Pemerintahan Amerika Sekarang Memang Sakit - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
29/09/2002

Prof. Dr. Arief Budiman: Pemerintahan Amerika Sekarang Memang Sakit

Oleh Redaksi

Saya pernah tinggal di AS selama 8 tahun (Arief Budiman mengambil Ph.D bidang sosiologi di Harvard University, Cambridge, Massachusetts, AS, Red). Saya kira, pemerintah AS sekarang ini memang pemerintahan yang “sakit.” Artinya, tidak seluruh pemerintahan AS itu arogan. Jimmy Carter itu orangnya baik, seperti pendeta dan rambutnya pun tak tersisir. Kalau George Bush (ayah Bush Jr) lain lagi. Bill Clinton juga lain dan lebih intelek.

Terorisme menjadi istilah yang sangat populer sekarang ini. “Perang melawan terosrisme” menjadi kebijakan utama Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan George W. Bush setelah peristiwa tragedi 11 September 2001.  Menurut Prof. Dr. Arief Budiman, sosiolog yang tinggal di Australia dan sekarang sedang “singgah” di Jakarta, kebijakan ini berdampak pada agenda demokratisasi dan HAM di negara-negara Muslim mengalami stagnasi. Perang melawan terorisme menjadi jargon baru yang melahirkan banyak pembonceng gratisan (free-rider) yang pada akhirnya melemahkan konsolidasi sipil dalam memantapkan demokrasi.

Untuk mengetahui pandangan seputar dampak kampanye global terorisme terhadap demokrasi di negara-negara dunia ketiga termasuk negara muslim, berikut ini wawancara Prof. Dr. Arief Budiman, professor Melbourne Institute of Asian Languages and Societies, Universitas Melbourne, Australia dengan Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK). Wawancara disiarkan oleh Radio 68H Jakarta dan seluruh jaringannya di seluruh Indonesia pada 26 September 2002.

Pak Arief, menurut Anda, apa yang mendasari Amerika Serikat sehingga mereka getol mengampanyekan perang melawan terorisme?

Saya kira, masalahnya menyangkut sikap over-acting Presiden George W. Bush. Kita tahu, Amerika Serikat (AS) diserang tanggal 11 September 2001. Itu memang sebuah tragedi. Bayangkan saja, AS yang notabene sebuah negara paling secure (aman) di dunia dan bangga sekali akan pertahanannya, hancur segitu rupa. Akibatnya, mereka merasa ketakutan yang sangat tinggi. Sebab, mereka merasa semua teknologi dan pertahanan AS bisa dihancurkan oleh beberapa kapal terbang dengan hanya sembilan orang sebagai pelakunya.

Momen di atas dimanfaatkan Bush untuk mempopulerkan dirinya. Memang, Bush dikenal sebagai orang yang paling agresif dan mau menggunakan kekuatan militer. Dia sekarang hobi menggunakan militer, dan itu mendapat dukungan dari rakyat AS yang sedang ketakutan. Jadi, mereka memanfaatkan kasus 11 September untuk kampanye antiterorisme. Ini berarti budget militer naik dan perusahaan-perusahaan militer menjadi berkembang karena banyak order. Di situ masalahnya, pertama, faktor Bush dan kedua, kondisi internal politik AS yang membuat kampanye antiterorisme menjadi relevan dan menguntungkan pribadi atau kelompok Bush.

Bagaimana implikasi perang melawan terorisme terhadap agenda demokratisasi di Dunia Ketiga, termasuk negara-negara Islam?

Di Dunia Ketiga saat ini terdapat banyak konflik, termasuk konflik yang melibatkan kelompok-kelompok Islam yang semula tidak ada hubungannya dengan peristiwa 11 September. Orang Islam dan non-Islam berkonflik dalam isu-isu nasional, itu hal biasa. Tapi terjadi perubahan ketika Bush tiba-tiba bersedia memberikan bantuan militer demi perang melawan terorisme.

Akibatnya, secara lokal banyak negara yang menggunakan momentum ini untuk menghantam kelompok Islam. Misalnya kita lihat, Vladimir Putin (Presiden Rusia) secara tiba-tiba mendapat pengesahan untuk menghancurkan Chechnya. Lalu, Mahathir Mohamad menggunakan momentum ini juga untuk menghancurkan kelompok Islam di Malaysia. Israel juga mendapat pembenaran bahwa yang mereka lawan bukan sebuah bangsa Palestina yang menuntut haknya, tapi menjadi perang melawan orang Islam “teroris”. Jadi semua rezim memanfaatkan momentum.

Ini semacam momentum kembalinya militerisme di banyak belahan dunia?

Betul. Misalnya di Indonesia, kita tahu, Megawati bukan representasi Islam, tidak pula militer. Paling tidak, kelompok Islam berusaha menarik Megawati, atau Hamzah Haz agar lebih dekat dengan Islam. Militer juga menarik Megawati agar lebih dekat kepada militer. Dengan adanya dokumen CIA, sebenarnya hal yang secara tidak langsung ingin dikatakan adalah: “Hati-hati dengan kelompok Islam! Mereka itu mau membunuh kamu.”

Kita tidak tahu apakah dokumen itu benar, karena ini masalah check and recheck. Tapi yang jelas, ada dokumen seperti itu. Jika dilihat, kepentingan politiknya bertujuan membuat Megawati untuk waspada dan supaya lebih dekat kepada kelompok militer.

Nah, bagaimana Anda melihat kaitan antara isu perang melawan terorisme ini dengan respon yang ditunjukkan pejabat kita?

Saya kira pejabat kita terpecah juga. Mereka yang dekat dengan militer mengatakan: “Itu ‘kan, betul. Makanya, hati-hati pada kelompok Islam.” Sementara mereka yang pro-kelompok Islam mengatakan bahwa ini hanya propaganda AS yang tidak bisa dibenarkan.

Belakangan ini, Prof. Dr. Din Syamsuddin mengumpulkan kelompok-kelompok Islam untuk menyatakan kalau Islam bukan teroris. Apa komentar Anda?

Melihat itu, paling tidak ada dua hal. Pertama, dia ingin agar Megawati atau pemerintah jangan menjauh dari kelompok Islam. Kedua, dengan demikian, dia juga dianggap mempersatukan kelompok Islam.

Seorang ahli dari Pakistan di Melbourne pernah mengatakan bahwa yang membentuk terorisme dan Islam radikal itu adalah AS sendiri. Dalam realitasnya, memang ada Islam radikal dan Islam teroris. Dengan adanya propaganda antiterorisme, secara tidak langsung, AS ikut mempersatukan kelompok Islam moderat dengan kelompok teroris.

Stigmatisasi atas kelompok-kelompok yang radikal, justru membuat mereka bersatu?

Ya. Tadinya, mereka berkonflik di antara mereka sendiri. Islam adalah sebuah agama yang besar, sehingga logis kalau ada faksi-faksi. Dengan adanya ini, saya kira, orang semacam Din Syamsuddin mengambil mementum untuk mempersatukan mereka.

Apakah Anda melihat kenyataan di lapangan semacam ini menjadi pertimbangan dalam perumusan kebijakan di state of departement di AS?

Saya khawatir, justru tidak. Karena yang lebih penting dan lebih riil bagi mereka adalah bagaimana mengonsolidasikan rakyat AS untuk mendukung pemerintahan Bush. Untuk itu, pada umumnya mereka melihat kampanye ini lebih berguna bagi mereka dan melebihi frekwensi hal-hal kecil itu.

Jadi faktor Partai Republik yang ingin memperbesar kans tetap menang dalam pemilu mendatang juga bermain di sana. Ini sangat besar pengaruhnya, terutama --sebagaimana kita tahu-- Bush dan Dick Cheney, adalah orang yang pro-militer dan menginginkan budget militer yang besar. Kalau tidak ada tragedi 11 September, saya kira, anggaran Presiden Bush akan ditolak karena terlalu banyak menganggarkan untuk militer. Saya kira, ada juga akibat lain, yakni berkurangnya bantuan untuk NGO’s yang memperjuangkan demokrasi karena terpotong untuk militer.

Banyak kalangan yang merisaukan definisi terorisme versi AS. Bagaimana Anda melihat ini?

Kalau kita lihat AS, definisi terorisme itu berhubungan kuat dengan jaringan al-Qaidah. Kemarin Dubes AS untuk Indonesia mengatakan, kalau di Indonesia tidak ada teroris. Kelompok-kelompok Islam seperti Laskar Jihad, FPI dan lain-lain itu bukan teroris karena tidak berhubungan dengan al-Qaidah.

Padahal, menurut saya, sekiranya ada kelompok yang mengatasnamakan Islam merazia pub-pub minuman, itu bisa termasuk tindakan teror. Tapi terornya lokal. Dia percaya suatu hal, lantas dia meneror orang yang meminum alkohol, itu tidak bisa dibenarkan. Itu termasuk teror.

Jadi, kita harus kembali --dan saya setuju-- pada definisi yang murni dari teror: yaitu intimidasi dengan kekerasan dan ancaman. Dalam konteks ini, AS juga teroris, karena banyak mengancam orang. Orang Irak sekarang sedang diteror AS secara hebat-hebatan. Nah, kita harus mengembalikan teror ke definisi semula.

Noam Chomsky berpendapat bahwa kekerasan secara sepihak sering didefinisikan oleh yang kuat. Kekerasan yang dilakukan orang kecil dianggap sebagai teror. Bagaimana menurut Anda?

Itu kita alami pada masa Soeharto. Interpretasi atas Pancasila, ‘kan monopoli pemerintah. Jadi kalau kita mengeritik, berarti kita anti-Pancasila. Padahal, Pancasila mengandaikan adanya partisipasi masyarakat.

Jadi, nampaknya ada penggunaan kata terorisme yang sepihak dan melecehkan akal sehat, dan itu dilakukan AS?

Sangat sepihak. Dan itu praktek dalam dunia politik di mana-mana. Maka, penting bagi kita menjaga akal untuk menghadapi itu.

Kembali ke soal awal, apakah perang melawan terorisme akan menyebabkan agenda demokratisasi berjalan mundur?

Saya kira, ya. Isu terorisme menekan agenda demokrasi. Setelah teknologi begitu berkembang, kekerasan tidak menyelesaikan masalah. Memang Dunia Ketiga secara persenjataan dan militer lemah, tapi secara opini publik lagi kuat. Sehingga, kalau AS terus-terusan arogan, dia akan terisolir. Mungkin Dunia Ketiga tidak bisa membalas dengan bom, tapi mereka bisa memanfaatkan public opinion yang berpihak pada mereka. Saya merasa, kalau AS terus-menerus memamerkan kekuatan, dia akan ditinggalkan. Saya kira, kini cuma Inggris (Tony Blair) dan Australia (John Howard) yang ngotot mendukung AS. Jerman dan Perancis sudah terlihat tidak berpihak. Jadi saya masih optimis kalau AS perlu diingatkan terus bahwa kalau mereka begini, akan terpukul dalam medan yang lain di luar medan militer.

Artinya dia akan termakan senjata yang mereka gunakan untuk bantuan melawan terorisme?

Betul. Dan AS akan terisolir. Sekarang orang mulai muak melihat AS. Sehingga Amerika bertanya secara bodoh: Why they hate America? Kita sadar kenapa kita benci AS sebab mereka meneror orang terus-menerus, meskipun tidak atau belum melaksanakan isi terornya.

Pak Arif, bagaimana menghadapi masalah terorisme dalam kerangka demokratisasi yang sedang kita jalani ini? Kita juga tidak bisa mengabaikan bahwa kelompok yang cenderung menggunakan kekerasan di negara ini betul adanya, terlepas mereka berskala lokal atau global.

Saya kira, untuk menyikapi AS, kita perlu mempertimbangkan bahwa dia memang superpower, bukan hanya dalam hal militer, juga bidang ekonomi. Ekonomi kita juga banyak bergantung pada AS. Untuk itu, saya kira, kita tidak usah membantah dan tidak juga mengikuti. Jadi ngeyel sajalah --seperti cara orang Jawa. Tidak usah bilang, “Saya anti-Amerika!” Jadi biasa saja.

Ke dalam negeri, kita harus memakai patokan hukum yang tepat. Jadi mesti ada hukum yang pasti. Artinya kalau ada orang yang melanggar hukum, dia mesti ditindak tegas. Kita mesti mengembangkan dan mendidik mereka berpartisipasi secara hukum, bukan dengan cara kekerasan. Cara ini memungkinkan kelompok Islam moderat, yang rasional dan pro-demokrasi bisa mengembangkan diri. Sebab, selama mereka tidak menggunakan kekerasan, mereka bisa berpartisipasi secara aktif. Begitu mereka menggunakan cara kekerasan, mereka akan terisolir. Jadi saya kira, harapan kita tetap pada kepastian hukum dan antikekerasan dan ancaman.

Anda melihat fenomena meningkatnya gema perang melawan terorisme ini menekan kelompok Islam moderat yang tidak hostile terhadap Barat?

Ya, itu terjadi ketika suatu pemerintahan merasakan Islam sebagai ancaman. Misalnya, Mahathir menggunakan momentum ini untuk menekan Partai Islam se-Malaysia (PAS) yang sebenarnya banyak juga yang moderat ketimbang yang keras. Jadi tergantung situasi lokalnya. Pemerintah Megawati, menurut kesan saya, tidak terancam dengan kelompok Islam. Jadi, saya kira dia bisa lebih tenang dan tidak usah menggunakan tekanan AS untuk menghantam kelompok Islam.

Di negara lain, lain lagi persoalannya. Misalnya Philipina, pemerintahnya bahkan mengundang AS untuk menghancurkan bangsa Moro. Jadi, kepentingan nasional sangat penting saat ini. Indonesia kini diuntungkan situasi karena kelompok Islam kuat, tapi tidak bisa sampai mendikte. Kelompok non-Islam juga kuat tapi juga tidak bisa mendikte. Dengan demikian, kita bisa tetap mempertahankan --istilah kerennya-- negara Pancasila.

Anda masih percaya Pancasila?

Ya. Pancasila itu ‘kan pakaian yang longgar sekali yang bisa dipakai siapa saja, ha..ha..ha. Pancasila semacam all size ideology atau all fit ideology.

Pak Arif, orang sering menganggap AS arogan. Apa betul demikian?

Saya pernah tinggal di AS selama 8 tahun (Arief Budiman mengambil Ph.D bidang sosiologi di Harvard University, Cambridge, Massachusetts, AS, Red). Saya kira, pemerintah AS sekarang ini memang pemerintahan yang “sakit.”

Artinya, tidak seluruh pemerintahan AS itu arogan. Jimmy Carter itu orangnya baik, seperti pendeta dan rambutnya pun tak tersisir. Kalau George Bush (ayah Bush Jr) lain lagi. Bill Clinton juga lain dan lebih intelek.

AS di masa Carter, oleh Khomaini, disebut the great satan!

Ya, itu ‘kan perspektifnya Khomaini. Macam-macam pandangan yang muncul itu biasa. Presiden Bush kini sangat tidak disenangi banyak orang AS juga. Belakangan Carter dan Al Gore mengeritik keras rencana Bush menyerang Irak. Dan perlu ingat, dulu hasil pemilu sangat tipis bedanya dengan Al Gore. Al Gore, calon presiden yang dikalahkan Bush, adalah orang yang environtmentalist dan menulis buku-buku tentang lingkungan. Kalau menjadi presiden, dia pasti akan lain sekali. Orang AS banyak yang benci Bush. Tapi, sebagaimana saya katakan tadi, tragedi 11 September membuat rakyat AS sangat ketakutan sehingga tindakan Bush dilihat seakan-akan benar.

Apakah kebijakan Bush yang keras kepala itu disepakati kebanyakan orang AS?

Saya kira tidak. Di AS ‘kan orang memilih presiden empat tahun sekali. Setelah empat tahun, kita akan lihat apakah Bush akan terpilih lagi. Saya tidak yakin dalam pemilihan umum yang akan datang Bush akan terpilih lagi. Itu yang akan menunjukkan bahwa orang AS protes terhadap kebijakan Bush yang akhirnya mengisolir AS dari pergaulan dunia.

Bagaimana Anda menanggapi reaksi berlebihan beberapa kelompok di tanah air atas tuduhan-tuduhan AS?

Ada sebuah pepatah dari Mao Tse Tung. Dalam peperangan itu, kata dia, bila musuh berjumlah sepuluh sedang kita satu, kita jangan menyerang musuh. Tapi kita membuat situasi agar musuh tercerai-berai. Kalau kita berjumlah sepuluh dan musuh hanya satu, kita baru menyerang.

Artinya, kita jangan berkelahi di front di mana musuh kuat. Nah, kalau kita menghadapi kekuatan militer, sementara kekuatan lemah, ya mati dong! Dengan hutang kita yang seabrek kita sudah cukup lemah. Maka janganlah protes yang keras-keras dan memaki-maki AS. Itu, saya kira, tidak bijaksana.

Mungkin yang dikehendaki AS agar pemerintah menindak orang-orang yang terlibat dengan jaringan al-Qaidah. Bagaimana menyikapi tuntutan ini?

Kita ‘kan bisa mengatakan: setuju dan sangat setuju. Tapi buktikan dulu sebab kami tidak menemukan jaringan al-Qaidah ini. Jadi itu ibaratnya orang Jawa kalau kita ditonjok, kita tidak menangkis, kita terima saja untuk kita alihkan lagi. Saya setuju sekali kalau kita harus bijaksana dan diplomatis dalam menghadapi AS. Front lain adalah front opini. Saya kira, orang akan benci kalau melihat orang yang terus -menerus memamerkan ototnya. Nah kita ngomong dengan cara bijaksana. Dalam hidup ini banyak hal-hal lain: sopan santun, rendah hati. Dan itu harus dilakukan.

Tapi di Indonesia, terlepas dari tuntutan AS, tetap ada kelompok yang menghalalkan kekerasan atas nama agama. Bagaimana mengatasinya?

Pemerintah harus tegas terhadap mereka. Memang kita tahu, ada Islam yang radikal yang suka melakukan teror-teror. Teror bukan dalam artian Al-Qaidah, tapi paling sedikit menakut-nakuti orang atau warga sipil yang mereka tidak sukai. Itu harus ditindak dan ditangkap dan bukan karena Islamnya, tapi karena tindakan melanggar hukumnya. Hal ini tidak ada urusan dengan Islam-bukan Islam. Tetapi pelanggaran terhadap hak dan pribadi orang. Seandainya dia membakar sebuah kafe yang sudah ada izinnya, saya kira, itu harus ditindak karena sudah melanggar hukum.

Terakhir, sejauhmana dunia berubah pasca 11 September?

Saya kira sangat berubah. Karena 11 September, orang menjadi bicara sejarah sebelum dan sesudah 11 September. Jadi 11 September adalah dunia yang dipengaruhi ketakutan. Kenapa dipenuhi ketakutan? Karena yang mengalami ketakutan adalah negara superpower. Kalau yang ketakutan hanya minipower, tidak ada yang peduli. Sejarah ‘kan ditentukan oleh kekuatan-kekuatan besar, bukan oleh kekuatan-kekuatan kecil. Jadi sejarah berubah, dalam artian superpower itu mengalami perubahan psikologi. Kalau macan mengaum semua pelanduk akan berlari. Tapi kalau pelanduk yang “mengaum”, macannya tenang-tenang saja. []

29/09/2002 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (0)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq