Natal dan Perdamaian - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
29/12/2005

Natal dan Perdamaian

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Kristen yang pada mulanya hanya dianut oleh segelintir manusia, kini telah menjadi agama raksasa terbesar dunia. Pertanyaannya, apakah ajaran cinta kasih Yesus sudah dilaksanakan secara penuh?

Publik agama maklum bahwa 25 Desember adalah tanggal bersejarah. Walau tidak bisa dipastikan secara persis, sebagian besar orang kristen mengimani bahwa pada saat itulah, dua milenia lebih yang lalu, di Betlehem telah lahir seorang juru selamat dari rahim perawan suci yang bernama Maria atau Maryam. Bayi itu disebut Alquran dengan nama Isa Almasih. Dan umat kristiani kelak menyebutnya sebagai Yesus Kristus. Yang satu menggunakan bahasa Arab, sedang yang lain memakai bahasa Romawi. Semua penamaan tersebut sesungguhnya berada dalam nada dasar yang sama. Yesus atau Isa adalah tokoh dengan segudang kelebihan. Alquran mengisahkan, kelahirannya pun demikian istimewa. Tanpa ayah. Ini juga diakui oleh kalangan kristiani. Berbeda dengan kelompok Yahudi yang menolak sama sekali kehadiran Isa dan menuduh Maria (ibundanya) sebagai pezina, maka Islam justeru menempatkan Isa ke dalam deretan nabi-nabi agung (ulul azmi) bersama dengan Ibrahim, Musa, Nuh, dan Muhammad. [QS, Al-Ahqaf: 35]. Ini adalah sebentuk apresiasi dan pengakuan Islam atas ketokohan Nabi Isa ‘alaihis salam.

Kehadiran Isa dalam pentas sejarah bak sebatang suluh atau obor ketika dunia berada dalam gelap dan muram. Ia berangkat untuk suatu harapan. Ia menuntut perubahan. Manusia mesti dikembalikan ke dalam hakikat jati dirinya sebagai makhluk Tuhan yang bermartabat. Kedurjanaan dan keberingasan harus sirna. Perbudakan mesti dienyahkan. Tapi, tetap perlu dicatat bahwa Yesus berjuang dengan senjata cinta, bukan dengan kekerasan.  Karena itu, bagi yang menyangka bahwa agama adalah balas dendam, bacalah Yesus. Barang siapa yang berkesimpulan bahwa agama adalah sumber kekerasan, lihatlah tubuh Yesus. Ia merespons kemungkaran bukan dengan kemungkaran serupa, melainkan dengan cinta kasih. Apa hendak dikata, gerakan yang dilakukan oleh Yesus telah mengantarkan dirinya sebagai martir dalam usia yang sangat muda. Nafas terakhirnya berembus di tiang gantungan. Ia disalibkan. Membaca cerita Yesus seperti membaca tentang kisah pengorbanan jiwa, cerita tentang pergerakan revolusioner.

Kini bermilyar orang terutama umat kristiani merayakan hari kelahiran Yesus dengan penuh suka cita. Pesta digelar di mana-mana dengan gegap gempita. Pohon natal menjulang dan lagu Malam Kudus disenandungkan. Khotbah-khotbahnya turut dibacakan, baik dalam kesunyian ruang pribadi maupun dalam keramaian gereja-gereja. Injil dipercakapkan bukan hanya di hotel-hotel berbintang bahkan juga di sawah ladang, pedalaman Papua yang tak tertembus. Injil tidak hanya menjadi bahan permenungan para romo yang sedang berbaring sendirian, tapi juga menjadi buku babon umat kristiani secara keseluruhan. Kristen yang pada mulanya hanya dianut oleh segelintir manusia, kini telah menjadi agama raksasa terbesar dunia. Pertanyaannya, apakah ajaran cinta kasih Yesus sudah dilaksanakan secara penuh?

Yesus orang Nazaret telah menjadi sejarah. Jasadnya memang tunggal, tapi cara orang menafsirkannya bisa beragam. Ia bisa ditafsirkan apa saja oleh setiap orang bahkan sering dibajak oleh kelompok Kristen tertentu untuk kepentingan-kepentingan ekonomi, politik kekuasaan, malah untuk melenyapkan jiwa sesama. Fakta telah banyak menunjukkan. Gereja Katolik pernah melakukan inkuisisi terhadap mereka yang dipandang menyimpang. Pada tahun 1209 M orang-orang Cathhar atau Albigigensia di sebelah selatan Perancis dihancurkan karena dianggap melakukan bid’ah. George W Bush, presiden Amerika Serikat, tidak ragu untuk membumi-hanguskan Afghanistan dan Irak karena menganggap itu bagian dari perang Salib. Karen Amstrong menuturkan bahwa telah lama kaum Protestan Amerika membenci penganut Katolik Roma. Saya meyakini, sekiranya Yesus Kristus tahu bahwa ajarannya sering dijadikan sebagai alat intimidasi dan menyiksa, pastilah air matanya tetes. Ia akan bersedih menyaksikan umatnya berkonflik dan melakukan pembunuhan atas nama tubuh Yesus sendiri.
Natal bukan sekedar ritus, tapi ikhtiar bagi tegaknya kedamaian dan lenyapnya kekerasan di bumi. []

29/12/2005 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (11)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Terima kasih kepada Abd Muqsit, artikelnya sangat mencerahkan bagi saya seorang Katolik. Begitu banyak website yang berisi artikel2 kebencian dan artikel anda bagai oase pencerahan akan kerukunan kita bersama. Salut.. terimakasih!
-----

Posted by Danang  on  05/12  at  07:05 AM

Wah, komentar Bung David ini salah alamat nih. Ini kan forum dimana pluralisme menjadi akar kuatnya dalam konteks membangun komunikasi antara anak bangsa di dalam kontek NKRI yg berdasar Pancasila. Ini bukan forum dakwah, whatever your religion is. Nggak ada bedanya sama aliran sektarian muslim juga yg jawaban2nya nggak membangun komunikasi tsb, malah memandekkan. Bung David, kalo mau dakwah, simpan aja di hati, atau lewat perbuatan2 “kasih” anda, atau sebar di gereja, atau contribute langsung dalam pemikiran2 anda. Jangan main kutip “ascomay"(baca: asal comot ayat). Saya sepenuhnya sejalan dgn redaksi.

Posted by Johan  on  04/10  at  03:05 AM

Jika Anda tahu bahwa Yesus adalah seorang yang sangat diminati, disanjung dan disembah banyak umat, mengapa Anda tidak mau menyembah Dia ALLAH yang agung? Tidak tahukah kamu tidak ada jalan lain selain mengikuti DIA? Baca Yohanes 14:6 YESUS berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, Tak ada yang samai kepada ALLAH kalau tidak melalui AKU” (Ego sum via, velitas et vita).

Baca lagi Matius 20:28b “AKU akan menyertai kalian sampai akhir zaman!” Beserta Yesus sungguh indah, jangan pernah tinggalkan DIA. Walaupun sekarang banyak cobaan percaya saja. Dengan kasih dan anugerah-NYA yang besar Dia akan menyertaimu dan menolongmu.

Salam Kasih Yesus Kristus

Redaksi: Terima kasih atas koemntar Anda, David. Tapi harap maklum, kami percaya akan pluralisme agama dalam makna banyaknya jalan menuju Tuhan. Untuk menuju Tuhan, Yesus bukanlah satu-satunya jalan.

Posted by David  on  04/07  at  03:05 AM

Agama Yesus tidak pernah menjadi agama terbesar di dunia. Dia selalu ada di jalan sempit. Yang ada sekarang sebagai organisasi keagamaan terbesar adalah agama yang seakan-akan berurat akar kepada Yesus, namun sesungguhnya tidak bernafaskan ajaran Yesus, melainkan sebuah bentukan sistem filasat Paulus (gabungan filsafat Yudaisme yang vertikal dan spiritual dan helenis yang horizontal dan intelektual) + Gagasan Imperealisme Barat yang berisikan penaklukan dan kemewahan hidup + Fanatisme kehidupan beragama yang sempit fundamentalis di dalam gereja.

Makanya kesimpulan Anda bahwa agama Yesus digunakan sebagai agenda kekerasan, tidak termasuk legitimasi Hitler yang didukung oleh Protestanisme Jerman pada saat perang dunia kedua membunuh sekitar 6 - 10 juta kaum yahudi sebagai pembalasan atas pembunuhan yang dilakukan nenek moyang mereka terhadap Yesus. Antisemit yang berjalan di luar batas, sepertinya benar tapi salah mengakarkan ke Yesusnya.

Lagipula Yesus tidak datang untuk membangun sebuah sistem keagamaan, namun sebuah keteladanan - KESETIAAN SAMPAI AKHIR! dalam membela kaum marjinal (kalangan yang disisihkan agama), menentang dogmatika agama-agama yang mendiskreditkan manusia dalam kelompok elit (kaum beragama) dan kaum pendosa, menyadarkan para pemimpin agama yang melaksanakan ibadah hanya untuk memenuhi kantongnya sendiri, mencerahkan pemahaman atas jiwa dari sebuah ajaran keagamaan, membebaskan mereka yang terbelenggu keputusasaan jiwa, dan akhir dari perjuangannya adalah mengalahkan dirinya sendiri di atas kayu salib! KESETIAN SAMPAI AKHIR UNTUK MEMBELA MANUSIA DARI PENINDASAN AGAMA.

Dan tidak banyak orang beragama kristen yang memiliki baris terakhir hurup CAPITAL ini. Yang banyak malah yang sebaliknya. Malah yang di luar agama Kristen ini yang melakukan tindakan peneladaan seperti yang dilakukan Yesus Mahatma Gandhi, Dietrich Bonhoeffer, Immanuel Kant, Jean Paul Satre, Friedrich Nitzhe ... dan Ulil Abdala mungkin he he he!

Posted by tatag triyahyo adi  on  02/03  at  07:03 AM

salam sejahtera,

saya kok tidak pernah peduli dengan segala kontroversi, apakah Yesus lahir 25 desember atau tidak. entah beliau lahir di bulan desember, januari, februari, atau apalah, itu tidak mengurangi keagungannya. Dan jika toh memang beliau tidak lahir 25 desember, so what gitu loh..! Beliau tetap Yesus Kristus, Isa Al Masih, nabi yang harus kita hormati. Biar bagaimanapun, Yesus tetap agung..

Posted by raden yudasmoro  on  01/12  at  09:02 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq