Nestapa Konflik Internal Umat Islam - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kliping
14/03/2006

Nestapa Konflik Internal Umat Islam

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Di Indonesia pernah terjadi hubungan tak harmonis antara Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah karena hal-hal yang sebenarnya sangat remeh-temeh. Namun, alhamdulillah, hubungan tak harmonis antara dua ormas keislaman besar itu tak berujung pada penghancuran, satu dengan yang lain.

Tulisan ini sebelumnya dimuat dalam Koran Tempo, Kamis, 9 Maret 2006

Kian hari kian mengkhawatirkan. Ketegangan di internal umat Islam terus berlangsung. Di Irak, beberapa hari yang lalu, kita menyaksikan adanya pemboman terhadap sejumlah mesjid yang dilakukan oleh umat Islam sendiri. Orang Islam sunni merusak mesjid orang Syi’ah. Dan begitu juga sebaliknya. Hal yang sama juga bisa kita saksikan di Pakistan. Antara orang Sunni dan Syi’ah berupaya saling menghancurkan mesjid masing-masing. Mesjid yang sering disebut sebagai rumah Allah SWT (bayt Allah) itu telah dijadikan sebagai reservat untuk melakukan balas dendam dan pelampiasan angkara murka. Di tangan umat Islam sendiri, mesjid seperti telah kehilangan daya magis dan aura karismatiknya sehingga dengan mudah bisa dibenamkan. Mesjid tidak lagi menjadi semacam hibernasi yang menampung segala friksi dalam syahdu.

Dalam konteks Indonesia, kita pun disodori tayangan pengrusakan mesjid-mesjid dan rumah-rumah kelompok Islam Ahmadiyah. Kerap diberitakan, sebagian warga Ahmadiyah mendapatkan ancaman, baik fisik maupun non fisik. Beberapa tokoh Islam mainstream pun ikut menekan agar kelompok Ahmadiyah hengkang dari Islam jika mereka masih ngotot dengan akidah yang dipegangnya. Negara atau persisnya pemerintah tak tahu-menahu akan adanya tindakan kriminal yang cukup dahsyat itu. Di negerinya sendiri kelompok Ahmadiyah diperlakukan bak seorang anak haram jadah yang terkutuk. Aparat kepolisian tak memberikan perlindungan keamanan yang cukup terhadap mereka sehingga penghancuran tetap berlangsung. Atas kondisi itu, belakangan tersiar kabar bahwa kelompok Islam Ahmadiyah hendak meminta suaka ke luar.

Memperhatikan fakta-fakta seperti itu, saya merasa miris dan gelisah. Itukah hakekat ajaran Islam yang dibawa oleh Kanjeng Rasul Muhammad SAW? Mengapakah umat Islam cenderung bersikap apokaliptik di dalam menghadapi perbedaan-perbedaan tafsir yang muncul? Perbedaan tafsir nyaris selalu menelan ongkos yang tak murah, yaitu pemberangusan. Mengapa pula mesjid selalu menjadi sasaran penyerangan? Mesjid yang dimiliki oleh satu kelompok tertentu, di mata kelompok Islam yang lain tak ubahnya mesjid dhirar yang bisa dirobohkan. Maka, ke mana gerangan sikap-sikap toleran yang telah lama ditauladankan oleh Kanjeng Nabi Muhammad? Sikap yang arif nan bijaksana kini semakin mewah kita temukan di kalangan umat Islam.

Peradaban kekerasan telah menjungkirbalikkan nurani dan akal sehat menjadi batu. Alih-alih agama akan menjadi solusi, yang terjadi justeru menjadi beban dan problem. Kekerasan yang dilakukan oleh sebagian umat Islam ini, suka atau tidak, telah menenggelamkan integritas moral Islam ke dalam kubangan kejahatan atas kemanusiaan. Citra Islam sebagai agama damai dan anti kekerasan segera pupus, digantikan oleh citra Islam sebagai agama kaum teroris. Teror bukan hanya dialami umat agama lain, melainkan juga menimpa sebagian umat Islam. Kini kelompok Islam Ahamadiyah mengalami ketakutan menghadapi ancaman kelompok Islam lain. Ahmadiyah dipandang telah melakukan makar terhadap akidah Islam sehingga boleh dibasmi. Begitu juga antara kaum Sunni dan Syi’ah di Irak, Pakistan, dan tidak tertutup kemungkinan akan melebar ke negeri-negeri Islam yang lain.

Tentu ada banyak faktor yang memicu dan melatar belakangi terjadinya konflik internal umat Islam tersebut. Salah satunya adalah soal teologis. Umum diketahui bahwa pertengkaran semacam itu dipicu oleh adanya perbedaan di dalam menafsirkan Islam. Sayangnya, perbedaan tafsir itu tidak dimaknai sebagai rahmat yang harus dinikmati, melainkan sebagai laknat yang harus dijauhi. Setiap kelompok dalam Islam selalu berpendirian perihal adanya kebenaran tafsir tunggal, seperti yang dirumuskannya sendiri. Sementara tafsir orang lain diposisikan sebagai berada dalam kesesatan yang terang-benderang. Dengan ini, timbullah sejumlah ketegangan di internal umat Islam. Antara Sunni dan Syi’ah. Antara Sunni dan Mu’tazilah. Antara Sunni dan Ahmadiyah. Bahkan, di internal Sunni pun sering terjadi perang dingin. Di Indonesia pernah terjadi hubungan tak harmonis antara Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah karena hal-hal yang sebenarnya sangat remeh-temeh. Namun, alhamdulillah, hubungan tak harmonis antara dua ormas keislaman besar itu tak berujung pada penghancuran, satu dengan yang lain. 

Itu pertarungan atau konflik yang terjadi antarkelompok dalam Islam. Nah, yang tak kalah mengerikannya juga adalah ancaman terhadap para intelektual yang oleh Islam mainstream dipandang memiliki tafsir keagamaan sesat. Sejarah telah merekam sejumlah nama intelektual yang pernah mengalami ancaman ekskomunikasi bahkan ancaman bunuh. Di antaranya adalah Ibnu Rusyd yang perpustakaan pribadinya dan sejumlah buku hasil buah tangannya dibakar. Nashr Hamid Abu Zaid yang oleh pengadilan Mesir divonis murtad sehingga layak dibunuh dan harus diceraikan dari isterinya. Dengan alasan keamanan diri, kini Abu Zaid lebih memilih tinggal Belanda ketimbang di Mesir. Dalam konteks Indonesia, adalah apa yang dialami oleh teman saya, Ulil Abshar Abdalla. Sejumlah ulama di Jawa Barat memvonis Ulil telah keluar dari Islam (murtad) sehingga pantas diganjar dengan hukuman mati. Pada faktor pertama ini, kita sedang berhadapan dengan fallacy pemutlakan. 

Faktor lain, saya kira, adalah soal politik-kekuasaan. Sering dikisahkan bahwa pertarungan internal di kalangan umat Islam itu justeru pemicu utamanya adalah soal politik belaka, sementara faktor teologis hanya sekadar bumbunya. Semua kaum terpelajar Islam mesti mengetahui bahwa perang unta (waq’ah al-jamal) antara Aisyah (isteri Nabi Muhammad) melawan Ali bin Abi Thalib (sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad), perang shiffin antara Ali bin Abi Thalid dan Mu’awiyah bin Abi Sofyan, sepenuhnya dipicu oleh faktor politik kekuasaan. Saya menduga, Irak pasca-Saddam Husein tengah berkubang dalam pertarungan politik kekuasaan antara Sunni dan Syi’ah, yang salah satu ekspresinya adalah perang dengan membakar mesjid masing-masing. 

Fakta-fakta seperti ini penting diungkap ke publik Islam untuk menjadi bahan permenungan bagi semuanya. Bahwa Islam yang direklamekan Nabi sebagai agama damai, agama cinta, telah ternoda hanya beberapa waktu setelah Nabi Muhammad wafat. Umat Islam sibuk berperang di antara mereka sendiri. Harga yang harus dibayar pun sangat mahal. Jika dihitung sejak perang unta hingga sekarang, maka jelas ada sekian juta umat Islam telah mati terbunuh di tangan umat Islam yang lain. Belum lagi kalau kita mau menghitung kerugian material akibat konflik tersebut. Sungguh, ini sebuah nestapa dari konflik internal umat Islam. Sekiranya Nabi Muhammad SAW bangkit dari kuburnya, pastilah ia akan kecewa. Nabi Muhammad jauh lebih bersedih menyaksikan umatnya yang saling berperang, ketimbang sebuah karikatur yang melecehkan dirinya di Jyllands-Posten, Denmark. []

14/03/2006 | Kliping | #

Komentar

Komentar Masuk (2)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Mungkin ada baiknya menghayati dan mengamalkan QS Alhujurat 10-13, sembari memikirkan surah yang sama pada ayat 14-15. Lalu coba lihat QS.Yunus:99 yang diterjemahkan: “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya.  Maka apakah kamu hendak MEMAKSA mereka menjadi BERIMAN SELURUHNYA ?”

Anggaplah orang lain belum “se-benar” kita, apakah kita akan memaksa mereka semua mengikuti kebenaran yang kita yakini?

Nabi Muhammad SAW selalu berdakwah ataupun menasihati umat dengan cara sebaik-sebaiknya, bukan dengan cara (MEN-)CELA, PAKSA, HANTAM DAN BUBARKAN…

Kasus kekerasan yang bernuansa sentimen keagamaan di Indonesia menunjukkan terhambatnya proses alir informasi tentang Islam dari segala aspeknya, dari sejak ia mulai dilahirkan sampai sekarang; juga komunikasi antar elemen penganutnya…

Siapa yang bertanggung jawab? MUI? Ah, kayaknya bukan, karena selama ini yang saya lihat, lebih berfungsi sebagai STEMPEL…
-----

Posted by wim  on  03/24  at  07:03 AM

Mengapa kita khawatir dengan perbedaan dan memusuhi perbedaan di antara kita, cobalah jika ada perbedaan kita tunjukan akhlak kita yang bisa menarik mereka untuk ikut ke kita. Bukan dengan cara kekerasan yang pada akhirnya mereka tambah antipati kepada kita bagaimana bisa menarik kalau kita sendiri bertindak brutal malah bisa menjauhi atau keterpaksaan. Bukankah agama tidak ada paksaan. Yang terpenting kita sudah mempublikasikan atau mensyiarkan dan itu sudah tanggung jawab mereka mau ikut atau tidak dan biarkan berfikir sendiri mana yang baik. Itu tanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa masing - masing.

Posted by indro  on  03/19  at  11:03 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq