NU Pascamuktamar Masih Suram - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
05/12/2004

Dua Intelektual Muda NU Bicara Soal NU Pasca Muktmar: NU Pascamuktamar Masih Suram

Oleh Redaksi

Dua orang intelektual muda NU, Abd. Moqsith Ghazali dan Zuhairi Misrawi mensinyalir perhelatan muktamar sedikit sekali berbicara soal program dan agenda NU lima tahun mendatang. NU seolah-olah kembali menyodorkan blangko kosong kepada elite-elite pimpinan strukturalnya. Berikut penuturan kedua penggiat NU itu kepada JIL.

Kekhawatiran terkurasnya energi kaum nahdliyyin dalam perbincangan soal figur pemimpinnya menjelang muktamar sudah terjawab di arena Muktamar NU ke-31 kemarin. Dua orang intelektual muda NU, Abd. Moqsith Ghazali dan Zuhairi Misrawi mensinyalir perhelatan muktamar—yang kembali menobatkan KH MA Sahal Mahfudz (sebagai Rais Am Syuriah) dan KH Hasyim Muzadi (sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU) itu—sedikit sekali berbicara soal program dan agenda NU lima tahun mendatang. NU seolah-olah kembali menyodorkan blangko kosong kepada elite-elite pimpinan strukturalnya. Berikut penuturan kedua penggiat NU kultural itu kepada Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal pada Kamis (2/12) kemarin.

JIL: Bung Moqsith, apa kesan sepintas Anda tentang perhelatan Muktamar ke-31 NU di Asrama Haji Donohudan Boyolali kemarin?

MOQSITH: Pertama, dari sudut materi pembahasan masâ’il maudhuiyyah (persoalan-persoalan tematik), banyak sekali kemunduran yang dapat terlihat dibandingkan muktamar-muktamar sebelumnya. Kita tahu, Munas NU di Lampung (1992), telah memutuskan untuk menggerakkan mekanisme istinbath (penggalian hukum Islam dari dalil Alquran dan Hadis) atau yang lebih dikenal sebagai mekanisme ijtihad di kalangan Muhammadiyah. Ini sebuah langkah maju NU yang dikenal sebagai kumpulan para muqallid (orang-orang yang taklid). Anehnya, oleh sebagian kalangan di muktamar kemarin, mekanisme itu dinilai sebagai hal yang mesti dihindarkan. Bagi saya, ini merupakan kemunduran luar biasa, karena generasi Kiai Sahal dan Gus Mus telah menyepakati istinbath secara jama’i sebagai salah satu terobosan progresif untuk mengatasi pelbagai problem yang muncul di tengah masyarakat.

Kedua, penolakan peserta muktamar terhadap penggunaan hermeneutika sebagai salah satu metode pembacaan atas teks Alquran dan Hadis. Keberatan mereka didasarkan pada tidak adanya tashawwur (persepsi) yang sangat jelas menyangkut apa yang disebut heremeneutika. Dengan terburu-buru, mereka sudah punya cap-cap negatif terhadap hermeneutika (misalnya sebagai produk Barat dan cap-cap lainnya). Mestinya, hermenutika pembebasan bisa diajukan sebagai salah satu model gerakan. Sebab, dalam hermeneutika pembebasan, perbincangan seputar teks-teks agama tidak cukup penting, karena teks diletakkan sebagai pemberi sinar etik moral bagi seluruh kerja pembebasan. Namun, apa hendak dikata, muktamar telah memutuskan demikian.

JIL: Itu dari sudut metodologi. Bagaimana kesan Anda tentang persoalan-persoalan parsial kontemporer yang dibahas dalam agenda muktamar?

MOQSITH: Banyak juga hal yang menarik, karena ada beberapa komisi dalam muktamar tersebut. Komisi masâ’il maudluiyyah (persoalan-persoalan tematik) yang lebih bersifat metodologis; komisi masâ’il wâqi’iyyah (persolan-persoalan kasuistik) yang berbicara hal-hal parsial dan kasus-kasus spesifik yang aktual di masyarakat; komisi organisasi dan komisi taushiyah (rekomendasi). Ada perbincangan mengenai suap, tes DNA, dan sebagainya. Namun, yang amat disayangkan, dalam komisi taushiyah muncul usulan agar organisasi NU itu dibersihkan dari orang-orang yang berpaham Islam liberal. Ada banyak pamflet yang menyerukan agar NU segera dijernihkan dari paham Islam liberal dan Syiah. Itu terpampang jelas di masjid, tembok dan lain-lain. Cukup mengagetkan, orang-orang NU yang selama ini dikenal sebagai kaum muslim moderat, tiba-tiba menjadi ekstrem.

JIL: Dalam taushiyah itu, apakah yang dilihat sebagai tantangan NU hanya Islam liberal dan Syiah, sembari mengabaikan proses radikalisasi gerakan Islam di Indonesia?

MOQSITH: Isu radikalisme Islam dalam NU memang tidak cukup menonjol, ini mungkin karena; pertama kiai-kiai tidak merasakan arus radikalisme yang mengarah kepada terorisme itu sebagai marabahaya. Kedua, tidak semua kiai mengikuti isu-isu keislaman global seperti itu. Para kiai dengan para santrinya yang hidup di desa biasanya sibuk mengurusi pendidikan dan sejumlah persoalan lokal daerah.

JIL: Apa itu juga berarti mereka cenderung kompromis dengan gerakan-gerakan Islam yang keras?

MOQSITH: Tidak juga. Sebab NU telah menetapkan bahwa amar makruf nahi munkar tidak bisa dilakukan dengan cara yang munkar pula. Mereka memaknai jihad tidak semata-mata secara fisik dalam bentuk peperangan. Banyak ulama yang menolak tindakan teror sebagai ekspresi jihad.

Terlepas dari itu, yang menarik juga dalam muktamar kali ini adalah Kontrak Jam’iyyah yang dibuat oleh Kiai Sahal sebagai Rais Aam PBNU untuk calon Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Kontrak itu berisi kesediaan calon untuk tidak terlibat dalam proses-proses politik praktis dan sanggup tidak dicalonkan atau mencalonkan diri dalam jabatan eksekutif dan legislatif. Kontrak itu saya kira sebuah sinyal dan tradisi yang baik bagi NU. Saya menduga, Kiai Sahal coba mengakomodasi aspirasi teman-teman muda NU yang ber-Mubes (Oktober 2004) di Cirebon.

JIL: Bung Zuhairi, sebagai orang yang ikut serta muktamar, apa kesan Anda tentang muktamar?

ZUHAIRI: Pertama, muktamar menurut saya belum selesai, karena inti muktamar sebenarnya adalah terjadinya rekonsiliasi antar pelbagai kubu di NU yang saat ini sedang berkonflik. Kedua, tidak munculnya program-program yang spektakuler buat NU di masa mendatang. Kedua hal ini hampir tidak terjadi di muktamar kali ini. Malah yang menyedihkan, ada kemungkinan Gus Dur akan menjalankan mandat yang diberikan beberapa kiai sepuh untuk menyusun kepengurusan PBNU alternatif. Makanya, mungkin saja akan ada muktamar lanjutan.

JIL: Seberapa besar kemungkinan realisasi “NU tandingan” yang dimandatkan beberapa kiai sepuh itu kepada Gus Dur?

ZUHAIRI: Yang dimandatkan bukan membentuk NU tandingan, tapi membentuk kepengurusan alternatif. Saat ini ada sepuluh nama yang disinyalir pihak Gus Dur telah menggunakan NU sebagai kendaraan politik praktis, wahana untuk memperkaya diri dan lain sebagainya. Makanya, saya kira prospek NU di masa mendatang masih suram. Sebab pembicaraan yang mengarah pada pengayaan sumber daya manusia atau pemberdayaan masyarakat sipil di tubuh NU tidak tercover. Beberapa pemikiran NU kultural juga tidak diakomodasi. Dengan demikian, fakta bahwa NU adalah bangunan civil society terbesar di dunia, yang berbasiskan masyarakat muslim, lama kelamaan akan tergerus dan hilang dari kenyataan.

Di dalam forum-forum muktamar, suara yang cenderung diakomodasi tak lain suara yang cenderung politis. Misalnya dalam hal pemikiran moderat. Islam liberal yang selama ini banyak disokong kalangan muda NU, secara aklamasi ditolak, baik dalam komisi keagamaan tematik maupun dalam komisi rekomendasi. Bahkan mereka meminta anak muda NU yang berpikiran liberal tidak dimasukkan dalam kepengurusan NU mendatang. Ini menurut saya sebuah kemunduran besar bagi NU, sebab pendiri NU seperti KH Ahmad Shiddiq, SH dan KH Wahab Hasbullah, adalah orang-orang yang untuk zamannya berpikiran progresif.

Mereka itu menerima Pancasila sebagai dasar negara kita; menerima kepemimpinan Bung Karno; menerima negara bangsa, dan menolak konsep negara Islam, apalagi utopia konsep khilafah. Mereka menerima konsep ikatan kemanusiaan dan kebangsaan (ukhuwwah insâniyyah dan ukhuwwah basyariah) di atas ukhuwwwah islâmiyyah (ikatan keislaman). Itu kan konsep yang progresif untuk zamannya. Jadi sesungguhnya konsep Islam yang progresif di dalam NU bukanlah hal yang baru.

Dalam muktamar kali ini, juga terdapat politisasi yang kuat atas pemikiran-pemikiran Islam moderat. Bahkan Pak Hasyim Muzadi sendiri secara lisan menyerang Islam liberal. Saya kira, itu bertentangan dengan karakter pemikiran Pak Hasyim sendiri. Menurut saya, dia termasuk liberal atau progresif karena dalam banyak even menyatakan NU setia menerima konsep negara bangsa dan menolak negara Islam. Nah, itu kan gagasan yang liberal! Kenapa di dalam LPJ dia justru menolak Islam liberal?!

JIL: Bung Moqsith, apa Anda melihat aspirasi-aspirasi NU kultural betul-betul terhambat dalam ajang muktmaar kali ini?

MOQSITH: Tampaknya demikian. Pikiran-pikiran NU kultural itu tidak cukup populer di dalam komisi-komisi muktamar. Tidak ada perbicangan yang cukup serius tentang nasib orang-orang NU marginal yang berprofesi sebagai petani, buruh, dan nelayan. Padahal sebagian besar warga NU ada di situ. Ini menunjukkan sensitivitas pimpinan NU untuk menolong mereka tidak cukup memadai.

JIL: Bung Zuhairi, kalau demikian fakta muktamar, apakah Anda menyangsikan status NU sebagai elemen civil society terpenting di Indonesia, mengingat beberapa anak muda NU justru melakukan konfrontasi atas pemikiran-pemikiran Islam progresif di ajang muktamar?!

ZUHAIRI: Pertama, kenyataan yang tak terbantah, bahwa NU saat ini memang terlalu asyik dalam permainan politik praktis. Ini tercermin dari terpilihnya kembali simbol politik praktis di tubuh NU, Bapak KH Hasyim Muzadi. Padahal saya kira Pak Hasyim mempunyai kesalahan yang cukup besar terhadap NU, karena telah menggunakan NU sebagai kendaraan politik. Tapi, faktanya terpilih kembali sebagai Ketua Umum PBNU di muktamar kali ini.

Kedua, saya tidak melihat adanya gagasan-gagasan progresif yang mungkin memperkaya tradisi yang berkembang di NU pada muktamar kemarin. Di sana tidak ada perbincangan soal wawasan demokrasi, pluralisme, dan kesetaraan gender. Bahkan untuk sekedar mengapresiasi pemikiran-pemikiran anak muda NU seperti Ulil Abshar-Abdalla dan lainnya, tidak ada forumnya. Yang ada hanya forum penghakiman yang bersifat monolog. Makanya, menurut saya kalangan kultural di tubuh NU perlu berkumpul dan berbincang kembali tentang upaya merumuskan agenda civil society yang harus diemban NU di masa-masa mendatang.

JIL: Bung Moqsith, kalau aspirasi NU kultural tidak banyak diakomodasi, lalu aspirasi siapa yang diakomodasi? Apakah aspirasi gerakan Islam baru yang menyuarakan khilafah, aplikasi syariat, dan semisalnya?

MOQSITH: Saya tidak melihat sampai segitu. Sebab konsep khilafah, formalisasi syariat Islam, dan lainnya itu tidak menggema di kalangan warga NU. Yang menggejala justru agenda-agenda politik praktis yang tampak dominan di ajang muktamar. Bahkan muktamar kali ini hampir tersedot secara sangat total ke dalam pembicaraan soal figur dan kandidat. Makanya, apa yang dikuatirkan Gus Mus (KH Mustofa Bisri) soal terkonsentrasinya pembicaraan muktamar pada person yang akan memimpin NU, bukan program atau agenda apa yang akan dilakukan lima tahun mendatang, ada benarnya.

Tendensi ke arah politik kekuasaan itu kiranya akan kian terasa pada masa mendatang saat pemilihan bupati dan gubernur digelar. Warga NU bersama kiai-kiai yang ada di daerah-daerah, kalau tidak memiliki pertahanan diri yang kokoh pasti akan terjatuh dalam arus permainan politik praktis. Makanya, Kontrak Jam’iyyah yang diteladankan Kiai Sahal itu harus segera diikuti oleh para rais syuriah NU di daerah-daerah. Mereka mesti siap membentengi NU agar tidak terlibat langsung dalam pertarungan politik dan perebutan kekuasaan.

JIL: Bung Zuhairi, tadi Bung Moqsith menyebut pembicaraan figur lebih menonjol, sementara soal program sangat minim dibicarakan. Apakah ini berarti NU sedang memberi blangko kosong kepada para pemimpinnya untuk berbuat sesuai “kebijakan” masing-masing?

ZUHAIRI: Saya kira memang demikian. Dalam sidang pleno komisi-komisi, hampir tidak ada gagasan-gagasan besar yang muncul. Yang ditegaskan justru soal NU bukanlah partai politik, tetapi ormas sebagaimana dijelaskan Khittah 1926. Lantas, NU juga ditegaskan mempunyai hak yang sama dan setara dengan warga lain untuk mencalonkan dan dicalonkan dalam proses perebutan jabatan politik sejak level presiden sampai bupati dan camat.

JIL: Kalau begitu belum ada ketegasan tentang makna kembali ke khittah dan soal ini masih dibiarkan untuk diinterpretasi secara liar?

ZUHAIRI: Saya kira, Kontrak Jam’iyah yang disampaikan Kiai Sahal juga tidak begitu jelas dan tegas, karena bersifat ajakan moral, bukan kontrak organisatoris. Dengan demikian, NU ke depan akan tetap lebih banyak bersifat politis ketimbang sebagai entitas civil society. Bahkan, dalam bahsul masâ’il komisi keagamaan, soal kasus suap menjadi sangat kontroversial. Di situ muncul pendapat bahwa suap dapat dibenarkan (halal) kalau tidak ada kaitannya dengan gaji. Jadi analoginya seperti sajadah yang diterima dengan cara kotor, untuk digunakan salat. Padahal, ini jauh sekali dari gagasan Kiai Sahal tentang fikih sosial. Apalagi saat ini bangsa kita sedang berhadapan dengan problem KKN, dan suap menyuap untuk menjadi CPNS. Artinya keputusan itu tidak sesuai dengan konteks sosial kita saat ini.

JIL: Bung Moqsith, bagaimana Anda mencermati isu suap ini?

MOQSITH: Ini bagian dari persoalan fikih parsial dalam Islam. Oleh karena itu, tentu saja terjadi perbedaan pendapat yang sangat tajam. Dan jangan lupa, para ahli fikih cenderung sangat taktis dan pragmatis di dalam menelorkan produk-produk hukumnya, baik dengan cara hîlah (berkelit) maupun lainnya. Itu bisa saja digunakan untuk memberi legalitas terhadap tindakan yang menurut ukuran moral jelas tidak bisa dibenarkan. Pembicaraan tentang fikih kerap dipisahkan dari dimensi moralitas fikih itu sendiri.

JIL: Terakhir Bung Zuhairi, apa tantangan terbesar NU ke depan menurut Anda?

ZUHAIRI: Pertama, tantangan terbesar adalah kenyataan bahwa warga NU saat ini masih terbelakang secara ekonomi, pendidikan, politik, dan budaya. Muktamar ini sejatinya adalah forum tertinggi untuk membicarakan itu semua. Kalau kenyataannya seperti ini, saya kira NU akan semakin jauh dari kereta peradaban kemanusian dan mungkin tidak akan mampu memberi jawaban-jawaban praktis atas persoalan-poersalan tersebut.

Kedua, NU saya kira perlu penyegaran atau peremajaan sebagaimana yang pernah disinggung Gus Mus. Pimpinan NU, terutama di tingkat wilayah dan cabang, perlu melakukan peremajaan dan penyegaran kepemimpinan. Ini saya kira salah satu cara untuk menyelamatkan NU dari keterpurukan yang kita sebutkan sebelumnya.

JIL: Bagaimana menurut Anda, Bung Moqsith?

MOQSITH: Pertama, tantangannya adalah bagaimana meningkatkan taraf hidup warga NU. Itu tantangan yang mendasar sekali, karena memang warga NU masih berada pada level terbawah dari piramida perekonomian nasional. Oleh karena itu, kita berharap ketika terjadi peningkatan taraf hidup, maka akan terjadi pula peningkatan derajat pendidikan. Sebab, salah satu ekses keterpurukan ekonomi adalah ketertinggalan dari sudut pendidikan.

Kedua, mengendalikan para elite NU dari tendensi-tendensi politik praktis, salah satunya dengan adanya kontrak jam’iyyah sebagaimana yang dicontohkan Kiai Sahal. Walau sangat lemah secara organisatoris karena tidak tercantum dalam AD/ART, kontrak itu memang perlu dilakukan. Di ujungnya, NU akan semakin terfokus sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang concern pada upaya pemberdayaan masyarakat tertindas. []

05/12/2004 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Zuhairi Misrawi menuliskan opininya pada surat kabar Republika edisi Jum’at, 8 Desember 2006, dengan judul “Pluralisme Berbasis Alquran”.  Tepat di bawah nama Zuhairi terpampang predikat “Sarjana Akidah Islam, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir”.  Predikat ini semestinya menjadi jaminan mutu bagi artikel yang ditulisnya, karena Universitas Al-Azhar sudah kadung dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi Islam terbesar di dunia.

Meski demikian, memang tidak semestinya kita bersikap tidak kritis pada seorang manusia yang jelas-jelas tidak ma’shum, apalagi menerima semua kata-katanya tanpa kritis sama sekali hanya karena titel yang disandangnya.  Setelah membaca artikelnya, saya dipaksa untuk kecewa bukan kepalang kepada Al-Azhar.  Saya akan jelaskan sebabnya.

Seperti yang dapat Anda lihat pada judul artikel Zuhairi Misrawi ini, sang penulis jelas-jelas sedang mempromosikan paham pluralisme.  Saya berusaha berbaik sangka, karena pengertian pluralisme sendiri hingga kini tidak pernah bulat.  Ada yang menganggap pluralisme adalah konsep ‘persamaan agama’, ada pula yang menganggap pluralisme hanya sebagai acuan untuk sikap toleransi antarumat beragama.

Kekecewaan saya bermula pada bagian akhir paragraf ketiga dan berlanjut pada keseluruhan paragraf keempat dari artikel tersebut.  Berikut ini adalah kutipannya :

…kita dapat mengambil kesimpulan teologis, bahwa Alquran merupakan kitab suci yang menghargai, bahkan menjunjung tinggi kitab suci agama-agama terdahulu.

Hasil riset saya, Surat Al-Ma’idah merupakan surat yang amat pluralis, karena menyebutkan Injil sebagai petunjuk dan cahaya (Q.S. Al-Ma’idah [5] : 46) dan Taurat sebagai petunjuk dan cahaya (Q.S. Al-Ma’idah [5] : 44).  Kendatipun sebagian Muslim menolak Injil dan Taurat, tetapi Allah SWT justru menjunjung keduanya.

Kesalahan mendasar Zuhairi Misrawi – yang menyandang gelar sarjana dari Universitas Al-Azhar itu – adalah ketika ia menganggap Taurat dan Injil sebagai kitab suci agama-agama selain Islam.  Pernyataan ini saya maknai sebagai bentuk penistaan Kitab Suci.  Jika Taurat dan Injil dianggap bukan sebagai Kitab Suci umat Islam, maka itu artinya Zuhairi telah mengklaim bahwa ajaran yang dikandung di dalamnya adalah ajaran yang kufur.  Saya kurang paham sekomprehensif apa ‘riset’ yang dikatakannya pada paragraf keempat dari artikelnya itu, tapi nampaknya ia hanya membaca ayat-ayat yang sesuai dengan keinginannya saja.

Zuhairi nampaknya melakukan dua kekeliruan sekaligus, yaitu :

1.  Gagal membedakan antara ‘kitab-kitab suci terdahulu’ dengan ‘kitab suci agama-agama terdahulu’.

2.  Jika kitab-kitab suci terdahulu dianggap berasal dari agama lain, maka para Nabi penerimanya pun (dalam hal ini Nabi Musa as. dan Nabi ‘Isa as) juga tidak dianggapnya sebagai Muslim.  Ini pun sebuah kesalahan yang amat besar.

Al-Qur’an memuji Taurat dan Injil, karena memang kehadirannya bukan untuk menafikan keberadaan kedua kitab suci tersebut, melainkan untuk membenarkan dan menyempurnakannya.  Masalah besar yang terjadi pada umat Yahudi dan Nasrani adalah karena mereka telah mengubah-ubah isi Taurat dan Injil.  Jika mereka tidak melakukan hal itu, tentu mereka tidak akan tersesat.

Barangkali ‘riset’ Zuhairi tidak mencakup penyimakan atas Q.S. Al-An’aam [6] : 91 yang mengungkap dengan jelas kegiatan mencerai-beraikan kitabnya Nabi Musa as. ini (kitab yang mana lagi kalau bukan Taurat?) :

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.  (Q.S. Al-An’aam [6] : 91)

Ada baiknya juga sekiranya Zuhairi mau membuka mushaf di rumahnya untuk membaca uraian pada Q.S. An-Nisaa [4] : 44-47, karena di sana juga dijelaskan mengenai tindakan bejat kaum Yahudi yang mengubah-ubah petunjuk yang didapatnya sesuka hatinya.  Amat disayangkan jika ayat-ayat ini luput begitu saja dari ‘riset’ Zuhairi mengenai ‘pluralitas Al-Qur’an’.

Nabi ‘Isa as. dan Kitab Injil pun mengalami nasib yang kurang lebih sama.  Q.S. Al-Baqarah [2] : 87 menjelaskan perihal pengkhianatan kaumnya Nabi Musa as. dan Nabi ‘Isa as. terhadap ajaran yang lurus yang didakwahkan oleh para Nabi yang mulia dengan retorika berikut :

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada `Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?  (Q.S. Al-Baqarah [2] : 87)

Ucapan Zuhairi yang menuduh sebagian besar Muslim telah menolak Injil dan Taurat adalah tuduhan tak berdasar sama sekali, karena Al-Qur’an jelas-jelas datang untuk membenarkan kedua Kitab Suci tersebut.  Masalahnya bukan meragukan kebenaran Injil dan Taurat, melainkan karena Injil dan Taurat yang asli sudah hilang entah kemana.  Yang tersisa kini hanyalah kitab-kitab yang tak bisa dijamin kebenarannya.

Menganggap Injil sama dengan Bibel adalah sebuah kecerobohan luar biasa.  Ahmad Deedat pernah mendemonstrasikan bukti mengapa Bibel tidak bisa dijamin keasliannya.  Beliau pernah mendemonstrasikan di hadapan ribuan orang bagaimana menyelipkan beberapa kata ke dalam sebuah ayat yang berasal dari Bibel, dan tak ada seorang pun yang menyadari penambahan kata tersebut.  Jika demikian, apa jaminannya kitab tersebut adalah kitab asli yang diperoleh Nabi ‘Isa as. dari Tuhan dua milenium yang lalu, sementara Ahmad Deedat mampu memanipulasi satu ayatnya dalam hitungan detik saja?  Hal ini berbeda dengan Al-Qur’an, dimana perubahan satu huruf atau satu harakat saja akan menemui teguran dari sekian banyak hafizh Qur’an.

Umat Yahudi juga dikenal sangat tidak konsisten dengan Taurat.  Rasulullah saw. meneruskan ajaran Taurat dengan mempraktekkan hukum rajam bagi pezina, sementara kaum Yahudi sendiri (yang mengaku sebagai pewaris sejati Nabi Musa as.) justru tidak melaksanakannya.  Ini karena Rasulullah saw. meyakini kebenaran risalah Nabi Musa as. sebagai pendahulunya, sedangkan kaum Bani Israil hanya menjalankan apa-apa yang disukainya dari Taurat dan meninggalkan apa-apa yang tidak sesuai dengan keinginannya.  Tidak jauh beda dengan sikap Zuhairi Misrawi dengan ‘riset’-nya ini.

Apa jaminannya umat Yahudi yang dikenal dengan sifatnya yang gemar berkhianat tidak pernah mengubah Taurat sejak ribuan tahun yang lalu?  Apa jaminannya kitab yang mereka pegang sekarang adalah Taurat yang dahulu diwariskan oleh Nabi Musa as.?  Inilah masalah yang mengharuskan seorang Muslim untuk menolak Bibel dan ‘Taurat’ yang kini dipegang oleh umat Yahudi.  Tidak ada yang akan menolak Taurat dan Injil sekiranya kedua kitab tersebut masih ada dalam bentuk aslinya.

Jika Zuhairi menganggap bahwa Taurat dan Injil adalah Kitab Suci dari agama-agama selain Islam, maka otomatis ia pun telah mengkafirkan Nabi Musa as. dan Nabi ‘Isa as. sebagai penerima kedua kitab tersebut. Na’uudzubillaah! Saya tidak akan membicarakan lebih jauh mengenai penistaan kedua Rasul yang mulia ini, namun saya akan menunjukkan dengan jelas letak kesalahannya. Sekali lagi, saya amat menyayangkan ‘riset’ Zuhairi nampaknya memang tidak pernah menyentuh ayat di bawah ini :

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada Nabi-Nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 136)

Q.S. Ali Imraan [3] : 84 berbicara mengenai hal yang kurang lebih sama, yaitu bahwa para Nabi adalah sama-sama utusan Allah dan tidak dibeda-bedakan oleh umat Islam. Semuanya adalah hamba Allah yang taat. Hanya umatnya sajalah yang memanipulasi ajaran yang lurus sehingga menjadi bengkok tak keruan.

Dengan membaca ayat di atas, barangkali masih ada juga yang ngeyel dan berpendapat bahwa Allah memang tidak membeda-bedakan para Nabi, namun risalah mereka tetaplah berbeda. Dengan kata lain, agamanya pun beda! Tentu saja, karena para penganut paham pluralisme menganggap semua agama menuju kepada satu sumber, yaitu Tuhan yang sejati. Terhadap argumen semacam ini, perlu saya jelaskan terlebih dahulu kesalahan fatal umat Yahudi dan Nasrani sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an :

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (Q.S. At-Taubah [9] : 30)

Pernahkah Nabi Musa as. menyebut Uzair sebagai putra Allah? Pernahkah Nabi ‘Isa as. mengaku-ngaku sebagai putra Allah? Jika memang benar demikian, tentu urusan sebesar ini tidak akan luput dari Al-Qur’an. Kenyataannya, Al-Qur’an tak pernah sekalipun menceritakan mengenai hal ini. Setiap kali Nabi Musa as. berdoa, tujuannya hanya kepada Allah, tidak pernah kepada Uzair. Demikian juga Nabi ‘Isa as. tidak pernah mengaku sebagai putra Allah, melainkan sebagai putranya Maryam yang tak berayah.

Dari sini jelaslah bahwa Nabi Musa as. bukanlah seorang Yahudi, demikian pula Nabi ‘Isa as. bukanlah seorang Nasrani, karena kedua manusia mulia ini tidak pernah mengakui hal-hal seperti yang di atas. Kedua Nabi yang mulia ini adalah Muslim tulen yang ajaran tauhid-nya persis sama dengan tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Saya anjurkan setiap orang untuk mengadakan ‘riset pribadi’ dan meneliti ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa as. dan Nabi ‘Isa as. – sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an, Kitab Suci umat Islam yang amat dipercaya keasliannya – dan memperbandingkannya dengan ajaran tauhid dari Rasulullah saw. Adakah bedanya?

Terus terang saya kecewa pada Universitas Al-Azhar yang punya nama sangat besar itu, karena telah melahirkan seorang sarjana bidang aqidah Islam yang tidak mampu melihat persamaan antara aqidah warisan Rasulullah saw. dengan aqidah-nya Nabi Musa as. dan Nabi ‘Isa as. Saya juga kecewa sekali karena Zuhairi tidak mampu melaksanakan riset secara komprehensif. Jika memang membuka lembaran-lembaran mushaf dianggapnya terlalu merepotkan, saya sarankan kepada Zuhairi untuk menggunakan software Al-Qur’an seperti yang saya gunakan. Saya menggunakan software Digital Al-Qur’an versi 3.2 produksi Sgm Soft yang saya beli di Bandung dengan harga sangat terjangkau tahun 2005 silam. Saya yakin Zuhairi sanggup membeli software semacam yang saya miliki ini.

Tapi kalau memang sejak awal sudah berniat mengambil ayat-ayat yang dianggap mendukung pendapatnya sendiri dan menyembunyikan yang lainnya, maka itu sudah lain soal. Jika memang demikian yang terjadi, maka Zuhairi sudah terjangkit penyakit sebagaimana yang telah dialami oleh umat Yahudi dan Nasrani, yaitu sifat gemar menukar ayat-ayat Allah sesuka hati. Atas penyakit semacam ini, saya hanya bisa mengingatkan dengan sebuah ayat Allah yang mudah-mudahan bisa menyentuh hati terdalam setiap orang yang di hatinya masih ada iman meski sebesar dzarrah :

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 160-161)

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya, dustalah semua yang menyelisihi-Nya!
-----

Posted by pengamat JIL  on  12/09  at  05:13 AM

Assalamu’alaikum wr wb Kalo membaca reply dari mas Solihin berarti NU sedang mengalami krisis yang cukup parah dong… Sudah pada kena Hub Ad-dunya. Ajaran Tasawufnya ga dipake lagi ya?

Posted by pak Dhe  on  08/27  at  10:08 PM

NU Pascamuktamar Masih Suram

Dua orang intelektual muda NU, Abd. Moqsith Ghazali dan Zuhairi Misrawi mensinyalir perhelatan muktamar—yang kembali menobatkan KH MA Sahal Mahfudz (sebagai Rais Am Syuriah) dan KH Hasyim Muzadi (sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU) itu—sedikit sekali berbicara soal program dan agenda NU lima tahun mendatang.

Assalamualaikum.

NU yang diharapkan membawa masyarakat Indonesia kejenjang peningkatan kesejahteraan ternyata jauh dari harapan. Semua sibuk berpolitik yang akhirnya UUD seperti diungkapkan oleh intelektual muda NU. Dari sejak semula saya bergabung di JIL selalu melemparkan issues yang berguna untuk kesejukan dalam kehidupan di Indonesia, usaha meningkatkan kesejahteraan, peningkatan pendidikan yang secara langsung merupakan tanggung jawab orang tua, sekularisme sehingga tidak ada demonstrasi aneh-aneh, penggunaan akal yang merupakan anugrah Allah SWT yang sangat berguna dalam hidup berdampingan secara damai bagi seluruh umat Ibrahim as, maupun digunakan dalam usaha penggalian “hukum Allah yang tersirat”, ---- dan sayangnya idea perbaikan tersebut dianggap tidak bermanfaat.

Wassalam

Posted by H. Bebey  on  05/01  at  06:05 PM

Ada beberapa catatan saya tentang Muktamar NU kali Ini : pertama, sudah saatnya kalangan elite NU untuk berekonsiliasi dan merumuskan kembali nidzom perjuangan NU kedepan. Apalagi tantangan Nahdiyyin kedepan semakin berat. bukannya berebut kursi kekuasaan yang impilikasinya perpecahaan di tubuh Organisasi Islam terbesar didunia ini.

Posted by Ginanjar Nugraha  on  12/14  at  02:12 AM

berbicara masalah NU sebagai organisasi islam kemasyarakatan pada saat ini sudah tidak begitu menarik lagi seiring dengan bergesernya kemurnian niat untuk pengabdian berupa pendampingan ummat yang tertindas sudah tidak lagi serius seperti dipada awal perjuangannya.

hal ini sangat memprihatinkan karena banyak kyai yang duduk di tingkatan struktural hany mementingkan kepentingan kelompok masing-masing tanpa memperhatikan kebutuhan riil jama’ahnyatersendiri. para kyai yang dulu sibuk mengurusi ummat pada saat ini mereka sibuk mengurusi proyek demi kepentingan sendiri.

kalau kita melihat NU sekarang yang masih sejati adalah mereka yang patut dicaungi jempol adalah mereka yang duduk ditingkatan ranting bagimana mereka melayani ummat dengan menyelengrakan berbagai kegiatan penyantunan dan yang lain dengan banting tulang bahkan harus merelakan sekian kepentingan pribadi demi ngurusin ummat. jadi menurut saya pada saat ini NU yang riil adalah NU yang ada ditingkatan bawah adapun NU yang ada ditingkatan atas hanya sibuk ngurusin duit saja. ambil contoh mungkin ini untuk yang pertama kalinya saya melihat muktamar NU di Boyolalai kemarin tidak ada seorang kyai pun yang tidak menggunakan kendaraan yang tidak mewah mereka melebihi orang-orang milyuner sangat kontras sekali dengan fenomena warga NU yang untuk makan saja msih kesulitan. ini adalah sangat memprihatinkan.

oleh karena itu saya sebagi warga NU memberikan himabauan kepada para kyai(bukan berarti saya bersikap suul adab yang masih tulus berjuang demi ummat berhentilah bertikai urusin ummat kalian!

*penulis adalah Ketua Umum Korps Dakwah Islamiyyah UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta (KORDISKA) dan juga mantan pengurus GP Ansor ranting Ancab Sambung Macan Sragen Jateng.

Posted by mohamad sholihin  on  12/10  at  08:12 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq