swt.

Kesalahpahaman terhadap ajaran dan dakwah banyak muncul karena banyak pihak2 yang dirugikan secara materi krn keberhasilan dakwah beliau. Akan tatapi Allah swt mengutus dipenghujung tiap tahun sampai hari kiamat seorang mujaddid yang memperbahrui dan meluruskan berbagai penyimpangan dalam agama berupa syirik (bapak moyangnya dosa), maksiat, bid’ah, khurafat. Dan Syeikh Muhammad BIn Abdul Wahhab adalah mujaddid abad 12 H, penerus Ibnu taimiyah, mujaddid abad 7. sampai sekarang di kerajaan saudi arabia masih banyak ulaman rabbaniyah pembela sunnah penerus jejak beliau2 itu walaupun berbagai fitnah melanda.

wassalam Abu Fathi

#16. Dikirim oleh Abu Fathi  pada  12/10   06:10 AM

sekarang dakwah salafiah begitu gencar, kalau dilihat dari literaturnya dan majalah2nya mengacu kpd syeh abdul wahab, ttp mrk selalu menyangkal bhwa merekalah yang sebenar benar ahlus sunnah wal jamaah, mhon rekan yg punya pencerahan, apa hubungan wahabi dengan salafi sekarang ini

#17. Dikirim oleh ahmad R  pada  14/10   08:10 AM

agak sulit mencerna bagaimana sosok Muhammad bin Abdul Wahhab dikatakan sbg pembaharu tauhid, istilah itu agak rancu karena tauhid sesungguhnya tdk ada yg baru, bahkan jargon kembali ke Quran dan Sunnah mengartikan bahwa paham wahabi bukanlah pembaharu tauhid, mungkin lebih pas pemurnian tauhid, begitu kira2 semangat yg dibawa

dikatakan paham juga agak sulit karena setahu saya tdk ada yg baru, jadi bagaimana mungkin disebut paham kalau tdk punya kekhasan

kalaulah ada pengikut pemikiran beliau, pun juga perlu jelas sejauh mana ke-pengikutan-nya apakah mereka taklid thdp garis keturunan ulama wahabi atau menyetujui ide awal pemurnian tauhid yg disponsori oleh beliau

saya tidak banyak berdiskusi dgn orang gerakan salaf, tapi terpaksa saya harus mengakui bahwa banyak simpatisan gerakan ini yg berlaku taklid

tapi menyalahkan beliau karena terjadinya pertumpahan darah sesama umat islam tentu terlalu berlebihan dalam hal semangat pemurnian tauhid saya pikir sama sekali tdk salah, dan bahkan relevan dalam konteks keindonesiaan kita saat ini maupun masa datang

sejarah mencatat bahwa memang selama masa ‘kerajaan’ islam sepeninggal khilafah banyak terjadi pertumpahan darah, jadi bukanlah hal yg asing atau baru masalah peperangan antar umat islam

kita memang menyayangkan hal tsb sampai terjadi akan tetapi itu tdk bisa menafikan bahwa memang peperangan antar umat islam adalah salah satu khasanah syariat Islam yg perlu pula utk dikaji (dipraktekkan oleh sahabat)

tapi satu hal, perkawinan antara kekuasaan dan Islam rasanya memang masih merupakan hal yg lebih dekat pada islam itu sendiri daripada pemisahan antara keduanya

itu yg terjadi pula pada masa rasulullah dan khulafaur rasyidin, jadi mengusung isu islam fundamentalis, islam sempalan, dan islam puritan sesungguhnya tidak lebih baik daripada islam kekuasaan

#18. Dikirim oleh miranda  pada  15/10   11:10 AM

kalau ada orang yang menyebut wahabi itu hanya sebutan orang-orang yang tidak suka dengan dakwahnya syaikh abdul wahab. dan saya mengakui bahwa diindonesia ini kebanyakan pemeluknya adalah ahlul bid’ah orang-orang yang suka menyembah kuburan termasuk JIL sendiri adalah ajaran bawaan dari kaum orientalis yang bertujuan untuk menghancurkan islam sendiri.  menganggap semua agama sama. padahal alqur’an menyatakan bahwa hanya islamlah agama yang diterima oleh Allah. bagaimana tidak menyimpang kalau ajaran mereka saja sudah bertentangan dengan alqur’an. ini hanya sebagian kecil saja masih banyak ajaran menyimpang yang disebarkan JIL melalui ucapan-ucapan tokoh-tokohnya.

#19. Dikirim oleh abu ubaidillah  pada  16/10   04:10 AM

Assalamualaikum

Dari uraian yang disampaikan Rif’at Ali sebelumnya dapat kita ketahhui kiranya bahwasannya beliau telah menutupi sebuah kebenaran dimana beliau mencoba untuk menunjukkkan bukti-bukti yang menggambarkan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah seorang Sufi. Bohong besar (kalau tidak mau dikatakan menutupi kebenaran) karena kalau kita baca dari buku-buku yang menjadi referensi saudara Rif’at, dapat kita simpulkan tidak adal sedikitpun pembelaannya terhadap firqoh sesat sufi ini. Seluruh ulama salaf jika ditanya tentang hal ini maka pasti mereka akan secara bulat menjawab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah orang yang sangat menentang adanya ajaran sufi ini.

Selain daripada itu ingin saya sampaikan pada saudara saya Rif’at jangan saudara memberitahu saudara-saudara kita referensi-referensi yang anda menurut anda tidak akan mungkin dibaca oleh mereka. Sadarilah sesungguhnya buku-buku referensi anda tersebut sangat mudah untuk ditemukan. Apalagi pada saat ini dimana dakwah salaf telah berkembang pesat di negeri kita ini. oleh karena itu jangan coba untuk membohongi publik akan hal ini.

Wassalam

#20. Dikirim oleh gobel marzuki  pada  29/10   10:10 AM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq