Penolakan terhadap Kriminalisasi Keyakinan - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Pernyataan Pers
15/05/2005

Penolakan terhadap Kriminalisasi Keyakinan

Para ulama dan tokoh-tokoh agama seharusnya bisa memberi contoh yang baik (uswah hasanah) dalam menghadapi perbedaan pendapat. Klaim sesat menyesatkan hanya akan menunjukkan kekerdilan jiwa dan kesempitan akal budi. Oleh karena itu, tokoh-tokoh agama tidak semestinya mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak simpatik dan arogan, apalagi kepada orang (kelompok) yang hendak menghayati agamanya secara baik.

15/05/2005 10:21 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Saya adalah salah seorang yang pro dengan Jaringan Islam Liberal. Tetapi dengan masalah shalat ala Yusman Roy saya tidak sependapat. Dengan berbagai alasan : 1. JIL selalu menggunakan maqashid syariah juga qaidah ushuliyah, qaidah fiqhiyah. bagaimana dengan qaidah ‘Asal semua ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang menunjukkan kehalalannya’? 2. Tata cara ibadah yang menggunakan bahasa Arab juga sudah final, karena setiap kata yang digunakan dalam shalat mempunyai nilai religius, nilai ritual tersendiri yang tidak bisa diganti atau ditambahi dengan bahasa lain. Apalagi bahasa arab yang ada dalam shalat sudah tidak dipakai lagi dalam bahasa arab keseharian yang sekarang. Sebagai contoh yang GAMBLANG saja (tidak usah dalam shalat). Jika kalimat BHINEKA TUNGGAL IKA dalam garuda Pancasila diganti “BERBEDA-BEDA TETAPI TETAP SATU JUGA” maka nilai atau makna yang terpendam menjadi sangat dangkal, hampa dan hambar, tawar. Adapun Abu Hanifah dia sebatas pemikiran bukan praktis. 3. Merujuk dari alasan di atas, kredibilitas seorang Yusman Roy sebagai orang yang memahami selauk beluk syariat dan fiqh Islam sangat diragukan. Bagi saya dia tidak mempunyai kredibilitas untuk melakukan sebuah terobosan, kalau sekelas Quraish Shihab, mungkin masih bisa kita tolerir. 4. Kalau Yusman Roy dibiarkan, kaum muslimin yang awam, hanya tahu Islam sebatas shalat, zakat, puasa, haji akan mengikutinya, setidaknya beberapa orang. Bayangkan jika otoritas agama seperti MUI di negara ini MEMBENARKAN atau MEMBIARKAN padahal tahu tentang masalah ini, bisa beribu-ribu orang mengikutinya. Dan RASAKAN dengan hatimu sendiri shalat yang dicampur dengan bahasa Indonesia???

#1. Dikirim oleh ABU AHMAD  pada  27/05   05:05 AM

Isi dari pernyataan pers ini saya kira sangat positif dan memang sangat perlu. Namun saya kira akan ada sedikit kesulitan untuk “mencernanya” apalagi bagi orang-orang yang dituju oleh pernyataan pers ini. Sejauh himbauan untuk tidak mengkriminalisasi agama ditujukan kepada pihak yang berwenang, dengan sendirinya itu akan selaras dengan penegakan hukum Indonesia (yang memang sekuler). Namun saya kira tidak hanya cukup membahas kriminalisasi agama dari segi penegakan hukum saja melainkan juga perlu ada landasan pembuktian agama yang jelas (dalam bentuk sebuah teologi mungkin?) untuk membendung merebaknya fanatisme. Sebab kalau orang diminta untuk tidak mempermasalahkan agama, demi sebuah ukhuwah yang didasarkan pada agama, saya kira itu agak rancu juga.

#2. Dikirim oleh Akhmad Santoso  pada  10/06   11:06 AM

kalau dia masih meyakini Islam sebagai agamanya, maka dia harus mengikuti apa yang telah disyariatkan oleh agama Islam, termasuk bagaimana cara salat di dalam Islam. Kalau tidak mau mengikuti maka dia jangan mengaku muslim.
-----

#3. Dikirim oleh abu darda  pada  26/03   11:03 PM

Saya sangat setuju tidak boleh ada kriminalisasi terhadap “keyakinan”. Tapi yang JIL sudah sejak dulu melakukan “kriminalisasi teologis” terhadap keyakinan kebanyakan orang Muslim. Yang dilakukannya bukan pencerahan tapi pencercaan terhadap keyakinan.

#4. Dikirim oleh iwan the real liberalist  pada  29/08   01:29 AM

lebih utama dalam masyarakat indonesia yang pluralisme, perlu ditekankan jiwa bhineka thunggalika. kita harus bersatu bukan berpecah belah, galang toleransi umat beragama. Indonesia negara beragama tapi tidak berazas Islam atau lainnya, kita berpedoman pada pancasila dan UUD45’. MUI janganlah mudah menyatakan sesat atau menyesatkan keyakinan atau organisasi tertentu, justru pernyataan tersebut keluar dari aqidah Islam yaitu tawaddhu’ (rendah diri/tidak membenarkan diri sendiri)

#5. Dikirim oleh moh kusnarto  pada  10/06   07:06 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq