Oleh-oleh Dari Situbondo - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Kolom
08/10/2003

Oleh-oleh Dari Situbondo Risalah Muktamar Pemikiran Islam NU

Oleh Novriantoni

Berbagai tanggapan muncul tentang muktamar. Yang paling ditunggu-tunggu banyak pihak adalah komentar Cak Nur, sapaan akrab cendikiawan Nurcholish Madjid. Cak Nur yang pernah memprediksi akan lahirnya kalangan pembaru Islam justru dari rahim ormas tradisional tersebut, memberi komentar positif atas terobosan kaum muda NU ini. Secara sosiologis, Cak Nur yakin bahwa perkembangan pemikiran keislaman di NU akan berdampak pada kesetaraan atau menyempitkan kesenjangan wawasan antara kalangan elitnya dengan warga Nahdliyyin pada umumnya.

Muktamar Pemikiran Islam yang diselenggarakan kaum muda Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah Asembagus Situbondo, ditutup pada hari Minggu (5/10) kemarin. Paling tidak, ada tiga rekomendasi yang dihasilkan muktamar yang berlangung selama tiga hari dan diikuti tak kurang dari 300 undangan tersebut. Pertama, agar Penguruh Besar Nahdlatul Ulama menyelenggarakannya secara rutin dan berkala. Kedua, menegaskan pentingnya tradisi sebagai fondasi dasar untuk melakukan proses perubahan sosial-keagamaan di lingkungan NU khususnya. Ketiga, menegaskan bahwa fikih semestinya dilihat sebagai bagian dari etika sosial, tidak semata-mata diperlakukan sebagai aturan-aturan hukum formal dengan pemahaman yang fundamentalistik. Menurut ketua panitia muktamar, Zuhairi Misrawi, ketiga rekomendasi ini penting untuk menanggapi berbagai perkembangan sosial-politik-keagamaan yang terjadi belakangan ini.

Berbagai tanggapan muncul tentang muktamar. Yang paling ditunggu-tunggu banyak pihak adalah komentar Cak Nur, sapaan akrab cendikiawan Nurcholish Madjid. Cak Nur yang pernah memprediksi akan lahirnya kalangan pembaru Islam justru dari rahim ormas tradisional tersebut, memberi komentar positif atas terobosan kaum muda NU ini. Secara sosiologis, Cak Nur yakin bahwa perkembangan pemikiran keislaman di NU akan berdampak pada kesetaraan atau menyempitkan kesenjangan wawasan antara kalangan elitnya dengan warga Nahdliyyin pada umumnya. Bahkan, Cak Nur berani mematok jangka waktu 20 tahun untuk melihat bentuk kesetaraan itu ke depan. Cak Nur menyatakan rasa bangganya akan perkembangan pemikiran generasi muda NU yang begitu pesat.

Dalam sesi simposium terakhir petang Minggu, Cak Nur banyak berbicara tentang hubungan antara tradisi dan pembaruan. Menurut Cak Nur, tidak ada sebuah perkembangan di dunia yang tidak diawali dengan proses awal terlebih dahulu. “Tidak bisa sesuatu itu beranjak dari nol betul. Harus ada proses sebelumnya,” demikian Cak Nur menganalogikan perlunya tradisi untuk sebuah proyek pembaruan, tak kecuali pembaruan pemikiran keagamaan.

Sementara itu, pada sesi sebelumnya, Rais Syuriah PBNU, Said Aqil Siraj, berbicara panjang lebar tentang bagaimana tradisi pemikiran keagamaan dibentuk secara sosial- politik. Siraj menguraikan konteks bagaimana paham Ahlu Sunnah Waljamaah terbentuk dalam sejarah. Menurut beliau, pada mulanya paham Ahlussunnah bukanlah sebuah pemahaman keagamaan yang menghegemoni secara ideologis. Ahlu Sunah pertama kali lahir untuk menyeimbangkan paham Muktazilah yang dijadikan ideologi politik yang dipaksakan oleh pihak penguasa kala itu. Lebih lanjut, Siraj mengajak warga Nahdliyyin, khususnya kalangan elitnya untuk lebih giat dalam kegiatan berpikir dan kerja-kerja kemanusiaan. Kebebasan berpikir, menurut Siraj adalah penting guna menghindar dari kemandekan umat yang telah mendera kreativitas umat Islam selama beberapa abad. Dengan hafalan beberapa petikan kitab-kitab klasik yang luar biasa, Siraj mendemonstrasikan bagaimana tradisi berpikir bebas dimungkinkan dalam Islam. Dalam forum itu, Siraj didampingi Ketua PBNU Solahuddin Wahid dan ketua Rabithah Ma’ahidil Islamiyah (RMI) Ali Haidar. 

Pada hari sebelumnya, simposium membahas persoalan metodologi penyimpulan hukum Islam. Sesi metodologi ini diisi oleh Katib Aam PBNU Masdar Farid Mas’udi, Ustadz Nakh’ai, dosen Ma’had Aly (Sekolah Tinggi) Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah Asembagus, dan Abd A’la, dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sesi ini membahas soal keragaman tafsir dalam Islam dan bagaimana menggunakan dan bahkan merevisi berbagai kaidah ushul fikih sebagai salah satu metode penyimpulan hukum-hukum Islam. Sesi ini semakin semarak, karena tidak hanya membahas bagaimana menyimpulkan hukum-hukum spesifik dari Alqur’an, tapi lebih dari itu, menyoal sumber hukum Islam itu sendiri (Alqur’an).

Amat jamak diketahui, bahwa Alqur’an dan juga hadis sebagai dua sumber utama hukum Islam, mengandung bagian-bagian yang ambigu. Ayat yang menyokong toleransi dan menegasikannya, dapat ditemukan dalam Alqur’an yang sama. Bila demikian, tak ada jalan lain, sang penafsir harus betul-betul pandai menggunakan suatu metodologi untuk sampai pada produk hukum yang mendekati kebenaran. Maka dari itu, Abd A’la menegaskan bahwa subjektivitas tidak mungkin dihindari dalam memberikan penafsiran atas teks Alqur’an maupun hadis. Dengan begitu, keragaman penafsiran sangat mustahil untuk dihindarkan. Penafsiran tidak akan pernah tunggal dan final. Dia akan selalu plural dan berwarna-warni.

Sementara simposium kedua berbicara soal metodologi, simposium pertama (Jum’at, 3/10) membahas seputar dinamika permikiran kaum muda NU secara umum. Sesi ini menampilkan Zuhairi Misrawi yang menggagas perlunya agama menjadi penawar bagi problem kemanusiaan universal dan tidak berkubang dengan persolan-persoalan teologis belaka. Zuhairi mengajak untuk melakukan pergeseran paradigma penghayatan keagamaa, dari yang bersifat teosentris (berpusat pada Tuhan) kepada penghayatan dan pengamalan keagamaan yang lebih bersifat antroposentris (berpusat pada isu-isu kemanusiaan dan berempati padanya).

Selain Zuhairi, sesi ini menampilkan dosen IAIN Sunan Kali Jaga, Prof Dr Machasin, rektor IAIN Alauddin Makassar, Prof. Dr.  H Azhar Arsyad, MA, dan pemikir muda NU paling tersohor, sekaligus koordintaror Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar-Abdalla. Dalam paparannya, Prof. Azhar memaparkan pengalamannya berkunjung ke negeri para Mullah, Iran, sambil menjenguk hauzah-hauzah ilmiah di negeri Islam tersebut. Prof. Azhar juga memaparkan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam dinamika intelaktual Islam. “Man lam yadzuq al-khilâf, lam yasyum râihartal fiqh! (barangsiapa belum mencicipi polemik, maka dia belum mencium aroma fikih!),” demikian Prof Azhar mengutip sebuah adagium yang suportif terhadap perdebatan pemikiran. Selain itu, Prof Azhar melihat bahwa dalam Islam, hubungan antara akal dan naql tidak perlu dipertentangkan. Dia memosisikan akal sebagai instrumen pemaham atas naql, sementara naql adalah bahan. “Antara bahan dan instrumen tidak perlu dipertentangkan,” paparnya.

Dalam sesi ini, Ulil Abshar-Abdalla tampil sebagai pembicara ketiga. Ulil membuka pembicaraan tentang krisis kepercayaan atas agama yang menggejala. Menurutnya, fenomena demikian adalah fakta. Untuk itu, agar agama dapat tampil lebih renyah, enjoy dan mengasyikkan, tak ada jalan lain kecuali perlu penafsiran ulang. Ulil menilai bahwa kegiatan menafsirkan agama kembali adalah kegiatan yang positif. Lebih lanjut Ulil melakukan kritik atas penalaran hukum Islam yang berlangsung selama ini. Menurutnya, kelemahan mendasar penalaran hukum Islam adalah pada hilangnya wawasan etik yang menjadi ruh hukum itu sendiri. Ulil menegaskan perlunya Alqur’an ataupun teks agama dimasukkan dalam kerangka etik tertentu, sehingga produk-produk hukum agama tidak menjadi kehilangan makna. Dari sini Ulil mengelaborasi kembali konsep tentang Maqâsidusy Syariah, sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Al-Syatibi.

Kritik Ulil lainnya adalah tentang kuatnya kecenderungan tektualisme di kalangan umat Islam yang berperadaban teks ini, dan tingginya semangat merendahkan kemampuan nalar untuk memberikan penafsiran yang menyegarkan atas Islam. Di kalangan ulama, penaklukan akal ketika berhadap-hadapan dengan teks merupakan tradisi yang kuat. Maka tak heran bila muncul diktum yang berbunyi “lâ majâl lil ijtihâd fî mahallin nash” (tak ada ruang bagi ijtihad rasional di dalam teks). Menurut Ulil, diktum ini perlu dikritik untuk lebih membuka ruang bagi proses penalaran dalam Islam. Akal tidak mesti tekluk ketika berhadap-hadapan dengan teks-teks yang primer sekalipun. Akal tetap mempunyai ruang untuk melakukan proses penalaran atas teks-teks yang tersedia. Bukankan akal sangat diperlukan untuk memahami teks-teks tersebut?

Hal yang membuat forum agak tersentak adalah pernyataan Ulil bahwa dirinya hanya tertarik untuk melakukan ijtihad pada persoalan muamalah dalam agama. Ulil membedakan persoalan muamalah dengan persoalan ibadah. Baginya, persoalan ibadah tidak perlu diutak-atik lagi, karena tidak terlalu banyak bersentuhan dengan persoalan publik. Perkara jumlah rekaat dalam salat, puasa dan lain-lain, tidak menarik minat dan gairah intelektual Ulil. Sebagaimana sering dia tegaskan, Islam Liberal lebih memprioritaskan pemikiran keagamaan yang bersentuhan dengan persolan-persoalan muamalah, khususnya yang menyangkut kepentingan publik. Persoalan jilbab misalnya, hanya dipersoallkan dalam kaitannya dengan isu publik, seperti hubungannya dengan kebebasan publik. Jilbab yang dikenakan masing-masing individu untuk dirinya sendiri tidak menjadi persoalan. Tapi jilbabisasi yang dipaksakan dengan menggunakan aparat negara, perangkat undang-undang ataupun peraturan daerah adalah persoalan lain.

Selain menggelar rangkaian simposium, Muktamar juga menggelar acara bedah buku dan pameran. Bedah buku pertama membahas buku Islam Pribumi yang diterbitkan Lakpesdam NU. Gagasan tentang Islam Pribumi dieperdebatkan secara sengit di hadapan peserta dan beberapa santri pondok pesantren tradisional tersebut. Selain buku Islam Pribumi, muktamar juga membedah buku NU Liberal, dan Kharisma KH A’sad Syamsul Arifin. Pendek kata, ini bukan hanya muktamar pemikiran Islam perdana yang digelar anak muda NU, tapi juga terobosan penting bagi kalangan Nahdliyyin khususnya, dan pemikiran keislaman umumnya. []

08/10/2003 | Kolom | #

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Harus diakui, selama ini NU dikenal mandeg dalam pemikiran. Orang-orang seperti KH Abdurrahman Wahid adalah kekecualian. Karena itu munculnya anak-anak muda NU yang kritis dan melontarkan gagasan serta pemikiran segar sungguh menggembirakan. Tentu saja hal itu tidak harus ditanggapi dengan telinga memerah oleh kalangan tua
-----

Posted by Tabita  on  10/30  at  12:10 PM

Buat Imam…

Terima kasih atas responnya. Saya terus-terang selalu terganggu dengan tafsir politik atas muktamar, seperti yang disampaikan Imam. Tapi memang susah menghindar dari tafsir politik, karena suhu politik menjelang pemilu 2004 mulai memanas. Jadi biarlah tafsir tersebut bergulir sebagai sebuah dinamika pemikiran.

Namun atas nama salah satu penggagas muktamar, ada baiknya bila saya memberikan klarifikasi. Pertama, muktamar mengundang Cak Nur, karena dia termasuk salah satu cendekiawan muslim yang meramal boom intelektual NU. Diakui atau tidak, Cak Nur telah menyempurnakan pemikiran progresif yang dibawa Gus Dur. Bagi saya, Cak Nur juga menjadi kiblat pemikiran keagamaan sebagian anak muda NU, termasuk saya pribadi. Cak Nur telah mengingatkan kita, bahwa tradisi merupakan pijakan teologis untuk menuju kemodernan.

Kedua, Gus Dur sebenarnya juga diundang seforum dengan Cak Nur. Cuman karena ada kunjungan ke Perancis, Gus Dur berhalangan hadir. Memang, idealnya Cak Nur dan Gus Dur berada di satu forum untuk melihat pemikiran Islam NU. Kami sangat menyayangkan ketidakhadiran Gus Dur.

Ketiga, para pelaksana muktamar, termasuk pengarah dan pelaksana, tidak ada satupun yang aktif di politik praktis. Jangankan di Golkar, di PKB pun mereka tidak tertarik. Jadi, tak ada alasan untuk mendukung kelompok tertentu. Kami sangat menghargai demokrasi, siapun pemimpin bangsa ini yang lahir dari proses demokrasi, maka kita mesti “makmum”, dan memberikan kontrol yang semestinya.

Bagi saya dan teman-teman, bergerak di jalur pemikiran dan pemberdayaan masyarakat merupakan kerja kemanusiaan yang amat suci. Muktamar pemikiran Islam NU di Situbondo merupakan salah satu panggilan kepada NU untuk melihat tradisi dan khazanahnya.

Zuhairi Misrawi

Posted by zuhairi misrawi  on  10/16  at  01:11 PM

Menarik sekali tulisan oleh-oleh dari Situbondo di atas. Bahwa kiranya ada suatu forum untuk mempertemukan berbagai macam pemikiran keislaman yang berkembang di kultur NU yang selama ini berkembang dengan kesan tak teratur dan tak tersosialisasi dengan baik (tanpa media formal), kini coba untuk lebih diperhatikan dan dimotivasi. Guna menghindari kejumudan dari paradigma pemahaman keislaman, maka proses perkembangan pemikiran ini sangatlah mutlak dibutuhkan. Bahwa tantangan perkembangan terhadap nilai kemanusiaan yang semakin kompleks, dibutuhkan suatu trobosan. Jika kaum muda NU tidak mampu melakukan terobosan, maka pemikiran yang dimotori kaum tua yang cenderung konservtif tidak mampu mengatasi problem kemanusiaan. Penafsiran yang terlalu tekstual, kiranya memang perlu diretafsir lagi dengan sumber yang sama, tapi dari sisi lain bersifat membebaskan terhadap nilai kemanusiaan. Aku sepakat bahwa dalam penafsiran ulang, posisi akal yang memang bersentuhan langsung dengan analisis terhadap realitas perlu mendapat porsi yang seimbang. Artinya, walau nash tetap menjadi sumber, tapi akal perlu mendapat ruang yang lebih luas dari pada selama ini. Nash tetap akan membawa kebenaran, tapi kebenaran nash sangat perlu diterjemahkan dan diapresiasikan oleh akal. Aku juga sepakat bahwa tidak perlu dipertentangkan antara akal sebagai instrumen dan nash sebagai bahan, tapi perlu dicipta suatu hubungan metodologi yang kondusif untuk menghasilkan suatu pemikiran yang kontekstual. Yang masih aku bingungkan, bahwa keleluasaan ruang bagi akal memang tak terbatas, tapi bagaimana akal yang tanpa bekal akan mengembara? Untuk itu tetap ada fungsi kontrol dari kebebasan berpikir. Saranku perlu disinergiskan antara berbagai perkembangan pemikiran di kalangan kaum muda NU, agar tercipta arah yang jelas.

Posted by panduwagung  on  10/15  at  01:11 PM

Salam,

Terima kasih. Tulisan Zuhairi yang sedikit melegakan saya, setidaknya merepresentasikan panitia. Satu hal yang pingin aku tahu adalah alasan dari 3 rekomendasi itu. Dan tampaknya, memang terbuka luas kesempatan untuk menafsirkan kepentingan muktamar itu, termasuk kepentingan yang tampak adalah membabtis cak Nur sebagai “syuriah” anak-anak muda NU. Walau tampaknya Zuhairi menulis itu tidak serius, tapi aku juga pengin dapat jawaban mengapa Cak Nur yang dianggat. Mengapa bukan Gus Ulil atau Pak Masdar?

Posted by Imam M Ridwan  on  10/14  at  10:10 AM

Banyaknya respon teman-teman terhadap muktamar telah “menggelitik” saya untuk ikut ngomong. Sekalian untuk menambahkan kabar yang dirangkum secara sempurna oleh Novriantoni. Ia salah seorang peserta muktamar yang hadir langsung ke tengah-tengah arena muktamar dan mengikuti secara intens sejumlah kegiatan muktamar.

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi dilaksanakannya muktamar. Pertama, muktamar merupakan wacana “resistensi” terhadap kentalnya covering NU sebagai entitas politik. Saya dan teman-teman yang bergerak di jalur kultural merasa tak nyaman dengan beban politik NU yang sangat berat itu. Karenanya, muktamar menjadi terobosan untuk menyingkap khazanah pemikiran keagamaan yang berkembang di tubuh NU. Dari arena muktamar kemarin, menarik sekali, bahwa hampir tidak ditemukan adanya radikalisme pemikiran. Pemikiran disambut dengan pemikiran. Bukan hanya itu, perbedaan pemikiran disampaikan dengan santun, jernih dan bersahabat. Bahkan salah seorang kiai mendo’akan agar Tuhan memperpanjang usia anak-anak muda yang dikenal kontroversial itu.

Saya melihat bahwa NU mempunyai modal yang sangat kuat untuk menjadi lokomotif pembaruan pemikiran keagamaan di tanah air. Dan ini terus terang merupakan pancingan bagi ormas-ormas yang lain untuk melakukan hal yang sama, sehingga radikalitas dapat dilokalisir dan diwadahi dalam forum yang terhormat.

Ketua, perlunya melihat pemikiran keagamaan sebagai “konsep yang utuh”. Di sinilah, muktamar pemikiran Islam NU mencoba untuk mengukuhkan visi kebangsaan dan kerakyatan. Kami kemarin mencoba mengeksplorasi epistemologi, metodologi dan fikih terapan. Dan hasil terbaik dari muktamar kemarin, yaitu mencoba untuk melihat doktrin-doktrin keislaman bukan hanya sebagai hukum, melainkan sebagai etika sosial yang bisa diterima oleh seluruh umat manusia, apapun agama, suku dan rasnya. Sejatinya keislaman tidak hanya dibatasi oleh dan untuk umat Islam saja, melainkan untuk seantero umat. Dan Islam sebagai etika sosial merupakan jalan untuk mengukuhkan semangat kebangsaan.

Selain itu, muktamar juga melihat perlunya metodologi keagamaan yang tidak hanya memperdebatkan antara akal dan teks; mana yang dinomorsatukan dan mana yang dinomorduakan, melainkan mencoba agar akal dan teks memberikan perhatian dan keberpihakan terhadap kaum lemah. Ini penting untuk mengukuhkan visi kerakyatan, sehingga akal dan teks tidak disubyektifikasi oleh kuasa tertentu. Dan pada akhirnya pemikiran keagamaan, diantaranya fikih, dapat menyoal hal-hal yang berkaitan langsung dengan problem kemanusiaan.

Sungguh, perdebatan seperti dalam muktamar merupakan mozaik yang mesti dikembangkan untuk menjadi pemikiran yang bisa mewadahi keragaman.

Atas nama panitia muktamar pemikiran Islam NU, kami mengucapkan terima kasih atas tanggapan dan komentarnya. Buat Islib, teruslah maju dan menyegarkan pemikiran Islam di tanah air. Toh Islib-pun sudah kita NU-kan (heheh), sebagaimana Cak Nur sudah “dibaptis” di Situbondo untuk menjadi “syuriah” anak-anak muda NU…

Salam Zuhairi Misrawi

Posted by zuhairi misrawi  on  10/13  at  08:11 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq