Pengertian Umat Islam Indonesia - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
08/04/2010

Pengertian Umat Islam Indonesia

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Penjelasan-penjelasan ini menunjukkan betapa tak mudahnya seseorang mengatas-namakan umat Islam Indonesia, seperti tak mudahnya mendefiniskan umat Islam Indonesia. Dengan demikian, kini jelas bahwa sekiranya ada tokoh Islam yang suka mengatas-namakan umat Islam, maka dia hakekatnya tak pernah bisa mewakili umat Islam Indonesia yang beraneka ragam itu. 

Satu pertanyaan sederhana, bagaimana kita mendefinisikan umat Islam Indonesia? Hemat saya ada empat takrif atau pengertian tentang umat Islam Indonesia itu. Pertama, umat Islam adalah mereka yang di KTP-nya tercantum sebagai penganut Islam. Jika ini menjadi acuan pokok, maka umat Islam di Indonesia adalah mayoritas. Data statistik yang kerap disampaikan, 87 % penduduk negeri ini memeluk Islam. Termasuk dalam 87 % itu saya kira adalah orang-orang Ahmadiyah. Tapi, kalau kita sepakat mengeluarkan puluhan ribu orang Ahmadiyah dalam barisan Islam, maka jumlah umat Islam itu akan berkurang.

Kedua, umat Islam adalah mereka yang menjalankan ritual peribadatan seperti shalat lima waktu, puasa sebulan penuh di bulan Ramadan, mengeluarkan zakat (fithrah dan mal), dan berhaji bagi yang mampu. Sekiranya ini menjadi standar, maka populasi umat Islam akan turun sangat drastis. Terlampau banyak orang yang di KTP-nya disebut Islam, tapi dalam aktifitas sehari-harinya tak menjalankan sejumlah ibadah yang diwajibkan dalam Islam. Mereka itu disebut Clifford Geertz sebagai Islam abangan atau yang oleh Gus Dur dan Cak Nur disebut Islam nominal. Secara politik, muslim abangan ini tak selalu punya ikatan psikologis-ideologis dengan partai-partai Islam seperti PKS, PPP bahkan juga PKB dan PAN. Sebagian dari mereka kadang merasa lebih nyaman berafiliasi dengan partai-partai sekuler-nasionalis seperti PDI Perjuangan.

Ketiga,
umat Islam adalah mereka yang bukan hanya menjalankan ritual Islam, melainkan juga mengerti dasar-dasar ajaran Islam. Mereka tahu dogma, pemikiran, dan sejarah peradaban Islam. Kelompok ketiga ini lazim disebut sebagai Islam santri. Mereka biasanya alumni sebuah pesantren dan juga Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) seperti IAIN dan STAIN. Secara keorganisasian, mereka tergabung dalam organisasi keagamaan Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan, dan Al-Washliyah.  Dengan takrif ini, maka jumlah umat Islam di Indonesia terus menyusut hingga yang tersisa sekitar puluhan juta orang.

Keempat, umat Islam adalah mereka yang bukan hanya menjalankan ritual Islam, mengerti dasar-dasar Islam, melainkan juga memperjuangkaan tegaknya negara Islam, khilafah islamiyah, dan formalisasi syariat Islam. Berbeda dengan NU dan Muhammadiyah yang menerima Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar dalam berbangsa dan bernegara, kelompok terakhir ini hendak menjadikan al-Qur’an sebagai haluan negara. Konsisten dengan pengertian ini, maka yang disebut sebagai umat Islam di Indonesia tak kurang dari lima juta orang. Secara keorganisasian, mereka itu bernaung di bawah organisasi Islam seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan beberapa ormas Islam kecil lainnya. 

Penjelasan-penjelasan ini menunjukkan betapa tak mudahnya seseorang mengatas-namakan umat Islam Indonesia, seperti tak mudahnya mendefiniskan umat Islam Indonesia. Dengan demikian, kini jelas bahwa sekiranya ada tokoh Islam yang suka mengatas-namakan umat Islam, maka dia hakekatnya tak pernah bisa mewakili umat Islam Indonesia yang beraneka ragam itu. Mandat untuk mewakili seluruh kepentingan umat Islam Indonesia pun tak pernah dikantongi oleh yang bersangkutan. Sang tokoh akan lebih pas menyebut mewakili dirinya sendiri atau kelompok kecilnya yang terbatas. []

08/04/2010 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (26)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

mendefinisikan umat islam indonesia saya kira bukan amal yang sepenuhnya merepotkan. itu sah-sah saja, tapi jangan mengkapling umat islam indonesia dengan pecahan yang terlalu banyak dan sempit hingga umat islam indonesia hanya tinggal beberapa ribu orang. kalau demikian yang terjadi, bukan keliru kalau akhirnya si pendefinisi tadi mengklaim dirinya sajalah yang umat islam di indonesia ini, karena hanya dia yang pertama mendefinisikan umat islam indonesia dengan pengertian tadi."Al-Islam ya’lu wala yu’la alaihi” sebenarnya juga untuk masalah kuantitas pemeluknya kalau di indonesia

Posted by elsa alfa syafa  on  11/18  at  08:36 AM

To : Mas yoko di 24

Mas ... Kalau belum jelas tentang sejarah Al QUR’AN, HATI-HATI menuliskan suatu FAKTA, dimana Mas menulis sebagai berikut :

... terjadi percampuran antara politik dengan kepercayaan semuanya demi kepentingan,boleh saja ditanya pada masa ustman,kenapa ustman membakar seluruh kitab Al-quran dan menulisnya ulang kembali???apa ada unsur kepentingan politik??atau untuk kepentingan ekspansinya?Saya yakin itu semua ada hubungan nya dengan kepentingan pribadi maupun golongan..
==============

Anda mmepertanyakan kesejarahan Al QUR’AN tapi sudah pernah baca belum kesejarahan turunnya Al QUR’AN ? Sepertinya anda belum pernah membacanya ?

Kita bisa lihat bahwa Surat atau ayat Al QUR’AN itu kalau turunya diurutkan secara time series, maka urutannya tidak urut seperti Al QUR’AN yang sekarang ini, dimana Surat pertama yang turun adalah Surat Al ALAQ (Surat 96 di Al QUR’AN sekarang ini) , sedangkan surat pertama d Al QUR’AN sekarang adalah Surat Al Fatihah. Benar-benar ngacak, tapi MUHAMMAD RASULULLAH SAW menentukan 3 hal. Pertama penentuan nama surat dari ayat-ayat yang Beliau terima; Kedua, meminta para sahabat untuk mencatat ayat-ayat tsb secara tertulis, bisa di kulit onta yang kering, lembaran daun dsb; Ketiga, menyuruh para sahabat u- menghafalkan atas ayat atau surat yang turun tsb, sehingga saat Beliau wafatpun, banyak sahabat hafal Al QUR’AN.

Karena ekspansi ISLAM, maka banyak sahabat yang hafal Al QUR’AN gugur, sehingga dikuatirkan akan hilangnya sahabat-sahabat yang hafal Al QUR’AN sebelum Al QUR’AN dibukukan, maka atas inisiatif Umar, maka Umar mengajukan usulan ke Khalifah Abu Bakar u- mengumpulkan catatan Al QUR’AN yang tertulis tsb yang disimpan oleh para sahabat u- dijadikan sebuah Kitab.

Khalifah Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit u- melakukan tugas besar itu yaitu mengumpulkan catatan-catatan Al QUR’AN yang tersimpan di para sahabat dan langsung pingsan setelah mendapat penugasan tsb. Setelah siuman, beliau mengucapkan kata-kata yang begitu terkenal, yaitu kalau seandainya dia diperintahkan memindahkan gunung sebesar apapun maka dia akan jalankan perintah itu, tapi ini diperintah u- mengumpulkan catatan Al QUR’AN u- dijadikan buku ? Maka ketakutannya adalah ketakutan akan dosa apabila ada SALAH dengan Al QUR’AN ini, maka beliau berhati-hati sekali. Bukan hanya berhati-hati sekali tapi amat sangat teramat hati-hati.

Beberapa saat menjelang wafatnya Khalifah Abu Bakar, perkejaan itu dapat diselesaikannya dan akhirnya kumpulan catatan Al QUR’AN tsb disimpan o- Umar yang akhirnya disampaikan ke anaknya Hafsah yang juga istri Nabi MUHAMMAD SAW.

Demikian juga sampai dengan Khalifah Umar meninggalpun, catatan tsb belum sempat dibukukan dan pada jaman Khalifah Utsman bin Affan lah, kumpulan catatan2 tsb dapat dibukukan sebanyak 7 buah yang dikirim ke sejumlah daerah, seperti ke Mesir, Syam, Kufah dsb dan satu ditinggalkan u- Khalifah Utsman sendiri.

Dalam rapat pembukuan kitab Al QUR’AN itu, dicocokkan antara hafalan para sahabat dengan catatan tsb, clear dimana hafalan sama dengan catatan dan terpenting diputuskan bahwa dialek bacaan Al QUR’AN yang dipakai adalah dialek QURAISY bukan Badui atau yang lain, sedangkan catatan yang ada dibakar agar tidak menimbulkan masalah ke dialek an di belakang hari.

Nah atas dasar ketidaktahuan kesejarahan pembukuan Al QUR’AN ini, Khalifah UTSMAN dianggap telah meng edit Al QUR’AN yang ada. Inilah yang selalu digembar gemborkan orang-orang Non Muslim, karena di MUSLIM sendiri tidak adanya persepsi atau pandangan bahwa Al QUR’AN sekarang ini berbeda dengan Al QUR’AN jaman nabi MUHAMMAD SAW. Mereka –kaum MUSLIMIN– ini tetap mengakui dan membenarkan bahwa Al QUR’AN sekarang ini sama persis dengan Al QUR’AN yang dibaca pada saat Nabi MUHAMMAD SAW masih hidup.
==============
Kalau catatan anda yang di bawah ini, bagi saya NO COMMENT.

sama halnya orang2 kristen yang memberikan surat induglesia kepada umatnya dengan dalih bs menebus dosa manusia,,eh ternyata malah buat kepentingan politik dan pribadi

Posted by Hari  on  09/29  at  11:16 AM

yah...mungkin ini bisa lihat pada zaman shabat para nabi,,loh mereka saja berebut kekuasaan pada masa kekhaliffan,kekhalifaan abasyiah,ummayah,dst..dst..bahkan saling bunuh membunuh..tuh kan,,dah terjadi percampuran antara politik dengan kepercayaan semuanya demi kepentingan,boleh saja ditanya pada masa ustman,kenapa ustman membakar seluruh kitab Al-quran dan menulisnya ulang kembali???apa ada unsur kepentingan politik??atau untuk kepentingan ekspansinya?Saya yakin itu semua ada hubungan nya dengan kepentingan pribadi maupun golongan..sama halnya orang2 kristen yang memberikan surat induglesia kepada umatnya dengan dalih bs menebus dosa manusia,,eh ternyata malah buat kepentingan politik dan pribadi

Posted by yoko  on  09/22  at  04:23 AM

Amerika liberal kapitalis, silahkan..., inggris rakyatnya masih mempertahankan ratunya yang mereka puja2. Swedia masih suka bentuk monarkhi. jepang tetap dipimpim kaisar. Indonesia...silahkan, bentuk apa saja negara ini, boleh-boleh saja. Kalo syariah lebih menjadi solusi masalah duniawiah (maaf, saya tidak bicara masalah akhirat), ya boleh2 saja, saya tidak alergi kok. Namun juga perlu dimengerti, bahwa negara yang dasarnya pancasila ini jika masih mampu memberi ruang hidup dan kesejahteraan dan berkehidupan sosial yang baik, ya terus saja…

Posted by Mas Heri  on  08/11  at  03:56 PM

To : Bunyamin di 21
Muslim yang NGEBOM terus ngumpet ... pegangannya Al QUR’AN dan Hadits. Islam Liberal juga ada yang berpegang pada Al QUR’AN dan Hadits.
Lho kok beda ? Kenapa tidak sama ya ? Padahal pegangannya sama yaitu Al QUR’AN dan Hadits ?Apakah karena beda di masalah penafsiran ... Terus menyalahkan yang tidak sepaham ? Ada apa dengan MUSLIM ya ?

Posted by HP  on  08/10  at  05:02 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq